Jodohku Teman Kecilku

Jodohku Teman Kecilku
Ngerjain


__ADS_3

Keesokan harinya ...


Kini Hanna sudah siap-siap akan berangkat sekolah. Ia pun pergi menuju ruang makan.


"Pagi Ma, Pah," sapa Hanna.


"Pagi sayang," sapa Mama dan Papah Hanna kembali.


"Han, tentang kamu mimpi bocah kecil itu, benar ya?" tanya Mama Hanna.


"Iya. Kapan ya? Pokoknya sebelum lomba deh," jawab Hanna.


"Oh ...."


"Kenapa gitu, Mah?" tanya Hanna.


"Gak pa-pa, gak pa-pa."


"Ya udah aku berangkat dulu ... assalamualaikum," pamit Hanna setelah mencium punggung tangan orang tuanya.


Saat Hanna hendak membuka pintu mobil. Ia mendengar suara klakson mobil dari arah luar gerbang.


Tin! Tin!


"Siapa sih?" heran Hanna. Lalu ia pun menutup kembali pintu mobil lalu menuju keluar gerbang.


"Kayak kenal mobilnya?"


Tak lama kaca mobil bagian kiri pun terbuka.


"Na, ayo berangkat bareng!" ajak orang itu yang ternyata Fauzan.


"Hah! Fauzan. Tumben jemput gue, kok gak chat sih. Kan udah ada nomor gue," kaget Hanna.


"Kan biar surprise."


"Surprise dari Hongkong."


"Ya udah ayo cepat masuk, sebelum terlambat!"


"Iya." Hanna pun memasuki mobil Fauzan.


Setelah itu Fauzan menginjak pedal gas nya lalu melesat menuju sekolah.


🌈🌈🌈


Sesampainya di sekolah.


Banyak siswa-siswi yang memandang ke arah mereka dengan tatapan yang berbeda-beda.


"Weish, Bro. Tumben berangkat bareng sama Hanna?" tanya Angga sambil merangkul pundak Fauzan.


"Ya. Gak pa-pa, pengen aja," jawab Fauzan.


"Beneran gak ada apa-apa diantara kalian?" tanya Angga sambil menatap Hanna dan Fauzan bergantian.


"Gak ada-gak ada," jawab Hanna dan Fauzan berbarengan.


"Cie ... ekhem ... ya udah kalau gitu, gue duluan!" pamit Angga sambil terus berdehem.


"Apaan sih dia?" heran Hanna.


"Gak tau tuh. Hm ... nanti kita obrolin kemana-kemananya istirahat," ucap Fauzan.


"Oke," setuju Hanna.


Mereka pun berlalu menuju kelas.


                                  🌈🌈🌈


Tet! Tet!


Bel istirahat pun sudah berbunyi.


"Han, ayo kita langsung ke kantin. Mereka pasti udah nunggu!" ajak Fauzan.

__ADS_1


"Iya sabar, baru juga bel," ucap Hanna sambil membereskan buku-bukunya.


"Yuk!" ajak Hanna setelah membereskan bukunya.


Mereka pun pergi ke kantin.


Setelah sampai di kantin, Hanna dan Fauzan belum melihat Angga dan Nayla.


"Tuh kan mereka belum dateng. Lo sih buru-buru amat," kesal Hanna.


"Ya kan gue udah laper. Ya udah sih tinggal duduk aja terus pesen makan, bentar lagi mereka pasti dateng kok," ucap Fauzan.


"Iya-iya. Pesenin dong!" pinta Hanna.


"Ya deh, mau pesen apa?"


"Samain aja, sambalnya banyakin ya!" pinta Hanna.


"Oke."


Fauzan pun pergi memesan makanan.


Tak lama kemudian Nayla dan Angga sampai di kantin, lalu langsung duduk di depan Hanna.


"Fauzan mana?" tanya Angga.


"Lagi pesen makan," jawab Hanna.


"Kok gak nungguin kita?" tanya Angga kesal.


"Ya salah kalian pada lama, Fauzan udah kelaperan makanya pesen duluan. Kalian juga tinggal pesen susah amat," ucap Hanna.


"Ya tadi kita ke kantor dulu bawain buku. Ya udah sana gih, Ga. Pesenin makan!" titah Nayla.


