
Sesampainya di rumah Hanna.
Hanna langsung memasuki rumahnya setelah berpamitan dengan Fauzan.
“Assalamualaikum,” salam Hanna saat memasuki rumahnya.
“Waalaikumussalam. Na, kamu udah pulang?” tanya Mama Hanna yang sedang duduk di ruang keluarga.
“Iya. Baru aja,” jawab Hanna sambil menghampiri Mamanya lalu duduk di sampingnya.
“Kamu udah makan?” tanya Mama Hanna.
“Udah di rumah Fauzan tadi.”
“Oh, ya sudah. Gimana dengan keluarga Fauzan?” tanya Mama Hanna lagi.
“Mama ini mau menginterogasi aku yah?” tanya Hanna heran, tapi iapun menjawab pertanyaan Mamanya tadi. “Mereka baik kok. Banget malah.”
“Hhee ... emang gak boleh nanya ke anak sendiri yang baru pulang dari rumah seorang laki-laki?” Mama Hanna menaikkan sebelah alisnya.
Hanna mengusap tengkuknya.
“Ya boleh-boleh aja sih, Ma. Gak ada yang ngelarang.”
“Ya sudah kalau gitu. Terserah Mama mau nanya apa enggak.”
“Iyaa, Ma,” kesal Hanna. “Tapi, Ma. Orang tua Fauzan menurut aku agak aneh deh sikapnya sama aku. Apalagi Fauzan nya,” lanjutnya.
“H-ha ... aneh gimana?” heran Mama Hanna dengan kekehan canggung.
“Ya ... gimana, yah? Em! Mereka baiknya itu kelewatan, Ma. Gak seperti di film-film dan novel yang suka aku baca. Mereka memperlakukan aku dengan beda, padahal aku baru ketemu sama mereka satu kali,” jelas Hanna dengan nada heran.
“Ya ... bagus dong kalau gitu. Itu artinya mereka suka sama kamu. Kamu seharusnya bersyukur mereka itu orangnya baik-baik kalau sama orang baru, bukannya malah heran begini,” nasihat Mama Hanna dengan sedikit gugup.
“Ah! Mama ini gak ngerasain yang aku alamin deh! Ya sudah lah, gak bakal aku pikirin lagi. Bikin pusing aja,” kesal Hanna sambil memegang kepalanya.
“Hmm ... sebaiknya kamu istirahat aja sana!” titah Mama Hanna.
“Ya udah aku ke kamar dulu,” pamit Hanna sambil berdiri dari duduknya.
“Ya sudah. Selamat malam, sayang.”
“Malam juga, Ma.”
Hanna pun berlalu menuju kamarnya.
Sedangkan Mama Hanna hanya tersenyum penuh arti sambil memandang anak semata wayangnya berlalu menuju kamar.
🌈🌈🌈
Keesokan paginya ...
Pada pukul 6.30 pagi, Hanna sudah berada di sekolah karena hari ini Senin, jadi dia akan mengikuti upacara.
__ADS_1
“Han, tumben lo udah dateng?” tanya Fauzan yang tiba di kelas dengan jas almamater yang menempel di tubuhnya, sebenarnya dia sudah datang duluan daripada Hanna. Karena dia Anggota OSIS, jadi pada pukul 6.15 harus sudah ada disekolah untuk mempersiapkan peralatan upacara.
“Iyalah, ini kan Senin, waktunya upacara. Gak mau gue kalau telat dan harus di hukum sama lo,” ketus Hanna sambil memakai topinya.
“Itu lo tahu, kalau telat bakal di hukum sama gue atau sama Angga atau mungkin sama guru BK.”
“Guru BK nya siapa?” tanya Hanna.
“Bu Anik sama Pak Jojo,” jawab Fauzan.
“Guru agama sama guru sejarah itu yah?”
“Iya.”
“Eh itu dasi lo di bagian belakang gak bener!” ucap Fauzan saat Hanna membalikkan tubuhnya membelakangi Fauzan.
Hanna pun membalikkan tubuhnya menghadap Fauzan.
“Ah! Yang bener? Bagian mana?” tanya Hanna sambil meraba-raba bagian tengkuknya
“Sini biar gue yang benerin!” pinta Fauzan sambil membalikkan tubuh Hanna supaya mudah untuk membenarkan dasinya.
Fauzan pun membenarkan dasi Hanna di bagian belakang yang terlipat.
“Sini bagian depannya juga sekalian!” tawar Fauzan sambil membalikkan tubuh Hanna supaya menghadapnya.
