
"Oke lanjut ke pertanyaan terakhir, kali ini pertanyaannya berupa teka-teki," jelas Pak Johan.
Deg! Deg!
Semua murid diam menunggu pertanyaan selanjutnya dengan jantung yang berdebar kencang.
"Ada suatu bilangan, yang jika dikalikan dengan berapapun, hasilnya tetap sama. Berapakah bilangan yang dimaksud?"
Semua murid belum ada yang menjawab.
Beberapa detik kemudian.
"Saya, Pak," ucap Fauzan dan Hanna berbarengan.
"Ya berapa jawabannya?" tanya Pak Johan.
"Nol, Pak," jawab Fauzan dan Hanna berbarengan.
"Apa sih lo ikut-ikut aja," sewot Hanna.
"Apa sih? Lo kali yang ngikut gue."
"Lo."
"Lo."
"Udah, diem. Kalian nilainya sama-sama rata,"
Seketika Fauzan dan Hanna diam dengan mata mereka yang masih saling melirik tajam.
"Jadi sudah di putuskan yang akan mewakili lomba cerdas cermat yaitu Fauzan dan Hanna. Ditambah dari kelas IPS yaitu Nayla dan Angga," jelas Pak Johan.
"Peserta cerdas cermat nya berapa orang, Pak?" tanya Hanna.
"Tiga orang, tapi satu orang cadangan, karena sudah di perintahkan dari panitianya," jawab Pak Johan.
"Baik, mungkin segitu saja. Untuk Fauzan dan Hanna, nanti sepulang sekolah temui saya!" titah Pak Johan.
"Baik, Pak," sahut Fauzan dan Hanna dengan nada malas karena harus ikutan lomba bareng.
***
Pulang sekolah pun telah tiba.
Kini Fauzan dan Hanna sedang berada perjalanan menuju ruang guru untuk menemui Pak Johan.
Sesampainya di ruang guru. Ternyata disana sudah ada Nayla dan Angga.
"Nah! Kalian datang juga," ucap Pak Johan.
"Bapak langsung saja ya. Ini bapak akan memberikan sebuah materi yang harus kalian bahas bersama-sama. Jika kalian ada yang mau ditanyakan, bisa langsung temui bapak," jelas Pak Johan.
"Baik, Pak."
"Dan sering seringlah kalian belajar bersama, demi sekolah ya. Semangat semuanya." Pak Johan memberikan semangat kepada murid-muridnya.
***
Selama menuju ke parkiran, Fauzan, Hanna, Nayla, dan Angga hanya keheningan yang menemani mereka.
"Jadi, kapan kita akan latihan bareng?" tanya Angga memecah keheningan.
"Gimana di rumah gue aja," tawar Hanna.
"Wah! Boleh tuh. Aku ingin tahu rumah Hanna dimana," sahut Nayla.
"Oke. Besok aja ya kita mulai latihan bareng nya," ucap Hanna.
"Oke," ucap Fauzan, Nayla, dan Angga.
Mereka pun pulang ke rumah masing-masing.
***
Sesampainya di rumah, Fauzan langsung menuju ke kamarnya untuk membersihkan diri.
Setelah membersihkan diri, Fauzan merebahkan tubuhnya ke atas ranjang.
"Kok gue senang ya, kalau gue bakal selalu bareng sama Hanna. Ya meskipun Hanna belum mengingat gue. Tapi setidaknya gue selalu bisa melihat Hanna setiap hari," gumam Fauzan.
__ADS_1
"Hanna siapa, Zan?" tanya Mama Fauzan yang sudah berdiri di samping pintu.
"Ah! Kenapa Mama selalu datang tiba-tiba?" heran Fauzan.
"Kenapa memangnya? Wajar dong kalau Mama mau lihat anaknya sendiri," ucap Mama Fauzan.
"Iya sih."
"Hanna siapa? Pacar kamu?" tanya Mama Fauzan.
"Bu-bukan, Mah. Di-dia itu, emm ...," ucap Fauzan gugup.
"Siapa? Kamu gak mau cerita ya sama Mama?" Mama Fauzan bertanya dengan nada yang di buat sedih.
"Bukan gitu, tapi ... Mama jangan bilang sama siapa-siapa yah?" mohon Fauzan.
"Iya, cerita saja!" pinta Mama Fauzan.
"Ozan sudah bertemu dengan Anna. Ma," gumam Fauzan tapi masih bisa dengar oleh Mamanya.
"A-apa, kamu serius? Anna teman kecil kamu itu? Dia masih hidup?" tanya Mama Fauzan terharu.
"I-iya, tapi Anna tidak mengenaliku, Ma."
"Kenapa?" tanya Mama Fauzan dengan nada sedih.
"Aku pernah bertemu dengan Tante Nadin, Mamanya Hanna. Dan Tante Nadin menceritakan semua pada Fauzan. Katanya Anna tidak mengingat semuanya setelah usai Operasi beberapa tahun lalu, bahkan Anna sempat tidak mengingat kedua orangtuanya," jelas Fauzan.
"Astagfirullah!" Mama Fauzan menutup mulutnya kaget mendengar itu.
Tak terasa kedua mata Fauzan meneteskan air mata.ย Air mata itu menunjukkan rasa senang karena bisa bertemu dengan gadis kecilnya dan sedih karena ternyata gadis kecilnya tidak mengingatnya sama sekali.
