
Mohon maaf ya semuanya karena up nya lamaππ Karena ada beberapa hal yang harus di selesaikan. Dan mohon maaf belum mampir ke cerita kalianππ.
Kini Fauzan berada di ruang osis bersama Angga dan seorang sekretaris osis yang sedang mengelist keperluan untuk perpisahan.
"Bagaimana, Vin. Semua sudah beres?" tanya Angga kepada sang sekretaris Osis.
"Sip, semuanya sudah beres." Vina mengacungkan jempolnya.
"Alhamdulillah. Sekarang kita lebih baik pulang, tapi sebelumnya sholat dzuhur dulu ya. Beri tahu yang lain!" titah Angga.
"Oke." Vina pun berlalu menuju anggota osis lainnya untuk memberi tahukan yang di perintahkan Angga.
"Jam berapa sekarang?" tanya Fauzan.
"Lo kan pakai jam. Kok nanya ke gue?" heran Angga.
Fauzan pun melihat jam yang ada di tangannya. Ternyata jam sudah menunjukan pukul 12.
"Kenapa perasaan gue gak enak ya?" batin Fauzan sambil memandang lantai dengan kosong.
"Kenapa lo?" tanya Angga saat melihat Fauzan tengah melamun.
"Em ... gak papa," jawab Fauzan sambil membereskan kertas-kertas.
Tak lama ada anggota osis lain yang masuk ke dalam ruang osis.
"Eh, Zan. Lo udah ketemu sama Hanna?" tanya Dirga, anggota osis.
Mendengar pertanyaan Dirga, Fauzan menaikkan sebelas alisnya. "Gue gak ketemu sama Hanna, kenapa?" tanya Fauzan.
"Tadi sekitar jam 10-an Hanna ke aula nanyain lo. Dan gue bilang lo ada di ruang osis," jelas Dirga.
"Tapi Hanna gak ada kesini kan, Ga?" tanya Fauzan ke Angga.
"Iya, gak ada Hanna kesini." Angga membenarkan pertanyaan Fauzan.
"Lah, gue kira Hanna langsung kesini nemuin lo?"
"Terus Hanna kemana?" tanya Fauzan dengan nada sedikit khawatir.
"Mungkin Hanna langsung pulang," ucap Angga mencairkan suasana.
"Mungkin kali ya," gumam Dirga. "Ya, sudah gue pamit pulang duluan ya!" lanjutnya.
"Oke. Jangan lupa sholat!" peringat Angga.
"Oke." Dirga pun pergi meninggalkan ruang osis.
__ADS_1
"Apa gue telepon Hanna aja?" tanya Fauzan.
"Terserah lo."
"Em ...." Fauzan berpikir. Apakah dia harus menelepon Hanna untuk menanyakan keadaanya? Tapi dia merasa gengsi. Memangnya dia siapa sampai harus menanyakan keadaan Hanna?
Tapi Fauzan merasa khawatir dengan keadaan Hanna.
"Apa gue tanyain ke Dilfa?"
"Terserah lo." Angga menjawab dengan jawaban dan nada yang sama seperti tadi.
"Ck!" Fauzan berdecak. "Lo deh yang nanyain ke Dilfa!" titah Fauzan.
"Kok gue?" heran Angga.
"Plis dong. Akhir-akhir ini hubungan gue dan Dilfa gak enak!"
"Oke. Fine!" putus Angga.
Angga pun mengambil handponenya dan mencari nomor telepon Dilfa.
Setelah ketemu Angga langsung menelponnya.
"Halo, Dil. Lo tahu gak Hanna kemana?"
"...."
"Ya sudah makasih ya." Angga pun menutup teleponnya duluan.
"Apa katanya?" tanya Fauzan tak sabaran.
"Katanya Hanna ada urusan. Tapi gak tahu urusannya apa, dia gak nanya. Dan katanya Hanna juga sudah izin ke Mamanya," jawab Angga.
Fauzan sedikit merasa lega kalau Hanna sudah meminta izin ke Mamanya. Tapi kini dia tidak tahu sekarang Hanna ada dimana? Dan urusannya apa?
