
Kini Hanna, Nayla dan Angga sedang berada di depan toilet pria. Mereka sedang menunggu Fauzan yang tak kunjung keluar.
“Aduh! Si Fauzan lama amat, ya?” Angga khawatir dengan keadaan Fauzan.
“Ya nih! Aduh ini salah gue-salah gue.” Hanna menyalahkan dirinya sambil memegang kepalanya.
“Udah, tunggu aja dulu, mungkin hanya mencret sedikit.” Nayla berusaha menenangkan mereka berdua.
Tak lama Fauzan keluar dari toilet sambil memegang perutnya.
Hanna yang melihat itu langsung menghampiri Fauzan dan memegang bahu dengan tangan kanannya.
“Zan, duh! Maaf ya. Lo gak pa-pa?” tanya Hanna khawatir.
“Gak pa-pa,” jawab Fauzan lemah.
“Kita ke kelas yuk? Atau mau ke UKS?” tawar Hanna.
“Sepertinya Hanna khawatir banget. Pasti seru nih!” batin Angga dengan kekehan diakhir.
“Kita ke kelas aja,” ucap Fauzan.
Hanna pun memegang kedua bahu Fauzan lalu menuju ke kelas.
Baru saja jalan selangkah, Fauzan sudah ambruk di bahu Hanna.
“Aduh ... Fauzan! Bangun dong! Jangan bikin orang khawatir gini.” Hanna menepuk-nepuk wajah Fauzan yang tampak pucat.
Angga yang melihat Fauzan pingsan langsung menahannya supaya tidak jatuh.
“Ayo kita bawa ke UKS!” ajak Nayla.
Lalu Hanna dan Angga pun membopong Fauzan menuju ke UKS yang tak terlalu jauh darisana.
🌈🌈🌈
Sesampainya di UKS.
Fauzan langsung di baringkan di salah satu ranjang yang ada disana.
“Ga, cepet ambil kayu putih lalu lo olesin di perutnya. Kalau gue bakal ngolesin di bagian kakinya aja!” titah Hanna.
“Gak lo aja yang olesin di perut Fauzan!” goda Angga sambil menaik turunkan alisnya.
“Ini bukan waktunya buat ngegoda gue. Udah tinggal lakuin aja kenapa sih!” kesal Hanna sambil mencari kayu putih.
“Iya deh.” Angga pun memutuskan mencari kayu putih.
Setelah mendapat kayu putih. Mereka langsung mengoleskannya di bagian perut sama kaki.
“Ga, bagian dada sama lehernya juga!” titah Hanna.
“Gak lo aja nih!” goda Angga lagi.
“Udah deh Angga,” kesal Hanna.
“Ya.” Angga pun menuruti permintaan Hanna.
“Aku buatin teh anget aja ya,” ucap Nayla.
“Ya udah, gih,” ucap Hanna menyetujui.
“Kok gak bangun-bangun ya?” Hanna merasa khawatir sekaligus menyesal karena sudah menukar makanannya.
“Mungkin lagi proses siuman.” Angga menenangkan Hanna.
__ADS_1
“Semoga.”
Tak lama kemudian ...
“Eungh!” Suara Fauzan menandakan ia sudah siuman, itu membuat Hanna mendekati Fauzan.
“Zan, lo udah bangun,” ucap Hanna.
“Em.” Fauzan hanya bergumam dengan mata setengah terbuka.
“Fauzan udah siuman? Nih teh angetnya!” Nayla yang baru saja tiba langsung menyodorkan teh angetnya.
Hannapun menerima teh anget dari Nayla.
“Nih minum! Duduk dulu!” titah Hanna.
Angga pun membantu Fauzan untuk duduk.
Setelah duduk Hanna menyodorkan teh angetnya.
“Gimana perutnya udah enakan?” tanya Hanna dengan nada sedikit khawatir.
“Lumayan,” jawab Fauzan. “Hanna khawatir sama gue,” lanjutnya di dalam hati sambil tersenyum tipis.
“Syukur deh,” gumam Hanna dengan menunjukan senyum manisnya.
Tet! Tet!
Bel masuk pun sudah berbunyi.
“Udah masuk. Yuk kita ke kelas!” ajak Fauzan yang sudah mau turun dari ranjang.
“Eh! Mau kemana lo?” cegah Hanna sambil memegang bahu Fauzan.
“Gak boleh. Nanti Angga izinin lo ke kelas, mending lo istirahat disini. Gue temenin deh!” ucap Hanna dengan nada memerintah.
