Jodohku Teman Kecilku

Jodohku Teman Kecilku
JTK-52


__ADS_3

Hari ini Hanna sedang mengendarai mobil untuk menuju ke rumah Fauzan. Karena kata Istia, Fauzan sedang sakit demam sejak dua hari yang lalu. Dan ia saat itu belum sempat untuk menjenguknya karena ada hal yang harus di urus terkait keberangkatan ia menuju Jerman.


Ya, Hanna sudah keterima di Universitas X yang ada di Jerman, begitu pula Fauzan.


Setibanya di halaman rumah Fauzan, Hanna terlebih dahulu mengetuk pintu rumah itu.


Tak lama kemudian ada yang membuka pintunya, dan ternyata itu Istia.


“Eh, Hanna! Sudah datang! Silahkan masuk!” Istia mempersilahkan Hanna untuk masuk.


“Makasih, Tante.”


“Iya, silahkan duduk dulu! Tante baru saja mempersiapkan makan untuk Fauzan minum obat. Bentar ya, Tante ke dapur dulu!” pamit Istia lalu berlalu menuju dapur.


Hanna hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis mendengar ucapan Istia.


Setelah kepergian Istia, Hanna hanya terdiam sambil memainkan jari-jarinya. Ia merasa khawatir dengan keadaan Fauzan. Karena yang ia dengar dari Angga dan Nayla.


Saat mereka menjenguk Fauzan kemarin, dia terlihat sangat lemas sampai tidak bisa berdiri. Entah kalau sekarang dia tidak tahu, rasanya ia ingin cepat-cepat melihat Fauzan.


“Han! Bentar, ya!” ucap Istia yang datang sambil membawa nampan.


DUK!!


Suara benda terjatuh sangat keras berasal dari dapur.


“Astaghfirullah, itu apa ya?” Istia kaget dengan suara itu. Begitu pula dengan Hanna yang terlihat mengelus-elus dadanya.


“Tante itu nampannya mau di bawa ke kamar Fauzan?” tanya Hanna.


“Iya, nih! Tapi kayaknya Tante bakal ke dapur dulu untuk lihat ada apa.”


“Biar aku aja, Tan, yang nyimpan nampannya ke kamar Fauzan!” tawar Hanna.


“Gak pa-pa, nih!” Istia merasa tidak enak.


“Iya, Tan. Ini sekalian mau jenguk Fauzan. Gak pa-pa, kan?”


“Silahkan! Maaf ya merepotkan!” Istia menyodorkan nampannya ke Hanna dan di sambut dengan hati-hati oleh Hanna.


“Tidak apa-apa.”


“Kalau begitu Tante ke dapur dulu, ya! Itu kamar Fauzan yang pintunya warna Abu!” Istia pun berlalu menuju dapur dengan tergesa-gesa.


Begitu juga dengan Hanna, ia berlalu menuju kamar Fauzan.


🌈🌈🌈


Setibanya di depan kamar Fauzan, ia terlebih dahulu mengetuk pintunya.


Tapi sudah beberapa menit tidak ada sahutan dari dalam. Itu membuat Hanna semakin khawatir, dengan segera dia membuka pintunya dan tidak ada siapa-siapa di dalam sana.


“Fauzan!” panggil Hanna sambil menyimpan nampannya di atas nakas.


“Fauzan!”


“Fau—“ Ucapan Hanna terhenti karena melihat sebuah figura tergeletak di atas meja belajar Fauzan.

__ADS_1


Ia merasa penasaran dan berjalan mendekati figura itu.


DEG!!


Jantung Hanna berpacu menjadi lebih cepat saat melihat foto yang ada di figura itu.


Di foto tersebut ada seorang bocah laki-Laki dan perempuan sedang duduk disebuah ayunan.


Dan Hanna tahu bahwa bocah perempuan itu adalah dirinya, sedangkan bocah laki-laki itu mirip sekali dengan yang ada di album keluarganya.


Itu membuat Hanna berfikir lebih keras dan membuat kepalanya sedikit pusing.


Sekelebat bayangan menghantui pikirannya.


Dan sekarang ia tahu, bahwa ia dan Fauzan merupakan sahabat dekat ketika mereka masih kecil.


Tapi kenapa Fauzan tidak memberitahunya sejak awal kalau mereka itu sahabat waktu kecil.


Sudah satu tahun mereka berteman, tapi kenapa baru sekarang ia tahu kalau Fauzan sahabat kecilnya.


Hanna merasa kecewa karena Fauzan tidak mengingatkannya. Jadi selama ini alasan Fauzan selalu bersamanya itu karena ia tahu bahwa mereka sahabat waktu kecil.


Secara tak sadar, Hanna menitikkan air matanya sambil menutup mulutnya. Dan ia mundur secara perlahan menjauhi meja belajar.


