Jodohku Teman Kecilku

Jodohku Teman Kecilku
JTK-53


__ADS_3

Sudah hampir setengah jam Haikal berusaha membujuk Hanna untuk keluar dari kamarnya.


Dan sekarang Haikal dan kedua orang tuanya sudah ada di dalam kamar Hanna.


Yang dimana Hanna sekarang sedang duduk di atas kasur dan di kelilingi oleh mereka bertiga.


Seperti buronan yang sudah tertangkap dan sekarang sudah siap di interogasi.


“Kamu kenapa? Cerita dong! Gak biasanya kamu kayak gini!” bingung Nadin sambil mengusap kepala Hanna.


“Iya, Han. Kenapa? Apa ada yang ngejahatin kamu? Atau apa? Biar Abang pukul dia.” Haikal sudah siap sambil menggulung lengan bajunya.


“Apaan sih, Bang. Abang mau pukul Fauzan yang sedang sakit itu?” tanya Hanna dengan setengah keceplosan bahwa berarti dia seperti ini itu gara-gara Fauzan.


“Oh, jadi gara-gara Fauzan kamu nangis kayak gini!” ujar Haikal menahan kesal.


“Eem ... ini bukan seperti yang kalian pikirkan. Fauzan tidak mungkin ngapa-ngapain aku. Cuman ....” Hanna menggantungkan perkataannya.


“Cuman kenapa? Kamu jangan menggantung gini dong ceritanya!” pinta Haris.


“Ada suatu hal yang baru aku ketahui, dan itu membuat aku kecewa, kesal, dan juga senang bersamaan sama Fauzan,” jelas Hanna.


“A-apa?” tanya Haikal dan kedua orang tuanya secara bersamaan gugup, karena mereka merasa kalau Hanna sudah mengetahui siapa Fauzan sebenarnya.


“Fauzan sahabat kecil aku, kan? Kalian pasti sudah mengetahui nya dari awal. Tapi tidak ada satu orang pun yang mau memberi tahu aku semuanya, kenapa?” tanya Hanna dengan nada meninggi.


“Ini memang seperti masalah sepele, tapi tidak buat aku. Aku selama Ini berteman dengan Fauzan, cuma dia yang ngerasain kalau aku adalah sahabat kecilnya, tapi aku tahunya kalau Fauzan adalah teman pertama ku waktu aku sekolah di SMA Bangsa. Kenapa aku gak bisa ngerasain kalau Fauzan itu sahabat kecil aku juga.”


“Kenapa aku baru tahu sekarang, saat aku dan Fauzan akan pergi kuliah ke luar negeri beberapa hari lagi? Kenapa kalian tidak memberi tahu aku dari awal, supaya aku bisa melakukan kegiatan bersama Fauzan sebelum kita pergi jauh?” Hanna merasa kecewa sehingga ia mengeluarkan semua unek-uneknya.


“Maaf, Sayang. Tapi ini demi kebaikan kamu juga. Kami tidak mau kamu kambuh lagi karena harus mengingat-ingat sesuatu. Kami tidak memberi tahu kamu karena supaya kamu mengetahui dengan sendirinya siapa itu Fauzan. Dan akhirnya sekarang kamu tahu dengan sendirinya kan tanpa rasa sakit di kepalamu!” jelas Nadin.


“Kepala aku memang gak sakit. Tapi ... hati aku yang sakit, Ma!” ujar Hanna sambil memegang dadanya.


“Ya sudah kamu istirahat saja, dinginkan dulu kepala dan hati kamu. Dan mending kita keluar, biarkan Hanna sendirian dulu!” ajak Haris dan di setujui oleh Nadin dan Haikal.


Mereka bertiga pun keluar dari kamar Hanna dan membiarkan Hanna sendirian.


Setelah semuanya keluar Hanna berbaring di tempat tidurnya. Dan kembali menangis tanpa suara.


🌈🌈🌈


Tiga hari kemudian...


Hari ini adalah hari keberangkatan Fauzan menuju Amerika. Keadaannya sudah berangsur baik semenjak kemarin.


Awalnya Alex dan Istia menyarankan Fauzan untuk mengundurkan hari keberangkatannya menuju Amerika, tapi Fauzannya tidak mau karena ia perlu waktu untuk beradaptasi disana, supaya kalau kuliah sudah mulai tidak kaku lagi.


Sekarang sudah pukul 9 pagi, semuanya sudah siap di teras rumah. Fauzan memang berangkat pada pukul 11 siang nanti.


“Yakin mau berangkat sekarang?” tanya Istia.


“Iya, Ma. Perjalanan menuju ke Bandara kan lumayan jauh, belum lagi di jalan takut macet,” jawab Fauzan.


“Bukan itu maksudnya. Kamu yakin berangkat hari ini? Gak mau di undur? Kamu baru saja sembuh loh kemarin.”


“Gak pa-pa, Ma. Aku sudah sehat, kok. Banget malah!”

__ADS_1


“Ya sudah.” Istia mengusap pipi Fauzan lembut, seolah itu terakhir kalinya ia melihat Fauzan.


“Yuk, berangkat!” ajak Haris.


“Pah, Ma. Hanna bagaimana?” tanya Fauzan.


“Masih sama. Gak mau bicara sama kita,” jawab Haris.


“Tapi kenapa Hanna tiba-tiba begini? Aku ingin ketemu sama Hanna, sebelum aku pergi!” bingung Fauzan.


“Kita juga gak tahu kenapa sikap Hanna tiba-tiba begini? Em ... mungkin dia sibuk kali, atau ada masalah makanya gak bisa antar kamu. Tapi tenang aja, dia tahun kan kalau kamu berangkat hari ini!” ucap Haris.


