
Keesokan harinya...
Pada pukul 8 pagi Hanna masih tertidur, awalnya pada pukul 5 tadi ia sudah bangun untuk menjalankan sholat subuh. Tapi pada pukul 6 ia kembali tertidur karena merasa tidak ada yang harus di kerjakan. Lagian hari ini minggu, jadi ia bisa santai-santai.
Tok! Tok! Tok!
"Hanna, bangun sayang. Ada temanmu tuh di depan!" panggil Nadin setelah mengetuk pintu.
"Siapa?" Hanna bertanya dengan suara seraknya dan matanya yang masih terpejam.
"Katanya ... namanya Dilfa," jawab Nadin.
"Oh," ucap Hanna pelan. Tapi tak lama kemudian ia membuka matanya lebar-lebar lalu mengubah posisinya menjadi duduk.
"Ngapain tuh anak pagi-pagi begini kesini?" kesal Hanna.
•••
Di ruang tamu ada dua sejoli yang saling bertatapan, yang satu tatapannya yang menyiratkan kekesalan, tapi yang satunya hanya tersenyum lebar dengan tatapan polos.
"Ngapain lo kesini?" tanya Hanna judes.
"Gak boleh, emang?" tanya balik Dilfa.
"Boleh ... tapi kok lo gak bilang sih," kesal Hanna.
"Gue udah telepon plus chat lo. Tapi lo gak bales-bales."
"Kapan?"
"Tadi jam 6."
"Pantes," gumam Hanna. "Kenapa?" tanya Hanna.
"Kenapa apanya?" bingung Dilfa.
"Ck! Kenapa kesini?"
"Mau ngajak lo main. Kan seminggu ini kita ujian. Biar hari ini kita happy-happy. Mau gak?" tanya Dilfa.
"Gue belum mandi."
"Ya mandi dulu lah, sana!"
"Yakin lo mau nunggu gue. Gue mandi sejam loh!" ancam Hanna.
"Hah! Ngapain aja lo di kamar mandi. Bersemedi?" heran Dilfa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Gue kasih 20 menit, mandi plus ganti baju!" lanjutnya.
"Gak bisalah," protes Hanna.
"Harus bisa," ucap Dilfa dengan menekankan di setiap katanya. "Kalau nggak, gue gak bakal traktir lo," lanjutnya.
"Oke-oke, tunggu!" Hanna lari menuju kamarnya untuk bersiap.
"Masalah di traktir aja gercep tuh anak!" gumam Dilfa sambil bersedekap di dada.
🌈🌈🌈
__ADS_1
Dua puluh menit kemudian Hanna telah selesai dengan penampilan sederhananya. Wajahnya yang tidak di poles apapun tapi tetap manis.
"Yuk berangkat!" ajak Hanna berjalan duluan ke luar rumah.
Dilfa pun menyusul Hanna keluar.
Saat di luar ia melihat Nadin sedang menyiram bunga.
"Ma, aku main dulu!" ucap Hanna.
"Oh, ya sudah. Hati-hati, sebelum magrib harus pulang yah!" pinta Nadin.
"Oke." Hanna pun pergi menuju motor Dilfa.
"Tan, saya izin mau ngajak Hanna main!” izin Dilfa.
"Ah! Iya silahkan, saya malah senang Hanna dapat teman lagi," jelas Nadin.
"Makasih, Tan. Kalau gitu saya pamit dulu! Assalamualaikum!" pamit Dilfa sambil menyalami tangan Istia.
"Waalaikumussalam," jawab salam Nadin.
Hanna dan Dilfa pun berlalu membelah jalan raya.
Setelah kepergian mereka, Nadin bergumam heran, "Kenapa malah Dilfa yang mengucapkan salam, sedangkan anak sendiri nggak!"
🌈🌈🌈
"Zan, ayolah kita pergi jalan kayak dulu. Naik motor berdua!" ajak Firza.
Ya sudah sejak jam 7, Firza merengek minta di temenin jalan. Tapi Fauzannya enggan karena dia sibuk memikirkan acara perpisahan kelas 12.
"Justru kalau banyak pikiran, lo harus refreshing, Zan," saran Firza.
"Gue tidur ajalah," ucap Fauzan sambil menarik selimut.
