
Hanna merasa terheran-heran melihat isi pesan itu.
Siapakah yang mengirim pesan itu? Apa mungkin dia orang yang menyuliknya waktu itu? Dan di akhir pesannya dia menyebutnya dengan Sis. Apa maksudnya itu?
“Gak mungkin gue punya saudara laki-laki,” gumam Hanna sambil menggigit jari telunjuknya.
Hanna pun melihat isi video itu. Dan ternyata itu sebuah video dimana Fauzan sedang ngedance dan menyanyi dengan lihainya.
“Alhamdulillah, lo baik-baik aja. And, lo keren juga,” gumam Hanna sambil tersenyum tipis.
Hanna pun kembali berbaring setelah menyimpan handpone nya di atas nakas.
Hanna berusaha untuk tidak memikirkan isi terakhir pesan itu. Tapi dia sangatlah penasaran. Gak mungkin orang itu menyebutnya dengan Sis tanpa alasan.
Apa dia harus bertanya kepada orang tuanya, mengenai apakah dia punya saudara?
“Gue akan coba,” ucapnya dalam hati.
Tak lama mata Hanna pun tertutup dan menuju ke alam mimpi.
🌈🌈🌈
“Em, Zan! Lo langsung pulang?” tanya Angga setelah membereskan barang terakhirnya.
“Iyalah, gimana lagi?”
“Siapa tahu lo mau ke rumah Hanna dulu?” goda Angga.
Fauzan melihat jam yang ada di tangannya. “Udah jam setengah 11, gak enak bertamu ke rumah orang. Besok aja mungkin.”
“Em ... bagus-bagus. Gue kira lo gak sabar mau ketemu Hanna.” Angga menaikkan sebelah alisnya.
Fauzan menyimpan kardus terakhirnya. “Nggak. Kata siapa?”
“Ya sudah. Kita pulang sekarang?” tanya Angga.
“Ayo!”
Setelah membersihkan tempat acara perpisahan, semua panitia langsung pulang ke rumah masing-masing.
🌈🌈🌈
Keesokan harinya...
Pada pukul 8 pagi, Hanna masih rebahan di atas kasur sambil membaca sebuah novel.
Dret! Dret!
Suara handpone nya berbunyi.
__ADS_1
Hanna segera melihat siapa yang mengirim pesan di pagi libur ini.
NaylaPutri
Hanna, kamu lagi dimana?
HannaPRora
Rumah.
Hanna menjawabnya dengan singkat karena lagi males ngetik.
Setelah beberapa menit, tidak ada tanda-tanda Nayla akan membalas pesannya lagi.
“Gak jelas lagi kan tuh anak,” gerutu Hanna.
Tok! Tok! Tok!
“Han, ayo sarapan dulu ke bawah!” ucap Nadin setelah mengetuk pintu.
“Iya, Ma.”
Hanna pun segera menyimpan novelnya dan segera menuju ruang makan.
Setibanya di pintu ruang makan.
Hanna melihat sebuah punggung yang membelakanginya. Dan punggung itu tidak asing baginya.
Setelah duduk, matanya membulat karena melihat orang yang sedang duduk itu adalah Fauzan.
“Lo ngapain disini?” tanya Hanna terkejut.
“Han, Fauzan lagi bertamu kok di tanya begitu,” tegur Nadin sambil meletakkan makanan terakhirnya.
“Nggak, Ma. Aku kaget aja lihat dia ada disini pagi-pagi.”
“Dia yang kamu maksud itu punya nama, Han.”
“Iya, Ma. Aku kaget aja lihat Fauzan ada disini pagi-pagi.” Hanna mengulang ucapannya.
“Memangnya kenapa kalau gue kesini pagi-pagi?” tanya Fauzan.
“Ya ... gak pa-pa. Masalahnya kalau lo mau kesini setidaknya ngasih tahu dulu dong.”
“Penting ya buat lo?” tanya Fauzan lagi dengan menaikkan sebelah alisnya.
