Jodohku Teman Kecilku

Jodohku Teman Kecilku
JTK-42


__ADS_3

Hanna dan laki-laki itu hanya saling memandang dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Lo ... yang waktu itu nyulik gue kan?" tanya Hanna dengan nada datar.


"Bukan," jawab orang itu. "Gue gak nyulik lo. Buktinya gue gak ngapa-ngapain lo dan langsung pulang kan," lanjutnya dengan seringaian kecil.


"Intinya lo udah bawa gue dengan paksa, itu artinya lo nyulik gue," jelas Hanna menahan amarah. "Dan lo juga ngancem gue," lanjut Hanna.


"Gue punya alasan untuk itu," ucap orang itu.


"Alasan apa? Kita bahkan gak saling kenal."


"Lo memang gak akan kenal sama gue. Tapi gue kenal lo sama keluarga lo." Tunjuk orang itu ke arah Hanna.


Kening Hanna mengerut di tambah alisnya yang saling bertautan bertanda bingung.


Hanna pun lebih meneliti wajah orang itu. Setelah beberapa detik, seketika ia sadar bahwa orang itu mirip seseorang.


"Haikal," ucap Hanna dengan nada pelan. Tapi masih tetap terdengar oleh orang itu.


"Wah! Lo tahu nama gue," ucap orang itu pura-pura kaget. Tapi sebenarnya laki-laki itu sudah menduga kalau Hanna akan tahu dengan dirinya.


"Jadi bener. Lo Haikal?" tanya Hanna memastikan.


"Kok bisa lo tahu nama gue? Apa lo indigo? Atau peramal?" tanya Haikal balik dengan senyuman miring.


"Gue bukan dua-duanya. Gue cuma nebak," jawab Hanna.


"Tebakan lo bener sih." Haikal menganggukkan kepalanya.


"Jadi apa alasan lo ngikutin gue?" tanya Hanna dengan tegas.


"Gue cuma mau jagain lo," jawab Haikal dengan mengedikkan bahunya.


"Jagain? Buktinya apa lo mau jagain gue? Yang ada lo mau nyulik gue lagi, kan?"


"Yah, bisa jadi." Haikal menganggukan-anggukan kepalanya sambil berjalan mendekat menuju Hanna.


Dan otomatis Hanna pun berjalan mundur, sampai dia mentok menabrak dinding di belakangnya.


Haikal terus saja berjalan pelan menuju Hanna.


Sedangkan Hanna waspada dan menatap tajam ke arah Haikal.


"Mau apa lo?" tanya Hanna tegas.


Haikal pun sudah sampai tepat di depan Hanna.


"Gue cuma rindu sama saudara gue," gumam Haikal tepat di telinganya. "Yang sudah ngehancurin hidup gue," lanjutnya sambil mendekatkan mulutnya ke arah leher Hanna.


Tak lama Haikal pun terlempar oleh seseorang dan orang itu memukul Haikal.


BUGH!!


"Br*ngs**," umpat orang itu.

__ADS_1


Hanna pun kaget atas apa yang Haikal lakukan kepadanya dan juga kaget karena tiba-tiba Haikal terlempar sekaligus di pukul oleh seseorang.


Orang itu pun mendekati Haikal dan mencengkram kerahnya hingga Haikal terbangun.


"Beraninya lo nyentuh Hanna!" bentak orang itu dengan mata tajam.


"Emang lo siapanya Hanna?" tanya Haikal santai.


"Fauzan," ucap Hanna kaget karena melihat Fauzan yang masih memakai seragam sedang memegang kerah Haikal.


"Lepasin, Zan!" titah Hanna.


"Dia udah berani nyentuh lo, Han. Masa gue harus diam aja," ucap Fauzan tanpa memandang Hanna.


"Lepasin dulu, Zan!" pinta Hanna mendekati Fauzan.


Tak lama Fauzan pun melepaskan cengkramannya tapi matanya masih tetap menatap tajam ke Haikal.


"Lo belain dia?" tanya Fauzan sambil nunjuk Haikal.


"Gue gak belain dia. Gue cuma gak mau ada kekerasan, yang menimbulkan para warga datang kesini," jelas Hanna.


"Lo kenal dia, Han?" tanya Fauzan sambil melirik tajam Haikal.


