Jodohku Teman Kecilku

Jodohku Teman Kecilku
JTK-45


__ADS_3

Brankar di dorong oleh beberapa perawat dan seorang dokter menuju ruang UGD. Di susul oleh Fauzan, Istia dan Alex di belakangnya.


Saat Fauzan melihat Hanna pingsan di atas kursi, membuatnya segera membawa Hanna menuju mobil pergi ke rumah sakit.


"Zan, kamu sudah telepon Nadin dan Harris?" tanya Alex.


"Belum, Pah. Tapi mungkin aku akan kasih tahu sama Om Haris aja. Soalnya kalau sama Tante Nadin takut kenapa-napa," ucap Fauzan.


"Ya sudah. Cepetan kasih tahu Haris!" titah Alex.


Fauzan pun segera menelepon Haris dan sedikit menjauh dari sana.


"Assalamu'alaikum, Om," salam Fauzan setelah teleponnya di angkat oleh Haris.


"Waalaikumussalam, Fauzan. Ada apa?"


"Ini, Om. Em ...." Fauzan bingung harus mengatakan apa.


"Kenapa?"


"Hanna ...."


"Hanna? Hanna kenapa?" Haris mulai merasa gak enak.


"Hanna di rumah sakit. Tadi dia tiba-tiba pingsan," jawab Fauzan pelan.


"Astaghfirullah! Apa?"


"Iya, Om. Sekarang kita ada di rumah sakit *****," ujar Fauzan.


"Oke. Om bakalan ke sana." Haris menutup teleponnya secava sepihak.


"Huft!" Fauzan hanya menghela napas. Lalu berjalan mendekati orang tuanya.


"Gimana?" tanya Alex.


"Om Haris bakal kesini sekarang," jawab Fauzan.


"Syukur kalau gitu," ucap Alex lalu duduk di kursi yang sudah di sediakan.


Fauzan pun ikut duduk di samping Alex.


Beberapa menit kemudian. Dokter keluar dari ruang UGD.


"Dengan keluarga pasien," ucap Dokter.


"Kita saudara pasien. Gimana keadaannya, Dok?" tanya Istia.


"Pada dasarnya pasien tidak apa-apa. Pasien hanya terlalu banyak berpikir dan karena pasien sepertinya pernah mengalami amnesia mungkin dia berusaha untuk mengingat sesuatu. Dan itu membuat otaknya kelelahan lalu berakhir pingsan," jelas Dokter itu.


"Syukur kalau tidak apa-apa. Makasih, Dok," ucap Alex.


"Sama-sama. Setelah sadar pasien harus istirahat di sini selama dua jam lalu boleh pulang setelah mengurus administrasi," ujar Dokter.


"Baik, Dok," ucap Istia.


"Saya pamit dulu!" Dokter itu pun berlalu setelah pamit.


Setelah kepergian Dokter, mereka bertiga pun memasuki ruangan UGD tersebut. Dan disana terdapat Hanna yang belum membuka matanya dengan di tangannya yang tertancap impus.


Fauzan segera mendekati ranjang Hanna, dan duduk di kursi dekat ranjang.

__ADS_1


Dia mengelus tangan Hanna yang tidak tertancap impus.


Ditatapnya Hanna dengan tatapan khawatir. Rasa sayangnya sama Hanna tidak pernah berkurang dari dulu. Ya meskipun Hanna tidak mengingat dirinya.


Ceklek!


Suara pintu terbuka, disana ada Haris yang baru saja sampai.


“Gimana keadaan Hanna?” tanyanya dengan napas yang terengah-engah.


“Tenang dulu, Ris!” ucap Alex menyentuh pundak Haris.


Haris menghirup udara lalu mengembuskan nya panjang. “Huh!”


Dan ia pun mulai merasa tenang.


“Gimana?”


“Hanna baik-baik aja kok, Om,” jawab Fauzan.


“Hanna hanya terlalu banyak berpikir dan dia mungkin sedang memaksa untuk mengingat sesuatu,” lanjut Alex.


Haris mengerukan keningnya. “Mengingat sesuatu?”


“Apa mungkin di berusaha mengingat masa lalunya?” tebaknya.


“Kita gak tahu,” ujar Alex.


Tiba-tiba tangan Hanna bergerak bersamaan dengan matanya yang mulai terbuka.


“Hanna!” panggil Fauzan membuat Alex dan Haris segera mendekat ke ranjang.


“Sayang, kamu gak pa-pa?” tanya Haris sambil mengelus kepala Hanna.


“Kamu pingsan di rumah kita, Han. Kamu ingat kan?” tanya Istia.


