Jodohku Teman Kecilku

Jodohku Teman Kecilku
JTK-41


__ADS_3

Mata Hanna membulat karena terkejut atas apa yang sudah Mamanya katakan.


Ia rasa ini gak mungkin kalau dia punya Kakak. Karena selama ini tidak ada tanda-tanda bahwa ia punya Kakak laki-laki.


"Beneran, Ma, Pah?" tanya Hanna menyakinkan.


Haris dan Nadin hanya mengangguk singkat.


"Namanya siapa, Ma, Pah?" tanya HannaΒ  yang masih kaget.


"Haikal Putra," lirih Nadin.


"Haikal Putra," gumam Hanna. Dan Haris mengangguk.


"Sekarang dia dimana?" tanya Hanna.


"Kami gak tahu dia dimana sekarang," jawab Haris.


"Kok Mama dan Papah gak tahu Abang dimana sekarang? Dia kan anak kandung kalian," ucap Hanna kaget dengan setengah teriak.


"Dulu waktu Haikal masih berumur 15 bulan, kita menitipkan Haikal ke sahabat terdekat kami karena kami akan pergi ke Jerman untuk melihat Kakek dan Nenek kalian sekaligus untuk menyelesaikan masalah perusahaan yang ada disana. Kami pergi selama seminggu. Tapi setelah seminggu kemudian, sahabat kita menghilang bersama Haikal, hiks," jelas Nadin dengan isakan di akhirnya.


"Dan tidak ada kabar sampai sekarang," lanjut Haris sambil mengelus punggung Istrinya.


"Apa? Hilang? Memangnya Mama dan Papah tidak mencari Bang Haikal?" tanya Hanna sambil menautkan alisnya.


"Kita sudah berusaha mencari Haikal dan sahabat kita. Tapi tidak ada informasi sedikit pun mengenai mereka," jawab Haris.


"Terus apa mungkin yang aku temuin waktu itu Bang Haikal," gumam Hanna.


"Kamu pernah ketemu sama Haikal?" tanya Haris.


"Aku gak yakin itu Bang Haikal. Karena aku kan gak tahu wajah Bang Haikal gimana," ucap Hanna.


"Apa kamu mau lihat foto Haikal waktu kecil?" tanya Nadin setelah isakannya mereda.


"Boleh, Ma. Memang ada?" tanya Hanna.


"Ada. Bentar Mama ambil dulu!" Nadin pun berlalu menuju kamarnya diikuti Haris.


Sedangkan Hanna menuju ruang keluarga.


Beberapa menit kemudian, Nadin datang bersama album keluarga mereka.


"Ini kan album keluarga, kok aku gak tahu kalau ada album keluarga?"


"Iya, album ini udah lama. Album ini gak pernah Mama bawa ke Jerman. Selalu di simpan di sini," jelas Nadin.


Nadin pun membuka album ini pada halaman pertama.


"Ini Haikal!" tunjuk Nadin ke sebuah foto yang disana terdapat seorang laki-laki tengah bermain mobil-mobilan.

__ADS_1


"Bang Haikal mirip sama Papah," ujar Hanna.


"Iya, memang mirip," ucap Nadin sambil tersenyum sendu.


"Sekarang Bang Haikal umurnya berapa, Ma?" tanya Hanna.


"Kalau sekarang mungkin sudah berumur 21 tahun," jawab Nadin sambil memandang foto Haikal saat masih bayi dengan tatapan kerinduan.


"Em ... kira-kira kenapa ya sahabat Mama menghilang bersama Bang Haikal?" tanya Hanna sambil menatap Mamanya sendu.


"Kita juga gak tahu alasannya apa. Karena kita rasa selama ini hubungan kita baik-baik aja, tidak ada masalah," jawab Nadin.


"Ya sudah kamu lanjut aja lihat-lihat, Mama mau ke dapur dulu beres-beres!" lanjutnya sambil berdiri dari duduknya.


"Papah mana, Ma?" tanya Hanna.


"Sedang menelepon di kamar," jawab Nadin sambil berlalu dari ruang keluarga menuju dapur.


Setelah kepergian Mamanya, Hanna melanjutkan melihat-lihat album ini.


Pada album tersebut awal-awalnya hanya ada foto Bang Haikal, Mama dan Papahnya. Mungkin album ini sudah ada sebelum dirinya ada di dunia.


Waktu di tengah-tengah album. Ia melihat dirinya waktu masih bayi.


