Jodohku Teman Kecilku

Jodohku Teman Kecilku
JTK-37


__ADS_3

Mama Hanna meneteskan air matanya karena melihat isi surat itu.


"Tante gak pa-pa?" tanya Angga khawatir.


Mama Hanna mengelengkan kepalanya. "Kamu Jangan kasih tahu Hanna soal surat dan bunga itu yah. Takut kalau dia bakal sedih!" pintanya.


"Iya, Tante."


"Tante tau gak, kira-kira siapa yang ngasih bunga dan suratnya?" tanya Angga dengan hati-hati.


"Kalau dari inisial, tante ngerasa itu 'dia'. Tapi itu gak mungkin karena gak ada bukti," ujar Mama Hanna dengan nada pelan.


"Dia siapa ya, Tan?" tanya Angga kepo.


"Tante gak bisa kasih tahu. Tapi suatu saat kamu pasti akan tahu," ucap Mama Hanna.


"Em ... ya sudah. Kalau gitu aku bakal coba cari siapa yang ngasih bunga," ucap Angga.


...🌈🌈🌈...


"Mau kemana sih, Zan?" tanya Dilfa kesal karena Angga yang menarik-narik dirinya sambil membawa sebuket bunga kamboja.


Angga tidak menanggapi pertanyaan Dilfa, dan itu membuatnya kesal.


“Dan ngapain juga lo bawa-bawa bunga kamboja. Mau ke kuburan lo?” tanya Dilfa heran. “Jangan bawa-bawa gue kalau mau ke kuburan.” Dilfa menghentikan langkahnya.


Angga pun ikut menghentikan langkahnya, tapi kemudian dia melanjutkan langkahnya kembali. “Jangan banyak tanya deh. Kita harus cepet-cepet. Ini demi keselamatan ‘Hanna’” ujar Angga dengan menekankan kata terakhir.


“Kenapa dengan Hanna?” tanya Dilfa penasaran campur khawatir.


“Nanti gue jelasin. Tapi sekarang kita harus segera ke toko bunga terdekat!” ujar Angga sambil mempercepat langkahnya menuju parkiran.


...🌈🌈🌈...


Sesampainya di toko bunga.


“Permisi, Mbak. Apa baru-baru ini ada yang membeli sebuket bunga kamboja ini gak?” tanya Angga sambil menunjukkan bunganya.


“Em ... bentar saya cek dulu,” ucap Penjual Bunga itu.


Setelah beberapa menit.


“Maaf, Mas. Sayangnya tidak ada yang membeli bunga kamboja akhir-akhir ini. Yang ada dua minggu lalu,” ucapnya.


“Kira-kira yang beli bunga dua minggu lalu itu seorang perempuan atau laki-laki?” tanya Angga.


Penjual bunga itu seperti sedang mengingat-ingat kembali. “Seorang wanita paruh baya, Mas.”

__ADS_1


“Oh gitu yah. Makasih ya, Mbak.” Angga dan Dilfa pun keluar dari toko bunga itu.


“Ada apa sih?” tanya Dilfa.


“Sekarang kita ke toko bunga selanjutnya!” ajak Angga tanpa menanggapi pertanyaan Dilfa, lalu ia masuk ke dalam mobil diikuti Dilfa.


“Ga, jelasin dong!” pinta Dilfa kesal setelah masuk ke dalam mobil.


Angga pun menyalakan mobil lalu melajukannya. “Ada yang ngirim bunga ke Hanna, yaitu bunga kamboja. Lo tahu kan bunga kamboja itu melambangkan kematian. Di dalam bunga itu juga ada surat, dan sudah pasti yang ngirim itu punya niat terselubung ke Hanna,” jelas Angga.


Dilfa merasa kaget bahwa bunga yang di bawa Angga itu milik Hanna.


“Kira-kira siapa yang ngirim?” tanya Dilfa.


“Ck! Ini kita lagi nyari tahu. Dan juga lo jangan kasih tahu dulu ke Hanna ataupun Fauzan, itu perintah Tante Istia!” ujar Angga.


