
Bahagiakan dia aku tak apa
Biar aku yang pura pura ... lupa
Fauzan mengakhiri nyanyiannya.
Prok! Prok! Prok!
"Bagus banget suara kalian," puji Nayla.
"Iya dong. Kapan-kapan kita harus duet Nay, kalau bisa pas pensi nanti," ucap Angga bangga.
Sedangkan Fauzan menanggapinya hanya tersenyum lalu menyimpan gitar di sampingnya sambil melirik Hanna yang diam saja dengan bibirnya membentuk senyuman yang indah.
"Gimana bagus gak suara gue?" tanya Fauzan ke Hanna.
Hanna mengangguk-anggukan kepalanya. "Lumayan."
"Bilang aja gengsi mau bilang 'Wah! bagus banget'" ucap Fauzan dengan melembutkan suara di bagian akhir.
"Ihh! Memang lumayan kok," ketus Hanna.
"Ya udah."
"Ketus mulu nih anak," batin Fauzan sambil menatap sendu Hanna yang sedang memperhatikan Angga dan Nayla.
"Selanjutnya kita mau ngapain?" tanya Fauzan.
"Kita habisin aja dulu makanannya sambil ngobrol-ngobrol," jawab Hanna sambil mengambil daging sapi yang sudah di bumbui.
"Em! Enak banget daging sapi ini," ucap Hanna dengan mulut yang masih mengunyah.
"Jangan bicara sambil makan, habisin dulu tuh yang di mulut!" nasihat Fauzan.
"Iya-iya ... uhuk! Uhuk!" Hanna tersedak dengan makanannya sendiri karena bicara mulu.
"Tuh kan malah keselek." Fauzan mengambil minum yang ada di dekatnya lalu memberikannya ke Hanna. "Nih minum dulu!"
"Uhuk! Uhuk!" Hanna pun meminum minuman yang di beri oleh Fauzan. "Aahh!" Hanna merasa lega setelah minum.
Hanna pun hendak menyimpan gelas tersebut di meja yang berada sedikit di belakang Fauzan.
Tapi ketika ia membalikkan badan, bibirnya hampir saja akan mencium pipi Fauzan jika tidak di rem.
Keduanya sama-sama terdiam karena terkejut. Karena kini wajah mereka sangat berdekatan.
Deg! Deg!
"Ah! Jantung gue," batin Fauzan dan Hanna.
"Ekhm! Awas entar kebablasan." Ucapan Angga membuat Hanna dan Fauzan segera menjauhkan wajah mereka.
Keadaan menjadi sangat canggung.
"Em! Cepat makanannya habiskan! Terus kita tidur. Udah mau jam 10 nih!" ucap Nayla memecahkan keheningan.
"Iya-Iya."
Semuanya pun segera menghabiskan makanan yang tersisa.
10 menit kemudian ...
Semua makanan sudah habis tanpa sisa.
__ADS_1
"Aku dan Hanna mau cuci piring dulu ya bentar!" pamit Nayla sambil berdiri dari duduknya diikuti oleh Hanna.
"Iya, hati-hati!" ucap Angga sambil menunjukan cengirannya.
"Cuci piring doang," sindir Hanna tanpa melihat ke Angga.
"Biarin. Hati-hati jangan sampai piringnya pecah maksudnya," ucap Angga lagi.
"Iya-Iya." Hanna menanggapinya dengan cepat, lalu merekapun pergi ke dapur kecil yang ada disana.
Setelah kepergian Hanna dan Nayla.
Angga beringsut mendekati Fauzan yang sedang mengecek cafenya lewat handpone.
"Lagi ngapain?" tanya Angga sambil melirik handpone Fauzan.
"Ngecek cafe," jawab Fauzan tanpa mengalihkan pandangannya.
"Oh ... ada masalah sama cafenya?" tanya Angga lagi.
"Tidak ada," jawab Fauzan. "To the point aja, lo mau nanya apa?" tanya Fauzan yang mengerti maksud Angga lalu ia menyimpan handpone di sampingnya.
"Ehehe ... tahu aja lo. Jadi gini, tadi gue udah ngobrol gitu sama Nayla soal hubungan kita yang gak bisa pacaran. Dan gue minta sama dia buat gak deket-deket sama cowok lain, dan katanya dia akan berusaha selagi gue gak deket cewek siapapun, terkecuali Hanna dong, kita berempat kan BFF. Pasti Nayla ngerti," jelas Angga.
