Jodohku Teman Kecilku

Jodohku Teman Kecilku
JTK-47


__ADS_3

Sudah hampir dua jam mereka asik ngobrol dan bercanda ria di ruang tamu.


Dan sekarang, jam sudah hampir menunjukan pukul 5 sore.


"Aku mau pamit pulang dulu!" ucap Haikal tiba-tiba.


"Loh kenapa?" tanya Nadin yang terlihat sedih.


"Ada urusan di tempat kerjaβ€”" Ucapan Haikal terpotong oleh Haris.


"Kamu sudah kerja, Kal?" tanya Haris.


"Lebih tepatnya kuliah sambil kerja," ungkap Haikal.


"Sudah berapa lama kamu kerja?" tanya Nadin.


"Dari SMA," jawab Haikal tenang.


"SMA? Menangnya Gisel tidak memberi kamu uang?" tanya Haris menahan amarah.


"Tante Gisel memberi aku uang, kok. Cuma ya ... gak banyak. Makannya aku memutuskan untuk bekerja."


Mendengar penjelasan Haikal membuat Nadin merasa kasihan hingga meneteskan air mata.


"Kenapa hidup kamu seperti ini. Seharusnya anak sepantaran kamu fokus belajar. Kenapa kamu malah kerja?"


"Aku kerja karena itu keinginan aku sendiri. Aku menikmati pekerjaan ini, kok." Haikal berusaha untuk tidak membuat semua orang khawatir.


"Ya sudah. Karena semuanya sudah terjadi, yang penting sekarang kamu sudah kembali dalam keadaan sehat wal'afiat. Dan kamu jangan kecapean dalam bekerja. Utamakan kesehatan kamu, ya!" nasihat Haris.


"Iya, Pah." Haikal sudah memutuskan untuk berdamai dengan keluarga kandungnya. Dan memanggil orang tuanya dengan Mama dan Papah.


"Ya sudah kalau gitu aku, pamit!" lanjutnya sambil berdiri dari duduknya.


"Kamu harus secepatnya tinggal disini ya, Nak!" ucap Nadin sedikit tidak rela kalau Haikal harus pergi.


"Iya, Ma. Doain aja semoga semuanya berjalan dengan lancar."


"Aamiin," ujar semua orang.


Haikal pun segera beranjak dan keluar dari rumah itu diikuti oleh semuanya.


Sesampainya di luar rumah.


"Jaga diri baik-baik." Nadin mengelus kepala Haikal.


Haikal tampak menikmati elusan dari sang Mama. "Baik, Ma."


"Aku pergi dulu!" Haikal pun menaiki motornya lalu pergi meninggalkan perkarangan rumah itu.


"Semoga dia selalu bahagia."


🌈🌈🌈


Sekolah semester dua pun sudah di mulai. Semua kelas 12 mendapat kelas baru setelah pulang sekolah, karena untuk persiapan sebelum Ujian Nasional nanti.


Kini Hanna sudah siap dengan seragam dan juga kacamatanya.


"Pagi, Ma, Pah!" sapa Hanna sambil duduk di meja makan.


"Pagi!" sapa kedua orang tua kembali.

__ADS_1


"Bang Haikal mana?" tanya Hanna.


Ya, memang Haikal sudah kembali ke rumah mereka dua minggu yang lalu. Dan itu membuat suasana keluarga mereka semakin harmonis.


"Masih di kamarnya," jawab Nadin.


"Oh, gitu. Memang Abang gak ada jadwal kuliah?" tanya Hanna lagi.


"Ada kok." Itu bukan Nadin dan Haris yang menjawab, tapi Haikal yang baru saja tiba di ruang makan.


"Mau berangkat bareng?" tanya Haikal.


"Boleh." Hanna menerimanya dengan senang hati sambil tersenyum lebar.


"Oke."


Lalu semuanya pun tampak menikmati sarapan mereka.


Beberapa menit kemudian, Hanna dan Haikal sudah selesai memakan sarapannya.


"Kita berangkat dulu!" pamit Haikal.


"Baiklah. Hati-hati dijalan!" nasihat Haris.


"Iya."


Hanna dan Haikal pun menyalami Nadin dan Haris lalu pergi menuju tempat parkir kendaraan.


Sesampainya di luar rumah.


"Kita pakai mobil aja!" saran Haikal sambil berlalu menuju mobilnya. "Kamu tunggu disani!" lanjutnya setengah berteriak saat sampai di dekat mobil.


Tak lama kemudian Haikal datang dengan mobilnya, dan Hanna segera memasuki mobil samping kemudi.


