
Setelah mengantar Hanna pulang. Fauzan segera pulang ke rumah dengan kecepatan lumayan tinggi karena tidak mau membuat Mamanya menunggu lama.
Sesampainya di rumah Fauzan langsung memasukinya.
"Assalamualaikum," salam Fauzan sambil membuka pintunya dan langsung menuju ruang keluarga.
"Waalaikumussalam," jawab salam Mamanya.
"Ada apa, Mah?" tanya Fauzan setelah duduk di samping Mamanya.
"Kamu ganti baju dulu sana lalu ke ruang makan. Kita bicara di sana aja!" titah Mama Fauzan sambil berdiri dari duduknya menuju ruang makan.
Fauzan merasa aneh dengan tingkah laku Mamanya. Tapi dia urungkan pikiran itu dan langsung menuju kamarnya.
Setelah berganti pakaian, Fauzan langsung menuju ruang makan.
"Kenapa, Mah?" tanya Fauzan setelah duduk di kursi.
"Nih, makan dulu!" Mama Fauzan memberikan piring.
Fauzan hanya menerima piringnya tanpa banyak protes. Dan segera mengambil nasi beserta lauk pauknya.
Lima menit kemudian, Fauzan telah menghabiskan makanannya.
"Ada apa, Mah?" tanya Fauzan lagi setelah menepuk minumannya.
Mama Fauzan pun berganti tempat duduk menuju samping Fauzan dan mengelus kepalanya.
"Kamu udah dewasa, Zan. Sudah punya bisnis sendiri lagi," ucap Mama Fauzan sambil terus mengelus kepala Fauzan.
"Itupun di bantu sama Papah, Mah. Aku gak bisa apa-apa kalau tanpa Papah," sahut Fauzan sambil mengelus tangan Mamanya yang sebelah lagi.
"Emang ada apa, Mah? To the point aja," lanjutnya.
"Kamu mau gak nikah sama anak teman Mama?" tanya Mama Fauzan.
Spontan Fauzan berhenti mengelus tangan Mamanya, begitupun Mama Fauzan yang berhenti mengelus kepalanya.
"Mama bercanda, kan?" tanya Fauzan lagi.
"Haha, Mama emang bercanda," kekeh Mama Fauzan. "Nanti malam kita bakal dinner, di restoran. Nanti kamu pakai baju yang sudah Mama siapkan di closet ya!" lanjutnya.
"Huft!" Fauzan menghela napas panjang, lega dengan perasaannya. Kirain ia bakal di nikahin. Terus gimana nasib Hanna kalau ia beneran nikah sama orang lain.
"Mama ngagetin aku aja deh!" Fauzan sedikit kesal dengan Mamanya.
"Haha. Maaf, Zan. Mama cuma ngetes, siapa tahu kamu ngebet nikah muda?" gods Mamah Fauzan.
"Nunggu ingatan Anna pulih," gumam Fauzan dan sedikit terdengar oleh Mamanya. Dan Mama Fauzan hanya tersenyum sendu.
"Ya sudah. Kamu istirahat saja dulu!" pinta Mama Fauzan.
"Iya." Fauzan pun beranjak dari duduknya untuk pergi ke kamar. Tapi langkahnya terhenti karena ucapan Mamanya.
"Kalau kamu nikah bukan sama Hanna, gimana?"
__ADS_1
Fauzan pun menoleh ke Mamanya dan tersenyum tipis, lalu ia melanjutkan langkahnya menuju kamar.
🌈🌈🌈
Tepat pukul 7 malam keluarga Fauzan sampai di salah satu restoran yang populer di daerah rumahnya.
“Kita dinner cuma bertiga?” tanya Fauzan saat sudah sampai di parkiran restoran.
“Berenam,” jawab Papah Fauzan lalu berlalu mendahului Fauzan dan Mamanya. “Yuk masuk!” ajaknya.
Mereka pun masuk ke dalam restoran dan langsung menuju ke ruangan private setelah di persilahkan oleh salah satu waiters di sana.
“Zan, pakai topeng ini!” pinta Mama Fauzan sambil menyerahkan topeng berwarna hitam.
“Kenapa harus pakai?” tanya Fauzan.
“Pakai aja. Mama dan Papah juga pakai kok nih.” Sambil menunjukan topengnya.
