
"Makasih ya, sudah mau nganterin Hanna," ucap Mama Hanna.
"Iya tante sama-sama."
"Emm ... kalau dilihat-lihat kamu ada kemiripan sama Ozan dulu."
Perkataan Mama Hanna membuat jantung Fauzan semakin berdebar kencang.
"Ta-tante masih inget Ozan?" tanya Fauzan dengan nada gemetar.
"Tentu saja. Jadi kamu memang benar Ozan, teman kecil Anna dulu," ucap Mama Hanna dengan penuh harap.
Fauzan hanya menganggukkan kepalanya pelan lalu menunduk menatap sepatunya dengan tatapan kosong tetapi matanya menunjukkan binar penuh kerinduan.
Grep!
Spontan Mama Hanna memeluk Fauzan.
"Ozan, maafin tante karena telat membawa Anna kembali," ucap Mama Hanna dengan nada sedih.
Fauzan pun membalas pelukan Mama Hanna.
"Iya tante, tidak apa-apa."
Mama Hanna pun melepaskan pelukannya.
"Mari kita bicara sebentar di belakang!" ajak Mama Hanna.
***
Bruk!
Fauzan menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur lalu menatap langit-langit kamarnya dengan pandangan senang di campur sedih.
"Aku harus bisa menjalani semua ini dengan baik," gumam Fauzan.
"Menjalani apa, Zan?" tanya Mama Fauzan yang kebetulan mendengar Fauzan menggumamkan sesuatu.
"Emm ... itu kerjaan dan tugas sekolah," ucap Fauzan dengan setengah berbohong karena ia belum siap untuk mengatakan yang sebenarnya.
"Oh gitu, kenapa jam 7 baru pulang?Udah mama bilang kan sebelum magrib harus sudah pulang," ucap Mama Fauzan.
"Tadi ada sedikit masalah mah disekolah, jadi ke cafenya agak sorean," jelas Fauzan.
"Oh ya udah. Sekarang kamu mandi, ganti baju terus makan malam yah!"
Fauzan hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
***
Keesokan harinya, Hanna terlihat lebih sehat dari hari kemarin.
Kini dia sudah siap dengan seragamnya dan bergegas ke ruang makan untuk sarapan.
"Pagi Ma, Pah," sapa Hanna.
"Pagi sayang," sapa Mama dan Papah Hanna kembali.
"Aku makan di jalan aja yah, takut telat nih," ucap Hanna terburu-buru sambil meminum air putihnya kemudian mengambil roti yang sudah disediakan Mamanya.
"Iya, hati-hati. Eh ... tunggu," cegah Mama Hanna.
"Apa mah?" tanya Hanna.
__ADS_1
"Sepertinya anak kemarin yang namanya Fauzan orangnya baik, kamu boleh temenan sama dia," ucap Mama Hanna.
"Apaan sih mah." Hanna menanggapinya dengan malas.
"Mama harap kamu bisa temenan sama dia ...." Mama Hanna menjeda beberapa detik, kemudian ia melanjutkan perkataannya karena merasa tidak ditanggapi oleh anaknya. "Ya udah. Cepat sana berangkat!"
Hanna pun pergi dengan diantar oleh supir pribadinya.
"Apa maksud ucapan Mama tadi yah?" batin Hanna dengan dahi berkerut.
***
Sesampainya di sekolah.
Kini Hanna sedang berjalan di koridor sekolah sambil menundukan kepalanya.
Tiba-tiba ...
Duk!
"Ahk!" Hanna meringis karena ia merasa kepalanya menabrak sesuatu.
Dan akhirnya Anna pun mendongak.
"Lo!" tunjuk Hanna ke orang yang ia tabrak.
"Apa? Gue ganteng," ucap orang itu yang ternyata Fauzan.
Hanna yang mendengar itu hanya bergidik ngeri. "Pede banget anda."
Fauzan pun meneliti penampilan Hanna dari atau sampai bawah.
"Apa lo liat-liat gue?" Hanna merasa risih karena harus di teliti begini. "Gue emang cantik kok dari lahir," lanjut Hanna.
"Pede banget anda," ucap Fauzan sambil meniru gaya bicara Hanna tadi lalu berlalu dari hadapannya.
Bel masuk pun berbunyi.
Semua siswa-siswi masuk ke kelasnya masing-masing.
Di kelas 11 IPA 1, semuanya tampak serius membaca buku karena yang mereka ketahui sekarang akan diadakan quiz untuk menentukan siapa yang akan mengikuti lomba cerdas cermat dua minggu lagi.
