Jodohku Teman Kecilku

Jodohku Teman Kecilku
Antara Dua Wanita


__ADS_3

"Itu lo tahu," ucap Hanna dan Fauzan berbarengan.


"Kayaknya kalian jarang akur. Tapi kok Fauzan malah ngajak lo kesini?" tanya Firza dengan nada kurang enak.


“Seneng banget kayaknya kalau gue gak akur sama Fauzan,” batin Hanna.


"Mana gue tahu, tanya aja sama Fauzan. Apa alasan dia ngajak gue kesini," ucap Hanna dengan datar.


"Gue ngajak lo kesini karena Papah dan Mama yang minta," jelas Fauzan yang memang kenyataannya seperti itu. Walaupun sebenarnya dia juga ingin Hanna ada disini dan berduaan dengannya. Tapi keinginan itu harus pupus karena ada sepupunya tiba-tiba datang.


"Oh, gitu," gumam Firza.


"Tapi kok gue ngerasa aneh ya sama sikap Fauzan," lanjutnya dalam hati.


"Dan gue mau tanya lagi, apa alasan orang tua lo pengen ketemu sama gue?" tanya Hanna dengan nada serius.


"Kenapa suasananya jadi gini?" batin Fauzan sambil menatap mata Hanna.


Fauzan belum menjawab pertanyaan Hanna.


Dan kini suasana di gazebo menjadi hening.


Setelah beberapa detik, akhirnya Fauzan membuka suara. "Oke, gue bakal jawab pertanyaan lo."


"Ya udah cepet," kesal Hanna karena harus nunggu jawaban Fauzan.


"Sebenarnya ...." Fauzan menjeda ucapannya karena ia bingung harus menjelaskannya bagaimana.


"Apa?" tanya Hanna dengan penasaran.


"Sebenarnya ... lo itu mirip seseorang di masa lalu, yang sudah orang tua gue anggap seperti anak sendiri, makanya mereka mau mastiin itu," jelas Fauzan.


Fauzan tidak mungkin menjelaskan bahwa Hanna itu teman kecil dirinya, tapi fakta bahwa Hanna sudah mereka anggap sebagai anak sendiri itu benar.


"Jadi gue mirip salah satu keluarga lo, gitu?" tanya Hanna lagi.


"Seseorang itu bukan keluarga gue. Tapi ... dia itu seorang gadis yang sudah orang tua gue anggap sebagai anak sendiri."


"Lo sendiri tahu wajah gadis itu?" tanya Hanna.


"Gak terlalu ingat sih," jawab Fauzan dengan setengah berbohong. Sebenarnya dia ingat bentuk wajah Hanna, apalagi bentuk mata, hidung dan alisnya. Dia sangat ingat.


"Lo kenal sama seseorang itu?" tanya Hanna lagi.


"Lu-mayan," jawab Fauzan ragu.


"Oh."


"Ini kenapa jadi mereka yang ngobrol. Gue malah cuekin," kesal Firza dalam hati.


"Gue harus ngelakuin sesuatu supaya mereka merenggang," lanjutnya dalam hati dengan tatapan berbeda dan senyuman miring.


"Eh! Zan, setuju gak kalau gue pindah ke tempat sekolah lo?” tanya Firza dengan senyuman manisnya.


“Hah! Pindah? Yang bener. Rumah lo jauh banget loh dari sini,” heran Fauzan.


“Gak papa. Kan, gue bisa tinggal disini. Atau gak gue bisa sewa apartemen di dekat sekolahnya,” ucap Firza.


“Gila nih! Mau tinggal di rumah ini? Gak tahu malu,” batin Hanna. Entah kenapa dia merasa kesal dengan ucapan Firza barusan.

__ADS_1


“Gue sih terserah lo. Lo bilang aja sama orang tua gue dulu,” saran Fauzan.


“Nih lagi Fauzan. Seolah memberi lampu hijau buat Firza tinggal disini,” gerutu Hanna dalam hati.


“Dan lo juga harus izin dulu sama orang tua,” sahut Hanna.


Setelah mendengar ucapan Hanna. Raut wajah Firza seketika berubah, dan keadaan menjadi hening lagi.


“Kenapa? Ada yang salah yah dengan ucapan gue?” tanya Hanna bingung.


“Em ... Han!” panggil Fauzan ragu.


“Ada apa?” tanya Hanna heran.


“Ee ... aduh! Gimana ya?” Fauzan mengusap tengkuknya Gugup.


“Sebenarnya ...,” lanjut Fauzan.


