Jodohku Teman Kecilku

Jodohku Teman Kecilku
Bertemu Calon Mertua?


__ADS_3

Sore hari pun tiba ...


Sesuai janjinya, sore ini Hanna sedang menunggu Fauzan di teras rumahnya karena akan segera pergi ke rumah Fauzan.


Penampilan Hanna cukup simple. Hanna memakai jelana jeans biru dan baju panjang warna putih yang sedikit kebesaran dengan rambut yang ia kuncir kuda hingga menambah kesan manis.


Tin! Tin!


Suara klakson mobil menandakan bahwa Fauzan sudah tiba.


Hanna pun segera menghampirinya.


"Udah lama nunggu?" tanya Fauzan saat Hanna membuka pintu mobil samping kemudi.


"Lumayan," jawab Hanna.


"Maaf ya. Tadi ngedadak ada sepupu dateng dari luar kota."


"Gak papa. Lagian gue nunggunya di rumah sendiri ini. Yuk jalan!" ajak Hanna.


Fauzan hanya menganggukkan kepalanya lalu menginjak pedal gas menuju ke rumahnya.


"Nanti lo kenalan ya sama Papah dan sepupu gue yang baru dateng. Mereka orangnya ramah kok. Apalagi Papah gue, yang ngebet banget pengen ketemu sama lo," ucap Fauzan memecahkan keheningan.


"Kenapa?" tanya Hanna.


"Em ...." Fauzan bingung, apakah ia harus memberi tahu alasan Papahnya ingin bertemu Hanna itu karena ia kangen sama Anna. Atau ia harus mencari alasan lain.


"Mungkin Papah gue ingin punya anak perempuan, jadi dia antusias banget kalau sama anak perempuan." Tiba-tiba hanya itu yang terlintas di benak Fauzan.


"Sepupu lo laki-laki?" tanya Hanna lagi.


"Perempuan," jawab Fauzan.


"Lah? Kan ada sepupu perempuan lo itu, kenapa Papah lo jadi ngebet pengen ketemu gue?" heran Hanna.


"Ah!" Fauzan jadi gugup.


"Mungkin karena sepupu gue jarang banget dateng ke rumah gue. Jadi ya gak terlalu biasa gitu," lanjut Fauzan.


"Apalagi gue yang gak pernah ketemu sama Papah lo." Ucapan Hanna membuat Fauzan tak berkutik lagi.


"Sebenarnya keluarga lo kenapa sih?" tanya Hanna heran karena jawaban Fauzan yang selalu gak pas menurutnya.


"Gue harus apa?" batin Fauzan bingung.


"Nah udah sampai," ucap Fauzan yang berusaha mengalihkan pembicaraan.


Fauzan pun keluar terlebih dahulu dari mobilnya, lalu berlalu menuju pintu mobil sebelahnya.


Fauzan membukakan pintu mobil untuk Hanna.


"Han, yuk masuk!" ajak Fauzan sambil mengulurkan tangan kanannya.


Tapi Hanna hanya diam saja tidak menerima uluran tangan Fauzan.


"Han! Lo kenapa?" tanya Fauzan sambil melambaikan tangannya di depan muka Hanna.


"Ah! Ya?" tanya Hanna terkejut.

__ADS_1


"Ada masalah? Yuk masuk! Keluarga gue udah nunggu," ajak Fauzan sambil mengulurkan tangannya kembali.


"Tidak ada," jawab Hanna. Lalu ia pun menerima uluran Fauzan yang sudah lama menggantung di udara.


Setelah berada di luar mobil Hanna pun melepaskan pegangannya dari Fauzan.


"Mau keluar mobil aja susah banget sih," kesal Fauzan.


"Ih! Ini juga gara-gara lo," tuduh Hanna.


"Kenapa jadi gue yang salah?" heran Fauzan.


"Ck! Dari tadi kan gue mikir, kenapa juga keluarga Fauzan pengen ketemu sama gue? Berasa gue itu calon menantunya. Ah! Gak-gak gue mikir apa sih?" batin Hanna sambil menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.


"Kenapa lagi? Ayo masuk!" ajak Fauzan yang sudah berada di depan pintu rumah.


"Iya, bawel lo," kesal Hanna lalu ia pun menyusul Fauzan masuk ke dalam rumah.


🌈🌈🌈


"Assalamualaikum,” salam Fauzan setelah berada di ruang keluarga.


"Waalaikumussalam," jawab salam mereka.


"Hanna nya mana, Zan?" tanya Mama Fauzan langsung.


"Tadi ngikutin kok," jawab Fauzan sambil menolehkan kepalanya ke belakang.


"Bentar yah," ucap Fauzan lalu ia pun pergi menuju ke ruang tamu.


