Jodohku Teman Kecilku

Jodohku Teman Kecilku
Jalan


__ADS_3

Di kelas Hanna sedang membaca sebuah novel yang ia pinjam dari teman sekelasnya, gak modal emang. Sebenarnya dia punya novel, tapi gak di bawa ke sekolah.


Sedari tadi Hanna tidak membaca novel itu, dia hanya memandang lurus ke halaman demi halaman yang ada, tanpa membaca isinya.


Entah apa yang ada di pikirannya, dia bingung sendiri. Sebenarnya dirinya itu kenapa?


"Han! Ada masalah yah?" tanya Fauzan yang baru saja datang dan langsung duduk di kursinya yang ada di samping Hanna.


"Gak ada," jawab Hanna sambil membalikkan halaman novel.


"Terus kenapa lo agak aneh hari ini?" bingung Fauzan.


"Zan! Lo mau gak nemenin gue?" tanya Hanna tiba-tiba.


Fauzan mengerjapkan matanya berkali-kali. Terkejut karena Hanna tiba-tiba minta di temenin.


"Boleh, kemana?" Fauzan mengiyakan ajakan Hanna dengan senang hati.


"Kemana aja terserah lo, gue pengen main ke suatu tempat. Asal jangan tempat yang sama kayak kita nginep waktu itu."


"Kenapa tiba-tiba?"


"Gak tahu. Tiba-tiba aja gue pengen main ... sama lo." Perkataan Hanna sukses membuat jantung Fauzan tidak karuan lagi.


Hanna tidak fokus atas apa yang dia ucapkan tadi. Dia mengerjapkan matanya ketika sadar apa yang telah dia katakan.


"Ee ... maksud gue, pengen main sama lo, Nayla dan Angga. Hari ini juga, karena suasana hati gue lagi gak karuan." Hanna  memperbaiki ucapannya tadi.


"Oke, boleh. Gue bakal ngajak Nayla dan Angga. Gue chat mereka nih ya," ucap Fauzan sambil mengeluarkan handpone nya.


FauzanMA


Ga, Hanna ngajak main kita nih, katanya hatinya lagi gak karuan. Mau ikut gak?


AnggaRa


Kapan?


FauzanMA


Hari ini. Kalau pulang nya cepat.


AnggaRa


Bentar, gue mau nanya Nayla dulu.


"Kata Angga mau nanya Nayla dulu," ucap Fauzan.


Hanna hanya menganggukkan kepalanya.


•••


"Nay, Fauzan dan Hanna ngajakin kita main nih pas pulang sekolah. Katanya suasana hati Hanna lagi gak baik, mau ikut gak?" tanya Angga ke Nayla setelah membaca isi pesan dari Fauzan.


"Angga! Kamu lupa, bahwa besok ada tugas akhir yang harus di kumpulin. Dan kita ngerjainnya baru setengah," jawab Nayla.


"Astaghfirullah! Gue lupa. Saking seneng ya di ajak main." Angga menepuk jidatnya sendiri.

__ADS_1


"Ya udah bilang aja ke Fauzan kita gak bisa, karena ada tugas yang harus di selesai-in buat besok."


"Iya-iya. Dan biarin mereka berdua aja ya yang main. Hihi ...." Angga cekikikan karena membayangkan Fauzan dan Hanna berduaan lagi. Lalu ia pun membuka kembali whatsapp nya.


AnggaRa


Sorry, Zan. Gue dan Nayla ada tugas akhir yang harus di selesai-in buat besok. Jadi gak bisa ikut main.


•••


"Han, katanya Angga dan Nayla gak bisa ikut karena ada tugas akhir yang harus dikumpulin besok."


"Em ... ya udah. Kita aja kalau gitu, lo mau gak?" tanya Hanna.


"Oke. Lagian tugas akhir kita di kumpulinnya hari kamis, kan?" tanya Fauzan.


"Iya."


"Pengumuman! Kepada seluruh siswa dan siswi. Karena kemungkinan kami rapatnya akan sedikit memakan banyak waktu. Maka untuk kegiatan belajar mengajar silahkan untuk di rumah masing-masing, dan kalian silahkan untuk pulang sekarang. Jangan lupa tugas akhirnya di kerjakan." Suara Pak Jojo terdengar di speaker yang ada di setiap kelas.


“Yes.” Semua siswa dan siswi bersorak ria dan bergegas untuk segera pulang.


