Jodohku Teman Kecilku

Jodohku Teman Kecilku
Nganterin


__ADS_3

Sesampainya di rumah Fauzan.


Hanna menggandeng lengan kanan Fauzan lalu mereka masuk ke rumahnya.


"Assalamu'alaikum," salam Hanna sambil mengetuk pintu.


"Ngapain pakai ketuk pintu segala. Kan ada gue, tinggal masuk aja apa susahnya sih," gerutu Fauzan.


"Iya juga yah. Hmm ... eh! Tapi nggak, gue harus tetap ketuk pintu. Gue kan baru kesini, gak enak sama orang tua lo," ucap Hanna.


"Ya udah."


Tak lama seorang wanita paruh baya pun membuka pintunya.


"Waalaikumussalam," ucapnya.


Deg!


Wanita itu seketika matanya terhenti di mata Hanna.


Hanna yang merasa dilihatin terus sama Mamanya Fauzan merasa risih dan canggung.


"Aduh! Sepertinya Mama langsung ngenalin Hanna nih!" batin Fauzan seolah mengerti tatapan Mamanya pada Hanna.


"Em ... Mah, kenapa malah bengong? Bukannya nyuruh kita masuk. Aku habis pingsan ini." Fauzan membuka suaranya karena tak tahan dengan situasi itu.


"Hah! Iya! Apa?" ucap Mama Fauzan terkejut mendengar tuturan anaknya.


"Astagfirullah, Zan. Kamu habis pingsan? Kenapa gak bilang dari tadi. Ayo masuk!" cerocos Mama Fauzan lalu mempersilahkan mereka masuk.


Hanna pun mendudukan Fauzan di ruang tamu.


"Fauzan kenapa kamu bisa pingsan, kambuh?" tanya Mama Fauzan khawatir.


"Ekhem ... sebenarnya Tante ... Fauzan pingsan itu gara-gara aku. Maaf ya?" ucap Hanna sambil menundukkan kepalanya.


Melihat Hanna yang menundukkan kepalanya, Mama Fauzan menjadi gak enak.


"Em ... iya, tidak apa-apa. Yang penting Fauzan tidak kenapa-napa sekarang," ucap Mama Fauzan menenangkan Hanna.


Hanna hanya menganggukan kepalanya.


"Oh iya. Tante belum menyiapkan minum, biar Tante ambilkan minum ya? Mau minum apa?" tawar Mama Fauzan.


"Gak perlu repot-repot, Tan. Aku mau langsung pulang aja." Hanna berdiri dari duduknya.


"Eh! Kok cepat sekali. Gak mau minum dan makan sesuatu gitu!" tawar Mama Fauzan.


"Gak perlu, Tan. Nanti kapan-kapan aku kesini lagi," tolak halus Hanna.


"Janji ya kesini lagi," ucap Mama Fauzan dengan penuh harap.


Hanna tersenyum manis. "Iya, Tan."


Mama Fauzan hanya terperangah melihat senyum itu, tidak beda jauh juga dengan Fauzan. Dia menatap Hanna tanpa berkedip karena ia selalu merindukan senyuman itu.


"Ya udah kalau gitu aku pulang dulu, Tan!" pamit Hanna sambil mengambil tangan kanan Mama Fauzan lalu menciumnya.


"Ah! Iya. Hati-hati, dan makasih juga udah mau nganterin Fauzan."


"Iya, Tan." Hanna pun keluar dari rumah itu.


"Sana anterin Anna ke depan!" titah Mama Fauzanz

__ADS_1


"Iya-iya, Ma."


Fauzan pun menyusul Hanna ke luar.


"Udah pesen taksi atau ojol?" tanya Fauzan sesudah sampai di samping Hanna.


"Iya udah," jawab Hanna malas.


"Udah apa? Pesen taksi atau ojol? Atau dua-duanya?" tanya Fauzan lagi.


"Ck! Banyak tanya deh," kesal Hanna. "Taksi," lanjutnya dengan ketus.


"Ketus amat Mbak," goda Fauzan.


"Biarin."


Beberapa detik kemudian ...


"Makasih ya," ucap Fauzan tulus.


Hanna hanya menanggapinya dengan anggukan.


Tak lama taksi pun tiba, dan Hanna langsung masuk ke dalam taksi itu tanpa menoleh ke Fauzan.


Setelah kepergian Hanna, Fauzan hanya menghela napas panjang. Lalu masuk ke dalam rumah.


Saat melewati ruang keluarga, disana ada Mamanya yang sedang menonton televisi.


"Zan, kesini dulu!" titah Mama Fauzan.


Fauzan pun menghampiri Mamanya dan duduk di sampingnya.


"Apa, Ma?"


"Menurut Mama?" tanya balik Fauzan dengan sebelah alis terangkat dan senyuman tipis.


