Jodohku Teman Kecilku

Jodohku Teman Kecilku
JTK-39


__ADS_3

Sekarang jam sudah menunjukkan pukul satu siang.


Hampir semua murid sedang berada di kantin untuk mengisi perut kosong mereka.


Termasuk mereka berdelapan. Siapa lagi kalau bukan Hanna, Fauzan, Nayla, Angga, Firza, Dilfa, Lea, dan Leo.


Mereka berdelapan sekarang menjadi pusat perhatian bagi semua murid yang ada di kantin, karena mereka berada di tengah-tengah kantin.


Mereka juga baru saja sudah memesan makanan.


“Wah! Kita makin rame aja nih. Nambah 3 orang,” sahut Angga.


“Nambah empat kali,” ucap Nayla.


“Siapa aja 4 orang?” tanya Angga.


“Dilfa, Firza, Lea, dan Leo,” jawab Nayla.


“Jadi gue termasuk baru gitu?” tanya Firza dan Dilfa berbarengan kesal.


“Iya,” jawab Hanna, Fauzan, Nayla dan Angga.


“Kita kan udah bertemu sebelumnya,” ujar Dilfa.


“Iya, mungkin maksud Angga itu baru bareng-bareng di kantinnya. Bukan masalah bertemannya. Gue aja sama Lea dan Leo udah kenal beberapa tahun,” jelas Hanna.


“Oh.” Firza dan Dilfa hanya ber’oh’ ria.


“Kalian udah tahu kan nama gue dan kembaran gue?” tanya Lea sambil menepuk pundak Leo.


“Udah," ucap semuanya.


“Gue bakal memperkenalkan diri lagi. Nama gue Lea, dan ini adik kembaran gue Leo.” Lea memperkenalkan dirinya dan juga Leo.


“Salam kenal Lea dan Leo, gue Dilfa, kapten basket sekolah ini,” ucap Dilfa sambil menepuk dadanya bangga.


Nayla dan Hanna yang melihat itupun merasa ingin mual.


”Kenapa lo, Han, Nay?” tanya Dilfa kesal.


“Gak pa-pa,” ucap Nayla dan Hanna dengan tersenyum terpaksa.


“Permisi, Kak Fauzan,” ucap dua orang siswi yang sepertinya kelas 11.


“Kenapa?” tanya Fauzan datar.


“Kita ingin daftar jadi anggota OSIS,” ucap salah satu siswi itu dengan malu-malu.


“Kayaknya ini anak demen sama Fauzan,” batin Hanna.


“Oh ya. Tapi daftar nya itu ke sekretaris atau gak ke ketua osis,” ucap Fauzan.


“Tapi aku gak tahu sekretarisnya siapa,” ucap siswi itu.

__ADS_1


“Kalau yang ada di hadapan gue lo tahu kan?” tanya Fauzan sambil melirik Angga yang ada di hadapan.


“Eh. Kak Angga, aku kira siapa?” kaget siswi itu saat melihat Angga.


“Pftt.” Nayla, Firza dan Dilfa seperti menahan ketawa.


“Mampus gak di anggap,” ledek Dilfa.


Angga yang mendengar ledekan itu pun melirik Dilfa kesal.


“Sakit tahu di giniin.” Angga memegang dadanya pura-pura sakit.


“Maaf, Kak!” ucap siswi itu dengan nada tidak enak.


“Memang cuma Fauzan yang mencolok disini,” gumam Lea dan itu terdengar oleh Hanna, Firza, Dilfa dan Leo. Dan mereka yang mendengar ucapan Lea hanya bisa terdiam.


“Ya sudah, gak pa-pa. Beneran kalian ingin masuk osis?” tanya Angga memastikan.


Kedua siswi itu hanya menganggukkan kepalanya.


“Oke. Mari ikut gue ke ruang osis untuk ngambil formulir! Oh ya, gue pamit dulu ya!” ucap Angga kepada teman-temannya.


Setelah kepergian Angga dan kedua siswi itu pun.


Dilfa berceletuk, “Apa cuma gue yang ngerasa kalau kedua siswi itu demen sama Fauzan?”