“Nah! Kebetulan banget gak sih? Kita langsung berangkat atau pulang dulu buat ganti baju?” tanya Fauzan menenteng tasnya di sebelah pundak kiri lalu berdiri dari duduknya, diikuti Hanna.


“Pulang dulu lah. Masa main pakai baju sekolah!” jawab Hanna.


“Oke. Lo mau bareng gue pulangnya?”


“Gak usah. Gue di jemput sama sopir. Nanti se-jam lagi lo ke rumah gue!” pinta Hanna.


“Oke kalau gitu.” Fauzan menyetujui permintaan Hanna.


Sedari tadi Fauzan berpikir, kemanakah ia akan mengajak Hanna main. Dipikirannya kali ini tidak ada ide tempat bagus buat main.


🌈🌈🌈


Satu jam sudah berlalu...


Kini Fauzan berada dalam perjalanan menuju rumah Hanna. Dari tadi ia terus mengingat tempat yang akan ia tuju bersama Hanna setelah menanyakan pendapat ke Angga tentang tempat yang bagus buat Hanna.


“Lo harus ke tempat yang bisa buat Hanna senang bukan main pokoknya, apa aja!”


“Yang penting lo harus sempetin makan deh, di cafe atau restoran contohnya!”


Itu lah yang ia ingat tentang perkataan Angga di telepon 30 menit yang lalu.


“Oke. Sudah gue putuskan,” gumam Fauzan. Lalu ia menambah kecepatan mobilnya menuju rumah Hanna yang tinggal beberapa meter lagi.


🌈🌈🌈


Fauzan keluar dari mobilnya dan menuju ke pintu masuk rumah Hanna.


Tok! Tok! Tok!


Fauzan mengetuk pintunya.


•••

__ADS_1


Tok! Tok! Tok!


Suara pintu diketuk bersamaan dengan Hanna yang baru sampai di ruang keluarga.


“Na, mau kemana? Udah rapi aja,” tanya Mama Hanna.


“Ma, itu ada yang ketuk pintu. Emang gak denger?” Bukannya menjawab, Hanna malah menegur Mamanya yang tidak mendengar suara pintu diketuk.


“Oh ya? Mama gak denger? Kira-kira siapa yah?” Mama Hanna berdiri dari duduknya lalu berlalu menuju pintu utama, di susul oleh Hanna yang mengekor dari belakang. Siapa tahu itu Fauzan yang datang? Pikirnya.


Ceklek!


“Eh! Ada nak Fauzan!” ucap Mama Hanna saat melihat Fauzan yang sedang berdiri di hadapannya sekarang.


Hanna yang berada di belakang Mamanya pun memiringkan kepalanya untuk melihat apakah memang Fauzan yang datang?


“Udah dateng ternyata,” ucap Hanna yang sudah berada di samping Mamanya.


“Kalian janjian?” tanya Mama Hanna sambil menahan senyumnya.


“Nggak, Ma.”


“Bisa di bilang gitu, Tante,” jawab Hanna dan Fauzan berbarengan.


“Eh!” Mama Hanna terkejut dengan jawaban mereka yang berbeda.


“Ee ... ya sudah kita langsung pergi saja supaya gak kemaleman!” pamit Hanna.


“Gak mau di ajak masuk dulu gitu Fauzannya!”


“Gak usah mah. Kita langsung aja,” ucap Hanna beralih ke samping Fauzan.


“Ya sudah kalau gitu. Kalian hati-hati, jangan sampai kemaleman!”


“Iya, Ma.”


“Iya, Tante.”


Fauzan pun menyalami tangan Mama Hanna di ikuti oleh Hanna, lalu mereka menuju ke mobil untuk segera menuju ke tempat tujuan.


Sesampainya di dalam mobil.


“Kita mau kemana?” tanya Hanna.


“Em ... ada aja. Pokoknya tempat itu bisa bikin kamu senang di tambah sedikit capek, mungkin,” jawab Fauzan.


“Kita mau ke tempat gym?” tebak Hanna.


“Gaklah, ngapain siang-siang gini ke gym.”


“Ya bisa aja. Ke gym gak harus pagi juga.”


“Tapi gue gak suka olahraga siang.”


“Yang nanya,” ucap Hanna datar sambil memandang pemandangan dari jendela di sampingnya.


“Intinya bukan ke gym,” kesal Fauzan dengan tanggapan Hanna.

__ADS_1


🌈🌈🌈


__ADS_2