Jodohku Teman Kecilku

Jodohku Teman Kecilku
JTK-33


__ADS_3

Sekarang sudah pukul 7 malam, tapi Hanna sedang duduk termenung di balkon kamarnya. Seharusnya dia sudah berangkat menuju sekolah bersama Dilfa. Tapi mengingat ancaman itu dia jadi takut kalau itu terjadi.


Sebenarnya Hanna tidak berambisius ingin pergi ke perpisahan kelas 12 ini. Kalaupun dia pergi, Hanna hanya ingin melihat kinerja nya Fauzan saja. Bagaimana jika Fauzan sedang berada dalam keadaan begini? Apa dia sangat serius atau malah biasa saja? Dia jadi penasaran?


“Ah! Kenapa gue jadi mikirin Fauzan?” batin Hanna sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Dret! Dret!


Suara handponenya berbunyi menandakan ada telepon masuk.


Hanna pun segera mengambil handpone nya dan melihat siapa yang menelpon.


Fauzan is calling...


“Panjang umur nih anak,” gumam Hanna.


Tak lama kemudian Hanna mengangkat teleponnya.


“Kenapa telepon gue? Lo kan lagi sibuk. Urusin aja itu acara!” cerocos Hanna tanpa salam.


“Assalamu’alaikum,” salam Fauzan dengan nada mengejek.


Hanna diam sebentar mendengar salam Fauzan.


Tapi tak lama kemudian dia menjawabnya, “Waalaikumussalam.”


“Baru aja di angkat langsung nyerocos aja,” ujar Fauzan.


“Biarin. Kenapa nelepon gue?” tanya Hanna.


“Lo gak dateng, Han? Tadi gue lihat Dilfa keluar dari mobilnya sendiri. Emang lo kenapa gak dateng?”


Hanna hanya diam saja mendengar pertanyaan Fauzan.


“Kok lo diam aja?”


“Gue tiba-tiba gak enak badan,” jawab Hanna.


Di seberang, Fauzan hanya menaikkan sebelah alisnya heran.


“Beneran? Gak bohong kan lo?” curiga Fauzan.


“Heem.” Hanna hanya berdehem.


“Terus tadi sepulang sekolah lo kemana?” tanya Fauzan.


“Kepo lo. Udah ya gue lemes banget, mau tidur. Wassalamualaikum,” salam Hanna cepat. Lalu ia menutup teleponnya sepihak.


“Huft.” Hanna menghela napas panjang, lalu ia pun bangkit dan segera masuk ke kamarnya.


🌈🌈🌈

__ADS_1


Setelah Hanna menutup teleponnya. Fauzan hanya diam saja melihat handponenya dengan tatapan sulit di artikan.


Angga yang melihat Fauzan terdiam setelah menelepon pun segera menghampirinya.


“Ada apa, Zan?” tanya Angga.


“Gue rasa ada yang aneh deh sama Hanna,” ujar Fauzan.


“Aneh gimana?”


“Dia itu tiba-tiba gak dateng aja ke perpisahan kelas 12. Katanya dia lemes gitu. Tapi dari suaranya dia kayak fine-fine aja,” jelas Fauzan.


“Mungkin dia gak mau kelihatan lemah di mata lo, Zan.” Angga mencoba untuk membuang pikiran-pikiran buruk Fauzan.


“Ya, semoga aja dia gak kenapa-napa?” harap Fauzan.


“Aamiin ... dan mending lo samperin aja ke rumahnya besok!” saran Angga.


“Detik ini juga bisa.”


“Lo lupa kalau ada tanggung jawab yang lain disini!”


“Ya ... maaf. Ya sudah nanti kalau selesai acara perpisahan gue ke rumahnya.”


“Emang lo gak capek apa setelah acara perpisahan langsung ke rumah Hanna. Gak sabaran banget lo,” goda Angga.


“Nggak biasa aja,” ucap Fauzan sambil berlalu meninggalkan Angga.


“Dasar bucin,” gumam Angga sambil menggelengkan kepalanya.


🌈🌈🌈


Dia termenung, apa dia lagi berkorban demi keselamatan Fauzan.


Tapi kenapa dia harus berkorban? Diakan bukan siapa-siapa nya Fauzan.


Dan ia merasa sudah pernah kenal dengan Fauzan sebelumnya. Tapi dia tidak ingat punya teman yang namanya Fauzan. Bahkan dia sedari kecil tinggal di luar negeri. Jadi tidak mungkin dia kenal dengan Fauzan sebelumnya.


Kalau saja ancamannya bukan mau membunuh Fauzan, mungkin dia lebih baik datang ke perpisahan kelas 12. Sekalian melihat kakak kelas yang keren-keren dengan pakaiannya dan juga melihat cara kerja Fauzan itu bagaimana.


Tok! Tok! Tok!


“Hanna, kamu udah tidur?” tanya Nadin setelah mengetuk pintu lalu ia membuka pintunya dan segera menghampiri Hanna yang sedang berbaring.


“Belum, Ma,” jawab Hanna sambil bangun dari tidur nya.


“Udah minum obat?” tanya Nadin.


“Belum, Ma,” jawab Hanna jujur.


“Bukan belum. Tapi gak mau minum obat,” lanjutnya dalam hati.

__ADS_1


“Ya sudah mending kamu segera minum obat! Udah Mama siapin tuh di atas laci,” tunjuk Istia ke arah laci.


“Iya, Ma,” ucap Hanna.


“Maaf Ma aku bohong,” batin Hanna gak enak.


“Ya sudah Mama ke kamar dulu. Kamu kalau udah minum obat nya langsung tidur ya!” titah Nadin sambil berjalan menuju pintu kamar.


“Iya, Ma.”


Nadin pun pergi meninggalkan kamar Hanna setelah menutup pintunya.


“Huft!” Hanna menghela napas lalu membaringkan tubuhnya kembali tanpa mau meminum obatnya.


“Gue ngerasa aneh, kenapa laki-laki itu nyebut gue sister? Apa gue ada hubungannya dengan laki-laki itu?” gumam Hanna.


🌈🌈🌈


Di sekolah kini semua murid kelas 12 dan beberapa siswa dari kelas 11 dan 10 sudah hadir.


Dan sekarang sudah saat nya acara di mulai.


🌈🌈🌈


Setelah acara penyambutan dan pembagian piagam kepada seluruh kelas 12.


Kini saatnya acara utama. Yaitu penampilan-penampilan dari kelas 12. Dan ada juga dari kelas 10 dan 11.


“Hai, Zan!” panggil Nayla kepada Fauzan yang sedang berdiri dekat stan makanan.


“Oh, Nayla. Ada apa?” tanya Fauzan.


“Nggak ada sih. Cuman nyapa doang,” ucap Nayla sambil mengambil minum.


Fauzan hanya menganggukkan kepalanya dan beralih ke panggung yang sedang menampilkan band dari kelas 12.


“Hanna gak datang, yah?” tanya Nayla.


“Iya, nggak,” jawab Fauzan dengan tatapan masih ke panggung.


“Kenapa ya kok Hanna gak jadi dateng?”


“Gue juga gak tahu.”


“Aneh gak sih Hanna tiba-tiba gak bisa datang?” tanya Nayla.


“Iya, gue juga ngerasa aneh sama Hanna hari ini. Em ... lo bisa tanyain lagi gak, Nay?”


“Oke, aku akan coba telepon Hanna. Aku kesana dulu yah!” pamit Nayla.


“Iya.”

__ADS_1


🌈🌈🌈


TBC


__ADS_2