Jodohku Teman Kecilku

Jodohku Teman Kecilku
JTK-29


__ADS_3

Setelah hampir menghabiskan waktu dua jam mereka bermain di timezone, kini mereka berada di salah satu cafe yang ada di mall tersebut.


Mereka berempat duduk santai tanpa berbicara satu sama lain. Mungkin karena terlalu kelelahan setelah seharian bermain.


"Oh, Zan. Lo jadi panitia perpisahan kelas 12, kan?" tanya Dilfa memecahkan keheningan.


"Hmm." Fauzan hanya berdehem menanggapinya.


"Teknis nya bagaimana tuh, bakal ada apa aja?" tanya Dilfa.


"Belum pasti. Besok bakal di tentuin lagi," jawab Fauzan. "Intinya kelas 10 dan kelas 11 nya gak bakalan hadir semua," lanjutnya.


"Yah! Gak bisa lihat gebetan gue dong!" keluh Dilfa.


"Gebetan lo kakak kelas?" tanya Firza.


"Hooh," jawab Dilfa.


"Berarti lo jadi berondong, dong!" seru Firza dengan tertawa pelan.


"Gue kira lo pacarnya Hanna!" Hanna dan Fauzan pun tersedak karena perkataan Firza.


"Kompak banget lo berdua tersedaknya ... em ... gak papalah jadi berondong." Dilfa terkekeh pelan. "Sepertinya Fauzan ada rasa sama Hanna!" lanjutnya dalam hati.


"Oh ya, Han. Besok lo mau kesekolah gak?" tanya Dilfa.


"Em ... kayaknya nggak deh. Ngapain juga, gak bakalan belajar ini," jawab Hanna sambil mengaduk minumannya.


"Kalau gitu lo mau gak ke tempat gym punya gue?"


"Punya lo atau punya orang tua lo?" tanya Hanna tak percaya.


"Punya gue lah. Lo gak percaya?"


"Gak yakin sih," ucap Hanna.


"Ya sudah. Besok lo ikut gue ke tempat gym, gimana?" tanya Dilfa.


"Oke."


"Nanti gue chat lo," ucap Dilfa. Dan Hanna menganggukan kepalanya.


Di tempat duduknya, Fauzan merasa gerah dengan interaksi antara Dilfa dan Hanna.


"Ah, ya. Gue juga udah mutusin buat pindah sekolah ke tempat kalian bertiga," ucap Firza tiba-tiba.


"Apalagi ini," batin Hanna.


"Seriusan?" tanya Fauzan.

__ADS_1


"Yup. Dan orang tua lo juga ngizinin kok."


"Ya sudah terserah lo aja!" ucap Fauzan.


"Emang lo gak sesekolah ya sama kita? Pantesan kayak gak pernah lihat di sekolah," sahut Dilfa.


"Nggak. Gue sekolah di kota sebelah," ucap Firza.


"Oh." Dilfa menganggukan kepalanya.


"Gue pulang duluan yah!" pamit Hanna sambil berdiri dari duduknya.


"Bi-" Ucapan Fauzan terpotong oleh Dilfa.


"Ayo, gue anter! Tadikan gue yang jemput lo. Masa sekarang gue ngelantarin lo sih?" ajak Dilfa.


Hanna hanya menganggukan kepalanya setuju.


"Zan, Fir. Gue duluan ya, mau nganterin Hanna dulu!" pamit Dilfa.


"Oke," ucap Firza. Sedangkan Fauzan hanya menganggukan kepalanya.


"Hanna di jemput Dilfa," batin Fauzan sambil memandang punggung Hanna yang mulai menjauh dari sana.


๐ŸŒˆ๐ŸŒˆ๐ŸŒˆ


Keesokan harinya pada pukul 7 pagi.


"Lo udah siap?" tanya Dilfa saat di rumah Hanna untuk menjemputnya.


"Udah," jawab Hanna.


"Yuk, berangkat!" ajak Dilfa.


Lalu mereka pergi menuju tempat gym.


๐ŸŒˆ๐ŸŒˆ๐ŸŒˆ


Sesampainya di tempat gym.


Ternyata tempat gym nya tidak jauh dariย sekolah mereka.


"Ternyata deket dari sekolah yah?" tanya Hanna.


"Iya, sengaja gue buat tempat gym deket sekolah. Biar mantaunya mudah juga," jelas Dilfa.


"Iya, sih."


"Yuk, masuk!" ajak Dilfa lalu masuk ke tempat gym.

__ADS_1


๐ŸŒˆ๐ŸŒˆ๐ŸŒˆ


Dari gerbang sekolah, Fauzan tak sengaja melihat Dilfa dan Hanna memasuki tempat gym. Spontan Fauzan mengepalkan tangannya erat dan menggigit bibir bawahnya.


โ€œKenapa, Zan?โ€ tanya Angga saat melihat ada yang aneh dalam diri Fauzan.


Merasa tidak di tanggapi, Angga menoleh ke apa yang dilihat Fauzan.


โ€œOh ... cemburu, toh,โ€ batin Angga sambil menganggukkan kepalanya pelan.


โ€œYuk, masuk! Rapat bentar lagi dimulai!โ€ ajak Angga. Dia lebih baik tidak membahas keadaan ini dulu, walaupun sebenarnya ia ingin menggoda Fauzan. Tapi dia tidak ingin memperburuk mood Fauzan, dan menimbulkan tidak fokus saat rapat nanti.


Fauzan pun menyusul Angga memasuki sekolah.


๐ŸŒˆ๐ŸŒˆ๐ŸŒˆ


Hampir sudah 2 jam mereka berolahraga di tempat gym milik Dilfa.


Dan saat ini merasa sedang beristirahat dan duduk di tempat duduk yang sudah disediakan.


โ€œDil, sejak kapan tempat gym ini berdiri?โ€ tanya Hanna.


โ€œSejak gue kelas 9 sih. Tapi saat itu tempat gym ini masih di handle sama Papah gue. Tapi sejak kelas 10, tempat gym ini resmi jadi milik gue sekalian sebagai hadiah ulang tahun,โ€ jelas Dilfa.


โ€œOh, gitu. Hebat lo udah punya usaha,โ€ puji Hanna sambil menepuk bahu Dilfa.


โ€œHehe ... ini juga berkat Papah gue,โ€ ucap Dilfa dengan tersenyum tipis. Sedangkan di dalam hatinya ia bersorak senang karena di puji Hanna.


โ€œIni gue bayar, jangan?โ€ tanya Hanna.


โ€œGak usah, khusus buat lo aja gratis,โ€ bisik Dilfa.


โ€œAh! Lo bisa aja. Btw makasih yah udah ngajak gue kesini. Udah lama gue gak olahraga,โ€ ucap Hanna.


โ€œIya sama-sama. Lo gak olahraga juga gak akan gemuk kok,โ€ canda Dilfa. Tapi itu memang kenyataannya.


โ€œMasa?โ€


โ€œIya.โ€


โ€œYa sudah. Yuk anterin gue pulang!โ€ pinta Hanna sambil berdiri dari duduknya.


โ€œYuk!โ€


Mereka pun berlalu dari tempat gym tersebut.


Disisi lain, ada 1 orang laki-laki dan 2 orang perempuan yang diam-diam memotret kebersamaan Dilfa dan Hanna.


๐ŸŒˆ๐ŸŒˆ๐ŸŒˆ

__ADS_1


TBC


Maaf ya, mungkin akhir-akhir ini bakalan jarang update. Paling hanya 2 kali dalam seminggu๐Ÿ™๐Ÿ™


__ADS_2