Jodohku Teman Kecilku

Jodohku Teman Kecilku
Mimpi


__ADS_3

Fauzan pun sampai di rumah Hanna.


"Makasih ya, Zan," ucap Hanna.


"Iya."


"Gue udah nyoba nih buat gak debat lagi sama lo," ucap Hanna.


Fauzan hanya tersenyum tipis. "Ya bagus kalo gitu."


"Semoga ke depannya kayak gini terus," batin Fauzan.


"Ya udah sana gih pulang," titah Hanna.


"Ngusir nih ceritanya."


"Ya udah ... lo mau mampir?" tawar Hanna.


"Gak usah udah mau magrib ini," tolak Fauzan dengan nada polos.


"Lo ...." Hanna menahan emosinya yang udah di ujung tanduk karena mendengar ucapan Fauzan.


"Gue pulang," pamit Fauzan.


"Ya." Hanna merespon dengan nada ketus.


Fauzan yang mendengar itu hanya terkekeh geli karena berhasil membuat Hanna kesal.


"Seneng gue lihat lo kesel gini," batin Fauzan, lalu dia pergi dari rumah Hanna.


"ARGH! DASAR NYEBELIN!" Hanna teriak kesal sambil menghentakkan kakinya, lalu iapun berlalu masuk ke rumahnya.


***


*


"Hey kamu mau kemana?" tanya seorang bocah kecil.


"Jangan pergi ... jangan tinggalin aku, Anna," mohon sang bocah itu.


"Ku mohon, aku bakalan kangen banget ama kamu."


"Aku tidak bisa, aku harus pergi," ucap gadis kecil.


"Anna ...."


"Anna ...."


"Aku tak bisa."


*


"AKU TAK BISA!" Tiba-tiba Hanna bangun dari tidurnya dengan keringat bercucuran.


"Argh!" Hanna meringis pelan sambil memegang kepalanya yang lumayan sakit.


Tok! Tok! Tok!


"Hanna, apa kamu baik-baik saja?" tanya Mama Hanna dari balik pintu kamar.


"Iya, Ma. Aku hanya bermimpi," jawab Hanna.


"Baiklah, ayo cepat mandi. Lalu sarapan."


"Iya, Ma."


Hanna pun segera beranjak lalu berlalu ke kamar mandi.


***


Setelah selesai mandi dan sarapan. Hanna pun berangkat ke sekolah dengan di antar oleh supirnya.


Sesampainya di sekolah.

__ADS_1


Hanna sedang berjalan santai di koridor karena jam masuk masih 20 menit.


Puk!


Seseorang menepuk pelan pundak Hanna.


"Pagi, Na," sapa Fauzan yang tadi menepuk pundaknya.


"Pagi," sapa Hanna kembali tanpa memandang Fauzan.


Fauzan pun meneliti penampilan Hanna yang jauh lebih baik hari ini.


"Nah! Kalau penampilannya kayak gini, dipandangnya jadi enakkan," ucap Fauzan.


"Maksudnya?" tanya Hanna sambil membalikkan tubuhnya menghadap Fauzan.


"Kalo dilihat sekilas, Fauzan ada miripnya dengan bocah yang ada dimimpi gue?" batin Hanna yang terus memandang wajah Fauzan.


Melihat Hanna yang terus memandang wajahnya, Fauzan menjadi sedikit salah tingkah.


"Tapi gak mungkin bocah kecil itu Fauzan. Seharusnya kan kalau mimpiin Fauzan langsung orangnya aja ini malah bocah kecil, atau jangan-jangan itu pertanda gue bakalan punya adik. Ah! Gak-gak mau," batin Hanna sambil menggelengka kepalanya.


"Napa lo?" tanya Fauzan berusaha menyembunyikan rasa gugupnya.


"Gak," jawab Hanna, lalu ia kembali berjalan menuju kelas dengan diikuti Fauzan di sampingnya.


Sesampainya di kelas.


"Guys, katanya nanti istirahat kita bakalan di pulangin," ucap Rifa, ketua kelas 11 IPA 1.


"Yang bener lo," sahut Cecep.


"Bener, katanya guru bakal rapat untuk membahas ujian kenaikan kelas bulan depan," jelas Rifa.


"Yes!" sorak semua murid 11 IPA 1.


"Kita jadikan pergi nonton?" tanya Fauzan ke Hanna.


"Oh iya. Btw gue belum ngesave nomor lo," ucap Fauzan sambil menyodorkan handpone nya dan langsung di ambil oleh Hanna.


