
Beberapa Episode lagi JTK akan segera tamat!! Karena ceritanya aku percepat aja!π
TERIMA KASIH KEPADA SEMUA YANG SUDAH MELUANGKAN WAKTUNYA UNTUK MEMBACA CERITA YANG GAK TERLALU JELAS INI!πππβΊοΈβΊοΈ
πππ
"Ya ... emang hanya itu," ujar Hanna.
"Kami serahkan semuanya sama kamu, kalau kamu mau melanjutkan ke Jerman, ya tentu kami senang. Jika kamu gak mau, ya tidak masalah. Asal kamu bahagia dengan apa yang kamu putuskan, jangan sampai menyesal!" saran Haris.
Mendengar ucapan Haris, membuat Hanna terdiam terlebih dahulu, kira-kira apa yang terbaik untuknya. Karena dia rasa sudah cukup umur untuk bisa memutuskan mana yang baik dan mana yang tidak.
"Baik, Pah. Sudah aku putuskan," ucap Hanna tiba-tiba sambil tersenyum.
πππ
Keesokan harinya...
Pada sore hari, Fauzan, Angga, Nayla, Firza, Lea, Leo, dan Dilfa sedang berada di cafe milik Fauzan. Mereka berada di ruangan khusus milik Fauzan untuk merencanakan acara ulang tahun Hanna dua hari lagi.
"Oke, guys. Kalian pasti sudah tahukan kenapa gue ngumpulin kalian disini tanpa Hanna," ujar Fauzan.
"Karena Hanna bakal ulang tahun 2 hari lagi," tebak Nayla.
"Yaps. Itu dia. Sekarang Bang Haikal lagi ngajak Hanna jalan-jalan, supaya dia tidak tahu dan tidak curiga bahwa kita sedang kumpul buat ngerayain ulang tahunnya."
"Tapi apa lo yakin Hanna bakal senang kira rayain ulang tahunnya?" tanya Dilfa.
"Gue yakin. Karena gue tahu, Hanna tidak pernah ngerayain ulang tahunnya selama ini, cuman hanya buat kue aja sama Mama dan Papahnya bertiga. Dan ini juga permintaan Bang Haikal buat rayain ulang tahun Hanna. Karena ini juga yang pertama buat Bang Haikal!" jelas Fauzan.
"Jadi gue mau kita kerja sama buat ngelancarain rencananya," lanjutnya.
πππ
Saat ini Haikal sedang mengajak Hanna ke perpustakaan yang ada di kota tersebut. Awalnya mereka ingin menuju ke kebun binatang, tapi Hanna tidak mau. Dan akhirnya sekarang mereka berakhir di perpustakaan.
Sudah hampir dua jam Hanna membaca buku biologi disana, sedangkan Haikal hanya sesekali membaca buku bisnis ataupun komik. Ia sebenarnya kurang suka membaca, tapi demi adiknya, dia memaksakan untuk membaca.
Ting!
Handpone Haikal berbunyi menandakan ada pesan masuk.
FauzanMA
Bang, kita udah merencanakan acaranya. Dan sekarang kita udah mau pada pulang. Nanti aku ketemuan buat ngasih tahu rencananya bagaimana.
Haikal hanya tersenyum puas membaca isi pesan itu.
βSiapa, Bang?β tanya Hanna.
βOh, bukan siapa-siapa ... gimana, udah bacanya? Mau pulang sekarang?β tanya Haikal.
βEm ... mencurigakan!β Hanna memicingkan matanya.
__ADS_1
βEh! Ini cuma tentang pekerjaan doang,β jelas Haikal berusaha untuk tidak gugup.
βOh. Ya sudah, yuk kita pulang!β ajak Hanna sambil berdiri dari duduknya untuk menyimpan buku biologi.
Setelah menyimpan buku di rak yang seharusnya dan melapor ke bagian administrasi, mereka segera pulang ke rumah.
Dan sudah beberapa menit mereka sudah sampai di rumah, tapi hanya Hanna saja yang masuk ke dalam rumah, sedangkan Haikal pamit akan ke cafe sebentar.
βDek, Kakak mau ke cafe dulu, ya!β pamit Haikal.
βMau apa, Kak?β tanya Hanna.
βAda urusan penting. Dan mending kamu segera masuk!β titah Haikal. βAku pergi dulu!β lanjutnya. Dan ia pun segera melajukan mobilnya menuju cafe.
Hanna hanya mengedikkan bahunya melihat mobil yang dikendarai oleh Haikal. Dan ia segera masuk ke dalam rumah.
πππ
Keesokan harinya...
Hanna hari ini berangkat ke sekolah menaiki mobilnya. Karena Haikal tidak bisa memgantarnya sebab ada acara di kampus dan mengharuskannya berangkat pagi-pagi buta.
