Jodohku Teman Kecilku

Jodohku Teman Kecilku
JTK-54


__ADS_3

“Dia sudah pergi, Han!” jawab Nayla pelan.


“Apa?” Hanna kaget.


“Kalian pasti ngerjain gue lagi, kan? Iya, kan?” tanya Hanna menggebu-gebu.


“Kita gak lagi ngerjain lo. Ini memang benar, Fauzan baru saja masuk,” jelas Dilfa.


“Gak, gak mungkin!” Hanna menutup mukanya sambil berjongkok.


“Hiks ....” Hanna pun menangis.


Nayla pun menghampiri Hanna dan ikut berjongkok di depannya.


Nayla memeluk Hanna yang tengah jongkok. “Udah, Han. Jangan nangis. Do’in aja semoga Fauzan selamat sampai tujuan.”


“Tapi, gue belum sempat ngomong sesuatu sama dia. Ada hal yang harus dia tahu. Tapi ... sekarang udah terlambat. Ini salah gue, hiks!” Hanna terus saja menangis di dekapan Nayla.


“Meskipun aku gak tahu masalah kalian apa, tapi kan kamu masih bisa video call sama Fauzan nanti!” Nayla berusaha untuk menenangkan Hanna.


“Hiks ... gue egois banget sih!”


“Udah, Han!” Nayla menepuk-nepuk pundak Hanna.


“Hanna!!” panggil Haikal yang baru saja sampai dengan napas yang terengah-engah.


“Bang Haikal!” ujar semuanya.


“Dimana Fauzan?” tanya Haikal.


“Sudah masuk,” jawab Angga.


Haikal pun langsung menatap Hanna yang sedang berjongkok dengan Nayla. “Hah!” Haikal hanya bisa menghela napas, karena sekarang dia tahu alasan Hanna menangis.


“Telat gue!” gumam Haikal.


“Ada masalah apa sih, Bang?” tanya Dilfa mewakili semuanya.


“Nantilah gue ceritain,” jawab Haikal yang masih menatap Hanna.


Dia pun ikut berjongkok dan menggantikan Nayla untuk memeluk Hanna.


“Udah ya. Gak ada gunanya nangis, mending kita pulang!” ajak Haikal.


“Tapi, Kak. Fauzan—” Ucapan Hanna terpotong oleh Haikal.


“Iya, gue tahu lo nyeselkan? Gak ada gunanya nyesel sekarang. Fauzan udah pergi .... tuh, pesawatnya udah terbang!” tunjuk Haikal ke arah pesawat yang baru saja terbang.


Semua orang yang ada disana melotot dan mencubit punggung Haikal kesal karena mendengar perkataannya.


“Aww! Apa sih? Memang bener, kan?” Haikal menatap semua teman-temannya Hanna. Lalu beralih ke orang tuanya Fauzan yang masih berdiri menonton kejadian di depannya.


“Maaf ya, Om, Tan. Aku gak bermaksud apa-apa sama Fauzan. Tapi ini demi Hanna juga untuk tidak menyesalinya secara berlebihan!” lanjut Haikal ke orangtuanya Fauzan.

__ADS_1


“Iya, tidak apa-apa. Kami ngerti kok,” ucap Alex.


“Udah ya, Han. Kan masih bisa telepon atau skype-an dengan Fauzan kan kalau dia sudah tiba di Amerika. Baru tuh lo bisa ngejelasin secara jelas-jelasnya sama Fauzan!”


“Huft! Iya, Kak,” putus Hanna dengan tangisannya yang mulai mereda.


“Ya sudah, mending kalian semua pulang ya. Makasih loh sudah mau nyempetin waktunya buat nganterin Fauzan!” ujar Alex.


“Iya sama-sama, Om. Kan Fauzan sahabat kami!” ucap Angga mewakilkan semuanya.


“Iya. Ya sudah yuk pulang!” ajak Alex.


Lalu semuanya pulang ke rumahnya masing-masing.


🌈🌈🌈


Dua hari kemudian...


Sekarang Hanna dan semua teman-temannya berada di rumahnya. Termasuk Haikal.


Karena hari ini akan melakukan video call dengan Fauzan yang sudah tiba di Amerika sejak kemarin.


Sebenarnya kemarin mereka ingin langsung melakukan video call. Tapi mereka memutuskan untuk membiarkan Fauzan istirahat dan beres-beres terlebih dahulu disana.


Dan sekarang sudah saatnya mereka melakukan video call dengan Fauzan. Untuk mengatakan semua kebenaran dan menyelesaikan masalah yang belum tuntas.


Tuutt!


Sambungan skype mulai memperlihatkan Fauzan yang tengah duduk di atas kursi.


“Waalaikumussalam,” jawab salam semuanya.


“Ada apa, nih? Tiba-tiba minta gue buat skype-an. Padahal dua hari yang lalu gue baru aja berangkat?” tanya Fauzan heran.


“Em ... gini, Zan. Ada hal yang harus lo tahu secepatnya. Dan biarin Hanna yang ngejelasin,” ujar Haikal sambil melirik Hanna yang ada di sampingnya.