"Yang bener lo minta nomor gue?"


"Iya, cepat. Gue mau chat si Angga nih."


Hanna pun mengetikkan nomornya di handpone Fauzan. "Nih."


"Thanks."


"Hmm." Hanna hanya berdehem, padahal dari tadi jantungnya berdetak kencang.


"Gue harus ke dokter inimah," batin Hanna lalu dia menghembuskan napas pelan.


***


Bel istirahat pun berbunyi, dan hal itu menjadi sangat antusias bagi siswa siswi SMA Bangsa karena mereka akan pulang lebih awal.


Termasuk Hanna, Fauzan, Nayla, dan Angga yang sudah di parkiran untuk segera ganti baju dan pergi nonton.


"Ayo kita pulang, nanti ketemuan di Mall ***** ya," titah Angga.


"Sip," sahut Fauzan, Hanna dan Nayla.


Mereka pun pulang ke rumah masing-masing dengan naik motor dan berpasang-pasangan seperti biasa.


Sesampainya di rumah Hanna.


"Nanti gue jemput lagi," ucap Fauzan.


"Oke," ucap Hanna.


Fauzan pun berlalu dari rumah Hanna.


Hanna yang melihat punggung Fauzan yang perlahan menjauh dengan pandangan yang sulit diartikan.

__ADS_1


***


Kini mereka pun sudah berada di Mall **** untuk menonton film.


"Kita nonton film horor yang lagi hits aja, gimana?" tawar Angga.


"Ih, Angga! Aku gak mau nonton film horor. Takut," rengek Nayla dengan nada imut.


"Tenang aja, kan ada aku. Nanti kamu duduk di tengah aja biar gak terlalu takut. Kalau takut, nih! Ada bahu aku nganggur," bujuk Angga dengan menepuk bahunya.


Nayla hanya menanggapinya dengan tersenyum tipis lalu menganggukkan kepalanya.


"Untuk mengurangi rasa takut, kita beli makan dan minum aja yuk, Nay!" ajak Hanna.


"Kalau gitu, gue sama Angga yang beli tiket," ucap Fauzan.


"Sip," sahut Hanna, Nayla dan Angga.


Mereka pun berpencar.


***


Kini mereka sudah berada di dalam bioskop. Dan mereka duduk di bagian tengah.


Dengan Hanna dan Nayla duduk diantara Fauzan dan Angga.


Dan filmnya pun dimulai.


**


Sedari tadi hanya Nayla yang suka berteriak sambil memeluk lengan kiri Angga. Dan Hanna pun juga pernah berteriak sambil menutup matanya meskipun gak sehisteris Nayla.


Fauzan yang melihat Hanna sedang menutup mata karena takut hanya terkekeh kecil. "Lucu banget sih kalau takut gitu, jadi pengen nyubit," batin Fauzan sambil menatap Hanna.


"Kalau mau teriak, teriak aja. Gak usah gengsi," bisik Fauzan tepat di telinga kiri Hanna.


Hanna pun langsung membuka matanya lalu melirik tajam Fauzan.


"Gue gak takut. Cuma kaget aja karena tiba-tiba hantunya muncul," ucap Hanna berusaha tenang.


"Ah! Yang bener," goda Fauzan.


"Iya ih! Fauzan ...." Hanna merasa gregetan sama Fauzan. "Diem deh jangan pancing emosi aku," lanjutnya dengan nada ketus.


"Iya-iya deh yang takut," ucap Fauzan dengan nada mengejek.


Hanna hanya menepuk tangan kanan Fauzan keras karena kesal.


***


Film sudah selesai dari 30 menit yang lalu, kini mereka sudah berada di salah satu restoran di Mall tersebut.


Sampai sekarang Nayla masih gemetaran sambil memegang lengan Angga karena takutnya masih terasa.


"Udah dong, Nay. Filmnya kan udah selesai. Nih! Minum-minum," ucap Angga menenangkan Nayla.


Sedangkan Hanna hanya diem sesekali meminum minumannya untuk menengkan diri.


"Lo gak papa, Han?" tanya Fauzan.


"Gak. Emang gue kenapa?" tanya balik Hanna.


"Siapa tahu lo butuh penenang," tawar Fauzan.


"Gak perlu," tolak Hanna merasa gengsi.


"Ya udah kita pulang aja, yuk! Kasihan Nayla," ajak Angga.


"Ayo." Fauzan dan Nayla menyetujui ajakan Angga.


Mereka pun pulang ke rumah masing-masing.


**

__ADS_1


__ADS_2