
Dua bulan kemudian...
Hari ini adalah hari keberangkatan Hanna menuju Korea Selatan.
Mereka akan pergi menuju pantai X di Korea Selatan terlebih dahulu untuk bertemu dengan keluarga Azzam.
Sesampainya di Pantai X, mereka langsung menuju hotel terdekat yang sudah di pesan pada hari-hari sebelumnya.
"Hanna, kamar kamu nomor 225 yah. Dan kamar Haikal nomor 224, sedangkan kamar kami nomor 226. Kita bersebelahan, kok. Tenang aja!" sahut Haris.
"Iya, Pah!" ucap Hanna dan Haikal.
Lalu mereka pun masuk ke kamar masing-masking untuk beres-beres.
Sudah hampir satu jam Hanna beres-beres. Sekarang dia berjalan menuju balkon dimana pemandangannya langsung tertuju pantai yang sangat indah di tambah langit yang biru karena saat itu adalah musim panas.
Saat matanya sedang menjelajahi sekitar pantai, dia tak sengaja melihat seseorang yang hampir mirip dengan Fauzan. Orang itu sedang berjalan di pinggir pantai dengan memakai kacamata hitam.
"Ah, gak mungkin itu Fauzan. Masa Fauzan ada di Korea, sih? Gak mungkin!" gumam Hanna.
"Argh! Sepertinya gue harus ganti kacamata," ucap Hanna sambil melepas kacamatanya lalu memakainya lagi.
Saat ia ingin memastikan orang itu Fauzan atau bukan. Ternyata dia sudah tidak ada di tempat, entah pergi kemana.
"Kemana tuh orang? Apa mungkin cuma sekedar mirip Fauzan aja, yah, gak mungkin juga dia ada disini," gumamnya.
Tok! Tok! Tok!
"Hanna, cepat buka pintunya! Kita makan siang dulu!" ajak Haikal setelah mengetuk pintu.
"Oh! Iya, Kak."
Setelah memastikan lagi kalau yang mirip Fauzan sudah tidak ada di tempat, Hanna segera membuka pintu dan menghampiri Haikal untuk makan siang.
"Kak, kita akan makan dimana?" tanya Hanna sambil menutup pintu kamarnya.
"Dekat pantai. Mama sama Papah sudah ada disana, mending kita segera nyusul. Ayo!" ajak Haikal sambil menggenggam tangan Hanna, mungkin takut dia kesasar atau hilang.
Sesampainya di restoran dekat pantai.
Mereka langsung masuk dan mencari kedua orangtuanya.
"Kak, dimana Mama dan Papah?" tanya Hanna.
"Ini juga lagi dicari," jawab Haikal sambil mengedarkan pandangannya. Dan tak sengaja dia melihat seseorang yang mirip dengan Fauzan sedang berada di restoran itu tapi dia duduk di bagian luarnya.
"Ah, masa sih!" gumam Haikal.
"Apa, Kak?" tanya Hanna yang gak terlalu mendengar perkataan Haikal.
"Oh, nggak ... itu dia Mama dan Papah." Haikal mengalihkan pembicaraannya saat melihat Mama dan Papahnya tengah melambaikan tangan ke arah mereka.
Dengan segera Hanna dan Haikal berlalu menghampiri kedua orangtuanya.
"Kalian kok lama sekali, sih!" tegur Haris.
"Maaf, Pah!" ucap Haris sambil duduk di depan Haris.
"Ya, sudah. Mending kita makan sekarang!" titah Nadin.
__ADS_1
Lalu mereka pun memakan makanannya, dan tanpa mereka sadari, dari kejauhan ada seseorang yang memperhatikan mereka dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
🌈🌈🌈
Sekarang sudah pukul 7 malam.
Hanna, Haikal, dan kedua orang tuanya sudah siap dengan pakaian formal mereka. Karena malam ini akan bertemu dengan keluarga Azzam.
Mereka kini sudah ada di lobi hotel.
"Ma, Pah. Kita akan bertemu dimana dengan keluarga Azzam?" tanya Hanna.
"Di sebuah restoran VIP, dan lumayan jauh dari sini. Sekitar 15 menitan lah," jelas Haris.
"Oh, begitu. Jadi kita harus naik mobil. Tapi memangnya kita punya mobil disini? Atau jangan-jangan kita akan naik bus?" tanya Hanna menggebu-gebu.
"Tenang aja, Han. Kita sudah menyewa mobil, kok," ujar Haris.
"Oh, begitu. Syukurlah!"
"Yuk, kita berangkat sekarang!" ajak Nadin.
Lalu mereka pun berlalu menuju sebuah restoran VIP.
Sesampainya di restoran VIP, mereka langsung menuju kursi yang sudah di pesan. Tempatnya itu berada di dalam ruangan dengan kaca yang tembus langsung mengarah ke pantai dan kota dengan dipenuhi cahaya yang kerlap-kerlip di setiap jalan.
