
Nayla pun memutuskan untuk menelepon Hanna setelah sedikit menjauh dari tempat acara.
Setelah lumayan jauh dari tempat acara, Nayla segera menelepon Hanna.
Namun beberapa detik, tapi Hanna tidak kunjung mengangkat teleponnya.
"Aish! Kenapa sih Hanna?" kesal Nayla karena teleponnya tidak kunjung di angkat.
Nayla pun memutuskan untuk menelepon Hanna kembali.
Dan setelah menunggu beberapa menit. Akhirnya teleponnya di angkat.
"Apa sih, Zan?" Hanna langsung bertanya kesal.
"Em ... maaf Han, ini aku Nayla," ucap Nayla pelan. Sepertinya saat Hanna mengangkat, dia tidak melihat siapa yang menelepon. Sehingga dia salah menyebutkan nama.
"Oh ... Nay, ada apa?" tanya Hanna dengan nada seperti biasa.
"Kamu kenapa gak jadi datang ke sekolah?" tanya Nayla.
"Gue gak enak badan," jawab Hanna.
"Masa sih? Kayaknya tadi pagi kamu seperti baik-baik aja. Apa ada masalah lain? Cerita dong sama aku!"
"Lain kali ya, Nay. Udah ya ... gue tutup. Assalamu'alaikum!" salam Hanna.
"Waalaikumussalam," salam Nayla kembali.
Tak jauh dari tempat Nayla berdiri, ada orang yang diam-diam menguping pembicaraannya. Dan orang itu hanya tersenyum smirk mendengarnya.
"Bagus."
πππ
Nayla pun kembali menghampiri Fauzan setelah menelepon Hanna tadi.
"Gimana, Nay?" tanya Fauzan cepat.
"Gak enak badan katanya?" jawab Nayla.
"Ah! Sama dong jawabannya. Gue juga sempet nelepon, dan katanya gak enak badan," ujar Fauzan.
"Hm ... apa mungkin terjadi sesuatu sehingga membuat Hanna tidak enak badan?" tebak Nayla.
"Atau mungkin ... Hanna bukan gak enak badan, tapi gak enak hati," sambung Fauzan.
"Gak enak hati kenapa? Dia putus sama pacarnya atau dia ngelihat cowok yang dia suka jalan sama cewek lain atau ada masalah keluarga atau kenapa?" cerocos Nayla penasaran dengan keadaan Hanna.
"Dia gak punya pacar," sanggah Fauzan.
"Bisa aja kan, Zan. Hanna diam-diam punya pacar."
"Masa sih Hanna punya pacar?" batin Fauzan termenung.
"Pasti dia punya alasan lain selain masalah dengan cowok, Nay."
"Iya kan cuman hipotesis, Zan."
"Perhatian semuanya, barang kali dari panitia ada yang mau menampilkan sesuatu, saya tunggu selama 2 menit!" ujar MC.
"Oh udah saatnya," seru Nayla.
"Saatnya apa?" tanya Fauzan heran.
"Aku dan Angga bakal perform lagu," jawab Nayla. "Do'ain ya," lanjutnya lalu Nayla pergi menuju belakang panggung.
Setelah beberapa menit. Fauzan pun menyusul Nayla menuju belakang panggung.
__ADS_1
πππ
Prok! Prok! Prok!
Suara tepuk tangan menggema setelah penampilan Angga dan Nayla yang menyumbangkan sebuah lagu, dengan Angga yang memetik gitar dan Nayla yang menyanyi.
Semua orang terkejut karena Nayla ternyata bisa bernyanyi dan di selingi oleh Angga juga bernyanyi.
Termasuk Fauzan. Dia tidak menyangka Nayla bisa bernyanyi seperti ini. Meskipun dia dan Nayla sudah lama kenal tapi dia baru tahu bahwa Nayla punya bakat bernyanyi.
"Oke semuanya ada penampilan terakhir nih dari salah satu laki-laki populer. Mau tahu apa penampilannya, ini dia!" seru MC.
Tiba-tiba lampunya padam. Tidak ada cahaya sedikit pun.
Tapi dari tengah-tengah panggung tiba-tiba ada seorang laki-laki bertopi tengah menunduk dan sebuah lampu yang meneranginya.
Semua mata fokus pada laki-laki itu.
Dan musik mulai mengalun bersamaan dengan laki-laki itu yang mulai menari.
"Woah!" Semua orang kagum dengan tarian laki-laki itu.
Setelah beberapa saat menari, laki-laki itu pun mulai bernyanyi sambil mengangkat kepalanya.
