Jodohku Teman Kecilku

Jodohku Teman Kecilku
Taruhan


__ADS_3

Keesokan harinya.


Pada jam istirahat, Fauzan, Hanna, Nayla dan Angga sedang berada di kantin.


Dan sedari tadi tidak ada hentinya Fauzan dan Hanna selalu berdebat tentang hal yang gak penting.


"Udah-udah napa sih. Gue pusing nih lihat kalian debat mulu." Angga mencoba melerai Fauzan dan Hanna.


"Ya gak usah lihat dong," sewot Hanna.


"Gue kan punya mata, Na. Masih berfungsi lagi," ucap Angga.


"Ya udah meren kalo gitu," titah Hanna.


"Gue kan lagi makan, Han. Masa makan sambil nutup mata sih, yang ada makanannya masuk ke hidung."


"Ya pakai insting lo lah. Lo kan pinter," sahut Fauzan.


"Hey, kalian semua pinter. Jadi, gak seharusnya kalian ngedebatin hal yang gak penting kayak gini." Nayla menyela perdebatan mereka.


"Dan kamu juga Angga, kamu kan Ketua Osis. Gak malu apa sama reputasi kamu," lanjut Nayla.


Seketika semuanya terdiam mendengar ucapan Nayla.


"Ya, tapi kan—" ucapan Hanna terpotong oleh Nayla. "Udah haney haneyku, mending makan aja deh. Gak sadar apa perut kamu keroncongan gitu."


"Pftt." Terdengar Fauzan sedang menahan tawanya.


"Mau ketawa lo ya." Tunjuk Hanna ke Fauzan.


"Iya, emang kenapa?" tanya Fauzan dengan nada polos.


"Hishh." Hanna mengepalkan tangannya yang sudah siap ingin menggampar Fauzan.


"Udah, Han." Nayla hanya menenangkan Hanna.


"Lo gak liat. Dia yang mulai duluan."


"Ya, kamunya harus sabar dong," nasihat Hanna.


"Huft ... orang sabar di sayang tuhan (100kali)," gumam Hanna mengelus dadanya sambil meneruskan makannya.


Fauzan yang melihat itu hanya terkekeh geli melihatnya.


***


Bel pulang sekolah sudah berbunyi dari 30 menit yang lalu, dan kini mereka berempat habis dari menemui Pak Johan untuk menanyakan materi. Dan sekarang mereka sedang berada di parkiran untuk segera menuju ke sebuah cafe yang nantinya akan jadikan mereka tempat latihan dan belajar.


"Ya udah kita berpasangan aja ya naik motornya, gue sama Nayla," ucap Angga.


"Berarti gue harus sama dia dong. Gue gak mau," tolak Hanna sambil melirik Fauzan.


Fauzan hanya memutar bola matanya.


"Gue aja deh yang bawa motor Angga, terus gue ngebonceng Nayla," tawar Hanna.


"Kalo lo yang bawa motor segede ini bahaya, Han. Mending lo dibonceng sama Fauzan aja," ucap Angga.


"Ck! Ya udah, deh. Gue terpaksa nih." Hanna hanya berdecak kesal sambil menaiki motor Fauzan.


Brem! Brem!


Mereka pun pergi ke cafe terdekat dengan sekolah.


Di tengah perjalanan.


Fauzan tiba-tiba mengerem motornya kuat-kuat, dan secara refleks tangan Hanna melingkar di pinggang Fauzan.


Grep!


Mereka berdua terbengong cukup lama.


Hingga pukulan keras di pundak Fauzan memecahkan keheningan mereka.


Puk!

__ADS_1


"Lo mau modus ya?" tuduh Hanna.


"Gue ... modus sama lo." Fauzan berkata dengan nada tidak terima dituduh seperti itu. "Jangan kepedean deh," lanjutnya.


"Jujur aja susah amat sih."


"Terserah lo."


"Lagian, kenapa lo tiba-tiba ngerem sih?" tanya Hanna heran.


"Tadi ada anak kucing lewat. Kalau di tabrak kan kasihan," jawab Fauzan sambil menjalankan motornya kembali.


"Oh."


Sesampainya di cafe.


"Lah kalian darimana aja, kok lama amat?" tanya Angga.


"Ada masalah sedikit tadi di jalan," jawab Fauzan.


"Oh." Angga hanya menganggukkan kepalanya dengan percaya.


"Ya udah kita mulai saja, keburu sore banget," ucap Nayla.


"Ini udah mau sore kali," sahut Hanna.


"Ya maksud aku keburu magrib," jelas Nayla.


"Oh ...."


2 jam kemudian.


"Udahan yuk," kata Angga.


"Ya nih, udah panas mata gue," sahut Hanna.


"Ya udah nanti lanjutkan lagi besok," ucap Fauzan.