Sampai kakinya sudah mentok ke kasurnya Fauzan, lalu ia terduduk di sana.


Hanna berusaha untuk tidak menangis lagi, cukup dengan menitikkan air mata saja. Jangan sampai ia menangis.


“Hanna!” panggil seseorang dengan suara lemah.


Hanna yang hafal dengan suara itu langsung menghapus jejak air matanya. Dan langsung berbalik menghadap orang itu.


“Iya. Oh ya, lo udah dari tadi ya datangnya?” tanya Fauzan sambil duduk di tepi kasur karena merasa tidak kuat berdiri lama.


“Nggak, baru aja kok,” jawab Hanna sambil berusaha untuk tetap tersenyum.


“Ya udah, ini makanannya! Kata Mama lo cepat makan lalu minum obat!” lanjutnya.


“Oh, makasih udah mau bawain. Dan maaf sudah ngerepotin lo!” Fauzan merasa tidak enak.


“Gak pa-pa. Kalau gitu gue pamit dulu, ya. Karena banyak yang harus gue lakuin!” pamit Hanna.


“Cepet banget, gak mau ngobrol dulu gitu sama gue!” saran Fauzan.


“Mau sih, tapi satu minggu lagi gue berangkat!”


“Oh, satu minggu ya.” Fauzan berusaha untuk tersenyum. “Kalau gue nanti tiga hari dari sekarang berangkat ke Amerika.”


“Berarti sabtu, ya?”


“Iya.”


“Ya udah, gue pergi dulu!”


Hanna pun berjalan meninggalkan kamar Fauzan.


Dan Fauzan hanya menatap punggung Hanna yang perlahan menghilang.

__ADS_1


“Hufftt! Gue harap bisa melihat Hanna sebelum gue pergi ke Amerika!”


Tak lama kemudian Istia datang ke kamar Fauzan.


“Zan, itu Hanna nya kenapa kok langsung pulang?” tanya Istia.


“Katanya ada yang harus dia urus.”


“Oh, begitu. Sayang sekali ya gak ada yang nemenin kamu sekarang, karena Mama harus ke tempat kerja dulu sebentar, gak pa-pa kan?”


“Gak pa-pa, Ma. Aku kan bukan anak kecil lagi, hehe.” Fauzan terkekeh pelan.


“Ya udah. Itu makanannya Jangan lupa di makan, terus minum obat, oke.”


“Siap, Ma.”


“Kalau gitu Mama pergi dulu!” pamit Istia sambil mengecup pucuk kepala Fauzan lalu mengusapnya.


Setelah itu Istia pergi meninggalkan Fauzan sendirian di rumah itu.


“Hah! Sendirian lagi gue!”


🌈🌈🌈


Selama perjalanan pulang, Hanna terus meneteskan air matanya tanpa suara. Dia marah, kesal, kecewa dan sekaligus senang kepada Fauzan.


Kenapa selama ini Fauzan menutupi semuanya kalau mereka pernah saling kenal sebelumnya, dia juga mau mengingat masa lalunya bersama Fauzan. Karena ia merasa Fauzan sangat berarti di hidupnya.


Tapi sekarang sudah terlambat, tidak ada waktu lagi baginya untuk membuat kenangan bersama Fauzan sebelum mereka berpisah.


Dia juga tidak mau bicara lagi sama Fauzan sampai dia pergi ke luar negeri.


Biarlah dia saja yang sudah mengetahui semua kebenarannya.


Mungkin hari ini adalah hari terakhir dia melihat Fauzan sampai 4 tahun ke depan. Dia tidak mau mengingat-ngingat Fauzan lagi kalau itu malah membuatnya semakin sakit saja.


🌈🌈🌈


Sesampainya di rumah, Hanna langsung berlari memasuki rumah. Lalu berlalu melewati orang tua dan Haikal yang sedang duduk di ruang keluarga.


Semua orang memandang bingung kepada Hanna yang tengah menaiki tangga dengan tergesa-gesa dan juga sambil menutup mulutnya.


“Cepat banget Hanna dari rumah Fauzannya, mungkin sekitar satu jam-an!” sahut Nadin.


“Iya juga. Kenapa dia yah?” tanya Haris.


“Biar aku yang lihat!” Haikal pun pergi menyusul Hanna.


Sesampainya di depan pintu kamar Hanna.


Tok! Tok! Tok!


“Hanna! Kamu kenapa? Buka pintunya!” pinta Haikal.


Tidak ada sahutan sama sekali dari dalam kamar.


Karena Hanna tidak kunjung menjawab, Haikal pun memutuskan untuk masuk saja ke dalam, tapi pintunya terkunci.

__ADS_1


“Hanna! Buka pintunya! Kamu kenapa? Jangan buat kakak khawatir!”


🌈🌈🌈


__ADS_2