Jodohku Teman Kecilku

Jodohku Teman Kecilku
JTK-43


__ADS_3

"Kamu," sahut seseorang dari ujung tangga.


"Papah," gumam Hanna sambil menatap Haris.


Semua orang yang ada di ruang tamu menatap ke arah Haris.


Tak lama kemudian, Haris berjalan cepat dan segera memeluk Haikal.


"Nak, kamu kembali," lirih Haris. Tapi Haikal segera melepas pelukan itu.


"Lepas!" titah Haikal.


Pelukan itu pun terlepas.


"Kenapa? Kamu gak rindu sama kita?" tanya Haris.


"Ngapain rindu sama orang yang sudah membuang saya," ucap Haikal dingin.


"Siapa yang membuang kamu, Nak. Kami hanya menitipkan kamu kepada Gisel waktu itu," jelas Nadin dengan mata berkaca-kaca.


"Jangan banyak alasan. Sudah ada bukti kalau kalian tidak menginginkan kehadiran saya selama ini."


"Apa buktinya?" tanya Haris yang merasa ada yang tidak beres disini.


"Tante Gisel menunjukan voice note ke saya. Dan disana kalian mengatakan bahwa kehadiran saya itu hanya sebuah petaka, dan kalian menginginkan saya menghilang," jelas Haikal menahan amarah.


"Kita gak pernah menginginkan kamu menghilang, justru kita ingin kamu selalu bersama kita. Kamu itu bukan sebuah petaka bagi kita, tapi kamu itu sebuah anugrah yang sudah Allah SWT berikan kepada kita," ungkap Haris dengan nada tegas.


"Alasan kita menitipkan kamu kepada Gisel itu, karena kamu dulu masih sangat kecil, tidak akan kuat selama perjalanan panjang. Perjalanan selama satu jam saja kamu tidak kuat, apalagi perjalanan menuju Jerman, Nak," jelas Nadin.


"Kita gak ada maksud buat membuang kamu, dan menganggap kamu itu sebuah petaka dalam hidup kami. Itu semua tidak benar, Nak. Kita gak pernah berkata seperti itu," lanjut Haris.


Haikal hanya diam saja mendengar penjelasan dari Haris dan Nadin.


Sedangkan Hanna sudah menitikkan air mata tanpa bersuara. Dan Fauzan hanya mengelus pundak Hanna menenangkan.


"Lalu yang berkata seperti itu dalam voice note, siapa? Hantu? Aku tahu betul suara kalian seperti apa," timpal Haikal.


"Kami gak tahu. Yang jelas kita tidak pernah mengatakan hal semacam itu kepada anak kami," lirih Haris.


"Seperti nya kalian sudah di adu domba!" tebak Fauzan.


"Maksud lo apa?" tanya Hanna sambil menghapus air mata yang mengalir di pipinya.

__ADS_1


"Sepertinya suara itu hanya tiruan. Seperti voice phishing," jawab Fauzan sambil menatap Haikal.


"Haikal, seharusnya lo jangan mendengarkan penjelasan hanya dari satu pihak. Dengerin juga penjelasan mereka. Dan menurut gue, penjelasan mereka sangat masuk akal. Alasan mereka menitipkan lo pada sahabatnya, karena mereka tidak mau lo kenapa-napa selama perjalanan. Bahkan mereka bilang waktu lo kecil, lo gak kuat kalau menempuh perjalanan jauh," lanjut Fauzan panjang lebar.


Haikal hanya terdiam dengan pikiran yang berkelana saat mendengar ucapan Fauzan.


"Saya butuh waktu," ucap Haikal. "Saya akan mencari tahu lebih lanjut lagi. Siapa yang bersalah disini," lanjutnya.


Haikal pun melihat jam di tangannya.


"Sudah 30 menit, saya pamit!" ucap Haikal sambil berlalu meninggalkan rumah itu.


Nadin pun menyusul Haikal ke luar rumah diikuti oleh Hanna, Fauzan dan Haris.


"Haikal, Haikal!" panggil Nadin.


Haikal pun berhenti tanpa membalikkan tubuhnya.


"Tolong tinggal beberapa menit lagi. Seenggaknya tinggalkan nomor handphone mu pada Mama!" pinta Nadin.