"Bukannya besok kita ada bimbingan sama Pak Johan," ucap Nayla.


"Oh iya-iya. Besok kita membicarakan teknis perlombaan nya kayak gimana dengan Pak Johan," jelas Fauzan.


Semua mengangguk setuju.


"Ya udah yuk pulang," ajak Nayla.


Mereka pun pulang ke rumah masing-masing.


***


Keesokan harinya.


Kini di kelas 11 IPA 1 sedang ada jam kosong dan tugasnya hanya disuruh mencatat satu halaman.


"Han," panggil Fauzan setelah selesai mencatat.


"Apaan," sahut Hanna dengan nada datar dengan mata yang masih fokus ke handpone.


"Bisa gak kalau kita gak usah debat lagi,"


pinta Fauzan.


"Ya ... tergantung," ucap Hanna dengan mata yang masih mengarah ke handpone.


"Tergantung apaan?" tanya Fauzan.


"Hmm ... tergantung sikap kita berdua dan tergantung mood aku," jawab Hanna dengan pandangan beralih ke papan tulis.


"Ya kita usahain jangan debat lah," pinta Fauzan.


"Emang kenapa sih?" tanya Hanna dengan nada kesal karena harus ngebahas itu.


"Ya itu karena supaya kamu bisa mengingat aku lebih cepat," batin Fauzan.


"Ya ... ya ... gue gak mau aja kalau harus berdebat. Apalagi sama lo," jawab Fauzan dengan nada berharap.

__ADS_1


"Sebenarnya gue juga gak mau debat-debat lagi sama lo, Zan. Entah kenapa?" batin Hanna sambil melirik Fauzan.


"Gimana?" tanya Fauzan.


"Emm ...," gumam Hanna.


"Gimana kalau kita taruhan?"


"Taruhan apa?" tanya Hanna dengan dahi berkerut.


"Siapa aja diantara kita yang memulai perdebatan harus traktir makan di cafe," ucap Fauzan.


"Emm ... oke." Hanna menyetujui taruhan itu.


"Kayaknya seru juga," batin Hanna.


"Dengan begini gue bakal makin deket sama Hanna," batin Fauzan dengan mata terus memandang Hanna.


"Kenapa lo mandangin gue?" tanya Hanna heran.


"Lo cantik," ucap Fauzan dengan setengah sadar.


Mendengar pujian dari Fauzan. Hanna merasakan pipinya memanas dan langsung memalingkan wajahnya berlawanan dengan Fauzan.


Fauzan mengerjakan matanya beberapa kali karena sadar apa yang sudah ia ucapkan tadi.


Keduanya kini saling diam karena salah tingkah.


***


Bel pulang pun berbunyi.


Kini mereka berempat sudah berada di ruang kelas bersama Pak Johan.


"Oke anak-anak Bapak mulai aja yah, jadi nanti Lomba Cerdas Cermat akan ada 3 Babak. Babak pertama itu ...." Pak Johan menjelaskan terkait tentang teknis perlombaan dengan perlahan.


"Paham semuanya," ucap Pak Johan setelah selesai menjelaskan.


"Paham, Pak," sahut semuanya.


"Oke sekarang kita bahas materi. Apa ada yang menurut kalian sulit?" tanya Pak Johan.


"Ada, Pak," ucap Fauzan dan Hanna.


Mereka berpandangan sebentar, lalu mereka sama-sama memutuskan pandangan itu.


2 jam kemudian mereka telah selesai melakukan bimbingannya.


Kini mereka sudah berada di parkiran untuk bergegas pulang.


"Oke teman-teman. Tadikan kata Pak Johan besok kita bisa istirahat tanpa belajar. Gimana kalau kita nonton? Mumpung ada film terbaru," ajak Angga.


"Wah! Boleh tuh, udah lama aku gak nonton," seru Nayla.


"Gimana kalian?" tanya Angga ke Fauzan dan Hanna.


"Oke," jawab Fauzan dan Hanna berbarengan sambil memandang ke berlawanan arah.


Melihat ada yang aneh diantara mereka. Angga pun bertanya, "Kalian marahan?"


"Nggak kok," jawab Hanna.


"Terus?"


"Gak pa-pa, ya gak?" tanya Hanna berusaha untuk tidak gugup sambil menyenggol tangan Fauzan.


"A-apa? Oh ... iya-iya," ucap Fauzan dengan nada sedikit gugup.


Angga dan Nayla hanya memicingkan matanya melihat Fauzan dan Nayla.


"Udah-udah yuk pulang," ajak Fauzan mengalihkan pembicaraan.


"Gue nebeng lo ya, Zan," pinta Hanna.


"Oke." Fauzan menyetujui permintaan Hanna.

__ADS_1


Mereka pun pergi dari parkiran.


***


__ADS_2