
Malam hari pun tiba...
Kini Hanna sedang bersantai di sofa kamarnya sambil membaca sebuah novel yang baru saja dia beli beberapa hari yang lalu.
Ting!
Suara pesan masuk.
Hanna pun segera membuka pesan tersebut dan ternyata itu dari Fauzan.
FauzanMA
Han, lo udah cek grup kelas belum? Kalau belum sana deh cek! Ada pengumuman penting.
Itulah isi pesan dari Fauzan.
Hanna pun segera membuka grup kelasnya tanpa berniat membalas pesan dari Fauzan.
Hanna sedikit menscroll ke atas untuk melihat pengumumannya.
088xxxxxxxxx
Pengumuman!
Kepada seluruh siswa dan siswi, besok hari selasa semuanya diharapkan untuk datang ke sekolah pada pukul 8 pagi. Karena ada beberapa hal yang akan di sampaikan terkait pengambilan lapor dan perpisahan kelas 12.
Terima kasih.
Itulah isi pengumuman di grup yang di teruskan oleh ketua kelas.
"Ah, males banget dah gue!"
kesal Hanna setengah berteriak.
"Ada apa, Hanna?" tanya Nadin yang kebetulan lewat di depan kamar Hanna dan mendengar Hanna berteriak.
"Gak papa, Mah. Cuman kesel aja besok harus ke sekolah," jawab Hanna.
"Oh. Ya ke sekolah aja lah!" titah Nadin.
"Males, Ma," rengek Hanna.
"Gimana kalau kamu bawa mobil?" tawar Nadin.
"Memang boleh, Ma?" tanya Hanna dengan mata yang berbinar-binar.
"Boleh. Asalkan jangan ngebut dan hati-hati!" peringat Nadin.
"Yes. Makasih, Ma." Hanna berhambur ke pelukan Nadin.
"Iya."
πππ
Keesokan harinya Hanna sedang berada dalam perjalanan menuju sekolah, dan jangan lupa dia sekarang sudah bisa membawa mobil sendiri. Dan itu sudah menjadi impiannya sejak dahulu.
Tak lama kemudian dia sudah sampai di parkiran sekolah.
__ADS_1
Hanna menghela napas sejenak sebelum turun dari mobil. Dia merasa gugup untuk keluar dari mobil, karena saat ini mobilnya sudah menjadi pusat perhatian semua siswa dan siswi.
"Apa yang menarik dari mobil gue?" heran Hanna.
Beberapa detik kemudian Hanna memutuskan untuk keluar dari mobil dengan memasang wajah datar andalannya.
"Ah! Dia ternyata!"
"Oh si cabe itu!"
"Si caper ternyata!"
"Dia itu yang caper sama 3 cogan sekolah kan, ya?"
Saat ini Hanna sedang menjadi bahan perbincangan semua siswa dan siswi, entah apa masalah nya, dia tidak mengerti. Lebih baik dia cuek saja dengan apa yang mereka bicarain.
Hanna pun sudah sampai di depan pintu kelas, tapi langkahnya terhenti karena Nayla menahan lengan kiri Hanna.
"Han!" panggil Nayla.
"Ada apa?" tanya Hanna dengan muka datar.
"Kamu ... gak papa?" tanya Nayla hati-hati.
Hanna menaikkan sebelah alisnya bingung. "Gue? Kenapa?"
Nayla menganggukkan kepalanya singkat.
"Gue gak kenapa-napa," jawab Hanna dengan wajah tenang.
"Beneran? Kamu udah cek grup sekolah?β
Tak lama Fauzan pun datang.
"Kenapa, Nay?" tanya Fauzan.
"Ah! Gak papa kok, aku duluan!" pamit Nayla. Sedangkan Fauzan hanya menatap punggung Nayla yang mulai menjauh dengan sebelah alisnya terangkat.
Bruk!
Fauzan pun kaget karena merasa ada yang jatuh di belakangnya.
β’β’β’
Hanna pun memasuki kelas. Tapi saat di depan papan tulis, langkahnya terhenti karena ada 3 orang perempuan yang menghalangi jalannya.
"Permisi!" ucap Hanna dengan nada tenang, karena ia gak mau memulai pertengkaran.
