Jodohku Teman Kecilku

Jodohku Teman Kecilku
JTK-57


__ADS_3

Keesokan harinya...


Pada pukul 6 pagi, Hanna sudah siap dengan pakaiannya. Hari ini dia akan pergi melihat sunrise bersama Fauzan tentunya.


Semalam mereka sudah mengobrol banyak mengenai masalah Fauzan dan lain-lain, tak lupa juga saling memberi nomor WA karena Handpone Fauzan baru lagi.


Semalaman senyum Hanna tidak pernah luntur. Tentu saja dia sangat senang karena akhirnya bisa bertemu lagi dengan Fauzan setelah sekian lama. Hari ini dia ingin menghabiskan harinya bersama Fauzan di pantai.


Hanna segera keluar dari kamar setelah merasa semuanya sudah siap, dan juga karena Fauzan nge-wa kalau dia sudah berada di lobi hotelnya Hanna.


Setelah sampai di lobi dia melihat Fauzan sedang duduk di salah satu kursi disana sambil memainkan handponenya.


"Udah nunggu lama?" tanya Hanna saat sudah sampai di depan Fauzan.


"Oh, nggak kok. Ya udah yuk langsung aja!" Fauzan beranjak dari duduknya.


"Yuk!" Saat Hanna akan membalikkan tubuhnya, tapi gerakannya terhenti karena merasa tangannya di genggam oleh Fauzan.


Hanna menatap tangan kanannya yang sudah berada di genggaman Fauzan.


Lalu dia beralih menatap Fauzan.


"Biar gak hilang!" ucap Fauzan beralasan. Padahal dia ingin berpegangan dengan Hanna setelah sekian lama dia menahannya.


"Dih! Ya udah ayo!" Dan sekarang malah Hanna yang menarik tangan Fauzan untuk segera berangkat.


Dan Fauzan juga hanya menurut saja sambil menahan senyumnya.


🌈🌈🌈


"Untung kita gak telat," sahut Hanna saat mereka sudah sampai di sisi pantai.


"Ya, mataharinya baru muncul seperampat. Belum terlalu terlambat kan, ya," tambah Fauzan.


"Yuk duduk!" ajak Hanna.


Mereka berdua pun duduk dia atas pasir sambil menunggu sunset tiba.


Hingga akhirnya keheningan melanda mereka.


Saat matahari akan muncul sudah muncul setengahnya. Hanna meminta Fauzan untuk memfotonya.


Fauzan mulai menghitung mundur. "Tiga! Dua! Satu!"


Cekrek!


"Gimana, bagus gak?" tanya Hanna mendekati Fauzan.


"Bagus, dong. Gue kan fotografer!" Fauzan membanggakan diri sendiri.


"Tapi lo kuliah bukan jurusan fotografer tuh!"


"Emang, sih. Tapi gue punya bakat kok dalam memfoto. Nih! Bagus, kan?"


"Iya, bagus lah ... gimana kalau kita foto bareng!" ajak Hanna.


"Nggak!" tolak Fauzan sambil memalingkan wajahnya.


"Ayolah! Ini pertama kali loh!" bujuk Hanna sambil menarik lengan Fauzan.


"Ck! Oke," putus Fauzan sambil menghela napas pelan.


Akhirnya mereka berfoto dengan pemandangan matahari terbit berada di tengah-tengah mereka, dimana mata mereka fokus ke lensa kamera.


Cekrek!


Hanna pun melihat hasilnya.


"Ini bagus, sih! Cuman ada yang kurang deh! Tapi apa ya?" tanya Hanna.


"Lebih bagus kalau kita foto nya semua anggota tubuh!" saran Fauzan.


"Nah, itu! Tapi ... kita minta ke siapa nih, buat fotoin!" Hanna mengedarkan pandangannya.


Hanna pun melihat seseorang laki-laki masih muda sedang duduk sendirian. Dia terlihat orang Korea asli.


"Gimana sama cowok itu!" tunjuk Hanna.


"Em ... boleh! Tapi emang lo bisa bahasa Korea! Kalau pakai bahasa Inggris kan takutnya dia gak hafal," ujar Fauzan.


