Jodohku Teman Kecilku

Jodohku Teman Kecilku
JTK-55


__ADS_3

Empat tahun kemudian...


Kini Fauzan sedang berada di apartemen nya. Dia baru saja pulang dari sidang terakhirnya yang sangat membuat nya pusing.


Sekaligus membuatnya frustasi karena di tambah sudah hampir dua bulan dia belum mengabari Hanna dan teman-temannya. Karena handponenya hilang saat dia sedang ada tugas ke luar kota.


“Argh! Gue lupa lagi nomor nya Hanna,” gerutu Fauzan.


“Yang gue inget cuma nomor Mama dan Papah,” lanjutnya.


Ting! Nong!


Suara bel pintu apartemen berbunyi menandakan ada tamu.


“Tumben ada tamu,” heran Fauzan.


Tapi tak urung dia segera beranjak menuju pintu.


Ceklek!


Saat Fauzan membukakan pintu, dia terkejut karena tiba-tiba ada seseorang yang memeluknya sangat erat.


“Sayang, kamu kemana aja, kok gak ada kabar?”


🌈🌈🌈


Di sisi lain, Hanna sedang berada kampusnya, karena hari ini dia akan melakukan sidang kelulusan.


Sudah hampir dua bulan Hanna tidak merasa semangat karena tidak ada kabar dari Fauzan. Semua teman-temannya pun sama tidak tahu bagaimana kabar Fauzan. Di tambah orangtuanya Fauzan, mereka kurang tahu kabarnya, tapi seingat mereka. Fauzan sedang fokus untuk melakukan sidang terakhirnya.


“Semoga saja Fauzan baik-baik saja,” harap Hanna.


“Hanna, kenapa kamu terlihat tidak semangat? Padahal hari ini kan kamu sidang, seharusnya semangat dong, tidak usah gugup! Tenang okey!” sahut seorang pria yang baru saja datang lalu duduk di samping Hanna dalam bahasa Jerman.


“Terima kasih, John. Aku hanya rindu seseorang di luar negeri sana,” ucap Hanna dalam bahasa Jerman.


“O-oh, begitu. Okey aku mengerti.” Ada sedikit nada kecewa di perkataan John. “Tapi kamu harus tetap tenang, okey. Ini juga supaya kamu cepat lulus lalu bisa bertemu deh dengan seseorang yang kamu rindui itu,” lanjutnya.


“Iya, terima kasih, John.”


“Sama-sama.”


Sudah dua jam berlalu, dan Hanna pun sudah lulus dari Universitas tersebut. Sekarang dirinya akan pulang ke rumah Nenek Kakeknya.


Ya, selama kuliah disini, dia memilih tinggal di rumah Kakek Neneknya. Selain keamanannya yang terjamin, juga tidak perlu mengeluarkan biaya untuk tempat tinggal.


Sekarang Hanna sudah berada di rumah Kakek Neneknya.


Dia langsung menuju dapur untuk mengambil minum.


“Hanna, kamu sudah pulang?” tanya seorang wanita.


“Iya, Nek! Aku—“ Ucapan Hanna terhenti karena yang dia lihat bukan Neneknya, tapi itu Mamanya.


“Mama!” panggil Hanna sambil menaruh gelas lalu segera menghampiri Mamanya kemudian ia memeluknya sangat erat.

__ADS_1


“Hanna, sayang! Mama rindu sama kamu!”


“Aku juga, Ma!” Hanna mempererat pelukannya.


“Yuk, kita duduk!” ajak Nadin setelah menguraikan pelukannya.


Mereka berdua pun pergi ke ruang keluarga untuk mengobrol.


Dan ternyata disana sudah ada Haikal, Haris, serta Nenek dan Kakeknya.


“Papah, Bang Haikal!” Hanna segera menghampiri mereka lalu memeluknya secara bergantian.


“Kapan kalian datang? Kok gak ngasih tahu aku, sih?” kesal Hanna.


“Biar surprise,” sahut Haikal.


“Surprise dari Hongkong,” gumam Hanna.


“Oh ya ngomong-ngomong. Cie ... Bang Haikal udah gak jomblo nih,” lanjutnya menggoda Haikal.


“Apaan, sih?” tanya Haikal dengan telinga yang memerah.


“Yhaa!! Salting ya, Kak! Hahaha!” Hanna pun tertawa.


“Ekhm! Hanna!” tegur Haris.


Tawanya pun sedikit mereda karena mendengar Papahnya memanggilnya. “Iya, Pah?” tanya Hanna.


“Papah mau bicara serius sama kamu,” ucap Haris dengan nada serius.


“Apa, Pah?” tanya Hanna sambil melirik Haikal seolah bertanya ada apa.


“Kamu mau, yah, kenalan sama Azzam!” pinta Haris.


“Hah?” Hanna dan Haikal hanya mengerutkan keningnya bertanya bingung.


