
Sesampainya di kantin Hanna dan Nayla kebingungan mencari tempat duduk, karena mereka datangnya telat.
“Aduh, Na! Kita duduk dimana nih?” tanya Nayla.
“Gak tahu,” jawab Hanna singkat.
Nayla dan Hanna menelusuri kantin yang sudah dipenuhi oleh siswa siswi yang kelaparan.
Seketika Nayla melihat sebuah bangku kosong di samping Fauzan dan Angga.
“Ahh! Aku tahu. Yuk, Na!” ajak Nayla sambil menarik tangan Hanna.
Hanna yang ditarik Nayla hanya pasrah, hanya mengikutinya saja.
“Hai, Angga, Fauzan. Boleh kita duduk disini?” tanya Nayla saat sudah tiba di samping Angga.
“Boleh-boleh,” jawab Angga.
Nayla pun langsung duduk di samping Angga. “Makasih.”
“Eh, Na. Ayo duduk! Tuh di samping Fauzan kosong,” titah Nayla.
“Ck.” Hanna hanya berdecak kesal karena harus duduk di samping Fauzan.
Lalu Hanna pun duduk di samping Fauzan dengan ogah-ogahan karena tidak ada pilihan lain.
“Kalian udah pesen?” tanya Angga.
“Belum, ini mau pesen. Na, mau pesen apa biar aku yang beliin?” tanya Nayla.
“Samain aja,” jawab Hanna.
“Oke.”
Nayla pun pergi untuk memesan makanan.
“Kamu yang namanya Hanna?” tanya Angga kepada Hanna.
Hanna hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
“Oh.”
“Pantesan Nayla di tindas. Lo kayaknya deket sama dia?”
Mendengar pertanyaan Hanna, Angga yang tadinya sedang mengecek handpone spontan ia mendongak kearah Hanna.
“Ya itu sih wajar, gue kan tetanggaan sama Nayla. Lagi pula kita temenan sejak kecil,” jawab Angga.
Deg!
Mendengar jawaban Angga, spontan Hanna memegang kepalanya yang sakit karena ia merasa kepikiran sesuatu yang sangat abu-abu.
“Lo gak papa?” tanya Angga panik karena melihat Hanna yang sedang menahan sakit sambil memegang kepalanya.
“Nggak kok,” jawab Hanna yang masih setia memegang kepalanya.
Fauzan yang melihat Hanna sedang menahan sakit di kepalanya seketika la merasa khawatir, ia takut kalau Hanna memang gadis kecilnya. Tapi seharusnya gadis kecilnya itu kelas 10, bukan kelas 11.
Tak lama kemudian Nayla datang sambil membawa nampan yang berisikan makanan dan minumannya, lalu menyimpan nampannya di meja.
“Eh, Na! Kamu kenapa?” tanya Nayla panik saat melihat Hanna sedang menahan sakit di kepalanya.
“Hanna tiba-tiba saja kepalanya nge rasa sakit, gak tau kenapa,” ucap Angga.
__ADS_1
“Na, kita ke UKS yuk!” ajak Nayla.
Bruk!
Tiba-tiba tubuh Hanna jatuh mengenai pundak Fauzan.
Melihat Hanna jatuh di pundaknya, seketika Fauzan panik dan langsung mengangkat tubuh Nayla dan berlalu menuju UKS.
“Ck, gercep juga tuh anak.” Angga berdecak heran, tumben Fauzan sepanik itu.
“Yuk kita ikutin!” ajak Nayla kepada Angga.
Lalu mereka pun menyusul Fauzan, dan Nayla membawa nampan yang berisi makanannya dan Hanna.
\*
Setibanya di UKS.
Duk!
Fauzan mendorong pintu UKS dengan kakinya yang mengakibatkan petugas PMR yang ada didalamnya terkejut.
“Cepat bantuin!” titan Fauzan dengan nada panik.
Petugas PMR yang ada di sana pun bergegas menyiapakan alat P3K untuk mengecek keadaan Hanna.
Tak lama kemudian Nayla dan Angga datang.
“Zan, gimana keadaan Anna?” Nayla bertanya dengan nada gemetar.
“Lagi di cek,” jawab Fauzan yang matanya masih menatap Hanna yang terbaring lemah dengan tatapan datar tapi mengisyaratkan kesenduan.
“Kak, kenapa Hanna bisa pingsan?” tanya Nayla ketika melihat kakak PMR yang sudah mengecek Hanna.
“Kayaknya Hanna kepikiran sesuatu yang tidak dia ingat sehingga kepalanya bisa sakit,” jelas Kakak PMR itu yang di ketahui namanya Sinta.
“Apa mungkin Hanna pernah mengalami amnesia?” tebak Angga.
“Sepertinya iya,” jawab Sinta.
“Amnesia?” batin Fauzan dengan dahi berkerut. “Apa mungkin ...,” lanjutnya.
“Nanti aku tanya-in deh pelan-pelan,” ucap Nayla.
“Iya, kalau mau bertanya ke Hanna, sebaiknya jangan sekarang. Nanti saja kalau sudah baikan. Takutnya nanti sakit kepalanya kambuh lagi,” jelas Sinta.
“Iya, Kak.”
\*
“Argh ...!”
Suara rintihan tersebut membuat Fauzan yang sedang menunggu Hanna membuatnya untuk segera menghampirinya.
“Na, lo udah sadar?” tanya Fauzan.
__ADS_1
“Gue haus.”
Fauzan pun mengambil minum yang sudah disediakan diatas nakas.
“Nih! Bangun dulu.” Fauzan membantu Hanna untuk bangun. “Pelan-pelan,” ucap Fauzan sambil menyodorkan minumannya.
“Kok lo yang disini sih?” tanya Hanna dengan nada serak.
“Bukannya terima kasih udah ditungguin malah ngomong gitu,” ucap Fauzan dengan nada kesal.
“Siapa suruh nungguin gue,” sewot Hanna.
“Lo baru bangun bisa ngomong gitu juga ya?” heran Fauzan. “Lagian kita kan sekelas, jadi sekalian aja gue izinin kita berdua,” lanjutnya.
“Ya ya, makasih,” ucap Hanna mengalah karena males berdebat.
Tettt!
Suara bel pulang berbunyi.
“Ayo gue anterin pulang!” tawar Fauzan.
“Gak usah,” tolak Hanna.
“Gak usah sok nolak gitu, nih tas lo udah disini. Lagian gue udah nyuruh Nayla sama Angga pulang duluan aja. Kebetulan mereka ada tugas,” jelas Fauzan.
“Ya deh.”
HAP!
Spontan Hanna mengalungkan tangannya ke leher Fauzan karena kaget tiba-tiba dia menggendongnya.
“Turunin gak.”
“Udah deh diem, biar cepat.”
Hingga Hanna pun diam menurut saja, jujur sekarang ia masih merasa pusing.
\*
Sesampainya di rumah Hanna.
Ting! Tong!
Fauzan menekan bel rumah Hanna dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk menahan tubuh Hanna yang masih lemas.
“Iya, tunggu sebentar,” ucap wanita paruh baya dari dalam rumah.
Ceklek!
“Ad .... Astagfirullah! Hanna kamu kenapa?” tanya Mama Hanna dengan nada panik.
“Ini tante, Hanna tadi pingsan.” Fauzan menjawab untuk mewakili pertanyaan Mama Hanna.
“Astagfirullah! Ayo bawa masuk ke kamarnya.”
Fauzan pun kembali menggendong Hanna untuk menuju ke kamarnya.
__ADS_1
\*