Di bagian tengah-tengah tersebut sebagian besar hanya berisi foto dirinya saat masih bayi dan juga balita.


Tapi pada saat detik-detik menuju lembar terakhir, disana terdapat seorang bocah laki-laki yang wajahnya mirip sekali seperti yang ada di mimpinya.


Kira-kira siapakah bocah laki-laki itu? Dia bukanlah Haikal.


Hanna menghela napas. "Hah! Kenapa banyak sekali kejanggalan," ucap Hanna dalam hati.


"Kenapa, Han?" tanya Haris yang baru saja datang dan langsung duduk di samping Hanna.


Hanna pun menutup albumnya karena sudah selesai melihat-lihat.


"Aku ingin melihat Bang Haikal bagaimana ya sekarang?" tanya Hanna sambil memandang Haris.


"Haikal pasti sudah dewasa sekarang, dan kami juga merindukan Haikal. Sudah hampir 19 tahun kita terpisah," lirih Haris sambil mengelus kepala Hanna.


"Apalagi aku, Pah. Gak pernah bertemu sama Bang Haikal," ucap Hanna pelan.


"Katanya kamu pernah melihat Haikal?"


"Tapi aku gak yakin kalau itu Bang Haikal atau bukan. Secara kan pasti fisiknya berbeda sama yang di album," jelas Hanna.


"Iya, sih. Kalau kamu bertemu orang yang mirip sama Papah, coba kamu sapa. Siapa tahu itu Haikal!" saran Haris.


Hanna pun tersenyum lebar. "Oke, Pah. Akan aku coba."


🌈🌈🌈

__ADS_1


Di sekolah, Fauzan, Angga dan Dilfa baru saja selesai dari kegiatannya.


Kini mereka sudah berada di parkiran untuk segera pulang ke rumah masing-masing.


"Ah! Rasanya mau pingsan, habis ulangan langsung rapat," ujar Angga sambil menaiki motornya.


"Sama, meskipun nyatanya gak menguras tenaga, tapi ini seperti tenaga gue kayak udah terkuras habis," ucap Dilfa.


"Otak kalian udah lelah, kayaknya," sahut Fauzan yang menyender motornya.


"Emang lo nggak?" tanya Angga.


"B aja," jawab Fauzan sambil memasuki mobil. "Gue duluan!" lanjutnya sambil menyalakan mesin mobil. lalu ia melajukan mobilnya meninggalkan parkiran.


Tak lama setelah kepergian Fauzan, Angga dan Dilfa pun menyusul Fauzan untuk pulang.


Tanpa mereka sadari, dari tadi ada seseorang yang memperhatikan mereka.


"Lo udah sehat ternyata," gumam orang itu, lalu pergi meninggalkan tempatnya.


🌈🌈🌈


Sekarang Hanna sedang berjalan kaki menuju supermarket terdekat untuk membeli alat bulanannya.


Selama perjalanan dia merasa ada yang mengikutinya, tapi dia hanya acuh tak acuh selama orang itu tidak melakukan hal yang di luar batas.


Sesampainya di supermarket, Hanna langsung menuju ke tempat bagian yang ia butuhkan.


Setelah mengambil barang yang ia butuhkan, Hanna langsung menuju kasir untuk membayarnya.


Dan selama perjalanan pulang juga, Hanna masih merasa ada yang mengikutinya. Dia pun berjalan menuju belokan menuju rumahnya dengan cepat.


Hanna pun bersembunyi di balik tembok untuk memastikan apakah ada orang yang mengikutinya atau tidak?


Dia juga sudah siap apabila ada sesuatu yang tidak ia duga.


Hanna melihat ke arah jalan karena merasa ada bayangan yang mendekat.


Ketika ia melihat ujung sepatu. Hanna langsung memegang kedua tangan orang itu ke belakang tubuhnya.


Hanna tidak melihat orang itu karena menunduk di tambah memakai hoodie.


"Lepas, gue bukan penjahat!" titah orang itu dengan suara beratnya.


"Kenapa lo ngikutin gue?" tanya Hanna dengan nada dingin.


Orang itu tidak menjawab, tapi malah memberontak keras sehingga cekalan pada tangannya terlepas.


Hanna kira orang itu bakal lari, ternyata malah terdiam membelakanginya.


Beberapa detik kemudian orang itu membalikkan tubuhnya perlahan.

__ADS_1


"Dia," batin Hanna setelah melihat orang itu secara keseluruhan.


🌈🌈🌈


__ADS_2