“Iya, bener kata Hanna. Lo disini aja istirahat. Nanti gue sama Nayla izinin lo ke kelas. Dan juga gue sama Nayla mau masuk ada ulangan.” Angga menyetujui ucapan Hanna.
“Ya udah. Sana gih! Keburu guru pada masuk,” titah Hanna.
“Ya udah. Kita duluan ya. Zan, istirahat! Nanti diomelin onoh,” ucap Nayla sambil menonjolkan lidah di pipi menunjuk ke Hanna.
“Haha, iya,” ucap Fauzan dengan kekehan di akhir.
Angga dan Nayla pun pergi dari UKS meninggalkan dua sejoli yang tiba-tiba di landa kecanggungan.
“Em ... Zan, maaf ya atas yang tadi. Gue emang tuker makanannya. Tapi gue bener gak tahu kalau lo emang gak biasa sama yang pedes,” nyesal Hanna.
Fauzan hanya diam tidak merespon ucapan Hanna.
“Hanna aja gak inget gue gak bisa makan pedes,” batin Fauzan sambil memandang pintu yang setengah terbuka.
“Zan. Kok diem sih? Marah yah sama gue? Gue minta maaf,” ucap Hanna dengan nada penuh memohon sambil memegang bahu Fauzan.
“Gue kerjain sesekali gak papakan,” batin Fauzan memalingkan wajahnya ke arah lain dengan senyumannya yang ia tahan.
“Ah! Ya udah kalau lo gak mau maafin gue dulu, gue tunggu. Gu-gue bakal turutin keinginan lo deh,” pasrah Hanna.
“Bener?” tanya Fauzan.
“Udah gini aja nyaut,” batin Hanna kesal.
“Iyaa ....”
“Pulang nanti anterin gue!” titah Fauzan.
__ADS_1
“Ta-tapi tadikan lo jemput gue. Otomatis gue gak bawa kendaraan. Terus nanti gue pulangnya gimana setelah nganterin lo?” tanya Hanna.
“Jadi lo nolak?” tanya balik Fauzan.
“Bukan gitu—“
“Lo bisa bawa mobilkan?”
“Bisalah.”
“Ya udah turutin aja. Apa susahnya? Kalau mikirin gimana caranya lo pulang, lihat aja nanti,” ucap Fauzan.
“Ya deh iya,” ucap Hanna akhirnya menyetujui permintaan Fauzan.
Sedangkan sedari tadi Fauzan hanya menahan senyumnya. “Haha, bukan karena gue ingin ngerjain Hanna saja. Tapi gue juga ingin mempertemukan Hanna sama Mama dan Papah,” batin Fauzan.
🌈🌈🌈
Tet! Tet!
Bel pulang sekolah pun berbunyi.
Angga dan Nayla pun datang ke UKS dengan membawa tas Hanna dan Fauzan setelah tadi Hanna mengechat Nayla untuk membawakan tasnya dan juga tas Fauzan.
“Nih tasnya.” Angga menyimpan tasnya diatas meja.
“Iya makasih ya,” ucap Hanna.
“Ya udah. Mau gue anterin pulang!” tawar Angga.
“Gak usah. Gue dianterin sama Hanna,” tolak Fauzan sambil menatap mata Angga seolah menyiratkan sesuatu.
Angga yang melihat mata Fauzan menatapnya ia langsung mengerti.
“Oh ya udah. Gue juga mendadak keinget ada urusan di OSIS,” ucap Angga.
“Yuk Nay temenin gue dulu sebentar!” ajak Angga ke Nayla.
Nayla yang tidak mengerti pun hanya menurut saja.
“I-ya iya. Aku duluan ya Han,” pamit Nayla.
Lalu setelah mereka pergi, Fauzan bangkit dari duduknya dan mengambil tasnya yang berada di atas meja.
“Yuk pulang!” ajak Fauzan sambil berjalan menuju keluar.
“Hah! I-iya iya.” Hanna pun mengambil tasnya lalu pergi menyusul Fauzan.
Setelah sampai di parkiran.
“Nih kunci mobilnya.” Fauzan melempar kunci mobilnya ke arah Hanna.
Dan Hanna pun dengan sigap menangkapnya.
“Ck! Gak usah dilempar juga. Untung ketangkep,” gerutu Hanna.
“Gak usah bawel. Cepat pulang! Gue masih lemes ini,” ucap Fauzan.
“Iya-Iya,” ucap Hanna menahan kesal.
“Sabar, Han. Sabar ...,” batin Hanna sambil mengelus dadanya.
Lalu Hannapun masuk ke bagian kemudi.
🌈🌈🌈
__ADS_1