"AAA!" Semuanya menjerit terkhusus perempuan karena melihat siapa yang menari tadi.
Yang membuat kaget adalah karena yang menari dan menyanyi tadi adalah Fauzan.
Siapa sangka Fauzan yang kelihatannya kaku tiba-tiba pandai menari gini.
"Kapan dia latihannya, Nay?" heran Angga yang masih tidak percaya.
"Entah."
Karena merasa Nayla tidak terlalu merespon, Angga pun menolehkan kepalanya ke arah Nayla. Dan ternyata Nayla sedang merekam tarian Fauzan.
"Belum lama," jawab Nayla.
"Huft. Ketularan Hanna ini mah," gumam Angga.
Setelah beberapa menit Fauzan menari dan bernyanyi akhirnya penampilan terakhir itupun sudah selesai.
Fauzan terlihat membungkukkan kepalanya dan di selingi oleh tepukan tangan dari seluruh penonton.
"Gak nyangka gue, Zan. Lo bisa kayak gini."
"Lo makin keren aja, Zan."
"Gue salut sama lo."
"Hebat, Bro."
Sayup-sayup Fauzan mendengar orang-orang berbicara seperti itu.
Dan tak lama kemudian Fauzan turun darisana dan menuju ke belakang panggung.
Disana Fauzan di sambut oleh Angga dan Nayla yang masih bertepuk tangan.
"Gila lo, Zan. Kapan lo latihan dance?" kagum Angga.
"Udah lama sih. Gue latihan sendiri di rumah," jawab Fauzan.
"Gak ngajak-ngajak lo kalau mau ngedance," ujar Angga.
"Males ngajak lo. Lo kan anti banget sama yang kayak ginian. Mending main musik kan?" Fauzan menaikkan sebelah alisnya.
"Hehe, iya sih." Angga hanya terkekeh.
__ADS_1
"Hebat kamu, Zan. Aku gak nyangka kamu bisa ngedance!" seru Nayla.
"Iya, Nay. Gue juga berbulan-bulan cuman buat latihan kayak tadi."
"Pertahanin, Zan. Siapa tahu kamu bisa jadi anggota boyband," ucap Nayla.
"Halu iya ... kalian gak usah kasih tahu Hanna ya soal ini!" pinta Fauzan.
"Yah ... tapi aku udah kirim video kamu ke Hanna," ujar Nayla gak enak.
"Hah! Kenapa di kirim?" kaget Fauzan.
"Kan supaya Hanna nyesel karena gak dateng ke sini."
"Ya ... ah!" Fauzan frustrasi sambil memegang kepalanya.
"Emangnya kenapa kalau Hanna tahu lo bisa dance?" tanya Angga heran.
"Malu gue!" sahut Fauzan.
"Pft!" Angga dan Nayla menahan tawanya.
"Nay lo coba lihat deh Hanna udah lihat belum videonya!" titah Fauzan.
Nayla pun melihat handponenya kembali. "Em ... belum sih cuma ceklis dua."
"Nah! Hapus-hapus!" suruh Fauzan.
"Kenapa sih, Zan? Kan kalau Hanna lihat video lo. Siapa tahu dia jadi kesemsem sama lo?" goda Angga.
"Nggak ya. Hapus, Nay!" suruh Fauzan dengan nada penekanan.
"Iya-iya." Nayla mengiyakan perintah Fauzan, lalu ia pun segera menghapus untuk semua orang video itu.
πππ
Hanna yang baru saja keluar dari kamar mandi segera mengambil handponenya karena tadi ia mendengar suara handpone berbunyi.
"Nayla!" gumam Hanna.
Hanna pun membuka pesan dari Nayla.
Tapi disana tidak ada apa-apa. Yang ada hanya pesan yang sudah di tarik kembali.
βItu anak ngirim apaan sih, gak jelas!β gerutu Hanna. Ia pun melempar handponenya ke atas kasur dan berjalan menuju sofa kamarnya.
Saat Hanna baru saja duduk, handponenya kembali berbunyi menandakan ada pesan masuk.
Ting!
Ting!
βAh!β Hanna menghela nafas lalu kembali beranjak untuk melihat siapa yang mengirim pesan.
Hanna membuka handpone dan ada sebuah pesan dari nomor asing.
Orang itu mengirim sebuah video dan teks.
0865xxxxxxxx
π½
Dia baik-baik saja . Bahkan sampai ngedance begitu. Bagus karena lo udah menuruti perkataan gue.
Good Job, Sis.
πππ
__ADS_1