“Aku juga ngerasa,” sahut Nayla.


Dilfa pun menatap Hanna, Firza, Lea, dan Leo meminta persetujuan.


“Lea, kembaran lo ini memang gini ya sifatnya, dingin,” ucap Dilfa dengan memelankan kata terakhir.


“Kadang dingin sih. Tapi dia juga salah satu bad boy di sekolah dulu tahu. Sama kayak gue,” jelas Lea.


“Gue beda sama lo,” sahut Leo.


“Apa bedanya?” tanya Lea.


“Gue pinter, lo B aja,” jawab Leo.


“Gue gak bodoh,” sanggah Lea.


“Gue gak bilang lo bodoh.”


“Lo memang gak bilang gue bodoh. Tapi maksud lo gitu kan?” kesal Lea.


“Bagus kalau sadar diri,” ucap Leo.


“Jahat banget lo sama kakak sendiri!” teriak Lea.


“Wah! Ternyata cara berantem kalian seru juga! Lanjutin dong!” kagum Dilfa dengan mata polos.


“DILFA!” tegur semuanya.

__ADS_1


...🌈🌈🌈...


Tak terasa kini mereka sudah mulai memasuki ulangan akhir semester. Dan ini UAS terkahir mereka di SMA. Karena pada semester dua mereka gak akan ada UAS.


Dan sekarang sudah pukul satu siang. Dan itu artinya UAS hari pertama sudah berakhir.


Mereka berdelapan sedang berada di parkiran untuk segera pulang menuju rumah mereka masing-masing.


“Gimana nih guys UAS hari pertama, masih ada 5 hari lagi. Yang sabar ya semuanya, soalnya ini UAS terakhir kita. Jadi nikmatin saja,” ujar Angga ke teman-temannya.


“Iya, ini juga UAS pertama gue di sekolah ini,” sahut Lea.


“Iya, gue juga. Dan pertama kali juga seruangan sama adik kelas. Hampir semua cakep-cakep cowoknya,” ucap Firza.


“Eh iya bener lo, Fir.” Lea setuju dengan Firza.


“Demen yang berondong juga lo!” ledek Dilfa.


“Dari pada lo jadi berondongnya!” ledek Firza kembali


“Hah! Maksudnya?” tanya Angga, Nayla dan Lea bingung.


“Kalian gak tahu, kalau Dilfa itu—“ Ucapan Firza terpotong karena Dilfa membekapnya.


“Udah-udah ya, sebaiknya kita pulang. Besok kita masih harus UAS,” ujar Dilfa dengan senyum terpaksa sambil membawa Firza menjauh.


“Aneh!” ucap Leo.


Leo memang mulai bisa berbaur dengan mereka berenam, walaupun masih sedikit dingin.


“Ada yang tahu mereka berdua kenapa?” tanya Lea.


Mendengar pertanyaan dari Lea, Fauzan dan Hanna hanya saling tatap seolah mereka mengerti apa yang akan Firza katakan tadi.


Tapi Fauzan dan Hanna hanya mengedikkan bahunya pura-pura gak tahu.


Lalu mereka pulang ke rumah masing-masing meninggalkan Dilfa dan Firza yang entah kemana.


•••


”Lo bisa diam gak?” tanya Dilfa kesal saat mereka sudah sampai di taman belakang sekolah.


“Emang lo tahu, gue bakal ngomong apa tadi?” tanya Firza balik.


“Lo bakal ngasih tahu kalau gue pernah suka sama alumni, kan?” Dilfa memicingkan matanya.


“I-Iya sih.” Firza hanya menyengir.


“Udah gue duga. Tapi lo gak usah kasih tahu mereka ya. Sekarang gue udah gak suka sama alumni itu, kok,” jelas Dilfa.


“Oh.” Firza hanya ber’oh’ ria.


“Ya sudah gue pulang!” pamit Dilfa meninggalkan Firza.

__ADS_1


“Eh! Tungguin!” teriak Firza.


...🌈🌈🌈...


__ADS_2