Hanna mengangguk singkat saat ia ingat kalau dirinya pingsan karena kepalanya sangat sakit.


“Kamu Jangan berpikir terlalu keras lagi, sayang!” pinta Haris.


“Aku akan berusaha,” ujar Hanna sambil tersenyum tipis.


“Kata dokter Hanna boleh pulang setelah dia mulai membaik!” sahut Alex.


“Oh begitu. Makasih ya kalian sudah membawa Hanna ke rumah sakit. Maaf merepotkan!” ucap Haris.


“Tidak apa-apa. Kayak sama siapa aja kamu ini. Kita ini sudah sahabatan belasan tahun,” ujar Alex sambil menepuk pundak Haris.


“Iya, Haris. Jangan sungkanlah kalau sama kita,” sahut Istia.


“Iya.” Haris tersenyum lebar menatap Alex dan Istia.


Dari tadi Fauzan hanya menatap Hanna yang sedang memandang interaksi antara Papahnya dan juga orang tua Fauzan. Ia juga sempat memikirkan perkataan Papahnya. “Hanna hanya terlalu banyak berpikir dan dia mungkin sedang memaksa untuk mengingat sesuatu.”


“Apa karena Hanna melihat fotoku di ruang keluarga, dia jadi teringat masa-masa kecilnya?” batin Fauzan sambil menatap Hanna.


Hanna yang merasa di tatap oleh Fauzan pun menengokkan kepalanya ke arah Fauzan.


“Kenapa?” tanyanya.


“Gak pa-pa,” jawab Fauzan dengan tersenyum tipis. “Lo udah gak papa, kan?”

__ADS_1


“Iya.”


“Gue ngerasa ingat sesuatu pada waktu itu,” ujar Hanna.


“Hah!” Fauzan merasa kaget dengan penuturan Hanna, begitu pula dengan Haris, Alex dan Istia yang terhenti dari aktivitasnya.


“Lo inget apa?” tanya Fauzan hati-hati beserta jantungnya yang berdegup kencang di tambah tangan yang berkeringat dingin.


Hanna hanya tersenyum lebar tanpa berminat untuk memberitahunya.


“Kamu ingat apa, Nak?” tanya Haris.


“Aku ingat Kak Haikal.” Jawaban Hanna membuat semua orang yang ada di sana menghela napas panjang. “Huh!”


“Kirain apa,” gumam Fauzan.


“Emang kalian kira aku ingat apa?” tanya Hanna.


“Oh, nggak. Kita kira kamu mengingat hal-hal yang membuat kita malu,” ujar Haris asal.


“Yang membuat kalian malu?” heran Hanna. “Memang ada ya?”


“Sepertinya ada,” sahut Alex.


“Entahlah aku gak ingat,” ucap Hanna.


“Syukur kalau kamu gak ingat,” kata Istia.


Hanna hanya mengerutkan keningnya saat mendengar perkataan Istia. Tapi dia hanya diam menanggapinya.


“Oh, ya. Bagaimana keadaan Nadin?” tanya Istia.


“Dia masih jarang berbicara,” jawab Haris.


“Sampai kapan keadaan ini berlangsung?” tanya Alex.


“Entahlah. Mungkin sampai Haikal menemukan buktinya sendiri,” ujar Haris sambil menatap Hanna yang tengah menatapnya juga.


“Kalau begitu aku akan bantu untuk mencari bukti,” sahut Alex.


“Ma—,” Ucapan Haris terpotong karena ada orang yang membuka pintu ruangan Hanna.


“Tidak perlu,” ujar orang ituZ


Semua orang yang ada di ruangan itu kaget melihat siapa yang datang.


“Kak.”


“Nak,” ucap Hanna dan Haris bersamaan.


“Kenapa bisa kamu ada disini?” tanya Haris berjalan mendekati Haikal.


Ternyata yang datang barusan itu Haikal.


“Kebetulan lewat,” jawab Haikal berbohong. Sebenarnya ia ada urusan di rumah sakit ini, dan ia melihat Hanna di bawa ke ruang UGD. Alhasil ia mengikutinya sampai disini.


“Kebetulan lewat? Kamu sakit? Atau menjenguk seseorang disini?” tanya Haris.


“Apa urusannya dengan anda,” ucap Haikal datar. “Kalian tidak perlu membantu saya dalam mencari bukti. Karena saya sudah mendapatkan buktinya,” lanjutnya.


Semua orang yang disana terkejut dengan perkataan Haikal. Terutama Hanna dan Haris yang sangat berharap bahwa bukti itu menyatakan bahwa mereka tidak bersalah.

__ADS_1


“Apa yang kamu dapat?” tanya Haris.


🌈🌈🌈


__ADS_2