"Tapi kok perasaan gue gak enak ya," ucap Fauzan.
"Jangan terlalu negative thinking lo. Mungkin lo cuma ya ... sedikit kangen sama Hanna." Ada nada sedikit menggoda di perkataan Angga.
"Ck! B aja." Fauzan menyangkal pernyataan Angga, padahal di dalam hatinya ia memang begitu.
"Ya sudah yuk ke mushola lalu pulang!" Angga beranjak dari duduknya dan diikuti oleh Fauzan.
πππ
Di dalam ruangan yang sangat minim cahaya, terdapat Hanna yang sedang terduduk di lantai dan dalam keadaan pingsan, tanpa diikat.
__ADS_1
Kreet!
Suara pintu terbuka, dan masuklah empat orang yang terdiri dari satu laki-laki dan tiga perempuan.
Tak lama Hanna pun terbangun.
Dan saat ia membuka matanya, Hanna terkejut karena ada sebuah pisau yang dekat dengan lehernya.
"Kalian siapa?" tanya Hanna dengan nada datar dan tidak terlihat pun rasa takut di wajahnya. Meskipun sekarang jantungnya sedang berdetak kencang.
"Lo gak perlu tahu siapa kita. Yang harus lo tahu. Nanti malam lo gak boleh datang ke perpisahan kelas 12. Kalau nggak, lo akan tahu akibatnya!" ucap seorang laki-laki. "Dan yang paling penting, kalau lo datang ke perpisahan kelas 12 nanti. Pisau ini ... akan mendarat di perutnya Fauzan dan lo akan ngelihat itu secara langsung di perpisahan nanti!" lanjutnya dengan nada mengancam.
"Gue gak akan termakan oleh ancaman kalian," sahut Hanna.
"Hah! Lo Jangan anggap ancaman ini main-main." Laki-laki itu sedikit memajukan pisaunya hingga menyentuh leher jenjang Hanna. "Kalau Fauzan sudah terbunuh. Selanjutnya gue bakal bunuh lo, haha ...," lanjut orang itu dengan diakhiri tertawa jahat.
Ia tidak mengenali suaranya, dan wajah mereka tertutupi masker dan kacamata hitam, di tambah cahaya yang remang-remang.
"Masalah kalian apa sama gue?" tanya Hanna heran.
"Masalah lo banyak," teriak laki-laki itu. "Lo bisa keluar dari sini asalkan lo Jangan datang ke acara perpisahan kelas 12." Orang itu pun berdiri dan mundur beberapa langkah.
"Inget perkataan gue, sister!" ancamnya. Dan langsung pergi meninggalkan gedung itu.
Setelah kepergian mereka. Napas Hanna tersenggal-senggal karena dari tadi ia menahan napasnya dan dahinya berkerut heran setelah mendengar perkataan terakhirnya. Serta jantungnya yang berdetak sangat kencang.
Drett! Drett!
Suara telepon berasal dari handpone Hanna. Ia segera melihat siapa yang menelepon, dan itu ternyata Dilfa.
"Gue kira Fauzan," batin Hanna sambil memandang handponenya.
Tapi tak urung dia segera mengangkat telepon itu.
"Han, lo dimana?" tanya langsung Dilfa.
"Gue lagi di jalan," jawab Hanna berusaha tenang.
"Oh, syukur kalau gitu. Nanti malam guβ" Ucapan Dilfa terpotong oleh Hanna.
"Gue kayaknya gak bisa dateng ke acara perpisahan deh. Tiba-tiba badan gue sakit semua, Dil," lirih Hanna.
"Apa? Yah ... gak jadi dong gue jemput putri," keluh Dilfa. "Tapi ... lo beneran sakit kan? Gak pura-pura," lanjutnya.
"Hmm. Ya sudah gue hampir sampai nih, gue tutup. Assalamualaikum," salam Hanna.
Setelah mendengar jawaban dari Dilfa, ia langsung mematikan handponenya dan berdiri dari duduknya. Lalu ia pergi dari gedung kosong itu.
__ADS_1
πππ
TBC