Setelah Hanna masuk, Haikal segera menancapkan gasnya menuju sekolahan Hanna.


"Dek, kamu mau lanjut kuliah dimana?" tanya Haikal.


"Emm ... kayaknya bakal di luar negeri deh!" jawab Hanna dengan sedikit ragu karena merasa ada yang menjanggal di hatinya jika ia pergi jauh lagi.


"Kalau mau di luar negeri. Mending di Jerman lagi aja. Disana ada Nenek dan Kakek, kan?" saran Haikal.


"Iya, Kak. Aku juga berfikir begitu. Tapi lihat aja nanti," ujar Hanna sambil tersenyum.


Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di depan gerbang sekolah Hanna.


"Kakak mau langsung ke kampus?" tanya Hanna sambil membuka seatbelt.


"Nggak. Kakak mau ke tempat kerja dulu, ngecek keadaan cafe," jawab Haikal.


Haikal bekerja di sebuah cafe sebagai manager. Awalnya hanya sebagai kasir, tapi berkat kerja keras dan kecerdasan Haikal. Bosnya mengangkatnya menjadi manager.


"Ya sudah kalau gitu. Aku pergi dulu!" pamit Hanna sambil mencium punggung tangan Haikal.


"Iya. Belajar yang bener!"


"Siap."


Hanna pun berlalu memasuki sekolahnya yang bakal ia rindukan.


Setelah Hanna masuk ke dalam sekolah. Haikal pun berlalu meninggalkan sekolah Hanna.

__ADS_1


Sesampainya di dekat parkiran, ternyata Fauzan juga sudah baru sampai di sekolah. Lantas Hanna pun mendekati Fauzan yang tengah menutup pintu mobilnya.


"Pagi, Zan!" sapa Hanna sambil tersenyum tipis.


"Pagi juga!" sapa Fauzan kembali. "Lo diantar sama Bang Haikal pasti," tebak Fauzan.


"Iya, kok lo bisa tahu sih."


"Nebak aja."


Lalu mereka berdua pun berlalu meninggalkan parkiran.


Dalam perjalanan menuju kelas, mereka menjadi pusat perhatian. Kebanyakan adik kelaslah yang menatap mereka dengan penuh kagum, karena menurut mereka Fauzan dan Hanna sangat cocok. Tapi nyatanya diantara mereka hanyalah sebatas teman.


"Hey, pagi!" Tiba-tiba Firza datang dan menyelip diantara Hanna dan Fauzan.


Disusul oleh Leo yang menyelip di tengah-tengah mereka sehingga jarak Hanna dan Fauzan semakin jauh.


Dalam hati Hanna dan Fauzan sama-sama mengumpat karena tingkah Firza dan Leo. Tapi mereka memilih mendiamkannya.


"Kalian gak nyapa gue balik?" tanya Firza menahan kesal.


"Pagi!" sapa Fauzan dan Hanna setengah niat.


"Leo. Lo gak nyapa gue?" tanya Firza menatap Leo sambil mengangkat dua alisnya.


"Pagi!" sapa Leo sambil berlalu meninggalkan mereka bertiga.


"Ish ... itu anak!" Firza menahan umpatannya.


Tak lama mereka sudah sampai di dalam kelas.


🌈🌈🌈


Sekarang jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Kelas 10 dan 11 sedang free class, sedangkan kelas 12 di sibukkan dengan pemilihan jurusan dan universitas yang akan mereka tuju nanti.


Tok! Tok! Tok!


Seseorang datang di kelas 12 MIPA 1.


"Permisi! Yang namanya Kak Hanna dan Kak Fauzan di panggil oleh Pak Aril di ruang guru!" ucap seorang siswa yang sepertinya adik kelas.


"Hanna, Fauzan! Di panggil tuh ke ruang guru sama Pak Aril!" sahut ketua kelas.


"Kalian ada masalah?" tanya Firza yang duduk di hadapan Hanna.


"Kita kayaknya gak buat masalah. Tapi sebaiknya kita ke ruang guru sekarang!" ucap Fauzan sambil berdiri dari duduknya diikuti oleh Hanna.


Lalu mereka pun pergi menuju ruang guru.


"Kira-kira mereka kenapa ya di panggil ruang guru?" tanya Firza ke Leo.


"Gue bukan guru."


Jawaban Leo membuat Firza jengkel. "Kesel gue sama lo."


"Jangan kesel, nanti suka."


Firza segera memalingkan wajahnya mendengar ucapan Leo.


🌈🌈🌈

__ADS_1


__ADS_2