Jodohku Teman Kecilku

Jodohku Teman Kecilku
JTK-31


__ADS_3

Setelah acara saling perang tatap-tatapan dan berakhir dengan Hanna yang melerai mereka.


Kini Hanna dan Dilfa berada di parkiran untuk segera pulang, sedangkan Fauzan menuju ruang osis untuk mengadakan rapat lagi.


Sebenarnya Fauzan merasa tidak rela jika Hanna harus bersama Dilfa. Tapi harus bagaimana lagi, dirinya harus segera menuju ruang osis untuk melakukan rapat.


"Han, lo bawa mobil?" tanya Dilfa yang duduk di atas motornya dan Hanna bersender di pintu kemudi.


"Iya. Kenapa?" tanya Hanna.


"Yah! Tadinya gue mau ngajak lo bareng." Dilfa berpura-pura kecewa.


"Haha ... nanti aja pas datang ke perpisahan kelas 12. Gimana?"


"Oke. Nanti gue jemput lo, yah?"


Hanna menganggukkan kepalanya.


"Gue duluan ya. Lupa gue ada janji sama Nyokap!" pamit Dilfa sambil menghidupkan motonya.


"Oke."


Dilfa pun melajukan motornya dan meninggalkan Hanna.


"Hanna!" panggil Nayla saat Hanna hendak membuka pintu mobil.


"Kenapa, Nay?" tanya Hanna.


"Boleh gak aku ikut sama kamu. Soalnya Angga ada rapat, jadi gak bisa bareng?"Β pinta Nayla ragu.


"Boleh. Masuk!" titah Hanna, lalu ia masuk ke dalam mobilnya diikuti oleh Nayla.


🌈🌈🌈


Setelah mengantarkan Nayla pulang, Hanna segera pulang menuju rumahnya.


Sesampainya di rumah langsung menuju kamarnya dan merebahkan tubuhnya di atas kasur.


"Hah!" Hanna mendesah.


"Kenapa harus gue yang kepilih buat datang ke acara perpisahan kelas 12, sih!" kesal Hanna.


"Mata gue masih buram. Apa mata gue minus ya?" gumam Hanna sambil meraba matanya.


"Apa gue cek aja ke dokter mata ... tapi bilang Mama gak ya?"


"Hanna, ayo makan dulu!" titah Nadin yang baru sampai di kamar Hanna.


"Iya, Ma. Tapi aku ganti baju dulu," ucap Hanna.


"Mama tunggu di bawah yah." Nadin pun berlalu dari kamar Hanna.

__ADS_1


Setelah Hanna ganti baju, ia segera menuju ruang makan.


"Ma, ada yang mau aku bicarain!"


"Apa?" tanya Nadin.


"Em ... aku makan dulu aja deh." Hanna pun mengambil nasi beserta lauk pauknya.


Beberapa menit kemudian Hanna telah selesai makan.


"Gini, Ma." Hanna memulai percakapan. Tapi ia langsung merasa gugup.


"Kenapa, Han? Ada masalah?"


"Iya, Ma," ucap Hanna pelan nyaris tidak terdengar sambil menunduk.


Nadin pun beranjak menuju kursi yang ada di samping Hanna. Dan ia pun mengelus kepala Hanna.


Hiks!


Suara isakan itu terdengar dari mulut Hanna. Dan itu sontak membuat Nadin khawatir.


"Ma!" Hanna berhambur ke pelukan Nadin.


"Ada apa sayang? Ayo cerita sama Mama!" Nadin mengelus punggung Hanna.


"Aku mau ke dokter, Ma!" ucap Hanna di sela-sela isakannya.


Mendengar ucapan Hanna, Nadin langsung kaget. "Memang kenapa, Han? Kamu ada yang sakit? Sakit apa?"


"Apa? Sejak ... kapan?" tanya Nadin kaget.


"Sejak di restoran waktu itu," jawab Hanna.


"Oh. Jadi itu yang menyebabkan kamu pulang duluan?"


"Iya, Ma. Maaf ya baru sekarang ngasih tahunya!" ucap Hanna.


"Iya. Tidak apa-apa. Yang penting kamu sudah mau bicara sama Mama!" Nadin mengelus-elus kepala Hanna.


"Kapan mau ke dokter?" tanya Nadin.


"Sekarang saja," ucap Hanna.


"Sayang sekali ya gak bisa di antar sama Papah!" ucap Nadin.


"Hmm ... gak papa, kita ke dokternya diantar supir saja!" ucap Hanna.


"Ya sudah. Yuk siap-siap!" ajak Nadin sambil beranjak dari duduknya diikuti oleh Hanna.


Setelah siap-siap mereka pun pergi menuju dokter mata.

__ADS_1


🌈🌈🌈


Tak terasa, hari ini adalah hari kenaikan kelas. Dimana semua murid kelas 10 danΒ 11 akan di bagi lapor yang menentukan apakah mereka naik kelas atau tidak? Apakah nilai mereka naik atau tidak?


Acara pembagian lapornya itu akan di ambil oleh orang tua atau wali murid. Sedangkan para muridnya berada di luar kelas.


Dan saat ini, pada pukul 9.30 semua murid berada di luar kelas karena orang tua mereka ada di dalam.


Semua murid hanya mendesah kesal karena lelah menunggu di luar kelas.


Saat ini Hanna sedang menyenderkan kepalanya di dinding. Sama halnya dengan Dilfa. Sedangkan Fauzan ada urusan terkait pelaksanaan perpisahan kelas 12 nanti malam.


"Han, nanti malam kita berangkat jam berapa?" tanya Dilfa.


"Setelah isya saja," jawab Hanna.


"Oke."


Beberapa menit kemudian, para orang tua keluar dari kelas dengan membawa lapor di tangannya.


Istia pun segera menghampiri Hanna.


"Kamu mau langsung pulang?" tanya Nadin.


"Em ... Mama duluan aja. Soalnya aku ada urusan. Dan lapor nya Mama aja yang bawa," ucap Hanna.


"Oke. Jangan lama-lama. Soalnya kan nanti malam kamu akan kesini lagi!" ujar Nadin sambil berlalu menuju parkiran.


"Siap, Ma." Hanna mengacungkan jempolnya ke arah Mamanya yang sudah berjalan menuju parkiran.


"Han, gue duluan ya. Nanti setelah isya gue jemput!" pamit Dilfa.


"Oh, ya sudah."


Dilfa pun berlalu bersama Mamanya menuju parkiran.


"Gue harus cari Fauzan," gumam Hanna. Lalu iapun berlalu mencari Fauzan.


Terlebih dahulu Hanna mencari Fauzan ke aula. Tapi setelah bertanya kepada anggota osis lain, ternyata Fauzan ada di ruang osis. Lalu iapun menuju ruang osis.


Suasana di lingkungan sekolah saat ini sudah sepi. Kebanyakan hanya panitia perpisahan saja.


Saat menuju perjalanan ke ruang osis, Hanna merasa ada yang mengikutinya. Ia pun berhenti sejenak dan menengok ke belakang. Dan disana tidak ada hal yang mencurigakan, hanya ada panitia osis yang lewat.


Tanpa rasa curiga, Hanna kembali melanjutkan perjalanannya.


Tapi baru saja beberapa langkah, tiba-tiba mulut dan matanya di bekap oleh sapu tangan.


Hanna berusaha memberontak, tapi kekuatannya kurang. Sepertinya orang yang membekap itu seorang laki-laki.


Karena suasananya sepi. Jadi tidak ada orang yang mengetahui bahwa Hanna telah di bawa oleh seseorang.

__ADS_1


🌈🌈🌈


TBC


__ADS_2