"Ih! Fauzan lo kayak anak perawan yang lagi PMS aja deh, malesan," kesal Firza.
Ucapan Firza tidak di tanggapi oleh Fauzan.
Beberapa detik kemudian...
"FAUZAN!!" teriak Firza kesal.
Spontan Fauzan bangun sambil menutup telinganya.
"Oke, Fine. Kita jalan!" putus Fauzan. "Kalau gitu lo keluar dulu dari kamar! Gue mau ganti baju," lanjutnya.
"Gitu dong dari tadi, biar gue gak banyak bacot." Firza tersenyum senang lalu keluar dari kamar Fauzan.
🌈🌈🌈
Di sebuah mall, Hanna tampak tak henti-hentinya tersenyum karena melihat pemandangan di depannya. Ia baru pertama kali ke mall yang ada di Indonesia.
Dan saat Hanna menginjakkan kaki di mall tersebut, ia langsung menuju tempat timezone yang ada di sana dan main sepuasnya.
“Dilfa, ayo dong main lagi!” ajak Hanna setelah puas bermain permainan dance game.
“Capek, Na!” keluh Dilfa.
__ADS_1
“Gak gentle lo, masa kalah sama cewek!” ejek Hanna sambil berkacak pinggang.
“Ng-gak kok,” gugup Dilfa. “Ah, lo haus gak?” tanya Dilfa.
“Haus sih,” ucap Hanna sambil memegang lehernya.
“Gue beliin minum dulu kalau gitu. Lo duduk di sini aja!” titah Dilfa sambil mengarahkan Hanna untuk duduk.
“Oke.”
Dan Dilfa pun berlalu untuk membeli minuman.
Beberapa menit kemudian.
“Si Dilfa kemana sih?” heran Hanna karena Dilfa tak kunjung datang.
“Eh! Ada Hanna,” ucap seorang perempuan bersama seorang laki-laki yang datang dari arah kanan ia duduk.
“Ah!” Hanna sedikit tersentak karena kedatangan mereka berdua.
Ternyata mereka Fauzan dan Firza.
“Ini kebetulan, takdir, atau kesialan sih harus ketemu mereka,” batin Hanna sambil menatap mereka.
“Lo sama siapa disini? Gak mungkin sendiri kan?” tanya Firza.
“Sama temen,” jawab Hanna ogah-ogahan.
“Nayla?” tebak Fauzan.
Hanna menggelengkan kepalanya bertanda bukan.
Melihat Hanna menggelengkan kepalanya, alis Fauzan bertaut. “Gak mungkin sama Angga, kan?”
“Bu-“ Ucapan Hanna terpotong karena kedatangan Dilfa dari arah kirinya.
“Eh, ada Fauzan dan ....” Ucapan Dilfa terhenti karena sedang berpikir, siapakah yang bersama Fauzan.
“Gue Firza,” ucap Firza memperkenalkan diri karena ia merasa tahu bahwa Dilfa tak mengenalnya.
“Oh.” Dilfa memberikan minumannya kepada Hanna. “Pacar Fauzan?” tebak Dilfa.
“Uhuk!” Hanna tersedak saat ia meminum legukan pertamanya.
“Tenang dong, say!” Dilfa menepuk-nepuk punggung Hanna.
“Bukan.” Itu bukan Firza yang menjawab tapi Fauzan. “Kalian kenal dari mana?” tanya Fauzan dengan nada tak suka.
“Kita kan sekelas, Bro. Masa lo lupa,” jawab Dilfa sambil menepuk pundak Fauzan.
“Tap-“ Ucapan Fauzan terpotong oleh Firza yang merasa kesal karena ia merasa Hanna sedang di perebutkan oleh dua laki-laki yang keren, jadinya ia merasa iri. “Hey! Gimana kalau kita main lagi!” ajak Firza.
“Wah, ayo! Tadi Hanna antusias banget ingin main lagi setelah minum,” ucap Dilfa sambil memegang pundak Hanna.
“Ck! Udah gak mood gue,” batin Hanna menahan kesal.
“Ya sudah kalau gitu, yuk!” Firza pun menarik lengan Fauzan menuju teman bermain, sedangkan Dilfa menarik lengan Hanna.
🌈🌈🌈
__ADS_1