
Tak! Tak! Tak!
Terdengar suara sepatu yang mulai memasuki ruangan kelas 11 IPA 1.
“Silahkan perkenalkan dirimu!” perintah Bu Indah.
“Nama saya Hanna Putri Aurora, saya pindahan dari Jerman,” ucap Hanna dengan wajah datarnya.
“Waw!” Semua laki-laki yang ada di kelas 11 IPA 1 berdecak kagum melihat kecantikan Hanna, kecuali Fauzan tentunya. Ia hanya menatap tajam Hanna yang di dalamnya terdapat kesedihan yang mendalam.
“Kenapa harus sekelas?” batin Fauzan sambil memandang tajam Hanna.
“Baik Hanna. Silahkan kamu duduk kursi kosong itu,” ucap Bu Indah sambil menunjuk kursi kosong di samping Fauzan (Di sekolah ini kursi sama mejanya menyatu).
“Baik, Bu.”
Hanna pun melangkah menuju kursi di samping Fauzan.
“Baik semuanya, kita mulai pelajaran hari ini. Buka buku halaman 70 ...,” Bu Indah pun menjelaskan materinya panjang lebar.
Disela-sela memperhatikan Bu Indah yang lagi mengajar. Fauzan sekali-kali melirik Hanna yang berada di sampingnya.
Ternyata perempuan itu rajin juga, pikirnya.
Hanna yang merasa diperhatikan, ia pun menengok kan kepalanya ke arah Fauzan yang sedang melirik tajam ke arahnya.
Spontan Fauzan mengalihkan pandangannya ke buku, lalu melanjutkan menulis.
“Ck! Malah sekelas lagi. Mending gue cuekin aja deh,” batin Hanna sambil melirik tajam ke arah Fauzan.
Beberapa jam kemudian ...
Teng! Teng! Teng!
“Baik anak-anak, saatnya istirahat. Jangan lupa tugasnya di kerjakan ya!” perintah Bu Indah.
“Baik, Bu.”
Setelah membereskan bukunya, Fauzan berdiri lalu berlalu menuju ruang OSIS. Lalu disusul oleh Hanna untuk menuju ke kantin.
🌈🌈🌈
Di perjalanan menuju kantin, Hanna tidak sengaja melihat seorang siswi yang tampak polos sedang di tindas oleh 3 orang siswi lainnya.
“Heh, lo gak usah caper ya sama Angga. Jelas-jelas gue itu pacarnya Angga,” bentak seorang siswi yang bajunya terlihat ketat.
“A-aku gak caper sama Kak Angga, kok,” ucap siswi polos dengan nametag Nayla Putri itu dengan nada gemetar.
“Halah jelas-jelas kelihatan kok dari pancaran mata lo itu, bahwa lo mencoba untuk mencari perhatian ke Angga,” ucap siswi yang memakai baju ketat itu sambil menunjuk mata siswi polos itu.
“Ng-gak Kak Chelsea, beneran,” ucap Nayla sambil menyakinkan ucapannya.
__ADS_1
“Jangan ngelak lo.” Siswi yang di panggil Chelsea itu pun mengangkat tangannya yang akan menjambak rambut si siswi polos.
Hap!
Sebuah tangan mulus mencengkaram tangan Chelsea, lalu menghempaskannya begitu saja ke samping.
“Ahk!” teriak Chelsea kesakitan akibat cengkraman yang begitu kuat.
“Hanya orang pengecut yang berani menindas orang lemah,” ucap siswi itu yang ternyata Hanna dengan nada dingin.
“Siapa lo? Berani-beraninya ngehalangi gue,” bentak Chelsea.
“Gue bukan siapa-siapa, hanya kebetulan lewat dan ngeliat orang pengecut yang sedang nindas orang lemah,” ucap Hanna yang masih dengan nada dinginnya.
“Lo gak tahu siapa gue?” tanya Chelsea dengan nada mengantimidasi.
“Gak penting,” jawab Hanna datar.
“Dasar lo,” bentak Chelsea sambil mendorong bahu Hanna keras.
Hingga ...
Hap!
Sebuah tangan kekar menahan pinggang Hanna dari samping agar tidak terjatuh.
Hanna yang di dorong itu pun terkejut karena ada sebuah tangan kekar yang tampak menahannya dari samping.
