
Keesokan harinya ...
Pada pukul 6.45, Fauzan, Hanna, Nayla dan Angga sudah berada di parkiran bersama Pak Johan dan Pak Joko yang sebentar lagi akan berangkat dengan menaiki mobil milik Pak Joko selaku Kepala sekolah, tetapi akan dikendarai oleh Pak Johan.
"Baik anak-anak, sebelum berangkat kita berdoa dulu menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Berdoa dimulai," ucap Pak Joko memimpin doa.
"Berdoa selesai. Ayo, silahkan naik! Perempuan di bangku belakang, ya!" titah Pak Joko.
"Iya, Pak," sahut Hanna dan Nayla.
Mereka pun pergi menuju tempat lomba.
Selama perjalanan, para cowok dan cewek tidak ada yang mengobrol.
Mereka hanya ngobrol dengan sesama jenis mereka saja. Karena susah kalau ingin mengobrol.
Sedari tadi lidah Fauzan terasa gatal ingin mengobrol dengan Hanna. Tapi dia urungkan karena Hanna ada di belakang bersama Nayla.
Hingga ia pun memutuskan untuk mengechat Hanna.
Ting!
Suara handpone Hanna berbunyi.
"Siapa sih?" gumam Hanna. Lalu ia pun membuka handponenya.
Setelah melihat siapa yang chat, dia hanya berdecak kesal.
FauzanMA
Han, kita diem-diem bae sih?
Fauzan mengechatnya, padahal mereka berdekatan gini. "Apa mungkin karena canggung ya?" batin Hanna.
Hanna pun memutuskan untuk membalasnya.
HannaPRora
Terus maunya apa? Nyanyi gitu?
FauzanMA
Ya gak nyanyi juga. Lihat situasi dong, malu kalo nyanyi.
HannaPRora
Ya kalo ngobrol juga susah, Zan. Tempat duduk kita beda.
FauzanMA
Ya, sih. Tapi Angga aja chatan sama Nayla tuh, lihat aja.
HannaPRora
Iya, sih. Nayla juga kelihatan lagi chatan sama Angga. Sambil senyum-senyum lagi.๐
FauzanMA
Sama, Angga juga. Mereka udah gak w**** kali.๐
HannaPRora
Hahaha. Zan, gak sadar apa secara gak langsung kita lagi ngobrol. Ngomongin orang lain lagi.
FauzanMA
Iya juga sih๐
"Kalian kalau mau tidur. Tidur aja, gak usah malu." Suara Pak Johan mengagetkan mereka berempat.
__ADS_1
"Eh! Iya, Pak. Makasih," ucap Angga mewakilkan teman-temannya.
Pak Johan hanya menganggukkan kepalanya.
FauzanMA
Tuh, tidur sana! Mumpung ditawarin. Daripada bengong gak jelas.
HannaPRora
Iya. Lo juga. Untung gue di belakang jadi gak terlalu keliatan sama guru kalo tidur๐
FauzanMA
Iya. Selamat! Anda beruntung kali ini.๐
HannaPRora
Hahaha๐
Mereka pun mengakhiri chatan nya. Dan langsung pergi ke dunia mimpi.
***
Setelah melewati perjalanan selama 3 jam.
Akhirnya mereka sampai di tempat lomba yang berada di salah satu universitas disana.
"Nah! Kalian istirahat aja dulu sambil menghafal pelajaran yang sudah dipelajari," ucap Pak Johan.
"Iya, Pak."
"Kita akan daftar ulang. Kalian duduk aja di tempat yang sudah disediakan, jangan keluyuran terlalu jauh," perintah Pak Joko.
"Siap, Pak."
Pak Joko dan Pak Johan pun pergi.
"Eh! Mana Hanna?" tanya Nayla saat ia tidak melihat Hanna di sampingnya.
"Iya, ya. Mana dia?" tanya Angga lagi.
Fauzan yang melihat Hanna tidak ada langsung mengedarkan pandangannya ke segala arah. Dan tepat pada sebuah kursi dan meja yang terbuat dari kayu, terdapat seorang perempuan yang memakai baju sama dengan miliknya tengah menelungkupkan kepalanya di atas lipatan tangan.
Fauzan pun segera menghampirinya.
"Eh! Mau kemana, Zan?" tanya Angga saat Fauzan berlalu entah kemana.
Angga dan Nayla pun pergi menyusul Fauzan.
"Han ... Hanna," panggil Fauzan sambil menepuk bahu Hanna pelan.