"Iya ... dia sepertinya Anna. Senyumnya, matanya, dia mirip banget sama Anna," ucap Mama Fauzan dengan mata yang berkaca-kaca.


Fauzan hanya menganggukan kepalanya dengan mata yang berkaca-kaca juga.


Lalu Mama Fauzan pun memeluk anaknya erat.


"Hiks ... akhirnya Mama bisa bertemu langsung dengan Anna, Zan. Mama senang walaupun hanya sebentar," ucap Mama Fauzan sambil menangis sesenggukan.


"I-Iya. Apalagi aku, Mah." Fauzan menangis tanpa suara.


"Assalamu'alaikum," salam seorang pria paruh baya yang baru datang dari kantornya.


"Waalaikumussalam," jawab salam Fauzan dan Mamanya dengan sisa air mata di pipi mereka.


"Aduh! Kenapa kalian nangis gini? Siapa yang membuat kalian seperti ini?" tanya Papah Fauzan seperti menahan amarah.


"Gak ada, Pah. Sini duduk dulu!" titah Mama Fauzan.


Akhirnya Papah Fauzan pun duduk di samping Fauzan.


"Jadi, ada apa?" tanya Papah Fauzan dengan mata tajamnya.


"Biasain dong tatapannya, Pah," canda Fauzan mencairkan suasana.


"Iya. Ada apa?" tanya Papah Fauzan lagi dengan tatapan dan ucapan yang melembut.


"Tadi ... ada Anna kesini," jawab Mama Fauzan pelan.

__ADS_1


"Apa?" Papah Fauzan langsung kaget dengan jawaban istrinya.


"Iya, Pah. Tadi Anna kesini." Fauzan membenarkan ucapan Mamanya.


"An-Anna anaknya Haris, yang dulu di bawa ke luar negeri?" tanya Papah Fauzan meyakinkan.


Fauzan dan Mamanya menganggukan kepalanya. "I-iya."


"Hah! Kenapa kalian menyuruhnya pulang? Padahal aku belum melihatnya. Aku rindu sama dia," ucap Papah Fauzan dengan pandangan sedihnya.


"Anna yang ke mintanya sendiri, Pah. Lain kali aku akan ajak dia kesini lagi deh, pas hari minggu kalau bisa," ucap Fauzan.


"Iya, kamu harus membawanya kesini menemui Papah ya, Zan."


"Iya, Pah. Ya udah kalau gitu aku mau ke kamar dulu, mau istirahat. Masih gak enak badan," pamit Fauzan sambil berdiri dari duduknya.


"Emang kamu sakit, Zan?" tanya Papah Fauzan dengan nada khawatir.


"Tadi sempet pingsan karena sakit perut. Abis makan pedes," jawab Fauzan dengan nada pelan.


"Apa? Kamu makan pedes. Udah tahu gak bisa makan pedes. Masih saja di makan." Suara Papah Fauzan sedikit meninggi karena kecerobohan anaknya.


"Maaf, Pah." Fauzan menundukkan kepalanya.


"Udah, Mas. Jangan gitu. Biarkan Fauzan istirahat dulu," ucap Mama Fauzan dengan nada lembut sambil mengelus punggung tangan suaminya.


"Ya udah. Sana kamu istirahat!" perintah Papah Fauzan dengan nada melembut.


"Iya, Pah."


Fauzan pun berlalu menuju kamarnya.


🌈🌈🌈


Hari ini adalah hari sabtu. Yang artinya, sesuai kesepakatan mereka akan menginap di tempat yang waktu itu pernah di datengi oleh Hanna dan Fauzan.


Dan kini pada pukul 2 siang. Mereka sedang berkumpul di rumah Fauzan. Karena mereka berangkat ke sana akan diantar oleh sopir pribadi keluarga Fauzan.


"Semua peralatan buat barbeque-an sudah di masukkin ke mobil belum?" tanya Hanna.


"Udah tadi sama Mang Andi," jawab Fauzan.


Hanna hanya menganggukan kepalanya.


"Semuanya sudah packing, kan?" tanya Angga memastikan.


"Sudah," jawab semuanya.


"Ya udah. Yuk kita pergi!" ajak Fauzan.


"Ma, aku pergi dulu ya," pamit Fauzan sambil mencium punggung tangan Mamanya.


"Iya, hati-hati," ucap Mama Hanna, lalu dilanjutkan dengan berbisik, "Jagain Hanna."


"Pasti, Ma."


"Kita pergi, Tan," pamit Angga sambil memasuki mobil.


"Iya."


Fauzan pun menyusul memasuki mobil.


Dan mereka pun pergi menuju ke tempat tujuan.

__ADS_1


                                    🌈🌈🌈


__ADS_2