“Yang jelas dong,” kesal Hanna.


“Za, lo aja deh yang ngomong!” pinta Fauzan ke Firza yang masih menatap kosong ke lantai.


“Orang tua gue udah cerai. Dan mereka jarang banget ada buat gue, jadi hubungan gue sama orang tua gue kurang baik,” jelas Firza cepat dan datar.


Mendengar penjelasan dari Firza, sontak membuat Hanna merasa tidak enak atas ucapannya yang tadi.


“Dan buat apa juga gue bilang sama mereka, kalau merekanya aja jarang ada buat gue,” lanjutnya.


“Aa ... maaf ya. Gue jadi gak enak,” ucap Hanna pelan.


“Gak papa. Karena lo gak tahu apa-apa,” ucap Firza dengan senyuman paksa.


“Kalau boleh gue kasih saran, mending lo bilang aja sama orang tua lo. Walaupun gak secara langsung, bilang aja lewat surat atau lewat chat,” saran Hanna.


“Gak tahu. Tapi ... gue akan coba, makasih atas sarannya,” ucap Firza dengan senyuman tipis.


Hanna dan Fauzan pun ikut tersenyum.


“Ya udah ... sebentar lagi mau magrib. Kita masuk aja yuk!” ajak Fauzan.


“Yuk.”


Mereka pun masuk kedalam rumah karena hari sudah mulai malam.


🌈🌈🌈


Pada pukul 7 malam ...


Kini mereka sudah berada di ruang makan.


“Ayo Hanna makan apapun yang kamu suka! Jangan sungkan,” ucap Mama Fauzan lembut.


“Iya, Tante. Maaf ngerepotin,” ucap Hanna dengan nada tidak enak.


“Eh! Gak papa. Anggap aja keluarga sendiri,” sahut Papah Fauzan.


“Makasih, Om, Tante.”


“Iya ... ayo di makan semuanya!”

__ADS_1


Beberapa menit kemudian mereka sudah menghabiskan makanannya, dan beranjak menuju ke ruang keluarga.


“Em ... Om, Tante. Sepertinya aku harus segera pulang. Sudah malam soalnya ... besok juga harus sekolah,” pamit Hanna.


“Yah! Padahal Tante sama Om masih pengen ngobrol-ngobrol,” ucap Mama Fauzan sedih.


“Nanti aku kesini lagi kok.”


“Ya udah kalau gitu. Zan, anterin gih!” pinta Mama Fauzan.


“Iya, Mah.”


“Aku juga pulang kalau gitu!” pamit Firza.


“Firza gak nginep aja disini!” pinta Mama Fauzan.


“Nanti aja, Tan.”


“Ya udah. Kalian hati-hati yah bawa Mobil ya.”


“Iya.”


Mereka pun pergi menuju garasi untuk mengambil mobil.


Setelah kepergian mereka, Papah Fauzan segera bertanya ke istrinya.


“Kamu beneran udah telepon Nadin, kalau Hanna disini sampai malam?” tanya Papah Fauzan, Alex.


“Iya, udah tadi waktu mereka di gazebo,” jawab Mama Fauzan, Istia.


“Bagaimana reaksinya waktu kamu nelepon?”


“Reaksi Nadin sangat terkejut sampai dia kayak nangis gitu. Katanya dia kangen banget sama kita, dan dia minta maaf karena sempat lost contact sama kita,” jawab Istia dengan senyuman sendu.


“Kita juga udah lama sekali gak bertemu sama Haris dan Nadin.”


“Tadi juga Nadin ngajak kita buat dinner bareng sama keluarganya, sekalian buat temu kangen.”


“Oh ya! Bagus kalau gitu. Tapi saran aku nanti aja dinnernya kalau anak-anak sudah selesai ujian kenaikan kelas,” saran Alex.


“Itu ide yang Bagus.”


Alex dan Nadin pun tersenyum senang.


🌈🌈🌈


“Fir, beneran lo mau pulang malam ini?” tanya Fauzan setelah tiba di samping mobilnya.


“Iyalah, besok kan sekolah,” jawab Firza sambil membuka pintu mobilnya.


“Ya udah. Hati-hati ya di jalannya. Kalau ada apa-apa telepon gue atau orang tua gue aja!”


“Pasti. Gue duluan!” pamit Firza sambil memasuki mobilnya, lalu berlalu dari rumah Fauzan.


Setelah kepergian Firza. Hanna dan Fauzan pun memasuki mobil lalu pergi menuju rumah Hanna.


🌈🌈🌈


TBC

__ADS_1


__ADS_2