“Iya, sih. Hanna tahu!”


“Ya sudah, yuk berangkat!” ajak Haris sambil membawa koper Fauzan yang sedikit kecil.


Diikuti oleh Fauzan yang mendorong koper yang sedikit lebih besar dan tas gendong. Lalu disusul oleh Istia yang baru selesai mengunci pintu rumah.


🌈🌈🌈


Di kediaman Hanna, dia sedang duduk melamun sambil melihat ke arah balkon kamar.


Dia tahu kalau hari ini Fauzan berangkat ke Amerika. Sebenarnya ia ingin mengantar Fauzan, tapi rasa kecewa itu masih ada.


Ceklek!


Masuklah Haikal ke kamar Hanna. Dia langsung menghampiri Hanna yang sedang duduk lesehan di lantai.


“Han! Kamu gak mau antar Fauzan ke bandara?” tanya Haikal yang sudah duduk di samping Hanna.


“Buat apa?” tanya Hanna datar.


Hanna hanya terdiam mendengar perkataan Haikal. Dia berusaha keras untuk tidak peduli dengan keberangkatan Fauzan, tapi hatinya terus terdorong untuk segera menemui Fauzan.


“Kakak tahu kalau kamu kecewa sama Fauzan, tapi sekarang memangnya Fauzan tahu kalau ingatan kamu tentang dia itu sudah pulih. Memang Fauzan tahu kalau kamu kecewa sama dia. Gak, kan?” Ucapan Haikal hanya di anggap angin lalu sama Hanna.


“Ck!” Haikal berdecak kesal karena Hanna menyuekinya. “Mending kamu su—“ Ucapan Haikal terpotong karena Hanna bangkit dari duduknya lalu lari keluar kamar.


“Astaghfirullah, tuh anak. Ngagetin aja ... Hanna, tunggu!”


Haikal pun menyusul Hanna yang sudah keluar rumah.


Sesampainya di luar rumah, Hanna langsung memasuki mobil, tapi di cegat oleh Haikal.


“Biar Kakak yang nyetir!” Haikal mengambil alih kunci mobil. Dan Hanna hanya pasrah ketika Haikal sudah masuk ke mobil bagian mengemudi.


Hanna dan Haikal pun pergi menuju bandara untuk menyusul Fauzan.


“Semoga lo belum pergi, Zan! Tunggu gue!” batin Hanna.


🌈🌈🌈


Sekarang Fauzan sudah cek-in, dan tinggal memasuki pesawat saja.


Waktu berangkat tinggal 15 menit lagi. Dia sekarang sedang bersama semua teman-temannya yang ikut mengantarnya sampai bandara.


“Firza, jangan lupa gue titip cafe gue dan lo handle dulu sementara. Dan lapor mengenai keuangan dan semuanya mengenai cafe ke gue lewat e-mail!” pinta Fauzan.

__ADS_1


“Siap, Zan. Tenang aja!” Firza berusaha untuk tetap tersenyum.


“Kepada seluruh penumpang jurusan Amerika, A. Harap segera memasuki pesawat. Karena sebentar lagi akan lepas landas!”


“Ah! Gue harus segera pergi!” pamit Fauzan dengan senyum tipis tapi matanya masih menjelajahi seluruh area itu. Seperti sedang mencari seseorang.


“Lo lagi nunggu Hanna, yah?” tanya Dilfa.


“Lo sama Hanna tuh kenapa, sih? Aneh gue!” tanya Angga.


“Iya, kamu sama Hanna ada masalah yah?” tanya Nayla.


“Gue juga gak tahu, gue bingung!” Alis Fauzan hampir menyatu.


“Hah!” Semua teman-temannya hanya menghela napas bingung.


Seorang ground staff menghampiri Fauzan.


“Maaf, Mas. Pesawat menuju Amerika, akan segera take off. Di mohon untuk segera masuk!”


“Ah, Iya!”


“Ma, Pah! Aku berangkat!” pamit Fauzan sambil memeluk Mama dan Papah nya bergantian.


“Jaga diri baik-baik, jangan telat makan, shalat, dan istirahat yang cukup!” Istia menangkup wajah Fauzan.


“Pasti!”


Sekarang giliran semua teman-temannya berpelukan dengan Fauzan.


“Gue titip salam sama Hanna!” bisik Fauzan ke Angga saat mereka pelukannya.


“Iya. Jaga diri baik-baik!” ujar Angga.


🌈🌈🌈


Hanna dan Haikal sudah berada di bandara. Dan Hanna langsung keluar dari mobil lalu berlari memasuki bandara untuk mencari Fauzan.


“Hanna!” panggil Haikal karena melihat Hanna berlari meninggalkannya.


Hanna terus saja berlalu mencari daerah yang menuju jurusan Amerika.


Hingga ia melihat seseorang yang tidak asing di matanya.


Ya, mereka teman-temannya. Pasti mereka di bandara mau mengantar Fauzan.


Dengan segera Hanna menghampiri mereka semua.


“Teman-teman! Fauzan dimana?” tanya Hanna dengan napas yang terengah-engah.


“Hanna! Lo kemana aja?” tanya Lea.


“Gue tanya, dimana Fauzan?” tanya Hanna mendesak.


“Dia sudah pergi, Han!” jawab Nayla pelan.


🌈🌈🌈

__ADS_1


*Mohon maaf apabila di episode ini ada informasi mengenai bandara kurang tepat. Karena author belum pernah ke bandara😁. Dan jika ada kesalahan mohon di beri tahu, ya!! *


__ADS_2