
Hari ini adalah hari terkahir mereka UAS.
Dan sekarang, mereka berdelapan sedang berada di kantin setelah melaksanakan ulangan terakhir.
"Alhamdulillah, akhirnya selesai juga!" ucap Dilfa.
"Iya, nih. Gak kerasa beberapa bulan lagi kita akan meninggalkan masa-masa SMA," ujar Lea.
"Kita harus membuat hal yang berkesan selama detik-detik terakhir kita disini," sahut Firza.
"Iya, bener!" ucap Firza.
"Semester depan kita harus fokus buat UN, gak akan ada waktu buat main-main," ucap Leo.
"Iya, yang pinter mah, gitu," gumam Lea.
"Lo harus fokus belajar, dong. Buat persiapan UN sekaligus masuk universitas," ujar Leo sambil menatap Lea tajam.
"Iya, nanti gue belajar. Lo yang ngajarin, yah," ucap Lea.
"Ogah," tolak Leo.
"Katanya tadi nyuruh belajar," kesal Lea.
Sedangkan sisanya hanya bisa menonton perdebatan antara Lea dan Leo sambil memakan makanan mereka.
"Ya udah iya," putus Leo.
"Gitu dong, sebagai adik harus membantu kakaknya." Lea tersenyum sambil menepuk pundak Leo.
Dan Leo hanya mendelik mendengar ucapan Lea.
"Nanti kita sama-sama belajar aja, gimana?" saran Nayla.
"Beneran?" tanya Lea dengan mata yang berbinar-binar.
"Iya, yah. Mending kita belajar bersama-sama aja. Saling membantu," ujar Angga.
"Gimana yang lain?" tanya Nayla.
"Gue sih ayo-ayo aja," ucap Dilfa. Dan Firza mengangguk.
Mereka berenam menatap Hanna dan Fauzan yang hanya diam saja dengan sambil memakan makanan mereka.
Merasa ada yang memperhatikan Fauzan dan Hanna, mereka berdua pun berhenti dari kegiatannya dan menatap mereka berenam.
"Kenapa?" tanya Fauzan.
"Lo ikut gak?" tanya Angga.
"Apa?" tanya Fauzan.
"Astagfirullah, dari tadi lo gak denger kita ngobrol," kesal Lea.
"Gak terlalu denger." Fauzan menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Hah! Kalian ikut belajar bareng gak?" tanya Firza menahan kesal.
"Ayo!" jawab Fauzan. Dan Hanna hanya menganggukkan kepalanya.
"Sip." Mereka berenam kecuali Hanna dan Fauzan mengacungkan jempolnya.
β’β’β’
Sekarang mereka berdelapan sedang berada di parkiran untuk segera pulang.
Tapi Fauzan dan Angga mendadak ada urusan osis terkait pergantian pengurus. Alhasil mereka berdua tidak jadi pulang bersama dan harus segera menuju ruang osis.
Dan Dilfa pun sama tidak jadi pulang karena ia mendadak di panggil oleh pembimbing basket, katanya untuk kegiatan pemilihan kapten basket baru.
"Hah! Mending kita pulang," ucap Lea sambil berjalan menuju mobilnya bersama Leo.
"Lea, gue nebeng yah!" pinta Firza.
"Kenapa ke gue?" tanya Lea.
"Kan arah kita sama, sedangkan kalau sama Hanna beda," jelas Firza.
"Ya udah," putus Lea.
"Kita duluan yah!" pamit Lea sambil memasuki mobil diikuti oleh Firza dan Leo.
Setelah kepergian mereka bertiga, Hanna dan Nayla pun sama menuju mobil Hanna.
"Han, aku pulang ya. Udah di jemput sama Mama," pamit Nayla.
"Oh gitu. Ya sudah," ucap Hanna.
Selama di perjalanan pulang, Hanna terus kepikiran mengenai mimpi yang ia alami waktu sewaktu koma.
Waktu di alam mimpi. Ia seolah-olah kembali ke masa kecil. Dan disana ia selalu bersama seorang bocah.
Yang membuat ia heran, bocah itu selalu muncul di mimpi-mimpi sebelumnya.
Tapi mimpi waktu ia koma itu berbeda dengan mimpi-mimpi sebelum koma. Di mimpi itu seperti ada sebuah petunjuk tapi ia tak tahu itu apa.
Masalah mimpi ini ia tidak pernah bercerita kepada siapapun. Biarlah untuk saat ini hanya ia saja yang tahu menengai mimpi itu.
Dan tak terasa, ia sudah sampai di halaman rumahnya.
Setelah memarkirkan mobil, Hanna langsung menuju ke kamarnya.
Sesampainya di kamar, Hanna langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur.
"Ah!" Hanna menghela napas panjang, lalu ia melepaskan kacamatanya dan disimpan di samping tubuhnya.
Tok! Tok!
"Hanna kamu sudah pulang?" tanya Nadin, Mama Hanna setelah mengetuk pintu.
"Iya, Ma. Baru saja," jawab Hanna sambil bangun di rebahannya.
__ADS_1
"Mau makan?"
"Iya, Ma. Nanti aku ke bawah," ucap Hanna.
"Ya sudah. Mama tunggu." Nadin pun berlalu dari kamar Hanna.
Tak lama kemudian Hanna bangkit dan segera ganti baju lalu pergi menuju ruang makan.
Sesampainya di ruang makan, ternyata disana sudah ada Papahnya sedang duduk, sepertinya sedang menunggu dirinya.
"Pah, tumben sudah pulang?" tanya Hanna setelah duduk dekat Papahnya.
"Iya. Kerjaannya cuma sedikit, jadi langsung pulang aja karena kebetulan lagi pengen makan siang bareng kalian," jawab Papah Hanna, Haris.
"Ya, bagus kalau gitu. Ada yang pengen aku bicarain soalnya," ujar Hanna.
"Oh ya? Apa?" tanya Haris.
"Itβ" Ucapan Hanna terpotong oleh Nadin.
"Makan aja dulu. Pasti kalian lapar habis kerja dan ulangan," potong Nadin.
"Ah, ya sudah," putus Hanna.
Lalu mereka bertiga pun menutuskan untuk makan terlebih dahulu.
10 menit kemudian mereka sudah selesai dari kegiatan makannya.
"Apa yang ingin kamu bicarakan, Han?" tanya Haris.
"Gini ... em, tapi Papah dan Mama harus jawab jujur," ucap Hanna.
"Iya." Haris dan Nadin menganggukan kepalanya.
"Apa aku punya kakak kandung?" tanya Hanna dengan serius.
Mendengar pertanyaan dari Hanna, spontan Haris dan Nadin terdiam membeku.
"Kenapa, Ma, Pah?" tanya Hanna saat melihat kedua orang tuanya hanya diam saja.
Haris pun menghela napas panjang. "Kenapa tiba-tiba kamu bertanya hal itu, memangnya ada masalah ya sampai kamu bertanya seperti itu?" Bukannya menjawab, Haris malah bertanya balik.
"Karena pernah ada laki-laki yang manggil aku dengan Sis," jawab Hanna.
"Hah!" Haris dan Nadin kaget mendengar jawaban dari Hanna.
"Jawab pertanyaan aku, Ma, Pah!" pinta Hanna tidak memedulikan keterkejutan orang tuanya.
"Apa mungkin dia kembali?" tanya Nadin ke Haris.
"Gak mungkin," ujar Haris dengan mata kosong.
"Dia siapa?" tanya Hanna menahan kesal.
Haris dan Nadin terdiam beberapa detik, setelah itu Nadin menjawab, "Abang kamu."
__ADS_1
πππ
TBC