"Han, kok lo disini sih? Bukannya ikut gue ke ruang keluarga," heran Fauzan yang melihat Hanna sedang berdiri dekat foto figura keluarga.


"Itukan keluarga gue yang nyuruh. Ayo ikut gue!" ajak Fauzan sambil menarik tangan Hanna.


"Gue malu," ucap Hanna menahan tangan Fauzan.


"Anggap aja keluarga sendiri."


Ucapan Fauzan membuat Hanna tak berkutik dan membiarkan tangan Fauzan menarik tangannya.


Sesampainya di ruang keluarga ...


"Nih, Ma, Pah. Hannanya," ucap Fauzan sambil memegang kedua bahu Hanna dari samping.


"Sore, Om, Tante," sapa Hanna sambil membungkukkan punggungnya sedikit.


"Sore, Hanna. Senang bertemu dengan kamu lagi," seru Mama Fauzan sambil berdiri dari duduknya untuk menghampiri Hanna.


"Yuk duduk di samping Firza! Dia ini sepupunya Fauzan dari luar kota," ucap Mama Hanna sambil mendudukkan Hanna di samping Firza.


"Hai, aku Firza," sapa Firza sambil mengulurkan tangannya dan senyuman manis nya.


Hanna menyambut uluran Firza. "Hanna."


"Kayaknya Hanna spesial banget buat Fauzan dan keluarganya ... kok gue rasa gak terima yah Hanna di perlakukan dengan beda," batin Firza sambil menatap Hanna dari samping dengan tatapan yang sulit di artikan.


Dan Fauzan pun duduk di samping Mamanya yang berada di hadapan Hanna dan Firza. Sedangkan Papah Fauzan duduk di single sofa.


"Ka-kamu yang namanya Hanna?" tanya Papah Hanna dengan nada sendu.

__ADS_1


"I-Iya, Om. Salam kenal," ucap Hanna Gugup.


"Sebenarnya kita sudah kenal, Han. Tapi ... ya sudahlah," batin Papah Fauzan.


"Iya, salam kenal juga. Ini kita baru pertama kali bertemu yah?" tanya Papah Fauzan lagi.


"Iya." Hanna berusaha untuk tidak gugup.


"Gue berasa mau diinterogasi sebagai calon mantu deh ... eh! Apa-apaan sih, nggak-nggak," tepis Hanna dalam hati.


"Kamu main saja dulu disini sama Firza dan Fauzan. Nanti malam kita makan bersama-sama yah!" pinta Papah Fauzan.


"Takut ngerepotin, Om." Hanna merasa tidak enak karena disini itu ia orang baru, bukan siapa-siapa nya keluarga Fauzan. Kenal Fauzan pun gak sengaja, pikirnya.


"Tidak apa-apa. Santai saja, Han. Anggap saja rumah sendiri," ucap Papah Fauzan dengan nada dan tatapan lembut, dan itu berhasil membuat Hanna merasa tidak gugup lagi.


"Iya, Om. Makasih," ucap Hanna dengan senyum tipis.


"Ya udah, mending kalian bertiga ke gazebo di halaman belakang saja sana! Ngobrol-ngobrol," tawar Mama Fauzan.


"Iya, Ma. Ayo, Han, Fir!" ajak Fauzan sambil berdiri dari duduknya.


"Yuk! Ayo, Han!" ajak Firza berdiri sambil menggandeng lengan kanan Hanna dengan senyuman lebarnya.


"Sebenarnya gue males kayak gini sama Hanna. Kenapa juga harus bertiga? Gue kan maunya sama Fauzan doang,"


gerutu Firza dalam hati.


Sesampainya di gazebo.


Mereka langsung duduk melingkar.


“Mau ngapain nih kita?” tanya Firza.


“Em ... gak tahu. Kita ngapain yah?” tanya Fauzan lagi.


Sedangkan Hanna hanya diam saja, sebenarnya dia merasa malas bercengkrama saat ini. Entah karena apa.


“Han, kok lo diam saja?” tanya Fauzan.


“Terus gue harus ngapain?” tanya Hanna balik.


“Kebiasaan ditanya malah balik nanya,” gerutu Fauzan.


“Lo juga gitu kali,” ucap Hanna.


“Gak tuh,” elak Fauzan.


“Iya, lo juga gitu.”


“Udah. Mungkin kalian sama-sama gitu,” lerai Firza yang sudah jengah dengan sikap Hanna dan Fauzan.


“Kalian dimana-mana emang suka debat gini yah?” tebak Firza.


“Itu lo tahu,” ucap Hanna dan Fauzan berbarengan.


🌈🌈🌈


TBC

__ADS_1


__ADS_2