“Oh, ya! Apa?” Tatapan Fauzan yang awalnya ke arah Haikal beralih menatap Hanna yang berada di tengah-tengah.


“Fauzan, sebenarnya hal ini seharusnya udah gue sampein ke lo sebelum lo berangkat Amerika, bahkan saat lo masih sakit dan gue ngejengukin lo waktu itu.”


“Tapi waktu itu gue kecewa, kesal dan senang secara bersamaan sehingga gak bisa ngasih tahu lo dulu. Karena apa?” Hanna yang awalnya menunduk kini menatap laptop yang menampilkan Fauzan.


Fauzan hanya diam bergeming di tempat menunggu kelanjutan cerita Hanna.


“Karena lo gak ngasih tahu gue semuanya. Semua tentang masa lalu kita!” lanjutnya dengan cepat.


Fauzan pun terkejut dengan ucapan Hanna barusan. “Han! Lo ... lo ....”


“Iya, gue udah tahu semuanya, Zan. Kenapa lo gak ngasih tahu gue kalau lo itu sahabat kecil gue? Padahal gue ingin ngerasain main bareng lo sebagai sahabat kecil gue, bukan sebagai teman yang baru kenal setahun yang lalu!”


“Kenapa cuma lo yang ngerasain kalau gue sahabat kecil lo? Padahal gue juga ingin ngerasain itu sebelum kita pergi ke luar negeri!”


“Hanna ... lo pasti sudah tahu alasannya dari Tante Nadin atau Om Haris. Gue begitu karena nurutin perintah Tante Nadin. Maaf kalau itu membuat lo sedih dan kecewa. Gue benar-benar minta maaf, Anna!” ujar Fauzan dengan nada lirih.

__ADS_1


“Ozan!”


Mereka sama-sama memanggil dengan nama panggilan ketika masih kecil.


“Gue minta maaf, An. Seandainya gue ada di sana. Pasti gue akan langsung peluk lo ... tapi sekarang gak bisa. Karena gue udah ada disini.”


Hanna hanya tertunduk diam mendengar perkataan Fauzan.


“Lo ... bener-bener ingat semua tentang gue, kan?” tanya Fauzan memastikan.


“Iya, Zan. Gue inget semuanya semenjak lihat foto yang ada di kamar lo,” ungkap Hanna.


“Foto di kamar gue?” gumam Fauzan.


“Iya. Foto kita berdua waktu kecil. Sebelumnya gue emang pernah lihat foto seorang bocah laki-laki di album keluarga gue ... dan setelah gue lihat foto bocah itu ada di kamar lo. Gue jadi yakin, kalau foto itu emang lo. Saat di kamar lo itu gue jadi ingat sekelebat bayangan saat-saat kita masih kecil. Dan saat itu, gue jadi semakin yakin, kalau kita berdua itu udah sahabatan waktu kecil,” jelas Hanna panjang lebar.


“Alhamdulillah kalau lo udah inget, An. Gue bersyukur banget!” Dari seberang Fauzan terlihat tersenyum lebar.


“Kenapa gue ingetnya di saat-saat terakhir kita akan berpisah, Zan?” tanya Hanna dengan tatapan sendu.


“Memang sudah seharusnya begini, An. Semuanya sudah terjadi. Dan kewajiban kita hanya harus ngejalanin semuanya dengan ikhlas. Jalanin semuanya seperti biasa. Lanjutin perjalanan lo, An. Jangan sampai kejadian ini jadi penghalang buat kegiatan lo ke depannya. Oke!” nasihat Fauzan.


“Iya, Zan. Lo juga,” ujar Hanna dengan tersenyum tipis.


“Dan buat teman-teman semuanya termasuk Bang Haikal. Jalanin kehidupan kalian dengan ikhlas. Jaga diri dan kesehatan kalian, ya!” pinta Fauzan.


“Seharusnya kita yang ngomong gitu ke lo, Zan!” sahut Leo.


Fauzan terutama kecil. “Haha! Iya-iya, buat kita semualah intinya. Dan kalau ada waktu kita semua harus ngabarin kabar masing-masing, ya! Nanti gue akan buat grup.”


“Oke,” ucap semuanya.


“An, lusa ... lo berangkat, kan?” tanya Fauzan.


“Iya, Zan.”


“Jangan lupa jaga diri, pikiran, mata, dan ... jaga hati!”


Ucapan Fauzan membuat jantung Hanna berdegub kencang.


Dan tiba-tiba suasana disana menjadi hening.


Sampai deheman Angga dan Haikal memecahkan keheningan tersebut. “Ekhm! Ekhm!”


“Minum dong, minum!” pinta Angga pura-pura.


“Sono ambil di dapur” ucap Haikal.


“Iya, Zan. Tenang aja. Lo juga yah!”


Itu bukanlah suara Hanna, melainkan Haikal.


Fauzan hanya tersenyum tipis melihat itu. Dia gak tahu apa kode-kode itu semua terlihat jelas atau tidak di mata Hanna. Tapi dia harap, Hanna mengerti.

__ADS_1


🌈🌈🌈


__ADS_2