"Tenang, aja! Gue bisa sedikit kok kalau masalah minta fotoin!" Hanna pun mulai menghampiri cowok itu diikuti oleh Fauzan.


"Permisi!" ucap Hanna dalam bahasa Korea.


"Ne!" ucap cowok itu.

__ADS_1


"Boleh minta tolong fotoin kita berdua gak, dengan pemandangan di tengahnya itu sunrise!" pinta Hanna sopan dalam bahasa Korea.


"Tentu!" Dengan senang hati cowok itu menerimanya dengan senyuman lebar. Entah mungkin dia terpesona dengan wajahnya Hanna, makanya dia mengiyakan.


Akhirnya mereka pun berfoto dengan berlatar sama seperti sebelumnya, namun kali ini semua anggota tubuh terfoto.


Sudah beberapa kali mengambil foto. Sampai pada akhirnya Fauzan menoleh ke arah Hanna, begitu pun dengan Hanna.


Mereka pun bertatapan sambil tersenyum lebar, dengan objek di tengahnya matahari yang sudah muncul sepenuhnya.


Cowok yang sedang memegang kamera pun dengan segera mengambil momen yang sangat pas tersebut berkali-kali.


"Ah!" Hanna mengalihkan pandangannya.


"Bagaimana? Sudah?" tanya Hanna ke cowok itu.


"Sudah," ucap cowok itu sambil menyodorkan kameranya.


"Terima kasih, yah. Maaf ngerepotin!" ucap Hanna.


"Tidak apa-apa. Saya permisi dulu!" Cowok itu pun berlalu dari hadapan Hanna dan Fauzan.


Dengan segera Hanna melihat hasil foto tadi.


"Bagus-bagus banget!" puji Hanna dengan mata berbinar.


"Iya, ternyata dia juga berbakat jadi fotografer," ujar Fauzan.


"Alhamdulillah kalo dia jago. Dan hasilnya pada bagus-bagus."


"Nanti aku update deh di ig, gimana?" tanya Hanna.


"Iya. Tapi nanti. Sekarang mending kita sarapan dulu!" ajak Fauzan.


"Iya, gue juga udah lapar banget!"


Akhirnya Fauzan dan Hanna pun pergi mencari makanan untuk sarapan.


🌈🌈🌈


Sekarang sudah menunjukkan pukul 10 pagi.


Hanna dan Fauzan sedang berada di sisi tebing pantai tersebut.


Dan akhirnya disinilah mereka berada.



"Bagus banget tempat ini!" Mata Hanna berbinar-binar.


"Iya. Apalagi di temani sahabat kecil. Indahnya jadi bertambah plus-plus!" ucap Fauzan dengan sedikit menggoda.


"Apaan!"


"Oh ya. Waktu lima tahun yang lalu. Gue sempat dinner juga sama sebuah keluarga. Tapi gak tahu mereka siapa, soalnya mereka semua pakai topeng!" sahut Fauzan tiba-tiba.


"Hah!" Tentu Hanna kaget. Karena dia juga merasakan hal yang sama.


"Beneran? Terus gimana?" tanya Hanna.


"Ya, keluarga itu membawa satu orang perempuan pakai gaun emas kalau gak salah, sama topeng emas," sambungnya.


"Kayaknya itu gue deh," batin Hanna sambil menatap mata Fauzan.


Karena merasa gak yakin, Hanna pun kembali bertanya, "Lo tahu siapa namanya?" tanya Hanna.


"Gak tahu. Karena gak di kasih tahu juga. Katanya biar gue tahu sendiri aja, kan kesel. Dan karena perempuan itu pergi ke toilet terus gak balik lagi, katanya ada urusan mendadak, gak tau deh apa," lanjutnya.


"Ah, ini sih gue. Gue juga masih ingat," batin Hanna lagi.


"Hah!" Hanna menghela napas panjang.


"Kenapa?" tanya Fauzan.


"Gue juga ngalamin hal yang sama," ujarnya.


"Apa?"


"Yang pakai gaun emas itu gue, Zan," jawab Hanna sambil tersenyum pahit.


"Lo ... gak usah bercanda?" Tentu saja Fauzan kaget.