Melihat anaknya meneteskan air mata, ia ingin membantu, tapi ia tak bisa melakukan apa-apa. Ia hanya bisa menenangkan anaknya.
"Yang pentingkan, Anna sudah kembali."
"Iya, Ma. Tante Nadin juga meminta kepada Fauzan untuk selalu di samping Hanna, bagaimanapun keadaannya. Dan juga ia meminta untuk tidak memberi tahu terlebih dahulu tentang identitas Fauzan. Biarkan Anna mengingat dengan sendirinya tanpa di paksa orang lain," jelas Fauzan dengan nada pelan.
"Ya udah, kamu jalani aja dengan baik," pinta Mama Fauzan.
Fauzan hanya menganggukan kepalanya.
"Mau dong. Emang ada?" tanya Mama Fauzan.
"Ada. Waktu ngobrol aku sempat minta nomornya, nih," ucap Fauzan sambil menyodorkan nomor Tante Nadin.
"Ah! Nanti Mama akan menghubunginya."
Fauzan hanya tersenyum
***
Keesokan harinya.
Setelah sepulang sekolah, mereka berempat langsung menuju ke rumah Hanna untuk latihan bersama.
Sesampainya di rumah Hanna.
"Ayo duduk!" pinta Hanna.
"Iya."
"Aku ke atas dulu, ya," pamit Hanna.
Mereka hanya menganggukan kepalanya.
"Zan, lo pernah kesini, kan?" tanya Angga.
"Iya," jawab Fauzan.
"Eh! Nay, lo udah nanya ke Hanna belum soal dia pernah amnesia atau belum?" tanya Angga ke Nayla.
"Belum, aku gak tega. Takut dia kambuh lagi. Kan, kasihan," jawab Nayla.
"Iya, sih."
"Kalian tanya ke Mamanya aja," saran Fauzan.
"Cakep," sahut Angga dan Nayla berbarengan menjulurkan jempolnya.
__ADS_1
"Eh! Ada Fauzan dan teman-temannya," ucap Mama Hanna yang datang dari ruang keluarga.
"Iya, tante."
"Katanya kalian terpilih untuk mewakili lomba cerdas cermat ya?" tanya Mama Hanna.
"Iya, Tante. Alhamdulillah," jawab semuanya.
"Em ... Tante. Katanya mereka ingin tahu," ucap Fauzan sambil menatap mata Mama Hanna seolah mengisyaratkan sesuatu.
Melihat tatapan Fauzan kepadanya, ia langsung mengerti.
"Kalian bener ingin tahu?" tanya Mama Hanna ke Nayla dan Angga.
"Iya, Tan. Kalau boleh tahu," ucap Angga.
"Baiklah. Jadi begini ...." Mama Hanna menceritakan semuanya dengan jelas, kecuali tentang Fauzan dan Hanna adalah teman waktu kecil.
Nayla mendengar cerita dengan mata yang berkaca-kaca. Dan Angga hanya mengusap punggung Nayla menenangkan.
Setelah mendengar cerita dari Mama Hanna. Semua yang ada disana hanya diam, tidak ada yang membuka suara.
Hingga Hanna datang memecahkan keheningan dengan berkata, "Kok pada diem, sih?"
"Eh ... ah! Mungkin hanya kebetulan, pas kamu datang kitanya lagi pada diem-dieman," jelas Mama Hanna.
"Oh." Hanna hanya menganggukan kepalanya.
"Ya udah, Mama ke dapur dulu ambil makanan dan minuman buat kalian," pamit Mama Hanna.
"Makasih, Tante. Maaf merepotkan," ucap Nayla.
"Tidak apa-apa." Mama Hanna pun berlalu ke dapur.
"Ngomongin apa kalian tadi sama Mama?" tanya Hanna sambil menatap temannya.
"Hanya tentang perlombaan," jawab Angga.
"Oh."
"Ya udah kita mulai saja," ajak Fauzan.
Mereka pun belajar dan latihan bersama untuk menghadapi lomba cerdas cermat mendatang.
***
Tiga jam sudah berlalu.
Kini mereka sedang membereskan buku-buku untuk segera pulang.
"Besok kita latihan lagi, ya," ajak Hanna.
"Pastinya," sahut Nayla dengan semangat.
"Iya, dan besok kita harus menemui Pak Johan untuk menanyakan materi halaman 20, kan," ucap Angga.
"Iya, kita besok temui Pak Johan," ucap Fauzan.
"Ya udah kita pulang dulu ya, Haney," ucap Nayla sambil memeluk Hanna.
"Ah ah, Iya. Lepas! Sesak ini," pinta Hannaย sambil menahan napas.
"Udah, Nay. Bisa mati anak orang," sahut Fauzan.
Nayla pun melepaskan pelukannya.
"Ngedoain gue mati lo," ucap Hanna kesal.
"Nggak."
"Lo ...."
"Udah, bisa-bisa kita gak pulang-pulang kalo harus nungguin kalian debat dulu," lerai Angga.
"Ya udah kita pulang," pamit Nayla.
Mereka pun pulang ke rumah masing-masing.
"Kenapa sih? Semenjak kenal Fauzan, perasaan jadi gue aneh gini," batin Hanna memegang dadanya sambil melihat temannya mulai menjauh.
__ADS_1
๐๐๐