“Gini, nanti setelah kamu wisuda. Kamu pasti bakal pulang ke Indonesia. Tapi sebelum pulang kita bakal ke Korea dulu bertemu dengan Azzam. Kalian perkenalan aja dulu. Nanti kalau cocok bisa di lanjut ke jenjang yang lebih serius!” jelas Haris.


“Hah! Jadi maksudnya aku bakal di jodohin, gitu?” tanya Hanna dengan alis menyatu.


“Papah gak akan maksa. Tapi Papah berharap kamu mau yah kenalan dan bertemu dulu sama Azzam!” pinta Haris lagi.


“Pah, Azzam orang Korea, yah? Tapi kok namanya beda banget sama nama orang Korea pada umumnya?” heran Haikal.


Haris hanya terkekeh mendengar perkataan Haikal. “Haha! Bukan, Azzam orang Indonesia, kok. Hanya kita aja janjiannya di Korea. Sekalian liburan, ya gak?” tanya Haris.


“Oh ... haha! Iya, Pah. Mau banget dong liburan ke Korea. Tapi, boleh gak aku ajak Keisya?” tanya Haikal. Oh ya, Keisya adalah nama tunangannya Haikal.


“Boleh, dong. Tapi kenapa jadi Haikal sih yang antusias ke Koreanya? Hanna, kamu mau kan?” tanya Haris lagi.


“I-iya, Pah.” Dengan berat hati Hanna mengiyakan permintaan Papahnya.


“Tenang, Hanna! Papah gak akan maksa kamu nikah sama dia kok. Cuman kenalan doang. Iya, cuman kenalan doang,” batin Hanna.


“Ya, sudah. Kalau gitu aku ke kamar dulu!” pamit Hanna. Lalu dia pun beranjak menuju kamarnya.

__ADS_1


“Pah, Azzam siapa, yah? Kok Papah gak ngasih tahu aku sih?” tanya Haikal.


“Kamu gak perlu tahu sekarang. Nanti aja!”


“Loh, kok?”


“Yuk, Ma. Kita ke kamar!” ajak Haris. Dan tinggalah


Di ruang keluarga kini hanya tersisa Haikal, Nenek dan Kakeknya.


“Nek, Kek! Kalian tahu gak siapa itu Azzam?” tanya Haikal.


“Kami gak tahu, Kal. Makanya dari tadi kita diam terus. Karena sepertinya Papah kamu serius sama ucapannya. Jadi mending kita gak usah nyela,” ucap Neneknya.


“Yaahh!! Ish, Mama sama Papah main rahasia-rahasiaan ya sekarang. Kan aku kepo Azzam itu seperti apa rupanya. Apa dia blasteran Korea atau gimana? Kalau blasteran Korea semoga aja Keisya gak berpaling sama si Azzam-Azzam itu, karena Keisya kan tergila-gila banget sama yang namanya K-Pop dan drakor,” gerutu Haikal.


“Kenapa kamu jadi banyak ngomong sih, Kal. Sakit telinga kakek dengernya!” tegur Kakeknya.


“Eh maaf, Kek. Gak sengaja!” Haikal menyatukan kedua telapak tangannya.


“Iya, ya sudah.”


🌈🌈🌈


“Sayang kamu kok gak ada kabar, sih. Kan Mama jadi khawatir,” ucap Istia ke Fauzan yang sudah duduk di kursi ruang tamu.


“Maaf, Ma. Handpone Fauzan hilang waktu tugas ke luar kota. Dan belum beli yang baru,” jelas Fauzan.


Alex terkejut mendengar itu.!“Astaghfirullah, handpone kamu hilang!”


“Iya, Pah. Maaf ya sudah bikin kalian khawatir!” Fauzan menundukkan kepalanya.


“Ya sudah, tidak apa-apa. Yang penting kamu baik-baik saja.” Istia mengelus-ngelus pundak Fauzan.


“Kamu ... sudah lulus, kan?” tanya Alex.


“Iya, Pah. Alhamdulillah.”


“Kamu wisudanya kapan?” tanya Alex.


“Sebulan lagi,” jawab Fauzan.


“Nah! Nanti setelah kamu wisuda, kamu ikut kami menemui Putri!” pinta Haris.


“Putri? Putri siapa?” tanya Fauzan yang sudah curiga.


“Dia anak teman Papah. Papah ingin kamu bertemu dan berkenalan dengan dia, tidak lebih kok. Tapi ya ... kalau cocok, boleh lah kalian tunangan terus menikah!” jelas Alex.


“Aku tidak mau, Pah. Aku lagi nunggu Hanna!” tolak Fauzan.


“Papah gak maksa kamu buat sama Putri. Papah cuman minta ketemu sama dia terus kenalan, itu aja!” ujar Haris.


“Mau, ya!” pinta Istia lembut sambil memegang tangan Fauzan.


“Oke,” putus Fauzan dengan nada melemah.

__ADS_1


Mendengar itu Alex dan Istia langsung tersenyum lebar.


🌈🌈🌈


__ADS_2