Jodohku Teman Kecilku

Jodohku Teman Kecilku
JTK-58


__ADS_3

Fauzan sudah sampai di tepi pantai dengan membawa Hanna yang sudah tidak sadarkan diri.


"Hanna, bangun!" pinta Fauzan sambil menepuk pipi Hanna.


Karena Hanna tidak kunjung bangun. Fauzan segera menekan-nekan dada Hanna supaya air yang dia minum keluar.


"Hanna, please bangun!" pinta Fauzan dengan nada khawatir sambil terus menekan dada Hanna.


"Jangan sampai gue cium lo disini!" ujar Fauzan.


Uhuk! Uhuk!


Hanna terbatuk sambil mengeluarkan air dari mulutnya.


"Jadi gue harus ngomong bakal nyium lo, dulu, baru lo bangun!" gumam Fauzan, tapi dia bersyukur kalau Hanna sudah mulai sadar.


"Anna!" panggil Fauzan saat mata Hanna mulai terbuka.


Dan mata Hanna pun sudah terbuka sepenuhnya.


"Zan!" panggil Hanna.


"Iya, gue disini." Fauzan menggenggam tangan Hanna erat.


Buk!


Tiba-tiba Hanna memeluk Fauzan erat.


"Gue takut, Zan!" ucap Hanna dengan nada bergetar.


"Gue ada disini! Lo jangan takut, gue gak akan ninggalin lo sendiri lagi!"


"Makasih udah nolongin gue!" ucap Hanna dengan perlahan melepas pelukannya.


"Itu udah jadi kewajiban gue," ujar Fauzan sambil menatap Hanna dalam.


"Mending kita ke hotel aja, buat ganti baju!" ajak Fauzan sambil berdiri dan mengulurkan tangannya ke arah Hanna.


Uluran Fauzan di sambut oleh Hanna. "Iya."


Sesampainya di hotel.


"Hanna, lo jangan pikirin kejadian yang tadi ya! Anggap aja itu hanya mimpi buruk. Mungkin dia yang mau nyelakain lo karena dia iri sama apa yang lo punya!" nasihat Fauzan.


"Iya, Zan. Makasih," ucap Hanna.


"Kalau gitu gue balik ke hotel dulu, ya!" pamit Fauzan.


"Lo gak mau ganti baju punya Bang Haikal aja?" tawar Hanna.


"Gak enak kalau pakai baju Bang Haikal. Kalau gitu gue pergi dulu!" Fauzan pun perlahan berlalu meninggalkan Hanna di depan kamar hotelnya.


Setelah kepergian Fauzan, Hanna pun memasuki kamarnya.


Tapi sebelum Hanna masuk, terlebih dahulu Haikal keluar dari kamar dan memanggilnya.


"Hanna, kamu darima—" Ucapan Haikal terhenti karena melihat baju Hanna basah.


"Hanna, kenapa baju lo basah? Habis berenang, tapi kan lo gak terlalu jago renang?" tanya Haikal menggebu-gebu.


"Gak kok, tadi main air sama Fauzan di pantai," jawab Hanna berbohong karena tidak mau Haikal khawatir dan kalau Haikal tahu semuanya, dia takut abangnya akan memberi tahu orang tuanya lalu mereka tidak akan mengizinkan Hanna untuk main ke pantai lagi.


"Ya sudah. Mending cepat ganti baju, nanti masuk angin lagi!" titah Haikal sambil berlalu darisana.


"Abang mau kemana?" tanya Hanna.


"Jalan-jalan sambil nyari oleh-oleh buat Keisya. Kan dia gak bisa ikut karena sakit," jawabnya lalu berlalu meninggalkan Hanna.


"Oh ya juga yah," gumam Hanna.


Setelah itu Hanna memasuki kamarnya untuk segera ganti baju.


🌈🌈🌈


Sekarang sudah pukul satu siang. Setelah kejadian pagi tadi, Hanna memutuskan diam di kamarnya untuk menenangkan diri sampai waktu makan siang tiba.

__ADS_1


Dan sekarang Hanna, Haikal dan Fausqn serta kedua orang mereka, berada di salah satu restoran terdekat untuk makan siang bersama.


"Gimana tadi lihat sunrisenya. Apa ada berita bahagia buat kita?" tanya Haris sedikit menggoda.


"Ah, maksudnya gimana?" tanya Fauzan gak ngerti.


"Hadeuh! Jangan pura-pura tidak mengerti, Zan. Kamu kan sudah lulus kuliah, masa kode gitu aja gak ngerti!" ujar Alex


"Aku kuliah gak mempelajari hal yang kayak gitu, Pah," ungkap Fauzan.


"Hmm ... kayaknya Fauzan harus aku bimbing dulu dalam hal ini, deh!" ucap Alex.


"Iya tuh, Om. Nanti aku juga bakal bimbing Hanna juga dalam hal itu," sahut Haikal tiba-tiba yang mengerti arah pembicaraan para pria dewasa itu.


"Apaan sih, Bang?" tanya Hanna kesal.


"Sudah-sudah, lanjut makannya!" titah Nadin.


Semuanya pun melanjutkan makan yang sempat tertunda tadi.


🌈🌈🌈


Sekarang sudah menunjukkan pukul 3 sore.


Semua keluarga Fauzan dan Hanna berada di sisi pantai untuk bersenang-senang.


Sedari tadi Hanna tidak berhenti mengusili Fauzan dengan cara memotretnya.



"Uwuu, so cool!" goda Hanna saat melihat foto Fauzan hasil jepretannya yang sedang bertopang dagu sambil menatap pemandangan di depannya.


"Aku post ig ah!" ujar Hanna.


"Hanna, awas lo!" geram Fauzan sambil mengejar Hanna.