Tapi Haikal malah merongoh sakunya dan mengeluarkan sebuah kartu nama.


"Ini." Haikal menunjukkan kartunya lalu dilemparnya begitu saja.


Hanna pun berlalu mengambil kartu tersebut dan memberikannya kepada Nadin.


"Ini, Ma." Hanna menyodorkan kartu nama tersebut bersamaan Haris yang mendekati mereka berdua.


Nadin menerima kartu tersebut dengan air mata yang mengalir.


"Sudah, Ma. Jangan nangis. Yang penting kan Kak Haris memberikan nomornya." Hanna mencoba menenangkan Mamanya.


"Sayang, sudah. Mending kita masuk!" titah Haris sambil mengelus pundak istrinya, lalu menuntunnya masuk ke dalam rumah diikuti oleh Hanna dan Fauzan.


"Kalian duduk aja dulu, kita akan ke kamar!" titah Haris melanjutkan jalannya menuju kamar.


Setelah kepergian Haris dan Nadin ke kamar. Hanna dan Fauzan duduk di ruang tamu.


Beberapa menit keheningan melanda mereka berdua.


Sampai Fauzan memecahkan keheningan. "Dia benar kakak kandung lo, ya?" tanya Fauzan pelan-pelan.


Hanna hanya menjawabnya dengan deheman. "Hmm."

__ADS_1


"Umur dia berapa sekarang?" tanya Fauzan.


"Dua puluh satu."


"Sekarang lo tujuh belas atau delapan belas tahun, kan?" tanya Fauzan lagi. Sebenarnya dari dulu dia ingin menanyakan umur Hanna. Karena seharusnya kan sekarang Hanna masih kelas 11. Bukannya malah sekelas sama dirinya.


"Dua bulan lagi gue 17 tahun," jawab Hanna.


"Lo udah kelas 3 tapi masih menuju 17 tahun?" Fauzan pura-pura terkejut, dia sudah menduga kalau umur Hanna masih 17 tahun.


"Iya."


"Lo gak pa-pa, kan?" tanya Fauzan.


"Memang gue kenapa?" tanya balik Hanna.


"Kalau lo mau nangis atau curhat atau apalah. Lo bisa ke gue, pinjam bahu gue!" tawar Fauzan menatap Hanna lembut.


Hanna hanya terdiam mendengar tawaran dari Fauzan.


Tapi beberapa menit kemudian, tiba-tiba Hanna meletakkan kepalanya di bahu Fauzan sambil menangis dalam diam.


Dan Fauzan hanya bisa mengelus-ngelus bahu Hanna.


"Ayo keluarin semua unek-unek lo, setidaknya dengan menangis."


"Zan, gue gak nyangka kalau ternyata gue punya kakak kandung. Rasanya campur aduk antara senang, sedih, kesal, dan ... kecewa. Hiks ...."


"Apalagi Mama dan Papah. Pasti mereka lebih sakit di banding gue. Karena mereka lebih ngerasain rasanya kehilangan anak pertama mereka. Sedangkan gue ... gue aja gak tahu kalau gue punya saudara."


"Apa lo pernah ngerasa kalau lo sebenarnya punya saudara?" tanya Fauzan pelan.


"Iya, beberapa hari ini gue ngerasa kalau gue punya saudara," jawab Hanna dengan suara seraknya.


Sekarang Hanna sudah bertekad kalau ia tidak ingin bercerita kepada siapapun bahwa sebelumnya ia pernah bertemu dengan Haikal. Yaitu ketika ia di culik.


"Ya sudah, yang penting sekarang lo akhirnya punya saudara kandung. Dan lo mending banyak berdo'a. Supaya hati Haikal bisa luluh dan kembali bersama kalian lagi," nasihat Fauzan.


Tangis Hanna pun sudah berhenti, hanya menyisakan mata dan hidungnya yang memerah. Lalu ia bangkit dan kembali duduk dengan tegak.


"Seharusnya lo memanggilnya dengan Kakak atau Abang, kek. Kan dia lebih tua dari lo!" titah Hanna.


"Iya. Tapi nggak untuk sekarang," ucap Fauzan dengan tersenyum tiga jari.

__ADS_1


🌈🌈🌈


__ADS_2