"Bagus dong. Bukannya emang Nayla jarang banget deket sama cowok selain kita. Tapi lo, Ga, yang harus hati-hati. Kan ada Chelsea yang ngebet banget sama lo. Gue takutnya Nayla malah ngalah sama Chelsea dan ngebiarin Chelsea buat lo. Lo tahukan Nayla orangnya baik banget dan polos," ucap Fauzan panjang lebar.
"Iya sih, itu yang gue khawatirin. Soal Chelsea, apalagi orang tuanya juga teman bisnis keluarga gue yang berpengaruh."
"Tenang aja. Kalau lo ada masalah, bilang aja sama gue atau Hanna. Kita kan BFF." Fauzan menepuk bahu Angga dua kali.
"Kalau lo gimana sama ... Hanna?" tanya Angga.
"Gimana apanya?" tanya heran Fauzan.
"Ya ... kali aja ada apa-apa gitu."
"Ya udah. Kalau lo mau deketin Hanna, bilang ke gue. Jangan sembunyi-sembunyi gitulah sama BFF sendiri," saran Angga.
"Iya ... in syaa Allah," ucap Fauzan dengan senyuman tipis.
"Gue aja bingung dengan isi hati Hanna," batin Fauzan.
"Kami kembali," ucap Nayla yang datang dari dapur bersama Hanna.
"Udah selesai?" tanya Fauzan.
"Kalau belum gak mungkin kita kesini," ketus Hanna.
"Kenapa sih lo ketus amat?" tanya Fauzan heran.
"Gak tahu. Pengennya ketus mulu kalau sama lo," jawab Hanna.
"Ck!" Fauzan hanya berdecak pelan lalu disusul helaan nafas pendek.
"Mau PMS kali lo," sahut Angga.
"Gak tahu."
"Lah?"
"Udah. Yuk kita tidur aja!" ajak Nayla sambil menggandeng lengan Hanna menuju salah satu kamar yang ada disana.
"Kita juga tidur, Zan?" tanya Angga.
__ADS_1
Fauzan hanya menganggukan kepalanya lalu berdiri menuju ke kamar yang ada di sebelah kamar Hanna dan Nayla di susul Angga.
๐๐๐
"Gue masih ragu kalau mau cerita sama Nayla, apa gue cerita aja?" batin Hanna sambil Nayla yang tengah membaca sesuatu di handponenya.
Merasa ada yang memperhatikan dirinya, Nayla menolehkan wajahnya ke Hanna.
"Kenapa, Han?" tanya Nayla sambil menyimpan handponenya di atas laci.
"Gue mau nanya?" tanya Hanna.
"Tanya aja!"
"Lo dari kapan kenal sama Angga dan Fauzan?" tanya Hanna.
"Kenapa gak langsung aja nanyain Fauzan?" goda Nayla.
"Ih! Jawab aja napa," kesal Hanna sambil melipat tangannya di depan dada.
"Iya-iya. Sama Angga itu dari bayi malah, tapi kalau sama Fauzan waktu dari SMP kelas 8. Itu juga kenal sama Fauzan karena di kenalin sama Angga," jawab Nayla. "Kenapa gitu?" tanya Nayla.
"Gak papa. Cuma mau tahu aja. Berarti Angga dan Fauzan kenalnya dari kelas 8 SMP," tebak Hanna.
"Kalau Angga dan Fauzan dari kelas 7 SMP kenalnya. Mereka kenal karena ada suatu kejadian gitu. Padahal mereka beda kelas waktu itu," jelas Nayla.
"Kejadian? Kejadian apa?" tanya Hanna.
"Kalau itu mending tanya langsung aja sama Fauzan atau Angganya," jawab Nayla.
"Ya udah."
"Kita tidur yuk!" ajak Nayla.
"Iya."
Merekapun pergi ke alam mimpi.
๐๐๐
Keesokan harinya ...
Pada pukul 8 Pagi, kini mereka sudah bersiap akan pulang ke rumah masing-masing.
โGimana, semuanya sudah di beresin?โ tanya Fauzan ke teman-temannya.
โSudah kok, tinggal berangkat aja,โ jawab Angga.
โYa sudah kalau gitu, yuk!โ ajak Fauzan.
Mereka pun pergi dari tempat yang indah itu.
Sesampainya di luar kebun itu.
โNa, lo mau ke rumah gue dulu gak? Ayah gue mau ketemu sama lo,โ ajak Fauzan ke Hanna.
โNanti sorean aja ya, sekalian jalan-jalan, gimana?โ tanya Hanna.
โBoleh-boleh,โ jawab Fauzan dengan cepat.
โLumayan gue bakal berduaan lagi sama Hanna,โ batin Fauzan sambil tersenyum lebar.
Dan mereka pun pulang ke rumah masing-masing.
__ADS_1
๐๐๐
TBC