Hanna pun berlalu sekencang mungkin agar terbebas dari Fauzan.


"Hahaha!" Hanna tertawa selama berlari.


Fauzan berhasil menangkap Hanna dengan memeluknya dari belakang


"AAA! Fauzan lepas!" pinta Hanna setengah teriak.


"Jangan di post tapi fotonya!" titah Fauzan.


"Biar foto itu cukup lo aja yang lihat, jangan biarkan orang lain ngelihatnya!" lanjutnya berbisik di telinga Hanna.


Hanna terdiam beberapa saat yang masih berada di pelukan Fauzan.


"Iya-iya, lepas dong! Gak enak di lihat orang lain!"


Fauzan pun segera melepaskan pelukannya saat melihat orang tua mereka dan Haikal menatap dirinya dengan tatapan menggoda.


"Tapi bohong!" Hanna pun segera berlari menghampiri orang tuanya.


Dan Fauzan berniat menyusul Hanna tapi keburu di  cegah oleh Haikal.


"Ikut gue!" titah Haikal sambil menepuk pundak Fauzan pelan.


"Oh, oke."


Fauzan segera menyusul Haikal yang sudah berjalan menjauh.


Langkah Hanna terhenti karena melihat Fauzan dan Haikal berlalu menjauh entah mau kemana.


🌈🌈🌈


Malam ini adalah hari terakhir mereka berada di Korea Selatan. Karena besok siang mereka akan pulang ke Indonesia.


Kini Hanna dan Fauzan berada di salah satu pasar malam terdekat di sana.


“Zan, naik bianglala yuk!” ajak Hanna.


“Yakin?” tanya Fauzan sambil menaikkan sebelah alisnya.

__ADS_1


“Iya, memang kenapa? Ayo, ah!” Hanna pun menarik tangan Fauzan menuju tempat tiket.


“Mungkin ini saat yang tepat,” batin Fauzan sambil tersenyum tipis.


***


Kini Fauzan dan Hanna berada di dalam bianglala. Itu sudah 2 kali putaran.


Hening lah yang mencerminkan keadaan di dalam sangkar itu. Karena keduanya sama-sama menikmati pemandangan di depannya.


Tiba-tiba putarannya terhenti, membuat Hanna refleks menggenggam tangan Fauzan.


“Zan, kok berhenti?” tanya Hanna panik dengan tatapan mengarah ke bawah.


“Udah biasa kali,” jawab Fauzan santai sambil terus memandangi Hanna dan menggenggam tangan kanan Hanna erat.


“Kok lo bisa san—tai ....” Ucapan Hanna melambat karena melihat Fauzan menatapnya dengan tatapan berbeda dari sebelum-sebelumnya.


“Momen ini yang gue tunggu-tunggu,” sahut Fauzan.


“Mak-sudnya?” tanya Hanna gak ngerti.


Tiba-tiba Fauzan mengeluarkan sebuah kotak. Lalu ia membuka kotaknya perlahan.


“Hah!” Hanna menutup mulutnya dengan tangan kiri karena tangan kanannya masih dipegang Fauzan.


“The day will come when you’ll be mine. But I’ll just wait till that time. If I have to wait forever, that’s what I’ll do. Cause I can’t live my life without you ... will you marry me?” tanya Fauzan sambil tangan kanannya menggenggam tangan Hanna, sedangkan tangan kirinya memegang kotak yang berisi cincin yang sederhana tapi sangat menarik.


(Hari itu akan datang saat kamu menjadi milikku. Tapi aku hanya akan menunggunya saat itu tiba. Jika memang aku harus menunggu selamanya, itupun akan aku lakukan. Karena aku tak bisa hidup tanpamu. Maukah kau menikah denganku?)


Hanna terdiam sejenak. Dia memegang tangan kanan Fauzan dengan kedua tangannya.


“Em, Zan. Gue ... gue ....”


“Kalo lo gak bisa jawab sekarang gak pa-pa kok,” ucap Fauzan sambil tersenyum tipis.


“Gue gak bisa ....” Ucapan Hanna terhenti sambil melepas genggaman Fauzan.


Perlahan tangan kiri yang memegang kotak itu turun.


“Em, yah. Tidak ap—“ Ucapan Fauzan terpotong karena mendengar kata-kata Hanna.


“Gak bisa nolak maksudnya,” sambung Hanna sambil memegang pipi kanan Fauzan.


“A-apa? Ulangi, Han!” pinta Fauzan terkejut.


“Yes, i will,” ulang Hanna sambil tersenyum lebar.


Setelah mengatakan itu, tiba-tiba bianglala nya berjalan sendiri sehingga membuat Hanna terhuyung ke depan.


Untung saja Fauzan memegang pundak Hanna, begitu pula dengan Hanna yang memegang pundak Fauzan.


Jika dilihat dari kejauhan mereka seperti sedang berpelukan.


Setelah beberapa detik, mereka melepaskan tangan masing-masing dan kembali duduk dengan benar.


“Makasih, Na. Sudah mau menerima aku,” ujar Fauzan sambil memegang tangan Hanna.


“Iya,” ucap Hanna sambil menunduk.


Fauzan pun memasukkan kembali kotak cincin itu ke saku jaket nya.


Melihat itu Hanna mengerutkan keningnya.


“Katanya mau ngelamar gue. Kok cincinnya di sakuin lagi?” tanya Hanna heran.


“Mau banget gue pakein sekarang!” goda Fauzan.


“Ih, bukan itu maksud gue. Ta—“ Ucapan Hanna terpotong oleh perkataan Fauzan.


“Cincin itu nanti aku pakein di depan keluarga kita.”


🌈🌈🌈


‘Foto Visual sewaktu-waktu akan di hapus.’

__ADS_1


__ADS_2