“Cepat pakai, Zan. Jangan banyak protes!” titah Papa Fauzan tegas.
“Iya, Pah.” Fauzan pun memakai topeng pestanya.
“Mah, Pah. Emang gak ada bentuk lain apa?” tanya Fauzan lagi karena merasa aneh dengan bentuk topengnya.
“Gak ada,” jawab Papah Fauzan.
“Pah, mereka belum dateng yah?” tanya Mama Fauzan.
“Mereka siapa, Mah?” tanya Fauzan kepo.
“Nanti kamu tebak sendiri. Tapi ... setelah sampai rumah.”
“Lah, kenapa?” heran Fauzan.
Mama Fauzan hanya mengedikkan bahunya.
Beberapa menit kemudian ada 3 orang yang datang. Dua orang paruh baya dan satu orang perempuan yang memakai gaun emas di tambah topeng emas.
“Siapa?” tanya Fauzan di dalam hati, ia tidak melihat terlalu jelas karena cahaya yang gak terlalu terang dan matanya yang lumayan minus, di tambah wajah mereka di tutupi topeng. Ah! Ia lupa memakai soflens minus.
“Ayo silahkan duduk!” ucap Papah Fauzan.
Mereka pun duduk berjauhan karena mejanya yang lumayan lebar.
Itu sengaja sudah di rancang oleh orang tua Fauzan supaya para remaja itu mengetahui sendiri siapakah yang ada di hadapan mereka.
Tak lama setelah mereka duduk, makanan pun sampai.
“Selamat menikmati!” ucap salah satu waiters, lalu ia meninggalkan tempat itu.
Setelah kepergian waiters. Keadaan masih hening.
__ADS_1
“Senang bertemu dengan kamu lagi!” sapa Papah Fauzan membuka percakapan.
“Aku juga senang bertemu denganmu lagi, Alex,” sapa seorang pria paruh baya kembali.
“Bagaimana keadaan kamu dan keluargamu?” tanya Papah Fauzan.
“Alhamdulillah, mereka baik-baik saja. Seperti yang kau lihat,” jawab pria paruh baya sambil menoleh ke arah samping kanan dan kirinya sekejap.
“Bagaimana keadaan kamu dan keluargamu juga?” tanyanya.
“Alhamdulillah,” jawab Papah Fauzan.
“Biarkan anak-anak ini mengetahui sendiri orang yang ada di hadapannya sekarang ... sepertinya seru,” lanjutnya.
“Haha ... iya. Biarkan saja.” Paruh baya itu tertawa kecil, diikuti paruh baya yang ada di samping kanannya dan diikuti Mama Fauzan.
Sedangkan kedua remaja ini hanya menahan kesal atas situasi sekarang ini.
“Ayo-ayo silahkan dimakan!” Papah Fauzan mempersilahkan mereka memakan makanannya.
Selang beberapa menit, perempuan itu pamit ingin ke toilet karena sudah tidak tahan dengan keadaannya.
“Aku pamit ke toilet!” pamit remaja itu pelan dan hanya bisa di dengar oleh Papahnya sambil berlalu darisana.
Fauzan hanya memandang remaja perempuan itu dengan tatapan tanda tanya. “Sepertinya kenal?” batinnya.
“Jangan dilihatin kayak gitu. Nanti suka loh!” goda Papah Fauzan.
“Tahu saja nggak, Pah,” sahut Fauzan.
“Masa?”
“Iya, Pah.”
•••
Sesampainya di toilet.
“Argh!” geram remaja perempuan itu memegang kepalanya.
“Kenapa pandanganku tiba-tiba memburam. Sakit!” keluh perempuan itu.
Setelah lima menit, keadaannya mulai membaik, tetapi tidak dengan pandangannya. Seketika pandangannya sedikit memburam. Dia kurang jelas apabila melihat benda jauh.
“Ada apa ini?” tanyanya pada diri sendiri.
“Sepertinya aku harus memberi tahu Mama kalau aku gak bisa kembali kesana. Aku mau pulang,” gumamnya sambil mengeluarkan handpone.
MyMama
Ma, aku pulang duluan yah. Ada keperluan mendadak. Jangan mengkhawatirkan aku. Aku di jemput sopir.
Send!
Ia pun keluar dari toilet dan menuju halte terdekat.
__ADS_1
🌈🌈🌈