"Gue gak bercanda. Lo waktu itu pakai topeng hitam seperti rubah kan?" tebak Hanna.


"Iya," jawab Fauzan dengan nada tidak percaya.

__ADS_1


Mereka terdiam selama beberapa menit.


Hingga akhirnya tawa mereka berdua pecah.


"Hahaha! Aduh! Orang tua kita bisa-bisa nya nyah kayak gitu," ujar Hanna di sela-sela ketawanya.


"Haha ... iya, cerdik banget mereka!"


"Aduh, haus deh gue!" sahut Hanna.


"Mau es kelapa gak?" tawar Fauzan.


"Mau dong. Beliin ya, gue tunggu disini!" pinta Hanna.


"Siap!" Fauzan pun mengacak rambut Hanna lalu pergi berlalu untuk membeli es kelapa.


"Ih, Fauzan. Rambut gue berantakan!" kesal Hanna setengah berteriak.


"Hahaha!" Terdengar dari kejauhan Fauzan tertawa.


"Ck!" Hanna kembali terdiam sambil menatap pemandangan di depannya.


Sudah hampir 15 menit, tapi Fauzan belum juga datang.


"Kemana dulu sih? Lama banget," gerutu Hanna. Lalu ia pun beranjak untuk menyusul Fauzan.


Tapi langkahnya terhenti karena ada perempuan yang memakai kacamata hitam di tambah makser menghalangi jalannya.


"Em ... siapa, ya?" tanya Hanna dalam bahasa Korea.


"Lo gak perlu tahu siapa gue," jawab perempuan itu dalam bahasa Indonesia.


"Oh, anda orang Indonesia. Ada perlu apa ya? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Hanna dalam bahasa Indonesia.


"Gue mau lo menghilang, karena lo sudah mengambil semua orang yang gue sayang," geram perempuan.


"Em ... maaf. Apa yang sudah saya ambil dari Anda, sedangkan saya tidak mengenali Anda?" tanya Hanna.


"Lo gak usah pura-pura gak tahu. Lo udah ambil Haikal dan Fauzan dari gue, gue benci sama lo. Dan ... sekarang saatnya lo pergi dari sini!" Perempuan itu melangkah mendekati Hanna, sehingga membuat Hanna mundur.


"Apa mau anda?"


Pertanyaan Hanna di hiraukan oleh perempuan.


Sampai pada akhirnya kaki Hanna sudah berada di ujung tebing.


"Saya mohon stop!" pinta Hanna sambil mengangkat tangan kanannya.


Perempuan itu akan mengeluarkan pisau cutter dari sakunya.


Tapi sebelum pisau itu keluar sepenuhnya.


Hanna sudah terlebih duhulu jatuh dari atas tebing karena terus menerus mundur.


Untungnya Hanna sempat berpegangan pada sisi tebing.


"Kenapa gak jatuh aja sih?" tanya perempuan itu dengan seringaiannya.


"Tolongin saya!" pinta Hanna dengan napas terengah-engah.


"Biarin aja lo begitu sampai lelah. Terus jatuh deh, hahaha!"


"Woy!" teriak Fauzan dari kejauhan.


Spontan perempuan itu berlari dari sana. Dan Fauzan pun sama, dia melempar es kelapa ke sembarang arah lalu berlalu secepat mungkin ke arah Hanna.


Setelah sampai di hadapan Hanna.


"Hanna, pegang tangan gue!" titah Fauzan mengulurkan tangannya.


"Gak bisa, Zan. Tangan gue sakit!" lirih Hanna karena jari tangannya memerah.


"Cepat, Han!" Fauzan tetap mengulurkan tangannya.


Hanna pun berusaha menggapai tangan Fauzan. Tapi karena tangan Hanna sudah tidak kuat, Hanna pun terjatuh ke pantai.


"Hanna!" teriak Fauzan memanggil Fauzan.


"Astaghfirullah!"


Fauzan yang mahir berenang pun segera menceburkan dirinya juga mengikuti Hanna.


🌈🌈🌈


Visual sewaktu-waktu akan di hapus

__ADS_1


__ADS_2