Pak Johan, selaku pembimbing lomba cerdas cermat pun tampak mulai memasuki ruang kelas 11 IPA 1.
"Baik semuanya, kita langsung mulai saja quiznya," ucap Pak Johan.
"Baik, Pak," sahut siswa dan siswi.
"Oke, quiz kali ini akan di bagi 2 babak. Babak pertama soalnya akan di bagiin oleh bapak. Jumlah soalnya sebanyak 20 dengan waktu 40 menit. Dan babak yang keduanya nanti akan bapak jelaskan setelah babak pertama selesai," jelas Pak Johan panjang lebar.
Pak Johan pun mulai membagikan soalnya.
"Waktu dimulai dari sekarang," ucap Pak Johan memulai waktunya.
40 menit kemudian ...
"Baik waktu sudah habis. Silahkan kumpulkan kertasnya!"
Semua siswa dan siswi mengikuti instruksi dari Pak Johan.
"Oke, bapak akan langsung periksa. Selama bapak memeriksa kalian istirahatkan dulu otak kalian atau baca-baca buku juga boleh."
"Makasih, Pak," ucap murid-murid.
__ADS_1
"Haduh otak gue ngebul rasanya," gumam Hanna yang masih bisa di dengar oleh Fauzan.
"Pantesan kayak ada bau asep," sahut Fauzan sambil melirik Hanna yang sedang mengibas-ngibas kepalanya pakai tangan.
"Nyaut aja lo kayak kucing," ucap Hanna kesal.
"Bagus dong kucing kan lucu-lucu."
"Tapi lo gak lucu, tapi culun."
"Kalau gue culun, gak mungkin gue di sukai banyak orang."
"Pedenya kumat lagi deh."
"Emang faktanya gitu.
Gimana tadi soalnya, gampangkan?" tanya Fauzan mengalihkan pembicaraan.
"Segitu sih kecil buat gue," jawab Hanna dengan nada sedikit sombong.
"Sombong amat."
"Oke anak-anak waktu baca-baca, ngobrol dan istirahat sudah selesai, dan bapak mengeceknya juga sudah selesai," ucap Pak Johan menyela kegiatan murid-murid.
"Pak siapa nilai yang paling sempurna?" tanya Rifa, sang ketua kelas.
"Oke, bapak hanya akan menyebutkan 5 orang yang mendapat nilai tertinggi saja dari 38 siswa."
"Yang kelima, Nandan."
"Yang keempat, Celine."
"Yang ketiga, Bilqis."
"Yang kedua, Hanna."
"Dan yang pertamanya adalah ...," ucap Pak Johan menggantungkan ucapannya.
"Lo pasti gak bakal masuk," ucap Hanna dengan nada meremehkan ke Fauzan.
Fauzan menyeringai. "Liat aja nanti."
"Fauzan," ucap Pak Johan.
"Lo liat kan. Bahkan gue lebih unggul dari lo," ucap Fauzan dengan nada sombong.
"Ck! Sombong amat." Hanna hanya berdecak kesal.
"Oke kita ke babak selanjutnya yaitu babak rebutan. Nanti bapak akan membacakan soalnya, bagi yang tahu jawabannya harap angkat tangannya terlebih dahulu, dan kalau bapak sudah mempersilahkan untuk menjawab lalu kalian jawab. Dan juga bentuk soalnya tidak ada hitung menghitung karena tadi sudah di babak pertama. Semua murid di kelas ini ikutan ya," jelas Pak Johan pelan-pelan.
"Baik, Pak."
"Langsung ke pertanyaan pertama ... pada masa pemerintahan siapa Candi Borobudur rampung dibangun?" Pak Johan mulai memberikan pertanyaan pertama.
Dan terdapat 10 siswa yang mengangkat tangan, termasuk Fauzan.
Hanna yang melihat Fauzan mengangkat tangan merasa kesal, karena dirinya tidak tahu jawabannya.
Semua siswa yang mengangkat tangan sudah menjawab pertanyaannya. Dan hasilnya hanya Fauzan dan 3 orang murid yang yang berhasil menjawab dengan benar.
"Lanjut pertanyaan kedua, Jelaskan pengertian dari informasi induktif!”
Dan kali ini hanya ada 5 orang yang mengangkat tangan, termasuk Hanna. Tapi tidak dengan Fauzan.
__ADS_1
Hanna yang melihat Fauzan tidak mengangkat tangan hanya menjulurkan lidahnya.
Dan Fauzan hanya menanggapinya dengan dengusan kesal.