"Em ...," gumam Hanna pelan.
"Lo kenapa?" tanya Fauzan berusaha tidak panik.
Fauzan pun meletakkan tangannya di atas dahi Hanna.
Dan ternyata dahi Hanna lumayan panas.
"Han ... Hanna, bangun ... lo sakit?" tanya Fauzan sambil menepuk bahu Hanna lumayan keras.
Karena Hanna tak kunjung bangun, Fauzan pun mengangkat bahu Hanna dan menyenderka kepalanya di dada Fauzan , dan disana terlihat wajah Hanna yang tampak pucat.
Nayla dan Angga pun datang menghampiri mereka.
"Hanna? Hanna kenapa?" tanya Nayla setelah melihat Hanna tengah bersender di dada Fauzan.
"Ke-kepala gu-gue sakit," jawab Hanna dengan nada lemah sambil memegang kepalanya.
__ADS_1
"Angga, cepat cari Pak Johan!โ titah Fauzan.
"I-Iya Iya," sahut Angga, lalu iapun berlalu mencari Pak Johan.
"Han, yang kuat yah. Lo jangan tutup mata dulu," pinta Fauzan.
"Lo kira gue bakal mati gitu," gumam Hanna kesal dengan nada lemah.
"Ya elah, gue gak maksud gitu. Intinya lo jangan tutup mata, itu aja," pinta Fauzan lagi.
"Ck! Di saat seperti ini kalian masih aja suka debat," heran Nayla sambil berdecak.
"Kita gak debat kok, cuman mau berusaha mencairkan suasana. Ya gak?" tanya Fauzan sambil menepuk pelan pundak Hanna.
Hanna hanya menganggukan kepalanya.
Tak lama datang Angga bersama Pak Johan dan Pak Joko dengan langkah tergesa-gesa.
"Hanna, kamu kenapa?" tanya Pak Johan setelah berada di samping Hanna.
"Kepalanya sakit katanya, terus dahinya agak sedikit panas," jawab Fauzan mewakilkan Hanna.
"Kita harus segera ke ruang UKS yang ada disini," ucap Pak Joko.
"Iya-iya, ayo kita bawa Hanna," ucap Pak Johan lagi yang sudah siap ingin seperti akan mengangkat Hanna.
"Biar aku aja yang gendong Hanna, Pak," tawar Fauzan, lalu ia pun menggendong Hanna dengan ala brydal style.
"Ya udah kalau gitu, ayo kita ke UKS," ajak Pak Johan.
Lalu mereka pun pergi ke UKS yang ada di Universitas tersebut.
Banyak pasang mata yang menatap mereka dengan tatapan yang berbeda.
Tapi mereka menghiraukannya, karena yang terpenting keselamatan Hanna.
***
Sesampainya di UKS.
Hanna langsung dibaringkan di salah satu ranjang yang ada disana.
"Hanna, sejak kapan kamu sakit kepalanya?" tanya Pak Joko.
"Dari masih di rumah juga sedikit pusing. Tapi aku sudah minum obat. Dan ternyata sekarang malah tambah sakit, Pak," jawab Hanna dengan nada pelan.
"Oh gitu. Terus kamu mau tetap lomba atau gimana?" tanya Pak Joko.
"Sepertinya tidak bisa. Takut aku gak bisa konsen kalau lomba. Kan, ada Angga. Bisa Angga aja yang ikut lombanya, Pak," jawab Hanna.
"Baiklah. Angga kamu siap ya?" tanya Pak Joko ke Angga.
"Siap, Pak," jawab Angga.
"Oke. Kamu istirahat aja disini, nanti ditemani oleh kakak kampus yang bertugas di UKS," ucap Pak Johan.
"Baik, Pak," ucap Hanna.
"Ayo, anak-anak! Kita harus ke tempat peserta lomba berkumpul," ajak Pak Johan.
"Iya, Pak," jawab Fauzan, Nayla dan Angga.
Mereka pun pergi meninggalkan UKS, tapi tidak dengan Fauzan. Dia mendekati Hanna terlebih dahulu.
"Lo gak papa disini dulu aja?" tanya Fauzan.
"Gak papa, gue bukan anak kecil. Udah sana nanti ditungguin!" titah Hanna.
"Iya, lo istirahat. Kalau ada apa-apa, panggil kakak-kakak aja," ucap Fauzan, dan Hanna menanggapinya hanya dengan anggukan kepala.
__ADS_1
Fauzan pun pergi meninggalkan Hanna di UKS.