Sesampainya di sekolah, Hanna segera memakirkan mobilnya dan bersamaan dengan itu pula, Fauzan memakirkan mobilnya di samping Hanna.
βPagi, Zan!β sapa Hanna seperti biasa setelah keluar dari mobilnya bersamaan dengan Fauzan.
βPagi!β Fauzan membalasnya dengan singkat, setelah itu ia pergi ke kelas meninggalkan Hanna.
βAda apa dengan ya?β heran Hanna, karena melihat Fauzan yang cuek hari ini. Biasanya Fauzan akan mengobrol basa-basi dengannya dan menuju ke kelas bersama, tapi kali ini dia terlihat beda.
Ia pun segera menuju ke kelasnya.
πππ
Waktu istirahat pun tiba.
Kini Hanna sedang duduk di kantin berdua dengan Nayla.
Hanna merasa ada yang aneh dengan teman-temannya. Kenapa hari ini terasa berbeda, hampir semua temannya mengacuhkannya, kecuali Nayla yang bersikap biasa aja.
βNay, kenapa Fauzan dan yang lain sikapnya aneh gitu?β tanya Hanna.
βEm ... mungkin mereka sedang ada masalah dan sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Kamu tahukan minggu-minggu ini kita itu di sibukkan dengan pemilihan kampus yang akan kita tuju setelah lulus dari sini. Mungkin mereka bingung dan memilih sendiri-sendiri untuk memikirkan hal itu!β jelas Nayla.
βEm, sepertinya lo benar. Eh, tapi! Emang lo gak bingung gitu?β tanya Hanna.
βSejak kelas 10 juga, aku udah memutuskan untuk melanjutkan kemana. Jadi sekarang aku lega,β jawab Nayla.
βKalau kamu, Han. Kamu jadi melanjutkan belajar ke Jerman, dimana Nenek dan Kakek mu juga disana?β tanya Nayla dengan sorot mata yang sedih.
βIn Syaa Allah, Nay. Sebulan lagi aku akan ada tes masuk ke Universitas disana, doaβin aja yang terbaik!β jawab Hanna sambil tersenyum tipis.
βIya, aku akan terus ngedoain yang terbaik buat kamu. Meskipun kita bakal terpisah sangat jauh,β ujar Nayla menahan tangis.
__ADS_1
βUdah, lo jangan cengeng gini. Gue juga belum tes ini.β
βIya, nggak. Cuma terharu.β
Kring!
Suara masuk berbunyi, Hanna dan Nayla segera memasuki kelasnya masing-masing.
Setibanya di kelas, Hanna melihat Fauzan, Leo dan Firza sedang duduk dengan wajah datar. Sedangkan Dilfa, dia terlihat sedang mengobrol dengan teman laki-laki lain. Tapi udah gak aneh sih jika di kelas, Dilfa terlihat lebih sering bergaul dengan teman laki-laki lain.
Tapi kali ini Dilfa bahkan tidak meliriknya sama sekali, biasanya dia menyapanya meskipun terlihat sibuk mengobrol dengan temannya.
Hanna segera duduk di bangkunya yang terletak di tengah-tengah antara Fauzan dan Leo.
Suasana canggunglah yang di rasakan Hanna saat ini.
πππ
Hari ini adalah ulang tahunnya Hanna.
Semua persiapan sudah di siapkan dan itu berada di suatu tempat.
Setelah selama seharian kemarin, hampir semua temannya mendiamkannya, kecuali Nayla.
Dan justru itulah rencananya.
Mereka ingin agar mendiamkan Hanna sepanjang hari, kecuali Nayla, karena supaya Hanna tidak terlalu curiga.
Dan justru Hanna tidak kepikiran sama sekali kalau dia akan di kasih surprise ulang tahun, karena biasanya juga tidak pernah.
Hari ini sepulang sekolah, Hanna langsung mendekati Mamanya untuk membuat kue bersama seperti tahun sebelumnya.
βMa, ayo kita buat kue. Hari ini kan aku ulang tahun!β ajak Hanna.
βNanti setengah jam lagi ya, Nak. Mama lagi sibuk,β ucap Nadin yang tengah menjahit sesuatu.
βKenapa? Tapi ... ya udah deh,β putus Hanna. Lalu ia kembali menuju ke kamarnya.
Tapi saat di tengah tangga, bel rumah berbunyi.
βHan, tolong buka pintunya!β pinta Nadin dari arah dapur.
βIya, Ma.β
Akhirnya Hanna pun menuju ke arah pintu untuk melihat siapa yang datang.
Setelah tiba di depan pintu, Hanna segera membukanya.
βSiapββ
Ucapan Hanna terhenti karena ada orang yang menutup mata dan mulutnya. Hingga semuanya pun terasa gelap dan tubuhnya mulai lemas.
Dan ... pingsan.
__ADS_1
πππ