“F-Fauzan ...,” ucap Chelsea terkejut karena melihat Fauzan yang masih terlihat menahan pinggang Hanna.
Fauzan hanya menatap Chelsea dan kedua temannya dingin. Lalu melepaskan tangannya dari pinggang Hanna.
“Ternyata masih ada orang yang suka menindas yah di sekolah ini. Dan yang paling gak di duga, orang itu adalah anak kepala sekolah. Orang yang dianggap memiliki hati baik sebaik malaikat, tapi ternyata sebaliknya,” ucap Fauzan dengan nada dingin.
Merasa pinggangnya sudah tidak di tahan. Hanna kembali berdiri tegak dan memasang wajah datar untuk menghilangkan rasa terkejutnya.
“Ini gak seperti yang kamu lihat, Fauzan,” ucap Chelsea yang berusaha tenang.
“Karena ini pertama kalinya gue melihat lo menindas orang lain. Gue akan kasih kesempatan lo untuk berubah. Sebagai jaminan, rekaman ini yang akan menjadi bukti bahwa kamu pernah menindas orang lain di sekolah, paham,” ucap Fauzan dengan nada mengancam sambil mengangkat handpone nya yang berisi rekaman penindasan tadi.
“I-iya.”
“Kali ini lo menang cupu,” batin Chelsea sambil menahan amarah.
“Cepat lo minta maaf sama dia!” titah Hanna kepada Chelsea.
Mendengar perintah Hanna, sejenak Chelsea menggerutu kesal karena berani-beraninya dia memerintah seorang Chelsea.
“Gue minta maaf,” ucap Chelsea dengan nada kurang enak.
Nayla hanya menganggukkan kepalanya karena masih takut.
__ADS_1
“Cabut girls!” titah Chelsea kepada teman-temannya.
Setelah kepergian mereka. Hanna pun menghampiri Nayla yang tampak masih ketakutan.
“Hey, lo gak papa?” tanya Hanna.
“Gak papa, makasih ya, Fauzan dan ....” Nayla menggantungkan ucapannya karena tidak tahu nama Hanna.
“Nama gue Hanna,” ucap Hanna karena ia tahu Nayla tidak tahu namanya karena belum punya nametag.
“Makasih Hanna.”
“Iya, sama-sama.”
“Lo bukannya Nayla siswi kelas 11 IPS 1, kan? Sekelas sama Angga,” tanya Fauzan kepada Nayla.
“Iya,” jawab Nayla.
“Lo kenal ama dia?” tanya Hanna kepada Nayla sambil melirik Fauzan.
“Iya, Fauzan kan sahabatnya Angga," jawab Nayla. "Kamu gak tahu, Na?"
Hanna hanya mengedikkan bahunya. "Gue kan siswi baru hari ini."
"Oh, kalian sekelas, ya?" tanya Nayla.
"Kok tahu," jawab Hanna dan Fauzan berbarengan lalu saling melirik tajam.
Nayla terkejut karena Hanna dan Fauzan menjawab berbarengan. "Hahaha aku hanya menebak. Tapi ternyata benar."
Merasa ucapannya hanya dianggap angin lalu oleh mereka, Nayla hanya terkekeh geli melihatnya. "Ck! Kalian lucu ya, cocok."
"Idihh amit-amit," sanggah Hanna sambil memandang ke arah lain.
Sedangkan Fauzan menanggapinya hanya dengan helaan nafas panjang. Lalu pergi menuju kantin. "Gue duluan."
"Oh ya, kamu udah punya teman?" tanya Nayla.
"Gak," jawab Hanna cuek.
"Kamu mau gak berteman dengan aku? Soalnya aku juga gak punya teman, semuanya selalu menghindar."
Mendengar pernyataan Nayla, di hati Hanna merasa ada perasaan sesak, entah karena apa.
Hanna menjawab hanya menganggukkan kepalanya bertanda mengiyakan.
Melihat Hanna menganggukkan kepalanya, Nayla spontan tersenyum lebar karena akhirnya ia mendapatkan teman juga setelah sekian lama.
"Ya udah kita sekarang ke kantin, mau gak!"
"Yuk."
__ADS_1
Mereka pun pergi ke kantin.
🌈🌈🌈