
"Pah, kok Hanna belum kembali ya?" heran Mama Nadin, Mama Hanna, pelan.
"Gak tahu. Semoga dia gak kenapa-napa," ucap Papah Haris, Papa Hanna.
Ting!
Suara pesan masuk berbunyi.
Merasa handponenya berbunyi ia segera membukanya.
Putriku
Ma, aku pulang duluan yah. Ada keperluan mendadak. Jangan mengkhawatirkan aku. Aku di jemput sopir.
Itulah isi pesan dari anak semata wayangnya.
"Siapa?" tanya Papah Haris.
"Hanna," jawab Mama Nadin pelan.
"Apa katanya?"
"Dia pulang duluan katanya, ada keperluan mendadak. Di jemput sama sopir."
"Ah! Kenapa tiba-tiba sekali? Apakah terjadi sesuatu dengannya?"
"Ada apa, Ris?" tanya Papah Alex ketika melihat dua pasangan di depannya tengah saling berbisik.
"Em ... mohon maaf anak aku pulang duluan. Katanya ada keperluan mendadak," jawab Papah Haris.
"Ah sayang sekali, sepertinya Fauzan belum mengetahui kalian itu siapa?" tebak Papah Alex.
"Ahaha memang kalau sama aku mungkin belum kenal, tapi tidak dengan yang di sampingku ini," ucap Papah Haris.
Mendengar perkataan tersebut, Fauzan berusaha menajamkan penglihatannya yang kurang jelas melihat mereka.
"S**l, kenapa bisa gue lupa gak pake soflens minus?” batin Fauzan kesal. Matanya itu sudah minus sejak kelas 11. Tapi dia tidak pernah pakai kacamata, hanya memakai soflens minus saja jika di saat-saat penting.
"Kamu gak pakai soflens, Zan?" tanya Papah Alex pelan.
"Lupa, Pah."
"Syukur kalau gitu."
"Kok gitu?" heran Fauzan.
"Supaya kamu gak terlalu mengenali mereka dulu."
Fauzan hanya mendengus kesal mendengar perkataan Papahnya.
🌈🌈🌈
"Kenapa Pak Sopir belum datang juga sih?" heran Hanna yang sedang berjalan pelan menelusuri trotoar.
"Ini udah pukul 8 malam lagi," gumam Hanna sambil melepaskan topengnya.
Beberapa meter ke depan. Sepertinya Hanna melihat sebuah taman kecil di sana. Dan ia pun berinisiatif untuk menunggunya di sana saja.
Hanna duduk di salah satu ayunan yang ada di sana.
Untuk menghilangkan bosan. Hanna sedikit menggerakkan ayunannya.
Beberapa menit kemudian, gerakan ayunannya mengencang sehingga membuat Hanna berteriak karena kaget.
__ADS_1
"AAA!!"
Tak lama setelah Hanna berteriak, ayunannya pun berhenti oleh seseorang yang nampak menahan besinya.
"Sorry," ucap orang itu dengan suara berat.
Glup!
Hanna meneguk ludahnya karena merasa asing dengan suara ini.
Orang itupun pindah menuju ayunan yang sebelahnya lagi dan duduk disana.
Hanna yang menyadari kehadiran seseorang di sebelahnya hanya diam saja karena takut.
"Lo ... Hanna, kan?" tebak orang itu.
Spontan Hanna menoleh ke orang itu karena dia tahu namanya.
"Lo siapa? Jangan sok tahu,” ketus Hanna.
"Hah! Masa lo gak tahu gue?" kaget orang itu.
"Gue memang gak kenal lo."
"Lo fokusnya sama Fauzan doang sih, sampai lo gak memperhatikan sekitar?" kesal orang itu.
Mendengar ucapan orang itu. Hanna hanya mengerutkan dahinya bingung.
"Gue sekelas sama lo, sekaligus kapten basket," jelas orang itu.
"Ah! Maaf. Gue soalnya baru lagi ke Indonesia setelah 12 tahun. Jadi gue agak canggung kalau memulai obrolan duluan," ucap Hanna dengan tersenyum gak enak.
"Gak papa. Gue maklumin," ucap orang itu dengan tersenyum tipis. "Kenalin gue
Dilfa Barqi, panggil aja Dilfa," lanjutnya memperkenalkan diri.
"Udah tahu," ucap Dilfa dengan sedikit nada mengejek.
Hanna hanya tersenyum tipis menanggapinya.
“Lo habis dari mana, pakai gaun gini? Ditambah topeng lagi?” tanya Dilfa heran.
“Gue habis dari restoran,” jawab Hanna.