Mendengar pertanyaan Fauzan, spontan Hanna terdiam dengan tatapan kosong.


Haikal yang melihat itu hanya tersenyum miring dengan sebelah alis terangkat.


Hanna pun menghela napas panjang. Lalu ia bertanya dengan pelan, "Apa lo kakak kandung gue?"


"Maksud lo apa, Han?"


Hanna tidak mengubris pertanyaan dari Fauzan. Tapi Hanna malah berjalan mendekati Haikal dan berdiri di depannya. Sedangkan Fauzan hanya terdiam karena bingung dan memilih melihat interaksi Hanna dan Haikal, selagi Haikal tidak berbuat di luar batas.


"Jawab gue, apa lo tahu kalau gue adik kandung lo?" tanya Hanna dengan tatapan datar.


"Kalau iya kenapa? Kalau nggak kenapa?" Bukannya menjawab, Haikal malah balik bertanya.


"Kalau iya, Mama dan Papah nyariin Kakak, mereka rindu sama Kakak," lirih Hanna.


Setelah Hanna mengucapkan kata itu, spontan rahang Haikal mengeras.


Dan Fauzan yang melihat itupun, spontan mendekat ke arah Hanna, takut jika Haikal berbuat sesuatu.


"Bulshit," ujar Haikal datar.


"Mereka benar-benar rindu sama Kakak. Bahkan Mama sampai nangis," jelas Hanna dengan tatapan sendu.


"Jangan coba-coba ngehasut gue!"


"Gue gak ada maksud ngehasut Kakak. Tapi itu kenyataannya. Dan gue mohon, Kakak bisa datang ke rumah buat bertemu sama Papah dan Mama!" pinta Hanna.


"Cih! Gak ada waktu! Lagi pula gue benci kalian semua!" ucap Haikal dengan nada dingin, lalu ia membalikkan badannya berniat pergi darisana.


"Tunggu, Kak. Tolong! Setidaknya Kakak jelasin ke gue dan Mama Papah, apa alasan Kakak benci sama kita?" pinta Hanna lagi.

__ADS_1


"Penting banget gue jelasin ke kalian?"


"Penting, Kak. Kita gak ngerti kenapa Kakak benci sama kita. Kalau kita punya salah tolong jelasin ke Mama dan Papah!"


"Oke. Tapi cuma 30 menit," putus Haikal.


Sebenarnya Haikal juga rindu sama mereka. Tapi mengingat kata tantenya kalau mereka sudah membuang dirinya dulu, jadi rasa rindu itu sedikit hilang


"Makasih, Kak. Kalau gitu kita ke rumah!" ajak Hanna dengan senyuman tipis.


"Kita naik mobil gue aja!" tawar Fauzan.


"Ya sudah."


Fauzan dan Hanna pun pergi menuju mobil Fauzan di susul oleh Haikal.


Perjalanan menuju rumah Hanna tidak terlalu jauh. Cuma 3 menit juga sampai karena pakai mobil.


Tiga menit sudah berlalu.


Mereka bertiga sudah sampai di depan rumah dan langsung turun dari mobil.


"Ayo, Kak. Masuk!" ucap Hanna.


"Gak ada yang berubah. Sama seperti dulu," batin Haikal saat melihat rumah tersebut dari luar.


"Assalamualaikum, Ma, Pah," salam Hanna saat memasuki rumah.


Diikuti oleh Fauzan dan Haikal di belakangnya.


"Waalaikumussalam," jawab salam Nadin.


DEG!


Jantung Nadin seolah berhenti ketika melihat sosok laki-laki tegap mirip Haris sedang berdiri di ambang pintu.


Dengan napas yang tertahan, Nadin mendekati Haikal perlahan.


Hanna yang melihat itu hanya terdiam sambil tersenyum sendu.


Nadin sudah sampai di depan Haikal.


Saat ia akan memegang wajah Haikal.


Tapi sudah di tepis kasar olehnya.


"Jangan sentuh!" ucap Haikal datar.


"Lo jangan kasar dong sama orang tua!" peringah Fauzan.


"Haikal, ini kamu, Nak?" tanya Nadin dengan mata berkaca-kaca.


"Menurut anda?" Haikal menaikkan sebelah alisnya.


"Kamu," sahut seseorang dari ujung tangga.

__ADS_1


🌈🌈🌈


__ADS_2