“Nggak juga. Udah ah!” kesal Hanna. Lalu ia mengambil nasi goreng buatan Mamanya.
Melihat Hanna kesal sudah menjadi hiburan tersendiri bagi Fauzan.
__ADS_1
Dulu waktu mereka masih kecil, Fauzan juga suka membuat Hanna kesal. Karena bagi Fauzan ketika Hanna lagi kesal, pipinya suka mengembung. Alhasil Ia suka menggigit pipi Hanna. Hingga menimbulkan bekas.
Tapi sekarang dia tidak bisa menggigit pipi Hanna. Akan terasa aneh jika ia tiba-tiba menggingit Hanna sekarang.
Fauzan pun tersenyum karena membayangkan masa kecil mereka, walaupun sekarang Hanna tidak mungkin mengingatnya.
“Gila lo senyum sendiri,” ucap Hanna membuyarkan lamunan Fauzan.
“Hah! Nggak siapa yang senyum.” Fauzan menyangkalnya.
“Gue gak buta. Jelas-jelas lo tadi tersenyum. Ngebayangkan yang aneh-aneh kan lo?”
“Lagi mengenang masa lalu aja,” ucap Fauzan sambil menatap mata Hanna lekat.
Mendengar ucapan Fauzan, membuat Hanna terhenti dari kegiatannya dan menatap Fauzan.
Begitupun dengan Nadin, ia hanya tersenyum kecil melihat interaksi antara Fauzan dan Hanna. Sudah lama sekali dia tidak melihat mereka bermain berdua lagi.
“Ekhm ... sudah ayo makan!” Ucapan Nadin membuat Fauzan dan Hanna kembali ke makanan mereka.
Suasana di meja makan kini hening. Hanya terdengar suara dentingan sendok.
“Makasih, Tan. Atas makanannya,” ucap Fauzan setelah meneguk air.
“Iya, gak usah sungkan. Anggap aja rumah sendiri.”
Hanna hanya mencibir mendengar ucapan Mamanya itu.
“Apa apaan anggap aja rumah sendiri. Baru juga kenal beberapa minggu,” batin Hanna sambil meneguk minumannya.
“Rencana kalian setelah makan mau kemana?” tanya Istia.
“Ki—“ Ucapan Fauzan terpotong oleh Hanna.
“Gak kemana-mana, Ma. Paling cuma rebahan sambil baca novel,” jawab Hanna cepat.
“Kamu jangan terlalu sering membaca novel, mata kamu kan ....” Ucapan Nadin terjeda karena melihat tatapan Hanna kepadanya. Seolah mengerti kode Hanna. Nadin pun kembali melanjutkan perkataan nya, “Nanti kalau mata kamu minus bagaimana? Mending kamu pergi main saja sana sama Fauzan!”
“Males, Ma,” rengek Hanna.
“Udah sana siap-siap!” titah Nadin.
“Ya udah,” putus Hanna sambil menghentakkan kakinya pelan. Lalu ia pergi menuju kamarnya untuk siap-siap.
“Kalau Hanna tidak mau, gak pa-pa kok, Tan.” Fauzan merasa tidak enak karena melihat Hanna yang terpaksa.
“Gak pa-pa. Sesekali Hanna harus di paksa, supaya dia tidak di kamar terus baca Novel. Dulu juga waktu dia masih di luar negeri. Dia itu jarang banget ngumpul sama teman-temannya, hampir tidak pernah malah. Mumpung masih muda, dia harus menikmati masa mudanya itu,” ucap Nadin panjang lebar.
“Oh ... gitu ya, Tan. Ya sudah kalau gitu, aku akan bawa Hanna jalan-jalan lagi.” Fauzan tersenyum tipis menanggapi ucapan Nadin. Tapi di dalam hatinya ia sangat bersorak senang karena bakal jalan berdua lagi sama Hanna.
__ADS_1
🌈🌈🌈