“Terus kenapa bisa nyasar disini? Kabur karena mau jodohin?” tebak Dilfa, dan itu sukses membuah Hanna membantu.
“Ng-gak, gue gak di jodohin kok. Cuman makan malam biasa,” jawab Hanna.
“Masa? Terus kalau cuma makan malam biasa. Kenapa lo pakai gaun mewah kayak gini?” tanya Dilfa.
“Eh! Emang kita siapa, sampai gue harus cerita sama lo?”
“Dari tadi juga lo nyaut aja kalo gue nanya. Kenapa nanya gitunya sekarang?” kesal Dilfa. “Kita itu teman, atau ... lo mau jadi pacar gue?” lanjutnya dengan senyuman miring.
“Baru aja kenal udah ngajak pacaran?” heran Hanna.
“Ya udah kalau gitu kita itu teman, yah? Lagian gue udah punya gebetan.”
“Syukur kalo gitu.”
“Terus sekarang lo mau kemana?” tanya Dilfa.
“Gue mau pulang tapi so-“ Ucapan Hanna terpotong karena ada suara getaran dari handponenya.
__ADS_1
Hanna pun segera membuka pesannya.
Dan ternyata itu dari sopirnya, katanya dia tidak bisa menjemputnya karena ban mobilnya bocor.
“Hahh!” Hanna mendesah kesal.
“Kenapa?” tanya Dilfa.
Hanna berdecak. “Ck! Mobil ban sopir gue bocor.”
“Ya udah, kalau gitu gue anterin pulang yuk. Udah malem. Bahaya kalo lo sampai pulang sendiri, apalagi sekarang lo lagi pakai gaun. Tambah cantik.” Dilfa gak maksud untuk menggoda Hanna, tapi itu kenyataannya. Hanna tampak cantik sekali malam ini.
Untung saja Hanna tidak terlalu mudah di goda, jadi perasaannya sekarang biasa saja.
“Gue takut ngerepotin lo. Lagian kita baru kenal sekarang juga.” Hanna merasa tidak enak.
“Gak papa. Kita kan teman, sudah seharusnya seorang teman saling membantu,” ucap Dilfa sambil menaik turunkan alisnya.
“Apa lo bisa di percaya?” selidik Hanna.
“Astaghfirullah, Hanna. Lo gak percaya sama gue?” kesal Dilfa. “Kalau gue ngapa-ngapain lo dan itu ketahuan sama pihak sekolah, reputasi gue sebagai kapten basket pasti hancur. Gue gak mau itu terjadi. Gue juga punya perasaan, gak bakal nyakitin cewek,” jelas Dilfa.
Hanna mendengar ucapan Dilfa yang tampak serius pun merasa lega.
“Ya udah.”
“Yuk pulang!” ajak Dilfa sambil berdiri dari duduknya lalu berlalu menuju tempat mobilnya terparkir.
🌈🌈🌈
“Makasih ya atas waktu kalian,” ucap Papah Fauzan, Alex.
“Iya. Makasih juga,” ucap Papah Hanna, Haris.
Dari dalam mobil, Fauzan tampak terpikiran sesuatu. Kemanakah perempuan itu pergi, dan tidak kembali lagi. Ah! Kenapa ia menjadi merasa khawatir? Padahal ia belum mengenalnya. Tapi Fauzan merasa bahwa ia sudah pernah melihatnya, tapi dimana?
Duk!
Suara pintu mobil tertutup.
Ternyata itu Papah dan Mamanya yang sudah kembali.
“Gimana dinner nya?” tanya Mama Fauzan, Istia.
“Biasa aja,” jawab Fauzan.
“Kamu kesal ya karena tidak tahu siapa mereka?” tanya Istia.
“Lumayan,” jawab Fauzan lagi.
Mama Hanna menghela napas pelan. “Ayo, Pah. Kita pulang!” ajaknya.
🌈🌈🌈
“Makasih ya udah mau nganterin,” ucap Hanna setelah sampai di depan gerbang rumahnya.
“Iya, sama-sama. Oh ya, gue boleh minta nomor lo?” tanya Dilfa.
“Iya boleh,” ucap Hanna sambil mengeluarkan handponenya dan memberikannya ke Dilfa.
“Nih!” Dilfa menyodorkan handpone ke Hanna setelah selesai mengetik. “Kalau gitu gue pamit pulang!” pamit Dilfa sambil berjalan mundur.
“Iya. Hati-hati.”
__ADS_1
Dilfa masuk ke dalam mobilnya dan berlalu meninggalkan rumah Hanna.
🌈🌈🌈