"Indah banget pemandangannya," kagum Hanna dengan mata yang berbinar-binar. Tanpa di pikirin bahwa hari itu dia akan bertemu dengan seseorang.
"Sebentar lagi keluarga Azzam akan segera tiba," sahut Haris membuyarkan kekaguman Hanna.
"Entah akan seperti apa hari ini," batin Hanna dengan tatapan kosong.
"Selamat malam semuanya," sapa seseorang dengan suara beratnya.
"Wahh! Lihatlah siapa yang datang! Sudah lama kita tidak bertemu, Alex!" ucap Haris memeluk Alex dengan ala pria.
Mendengar nama Alex, membuat Hanna segera memalingkan wajahnya ke arah pintu.
DEG!
Jantung Hanna berpacu sangat cepat di tambah matanya yang sedikit membulat melihat siapa yang kini sedang berdiri di ambang pintu.
"Ayo, ayo, duduk!" titah Haris setelah melepaskan pelukannya.
🌈🌈🌈
Kini Fauzan tengah berada di perjalanan menuju sebuah restoran untuk bertemu dengan keluarga Putri.
Sedari tadi hatinya sangat tidak tenang di tambah pikirannya yang terus tertuju kepada Hanna.
Dia belum sama sekali memberi kabar ke Hanna sampai saat ini.
Seandainya dia bisa memberi kabar, setidaknya dia sedikit merasa lega meskipun ada sedikit tidak senang karena akan bertemu dengan perempuan lain.
"Pah, apa masih lama?" tanya Fauzan jenuh.
"Ini udah hampir sampai, tempatnya itu di gedung depan!" tunjuk Papahnya.
"Oh, begitu!"
__ADS_1
Tak lama mereka pun sudah sampai di parkiran restoran dan setelah keluar dari mobil mereka langsung memasuki restoran.
Mereka sudah sampai di sebuah ruangan VIP.
"Selamat malam semuanya," sapa Papah Fauzan dengan suara beratnya.
"Malam," sapa pria dan wanita paruh baya, beserta seorang laki-laki.
"Wahh! Lihatlah siapa yang datang! Sudah lama kita tidak bertemu, Alex!" uncap pria itu memeluk Papah Fauzan dengan ala pria.
Fauzan hanya berdiri di ambang pintu setelah melihat siapa yang berada di dalam ruangan itu.
🌈🌈🌈
Kini semuanya sudah duduk di kursinya masing-masing.
Suasana menjadi hening karena mereka sedang memakan makanannya, hanya ada suara dentingan sendok yang menggema.
"Emm ... pasti kalian bingung, kan? Kenapa kita bisa berada disini!" sahut Alex memecahkan keheningan.
"Iya, kita butuh penjelasan!" ujar Fauzan dengan tatapan mengantimidasi.
"Ini sebenarnya sudah di rencanakan dari jauh-jauh hari sama Haris dan juga Nadin. Kita membuat kejutan buat Fauzan dan Hanna!" ucap Alex.
"Oh, jadi ini ya kejutannya!" Hanna menahan kesal.
"Kalian sudah membuat kami bingung dan juga takut akan di jodohkan dengan seseorang. Dan Papah bilang aku akan di jodohkan dengan Putri. Tapi disini cuma ada Hanna!" tambah Fauzan.
"Memang dia, putri itu ya Hanna," jawab Alex.
"Kok?" Fauzan mengerutkan keningnya.
"Astaghfirullah!" Alex menepuk keningnya. "Kamu nggak ngeh apa? Nama tengah Hanna itu ya Putri. Hanna Putri Aurora!" lanjutnya dengan nada geram.
"Ah ... oh, Iya!" Fauzan hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Terus, Azzam?" tanya Hanna.
"Kamu juga nggak ngeh? Azzam kan nama tengah Fauzan! Gimana sih?" heran Haris dengan mereka.
"Fauzan Azzam Alexis, yah?" gumam Hanna yang baru teringat.
"Itu kan tahu!" sahut Nadin.
"Mungkin saking lamanya gak bertemu jadi gak ingat nama panjang nya," ujar Haikal yang diam saja dari tadi.
"Haha, bener tuh. Berarti rencana kita berhasil kan, ya?" tanya Alex ke Haris.
"Tentu, dong! Meskipun kita gak mempermasalahkan jika seandainya mereka sudah pada tahu dari awal!"
"Wah!! Kalian memang the best." Fauzan mengacungkan jempolnya malas.
"Pasti dong!" Alex menepuk dadanya bangga.
Fauzan dan Hanna hanya memutar matanya kesal.
Lalu tak lama mata mereka bertemu, tatapan mereka seolah menyimpan rasa rindu yang mendalam.
"Rasanya gue pengen meluk lo, An," batin Fauzan tersenyum tipis sambil menatap Hanna dalam.
__ADS_1
"Zan, finally we meet again," batin Hanna sambil membalas senyuman Fauzan.
🌈🌈🌈