Jodohku Teman Kecilku

Jodohku Teman Kecilku
JTK-38


__ADS_3

Satu bulan kemudian...


Kini tahun ajaran baru sudah mulai.


Hanna dan Fauzan pun sudah sembuh dari insiden kecelakaan beberapa minggu yang lalu.


Awalnya Hanna mengalami keretakan pada sebelah kakinya. Tapi sekarang dia sudah sembuh, meskipun belum sembuh total, asal kakinya jangan dulu di pakai lari atau melompat.


Hanna baru saja selesai mandi dan langsung turun ke ruang makan setelah memakai seragam.


“Pagi, Mah, Pah!” sapa Hanna.


“Pagi, sayang!” sapa kedua orang tua Hanna.


“Loh, kamu mau pakai kacamata aja sekarang, Han?” tanya Nadin heran karena melihat penampilan Hanna yang memakai kacamata putih.


“Iya, Ma. Pandanganku sedikit lebih rabun,” jawab Hanna.


“Kamu harus periksa lagi ke dokter, Han!” saran Haris.


“Aku gak pa-pa, Pah. Cuman minus biasa kata dokter,” tolak Hanna.


“Ya sudah. Tapi kalau ada apa-apa bilang ke Papah atau Mama, ya!” titah Haris.


“Siap, Pah!” ucap Hanna sambil hormat.


Mereka pun melanjutkan sarapannya dengan khidmat.


“Aku berangkat dulu, assalamualaikum!” pamit Hanna sambil mencium tangan kedua orangtuanya.


...🌈🌈🌈...


Sesampainya di sekolah.


Semua siswa dan siswi tampak kagum dengan penampilan baru Hanna. Dengan kacamata bulat putih itu, membuat Hanna semakin cantik dan manis.


Termasuk Fauzan, kini dia sedang menatap Hanna tanpa kedip dari depan pintu kelas.


“Pagi!”


Tumben sekali Hanna menyapa Fauzan terlebih dahulu.


“Pagi juga!” sapa Fauzan kembali setelah beberapa detik terdiam.


“Cocok juga lo pakai kacamata, Han. Tambah manis!” puji Fauzan dengan senyuman tipis.


“Makasih ... lo juga pakai kacamata?” Hanna baru sadar kalau Fauzan juga memakai kacamata.


Kini Fauzan dan Hanna menjadi pusat perhatian semua murid karena penampilan mereka yang berbeda.


“Oh ... iya,” jawab Fauzan sambil membenarkan kacamatanya.


“Keren, Zan!” puji Hanna lalu berlalu masuk kelas.


Fauzan hanya terdiam mendengar pujian dari Hanna. Tapi dalam hati ia bersorak senang tanpa mau menunjukkannya.


“Cie penampilan baru dan langsung di puji sama Hanna!” goda Angga sambil menyenggol lengan Fauzan.


“Dari dulu juga gue pakai kacamata, tapi gak pernah di bawa ke sekolah aja,” ucap Fauzan.


“Oh ... gitu.” Angga mengangguk-anggukan kepalanya sambil tersenyum misterius.


“Kenapa, sih? Sudah sana ke kelas!” usir Fauzan sambil berlalu memasuki kelas.


“Salting ya, Bos,” ucap Angga sambil berlalu dari kelas Fauzan.

__ADS_1


•••


Dikelas Hanna dan Fauzan duduk berdampingan seperti kelas 11.


Oh ya sekarang mereka sudah naik kelas 12. Yang artinya mereka bakal cepat lulus beberapa bulan lagi. Sungguh tidak terasa.


Tak lama kemudian, bel masuk berbunyi.


Wali kelas 12 MIPA 1 pun memasuki kelas.


“Assalamualaikum, anak-anak,” salam Wali Kelas.


“Waalaikumussalam, Bu Heni,” ucap semua murid.


“Oke, sebelum kita memulai pembelajaran ....” Ucapan Bu Heni berhenti karena keluhan para murid.


“Masa baru masuk udah belajar sih, Bu.”


“Iya, Nih. Biasanya kan kelas free kalau hari pertama masuk.”


Hampir semua murid mengeluh.


“Nggak kok anak-anak. Ibu cuman bercanda,” ucap Bu Heni.


“Garing, Bu,” celetuk salah satu siswa.


“Ya ....” Lagi-lagi ucapan Bu Heni terhenti karena suara ketukan pintu.


Tok! Tok! Tok!


“Ibu gimana sih. Ini saya pegel Bu nunggu di luar. Ibu kira nunggu itu enak,” ucap seorang siswi dari dekat pintu.


