Jodohku Teman Kecilku

Jodohku Teman Kecilku
JTK-24


__ADS_3

"Jauh amat perasaan, Zan. Gak nyampe-nyampe," heran Hanna.


Sudah hampir satu jam mereka berkendara. Tapi seperti gak ada ujungnya.


"Bentar lagi," sahut Fauzan.


"Setengah jam yang lalu juga lo ngomong gitu, Zan," geram Hanna. "Lo gak ada niat nyulik gue kan?" lanjutnya setelah melihat banyak pepohonan di depannya.


"Lo negative thinking mulu perasaan kalau sama gue. Tenang aja, intinya lo bakal suka," jelas Fauzan.


"Karena dari tampang lo pantas di gituin."


"Jahat lo."


"Gue dari dulu juga gini."


"Dulu lo gak gini, Han," batin Fauzan sambil terus menyetir.


"Wah!" Hanna terkagum-kagum dengan pemandangan yang ia lihat. Karena di depannya ada sebuah lapang yang lumayan luas tanpa pepohonan sama sekali, hanya rumput dan beberapa bunga liar saja yang tidak terlalu tinggi.


Maklum saja, Hanna baru saja datang ke Indonesia pertama kali setelah 12 tahun. Jadinya ia tidak tahu tempat-tempat yang bagus disini.


"Lo mau bawa gue kemana lagi?" tanya Hanna dengan mata berbinar, sejenak Hanna melupakan bahwa ia sedang kesal dengan Fauzan tadi.


"Ada deh," jawab Fauzan dengan nada ngeselin di telinga Hanna.


"Awas aja kalo dari luar sama tempat yang asli berbanding terbalik. Awalnya aja bagus gini. Eh! Ujung-ujungnya nyeremin!" ancam Hanna.


"Nggak bakalan," ucap Fauzan dengan nada yakin.


Tak lama kemudian mereka sampai di sebuah gedung yang yang lumayan tinggi, tadi tidak ada atapnya. Seperti sebuah stadion sepak bola.


"Ini tempat apa, Zan?" tanya Hanna sambil mengedarkan pandangannya yang lumayan sepi. Hanya ada segelintir orang saja.


"Tempat latihan memanah," jawab Fauzan sampai sambil mematikan mesin mobil.


"What?" ucap Hanna dengan setengah teriak.


"Aish, jangan teriak dong!" peringat Fauzan.


"Lo tahu darimana gue suka memanah, ya walaupun belum terlalu bisa. Cuman satu kali waktu di Jerman pernah nyoba." Hanna mengatakan itu dengan mata berbinar-binar.


"Benar kah? Nanti gue ajarin lagi kalau gitu, supaya lo makin bisa!" tawar Fauzan. "Hanna kelihatan seneng banget. Syukur kalau gitu," lanjutnya dalam hati.


"Oke. Ya udah kalau gitu, ayo-ayo masuk!" ajak Hanna sambil keluar dari mobil ngedahului Fauzan.


"Yang bawa kesini siapa? Yang masuk duluan siapa?" gumam Fauzan saat melihat Hanna ada di depan pintu masuk, lalu ia pun keluar dari mobil untuk menyusul Hanna.


"Zan, ini kita bayar dulu, yah?" tanya Hanna saat melihat Fauzan ada di sampingnya.

__ADS_1


"Iya, bayar. Tapi buat kita gak usah bayar lah."


"Kenapa? Ah ... atau jangan-jangan ini tempat punya lo lagi!" tebak Hanna dengan menunjuk muka Fauzan.


Fauzan pun menganggukan kepalanya membuat mata Hanna semakin melebar dengan bahu terangkat.


Tapi sedetik kemudian bahu Hanna merosot setelah mendengar ucapan Fauzan. "Bukan, sih. Tapi milik bokapnya Firza. Gue sering kesini soalnya dulu."


Respon Hanna hanya menatap datar Fauzan. "Kirain? Nyebelin lo!" kesal Hanna lalu membalikkan tubuhnya membelakangi Fauzan.


"Yang pentingkan gratis, ayo!" ajak Fauzan santai sambil merangkul pundak Hanna yang terlihat ogah-ogahan buat masuk.


Sesampainya di dalam, Hanna yang tadinya merasa kesal menjadi kembali sumringah karena melihat benda-benda yang sedang berterbangan di sana dan menancap di sebuah bantalan. Benda itu sebuah arrow.