Deg! Deg!
“Kuatkan hamba Ya Allah!” batin keduanya.
Kegiatan mereka berdua tak lepas dari pandangan siswa dan siswi yang ada di kelas tersebut.
“Mereka cocok banget ya, kenapa gak jadian aja?”
“Iya, meskipun mereka kayak musuh. Tapi sebenarnya cocok-cocok aja sih. Gue dukung.”
“Ih! Dasar caper!”
Dan masih banyak lagi bisikan-bisikan lainnya.
“Nah, selesai,” ucap Fauzan sambil menepuk pundak Hanna pelan dua kali.
Hanna menanggapinya hanya dengan senyuman canggung. “Ma-makasih.”
“Iya.” Fauzan tersenyum tipis. “Ayo ke lapangan! 5 menit lagi upacara di mulai,” ajak Fauzan setelah melihat waktu yang ada di jam tangannya.
“Ayo.”
“Ayo semuanya menuju lapangan! Sebentar lagi upacara di mulai,” ajak Fauzan lagi ke teman-teman sekelasnya.
Fauzan dan Hanna pun menuju ke lapangan upacara di ikuti teman-teman sekelasnya yang dominan perempuan.
Fauzan dan Hanna berada di bagian depan saat menuju ke lapangan, seolah-olah mereka itu pemimpin dari sebuah pasukan yang akan berperang.
__ADS_1
Apalagi Fauzan yang memakai jas almamater di tambah topi. Makin tambah keren.
🌈🌈🌈
Teng! Teng! Teng!
Bel istirahat berbunyi.
Semua siswa dan siswi berbondong-bondong menuju kantin, karena tadi waktu selesai upacara. Mereka tidak sempat ke kantin karena ada razia dadakan mengharuskan mereka langsung menuju ke kelas.
Apalagi Hanna. Dirinya merasa sangat jengkel karena harus di razia oleh Fauzan. Dia seperti sengaja memilih merazia dirinya. Dan untung saja Hanna tidak kena razia apapun. Semuanya sudah beres, sepatu yang awalnya berwarna-warni, dia sudah menggantinya dengan sepatu hitam.
“Aduh, gila! Fauzan ngerazianya gak setengah-setengah,” keluh Hanna, padahal dirinya gak kena razia. Tapi tetap saja merasa jengkel karena harus di periksa ini itu.
Kini Hanna dan Nayla berada di kantin tanpa Fauzan dan Angga.
Dari setelah selesai upacara, Angga dan Fauzan langsung melakukan razia lalu setelah itu mereka tak lagi menampakkan hidungnya. Mungkin lagi membereskan barang-barang yang di razia, di ruang OSIS.
“Iya aku juga. Kamu di razia sama Fauzan, Na?” tanya Nayla.
“Iya. Kalau lo?” tanya Hanna juga.
“Sepertinya aku di razia sama anak IPA. Gak tahu sama siapa. Gak kenal,” jawab Nayla.
Hanna hanya menganggukkan kepalanya.
“Hai, maaf ya telat,” ucap Angga yang baru saja datang dengan Fauzan dan langsung duduk di samping Nayla, sedangkan Fauzan di samping Hanna. Mereka masih menggunakan jas almamaternya, sepertinya mereka langsung ke kantin setelah selesai dari ruang OSIS.
“Siapa juga yang nungguin kalian,” ucap Hanna dengan nada mengejek.
Mendengar perkataan Hanna. Fauzan langsung berkata, “Jadi kedatangan kita kesini gak di harepin, nih?”
Sedangkan Nayla yang mendengar perkataan Hanna hanya tertawa kecil.
“Haha ... nggak kok. Hanna hanya bercanda karena lapar,” ucap Nayla polos.
“Oh ... lapar ....”
“Ck!” Hanna hanya berdecak pelan lalu melanjutkan memakan makannya.
“Eh! Minggu depan kita udah mulai ujian kenaikan kelas yah?” tanya Angga.
“Iya. Gak kerasa udah mau kelas dua belas aja, kita harus fokus buat ujian nasional nanti,” sahut Nayla.
“Iya. Nay ... gak sabar pengen cepat-cepat lulus,” ucap Angga. “Dan kira-kira kalian mau ngelanjutin kemana?” tanyanya kemudian.
“Kalau gue ... mungkin ke luar negeri,” jawab Fauzan duluan.
Mendengar jawaban Fauzan, Hanna langsung berhenti dari kegiatannya.
🌈🌈🌈
TBC
__ADS_1