“Oh, iya. Saya minta maaf. Silahkan kalian berdua masuk!” titah Bu Heni.


Lalu masuklah dua orang, yang satu perempuan dan yang satu laki-laki.


“Nama gue Leo.”


“Nama gue Firza.”


“Hai, Firza!”


“Hai, Leo!”


“Leo kamu ganteng banget sih.”


“Stok cogan makin nambah aja di sekolah kita.”


“Stok cecan juga kali.”


“Diam semuanya. Leo, Firza, silahkan bisa duduk di tempat yang kosong!” titah Bu Heni.


“Baik, Bu,” ucap Firza. Sedangkan Leo hanya menganggukkan kepalanya.


Leo dan Firza pun duduk di tempat yang tidak jauh dari tempat Hanna dan Fauzan.


“Baik semuanya, kita gak perlu perkenalan lagi, jadi kalian bisa free dulu. Besok baru di mulai pembelajaran. Dan untuk jadwal pelajaran, bisa di lihat di mading sekolah,” ucap Bu Heni.


“Bu, untuk pengurus kelas bagaimana?” tanya Fauzan.


“Untuk pengurus kelas tetap saja seperti waktu kelas 11, ya.”


“Bu, posisi saya sebagai ketua kelas bagaimana kalau di ganti sama Hanna aja Bu. Soalnya kali ini saya mau fokus sama osis!” pinta Fauzan.


“Bisa, tapi harus minta persetujuan semuanya termasuk Hanna. Bagaimana Hanna?” tanya Bu Heni.

__ADS_1


“Saya keberatan, Bu. Saya tidak mau!” tolak Hanna.


“Kenapa, Han? Kamu kan gak ikut ekstra apa-apa. Jadi gak pa-pa dong kalau cuma jadi ketua kelas,” ujar Fauzan.


“Males, Zan,” bisik Hanna.


“Saya aja Bu yang jadi ketua kelas,” ucap salah satu siswa sambil mengangkat tangannya.


“Oh, Leo. Kamu mau jadi ketua kelas menggantikan Fauzan?” tanya Bu Heni.


Leo hanya menganggukkan kepalanya.


“Oke, bagaimana semuanya. Apakah setuju kalau Leo jadi ketua kelas yang baru?” tanya Bu Heni ke semua murid.


“Setuju!” ucap semuanya, kecuali Fauzan.


“Baik. Leo kamu jadi ketua kelas yang baru. Tolong buat kelas ini menjadi yang lebih baik!” pinta Bu Heni.


“Baik, Bu.”


“Mungkin segitu saja yang bisa Ibu sampaikan. Ibu pamit undur diri, assalamualaikum!” pamit Bu Heni.


“Waalaikumussalam.”


Setelah Bu Heni keluar kelas. Firza segera menghampiri Hanna dan Fauzan.


“Akhirnya gue bisa sekelas sama kalian!” seru Firza sambil merangkul Hanna dan Fauzan.


“Pindah juga lo. Gue kira gak jadi,” sahut Fauzan.


“Gak seneng lo kalau gue pindah?” tanya Firza dengan pura-pura sedih.


“B aja,” jawab Fauzan.


“Ngeselin lo.” Firza memukul pundak Fauzan pelan.


Hanna hanya bisa tersenyum melihat interaksi mereka berdua. Lalu ia menengok ke arah Leo yang sedang memainkan handponenya.


“Leo!” panggil Hanna.


Leo pun menengok ke arah Hanna yang memanggilnya. Begitu pun dengan Fauzan dan Firza melirik ke arah Hanna yang sedang memanggil Leo.


“Lea juga ikut pindah?” tanya Hanna.


Leo menjawabnya dengan anggukan kepalanya.


Hanna merasa kesal melihat jawaban Leo.


“Terus dia masuk kelas mana?” tanya Hanna menahan kesal.


“IPS 1,” jawab Leo singkat.


Hanna hanya ber’oh’ ria mendengar jawaban Leo.


“Lea juga pindah, ya?” tanya Fauzan.


“Iya. Seneng kan lo?” Hanna menaikkan sebelah alisnya.


“Nggak, B aja.” Fauzan mengedikkan bahunya.


“Kalian udah lama kenal sama Leo?” tanya Firza.


“Nggak,” jawab Fauzan datar. Entah kenapa ia merasa gak suka atas berpindahnya Leo dan kembarannya itu.


“Kalau gue kenal Leo dan kembarannya itu waktu gue masih di Jerman,” jawab Hanna sambil tersenyum tipis.

__ADS_1


“Semoga kita bisa berteman baik sama mereka!” harap Firza sambil tersenyum lebar.


...🌈🌈🌈...


__ADS_2