"Zan, Zan. Ayo langsung latihan!" ajak Hanna gak sabaran.


"Iya, nanti. Kita nonton aja dulu di tempat duduk penonton. Ngelihat aja dulu yang lagi latihan, supaya gak terlalu aneh. Dan juga sembari nunggu adzan dzuhur sebntar lagi," ucap Fauzan sambil melihat jam di tangannya.


"Ya udah deh," pasrah Hanna lalu ia langsung duduk di tempat yang sudah di sediakan.


Fauzanpun segera menyusul Hanna yang sudah duduk.


"Jangan cemberut dong!" goda Fauzan sambil duduk di samping Hanna.


"Gak, B aja."


"Bener?" tanya Fauzan memastikan.


Dan saat sadar apa yang telah dilakukannya, seketika Hanna terdiam memandang mata Fauzan dengan tangan yang masih menangkup.


Dan jangan ditanyakan lagi keadaan Fauzan. Keadaan jantungnya kini seperti setelah berlari maraton, dan matanya pun tak lepas dari mata Hanna. Menatapnya penuh dengan kerinduan.


Beberapa detik kemudian...


"Apa lo?" Hanna mendorong muka Fauzan pelan dengan telapak tangannya dan berusaha tidak gugup.


Hannapun kembali menatap ke arah dimana orang-orang sedang latihan memanah.


Sedangkan Fauzan masih menatap Hanna dari samping.


"Jangan ngelihatin gue kayak gitu!" kesal Hanna yang merasa gugup.


"Siapa yang ngelihatin lo, geer banget," sanggah Fauzan yang kemudian menatap ke depan.


"Ck!" Hanna berdecak kesal.


"Udah waktunya sholat, lo sholat gak?" tanya Fauzan sambil berdiri dari duduknya.


Hanna menganggukan kepalanya lalu ikut berdiri.

__ADS_1


"Yuk!" ajak Fauzan sambil berjalan mendahului Hanna.


🌈🌈🌈


Setelah melaksanakan sholat dzuhur.


Mereka segera latihan memanah dengan di pandu oleh salah mentor disana.


"Nak Fauzan kesini lagi, sudah lama gak kesini, kira-kira berapa bulan ya?" tanya mentor yang namanya Pak Yanto.


"Hampir 6 bulanan lah. Terkahir kesini sama Firza," jawab Fauzan dengan tersenyum ramah.


"Kesini bawa teman baru ya?" tanya Pak Yanto.


"Iya. Namanya Hanna, dia suka banget memanah katanya pengen latihan," jawab Fauzan lagi memperkenalkan Hanna.


"Hanna, Pak," sapa Hanna.


"Saya Pak Yanto. Kita mulai saja latihannya!" ajak Pak Yanto.


"Baik, Pak."


"Silahkan pakai dulu quiver dan shooting glove nya!" titah Pak Yanto sambil memberikan dua quiver dan dua shooting glove.


"Terima kasih, Pak."


Setelah memasangkan quiver, merekapun pergi menuju lapangan tempat latihan.


"Tempat latihan untuk perempuan dan laki-laki berbeda, apa Hanna mau latihan bersama mentor lain atau menunggu saya selesai ngelatih Fauzan?" tanya Pak Yanto.


"Saya menunggu Fauzan selesai saja, Pak. Sekalian ingin lihat mempelajari dengan melihat Fauzan latihan.


"Ya sudah kamu bisa duduk disana!" tunjuk Pak Yanto ke tempat duduk yang sudah disiapkan.


"Baik, Pak."


"Han, beneran mau nunggu gue selesai latihan?" tanya Fauzan gak yakin.


"Gak papa. Soalnya gue gak mau latihan kalau lo gak nemenin gue," jawab Hanna lalu langsung menuju kursi yang tak jauh dari sana.


Fauzan pun terkekeh mendengar jawaban Hanna. "Bilang aja gak mau jauh dari gue," batin Fauzan sambil memandang Hanna yang mulai duduk.


Fauzan pun memulai latihannya dengan di dampingi Pak Yanto. Ya, meskipun Fauzan sudah lumayan jago tapi dia masih perlu pengawasan mentor.


Dan Hannapun dengan teliti memperhatikan Fauzan yang sedang latihan.


Beberapa menit kemudian, pandangan Hanna malah terfokus ke wajah Fauzan yang tampak fokus dengan busur dan arrownya.


β€œBisa serius juga tuh anak,” gumam

__ADS_1


🌈


TBC


__ADS_2