Jodohku Teman Kecilku

Jodohku Teman Kecilku
JTK-36


__ADS_3

Kini Fauzan sedang mengendarai mobil menuju ke suatu tempat bersama Hanna yang sedang duduk di samping kemudi.


"Kita mau kemana lagi?" tanya Hanna dengan nada cuek.


"Lo maunya kemana?" tanya Fauzan balik.


"Terserah lo," jawab Hanna.


"Kebiasaan kalau cewek ditanya, pasti jawabnya terserah," gumam Fauzan tapi masih bisa di dengan oleh Hanna.


"Ya kemana aja. Gue gak terlalu tahu daerah sini," gerutu Hanna.


"Lo suka binatang apa saja?" tanya Fauzan.


"Banyak. Yang lucu-lucu dan nurut pokoknya."


"Oke." Fauzan pun mempercepat lagi mobilnya.


...🌈🌈🌈...


Sudah hampir tiga puluh menit mereka berkendara. Tapi Fauzan belum juga memberhentikan mobilnya.


"Zan, masih lama gak sih. Ini kita udah mulai memasuki area gunung," ujar Hanna.


"Iya, ini kita bentar lagi sampai kok," ucap Fauzan.


"Sebenarnya kita mau kemana?" tanya Hanna.


"Ketemu hewan lucu," jawab Fauzan sambil tersenyum tipis. "Entah kenapa perasaan gue jadi gak enak," batin Fauzan.


"Kenapa perasaan gue gak enak ya," batin Hanna.


Tiba-tiba dari arah belakang ada sebuah mobil yang melaju kencang menuju ke arah mereka.


Jalanan disana saat ini sangat sepi, hanya ada kedua mobil itu yang sedang saling kejar-kejaran.


"Zan, mereka siapa?" tanya Hanna panik.


"Gue gak tahu. Jangan panik, Han!" peringat Fauzan.


"Tapi ...." Ucapan Hanna terpotong karena ban mobil yang mereka naiki meledak, karena mobil yang mengejar mereka menembakkan peluru ke arah bannya.


"Zan, rem!" titah Hanna.


Fauzan memutuskan untuk ngerem mobilnya, tapi tidak bisa.


"Rem nya blong, Han," ujar Fauzan pelan.


"APA!" teriak Hanna panik.


"Ini gimana, kenapa gak ada orang sih?" kesal Hanna.


"Tenang, Han!" titah Fauzan yang berusaha tenang. Meskipun sekarang jantungnya sudah berdebar kencang.

__ADS_1


Tiba-tiba mobil yang mengejar mereka menyalibnya sehingga membuat Fauzan membanting setirnya dan masuk ke arah jurang dan menabrak pohon.


Keadaan Fauzan dan Hanna sekarang sudah pingsan dengan kepala mereka yang dipenuhi dengan darah.


Orang yang mengejarnya pergi begitu saja meninggalkan Fauzan dan Hanna. Yang untungnya mobil mereka tidak terjatuh terlalu dalam, hanya saja mobil mereka sekarang mengangkut diantara pepohonan.


...🌈🌈🌈...


Dua hari kemudian...


Seorang wanita paruh baya tengah menatap lesu ke arah ranjang yang memperlihatkan seorang laki-laki sedang berbaring dengan perban yang melilit di kepalanya.


Dia, Fauzan. Setelah beberapa jam berada di jurang. Dan akhirnya di temukan oleh sekelompok anggota pramuka yang tengah melakukan penjelajahan.


Fauzan dan Hanna dilarikan ke rumah sakit dalam keadaan kritis.


Awalnya pada saat di tengah perjalanan menuju rumah sakit, Hanna sempat kehilangan nadinya. Tapi untungnya dokter berhasil menyelamatkannya.


Sudah dua hari juga Fauzan dan Hanna belum membuka mata.


Nayla dan Angga juga sudah diberi tahu oleh Dilfa. Itu pun Dilfa diberi tahu oleh Firza.


Mereka berempat, Nayla, Angga, Dilfa, Firza baru saja tiba di rumah sakit untuk menjenguk Fauzan dan Hanna.


"Tan, bagaimana keadaan Fauzan?" tanya Firza saat saat melihat Mama Fauzan, keluar dari ruangan.


"Belum sadar, dan ... masih kritis," jawab Mama Nadin pelan.


Semua orang yang mendengarnya hanya bisa menutup mulutnya khawatir dan berdoa untuk kesembuhan Hanna dan Fauzan.


Mama Fauzan hanya bisa menganggukan.


Semuanya hanya menghela napas mendengar jawaban Mama Fauzan.


Ruangan tempat di rawat Fauzan dan Hanna memang berdampingan.


"Kenapa ini bisa terjadi?" tanya Angga pelan.


"Memang sudah takdir mereka begini," gumam Mama Fauzan.


"Dilfa!" panggil Angga. "Ikut gue!" titahnya sambil menuju koridor sepi.


Dilfa pun mengikuti arah kemana Angga pergi.


Sesampainya di koridor sepi.


"Ada apa?" tanya Dilfa.


"Menurut lo, ada dalangnya gak di balik kecelakaan ini?" tanya Angga.


"Em ... emang nya Fauzan atau Hanna punya musuh, sampai mereka mau mencelakai Fauzan dan Hanna?"


"Kalau sama Hanna sih kayaknya ada aja gitu orang yang gak suka sama dia. Tapi kalau Fauzan ... gue gak tahu," ujar Angga.

__ADS_1


"Iya, sih. Tapi kita gak boleh su'udzon dulu. Tunggu Hanna dan Fauzan sadar, baru kita tanya sama mereka, gimana?"


"Oke."


...🌈🌈🌈...


Satu minggu kemudian...


Hanna dan Fauzan belum juga sadar dari tidurnya. Tapi mereka sudah melewati masa kritisnya 2 hari yang lalu.


Selama seminggu juga Dilfa dan Angga suka menginap di rumah sakit untuk berjaga-jaga takutnya ada yang mau mencelakai mereka.


Firza dan Nayla juga suka berjaga, tapi hanya pada waktu siang saja.


Sekarang Angga berada di ruangan Hanna bersama Istia.


Tiba-tiba ada seorang suster yang masuk dan membawa sebuket bunga kamboja.


"Permisi, Bu. Ini ada titipan bunga," ucap suster itu.


"Ah!" Nadin merasa kaget dengan Jenis bunga itu. Tapi tak urung dia mengambil bunga itu.


"Dari siapa, ya?" tanya Nadin.


"Dari seorang pemuda, dia memakai topi hitam," jawab suster itu.


"Namanya siapa, Sus?" tanya Angga.


"Saya tidak tahu. Tapi sepertinya di dalam bunga itu ada suratnya," tunjuk suster itu ke arah bunga.


"Oh makasih, Sus," ujar Mama Hanna.


Lalu suster itupun berlalu dari sana.


"Tan, biar saya baca isi suratnya!" pinta Angga.


Mama Hanna pun memberikan suratnya pada Angga lalu kembali menatap bunga kamboja itu.


Mata Angga membulat setelah membaca isi surat itu.


"Kenapa?" tanya Nadin.


"Silahkan tante baca!" Angga menyerahkan surat itu dan mengambil alih bunga kamboja.


Nadin hanya menutup mulutnya dengan mata yang berkaca-kaca.


Gue tunggu kabar buruknya.


Bro


H.P


Itu lah isi suratnya.

__ADS_1


...🌈🌈🌈...


__ADS_2