“Oke.”


...🌈🌈🌈...


Sekarang Nayla berada di ruangan Hanna bersama Nadin.


Mereka hanya terdiam setelah Nayla membaca isi surat dari seseorang inisial HP.


Keduanya sama-sama menghela napas panjang karena kejadian ini.


“Tante gak bisa kasih tahu sekarang, maaf, ya,” ucap Nadin.


“Oh iya, Tante. Gak pa-pa.”


Tiba-tiba Hanna mengalamai kejang-kejang. Dan itu membuat Nadin dan Nayla panik.


Nadin segera menekan tombol untuk memanggil dokter.


Beberapa detik kemudian dokter datang bersama dua orang suster.


“Silahkan, Ibu dan adek tunggu di luar,” ucap Dokter itu.


Nadin dan Nayla pun segera keluar dengan air mata yang mengalir di mata mereka.


Dari ruangan Fauzan, terdapat Firza dan Mama Fauzan. Mereka mendengar suara ribut dari ruangan Hanna. Karena penasaran, mereka berdua segera keluar untuk mencari tahu.


“Ada apa?” tanya Mama Fauzan.


“Ha-Hanna mengalami kejang-kejang,” lirih Nadin.


“Astaghfirullah, semoga Hanna baik-baik saja!” harap Mama Fauzan khawatir.

__ADS_1


“Aamiin,” ucap semuanya.


Setelah beberapa menit, akhirnya dokter dan kedua suster itu pun keluar dari ruangan.


“Bagaimana keadaan anak saya, Dok?” tanya Nadin.


“Alhamdulillah kejang-kejang nya sudah mereda. Tapi dia masih dalam keadaan koma. Apakah Hanna dulunya sempat punya penyakit dan di operasi?” tanya Dokter.


“Iya, Dok. Waktu kecil Hanna pernah di operasi dua kali di bagian otak,” jawab Nadin.


“Bisa jadi itu penyebab Hanna sekarang masih dalam keadaan koma. Dan waktu kecelakaan juga benturan di kepalanya cukup keras,” jelas Dokter. “Kita hanya bisa berdoa dan menyerahkan semuanya kepada Allah SWT,” lanjutnya.


“Iya, Dok. Terima kasih,” ucap Nadin.


“Kalau gitu saya permisi dulu!” pamit Dokter diikuti oleh kedua suster.


Nadin, Mama Fauzan, Firza dan Nayla pun memasuki ruangan Hanna.


Sekarang Nadin tidak bisa menangis lagi, walaupun sebenarnya ia ingin menangis. Tapi seolah-olah sekarang air matanya sudah habis karena terlalu sering menangis.


...🌈🌈🌈...


“Mbak, apa sebelumnya ada yang membeli bunga kamboja ini?” tanya Angga saat sampai di toko bunga berikutnya


“Em ... bentar saya cek dulu!” ucap penjual bunga itu.


Satu menit kemudian...


“Ada, Mas. Seorang laki-laki,” jawab penjual itu.


“Ada namanya gak?” tanya Angga.


“Namanya Putra,” jawab penjual itu.


“Apa disini ada CCTV, saya ingin melihat orang itu waktu membeli bunga ini!” pinta Angga.


“Memangnya ada urusan apa ya, Mas. Sampai ingin melihat CCTV?” tanya penjual itu.


“Ini keadaan darurat, Mbak. Kita harus tahu wajah orang itu, karena ini demi keselamatan teman saya,” jawab Angga dengan tegas.


“Sayang nya orang ini pakai topi, Mas. Mungkin Mas gak bisa lihat wajahnya,” jelas penjual itu.


“Gak pa-pa, dari bentuk tubuh sama warna baju juga penting.”


“Baiklah, mari ikut saya!” ajak penjual itu.


Angga dan Dilfa pun segera mengikuti langkah penjual bunga dengan tersenyum lebar.

__ADS_1


...🌈🌈🌈...


__ADS_2