"Lo itu memang gak tahu atau pura-pura gak tahu!" ketus seorang perempuan yang berada di tengah dengan nametag Gina.
"Gue gak ngerti sama apa yang kalian bicarain?" tanya Hanna datar.
"Lo gak usah sok b**o gitu deh. Baru sekolah beberapa minggu aja udah ganjen!" ketus seorang perempuan bernametag Cira.
"Terus ini masalahnya apa?" tanya Hanna gak ngerti.
"Gak udah sok polos gitu deh!" bentak Gina sambil mendorong kedua bahu Hanna sehingga membuat Hanna terpental hingga keluar kelas dan terjatuh disana.
__ADS_1
β’β’β’
Fauzan pun menolehkan kepalanya ke belakang dan terdapat Hanna yang sedang terduduk dengan kedua tangan yang menyangga tubuhnya.
"Aww!" Hanna meringis pelan.
"Han, lo-" Ucapan Fauzan terpotong oleh seorang perempuan yang datang dari dalam kelas.
"Gitu aja lemah!" ejek Gina.
"Kalian apa-apaan sih!" heran Fauzan saat melihat tiga orang perempuan tengah bersedekap dada, lalu ia membantu Hanna berdiri.
"Lo tanya aja tuh sama dia! Kenapa dia itu sok ganjen banget sih, sampai ngedeketin tiga cowok sekaligus," ketus Cira.
"Maksud lo tiga cowo siapa?" tanya Hanna datar.
"Siapa lagi kalau bukan Dilfa, Angga dan ... lo," tunjuk Gina ke Fauzan.
"Gue?" tunjuk Fauzan ke dirinya sendiri. "Emang kenapa kalau gue dekat sama Hanna. Kita kan teman sekelas?"
"Lo bilang deket? Bahkan 2 tahun ini lo jarang banget berinteraksi sama temen perempuan yang ada di kelas lo. Tapi dia ...." Gina menunjuk Hanna. "Dia baru aja sekolah beberapa minggu udah dekat aja sama lo. Lo di bayar berapa sama dia?" lanjutnya dengan nada ketus.
"Jaga ya ucapan lo. Lo gak tahu apa-apa soal kehidupan gue dan Hanna. Gak usah ikut campur sama urusan orang lain. Urusin aja hidup lo yang belum tentu benar itu!" ucap Fauzan dengan nada datar. Lalu ia pun mengajak Hanna untuk memasuki kelas.
"Awas aja lo!" geram Gina.
πππ
Setelah hampir dua jam wali kelas 11 MIPA 1 berbicara panjang lebar mengenai teknis pembagian lapor dan perpisahan kelas 12 pada hari Sabtu.
Dan perpisahannya itu berlangsung pada malam harinya, sedangkan pembagian lapor berlangsung pada pagi hari.
Dan katanya semua siswa dan siswi kelas 10 dan 11 tidak akan hadir semua. Yang hadir hanya orang-orang terpilih dan itu di pilih langsung oleh pihak sekolah.
Dan orang yang terpilih di kelas 11 MIPA 1, yaitu Hanna, Dilfa, Rifa, dan Salma.
Dan untuk Fauzan itu sudah pasti datang, secara kan dia panitianya.
Beberapa menit kemudian, guru pun keluar dari kelas setelah mempersilahkan muridnya untuk pulang ke rumah masing-masing.
"Han, lo gak papa?" tanya Dilfa setelah guru nya keluar kelas.
"Emang gue kenapa?β tanya Hanna balik.
βGue denger lo tadi di bully? Sama siapa?β cerocos Dilfa.
βLo cerewet banget sih jadi cowok!β sindir Fauzan.
βBiarin. Sirik aja lo!β ketus Dilfa. βEm ... nanti berangkat bareng ya buat dateng ke perpisahan kelas 12!β lanjutnya mengajak Hanna.
βHanna berangkat bareng gue!β ucap Fauzan dengan nada tak suka.
βLo kan panitia, Zan. Pasti lo berangkat lebih awal. Jadi, biar Hanna berangkat sama gue aja,β ucap Dilfa sambil menatap Fauzan meremehkan.
Dan Fauzan pun menatap balik Dilfa dengan tajam.
Dan terjadilah saling perang tatap-tatapan diantara mereka.
__ADS_1
πππ
TBC