"Iya deh." Angga menyetujuinya dan akhirnya pergi memesan makanan.


"Eh! Han, tau gak?" tanya Nayla.


"Nggak. Kan lo belum ngomong," jawab Hanna  kesal.


"Ya-ya. Apa?"


"Akhir-akhir ini sikap Angga ke aku beda banget."


"Ya terus?"


"Ih. Kalau Angga nembak aku gimana?" tanya Nayla gelisah.


"Ya bagus dong. Tinggal terima apa susahnya," jawab hanna. "Tapi kok lo kayak gelisah gitu?" tanyanya.


"Em ... masalahnya aku gak bisa pacaran sama Angga. Ya walaupun aku suka sih sama Angga," ucap Nayla sedih.


"Kenapa gak bisa?" heran Hanna.


"Orang tua kita ... ngelarang kita pacaran."


"Lah! Kok gitu?"


"Nanti deh aku ceritain, mereka udah pada kesini," ucap Nayla ketika melihat Angga dan Fauzan menuju ke mereka.


"Makanan sudah sampai," ucap Angga sambil menyimpan nampannya.


"Nih!" Fauzan menyodorkan makanannya ke Hanna.


"Makasih. Eh minumannya mana?" tanya Hanna bingung.


"Aduh! Gue lupa. Bentar gue beli dulu." Fauzan pun berdiri lagi untuk beli minuman.


"Gimana sih? Pinter-pinter kok pelupa," gerutu Hanna.


Seketika Hanna mempunyai ide untuk menukar makanannya yang super pedas dengan makanan Fauzan yang tidak pedas.


"Heh, Na. Fauzan gak suka pedes." Angga memperingati Hanna.


"Udah kita lihat aja," ucap Hanna.

__ADS_1


Tak lama Fauzan pun datang membawa dua minuman.


"Nih."


"Makasih." Hanna menunjukan senyum lebarnya.


Fauzan yang melihat Hanna tersenyum lebar bukannya terpesona tapi malah terkesan aneh, kayak ada sesuatu.


"Eh! Jadinya kita kemana nih," sahut Nayla di sela-sela makannya.


"Em ... gue dan Fauzan punya tempat bagus di sekitar sini. Ada tempat nginep juga loh, ya gak, Zan." ucap Hanna sambil melirik Fauzan yang tampak mengaduk minumannya.


"Iya-iya. Nanti malam minggu kita nginepnya, gimana?" tanya Fauzan.


"Emang apa sih tempat bagusnya?" tanya Angga.


"Ada deh," jawab Hanna dan Fauzan berbarengan diselingi kekehan diakhir.


Fauzan pun memakan makanannya dan seketika mukanya memerah.


"Kenapa muka lo merah? Demam apa blushing?" tanya Hanna sambil berusaha untuk tidak ketawa.


"Hah ... gue gak blushing ataupun demam," ucap Fauzan dengan mata memerah.


"Wah! Jangan nangis dong," ucap Hanna pura-pura kaget.


"Huh! Hah! Pedes-pedes ... kok pedes sih," ucap Fauzan sambil mengipas-ngipas mulutnya.


"Ah! Jangan bercanda lo." Angga ikut-ikutan ngerjain Fauzan.


"Lo nuker makanannya yah?" tanya Fauzan ke Hanna.


"Eh! Jangan nuduh. Siapa tadi yang beli makanan, lo kan. Bukan gue," elak Hanna.


"Ya sih. Tapi kan, gue udah nyimpen makanannya di meja dengan benar. Yang pedes punya lo," ucap Fauzan sambil terus mengibas-ngibas mukanya.


"Oh lo gak suka pedes, ya?" tanya Hanna polos.


Fauzan tidak menjawab.


"Maaf ya, tadi gue nyoba makanan yang gak pedes. Dan gue tuker dulu makanannya. Eh sampai sekarang belum dibalikin ke tempat semula makanannya,” ucap Hanna dengan nada menyesal yang dibuat-buat.


“Jahat banget lo,” ucap Fauzan sambil meminum minumannya.


“Ya udah nih gue balikin.” Hanna kembali menukar makanannya.


“Sini.” Fauzan mengambil makanannya lalu kembali melahapnya karena sudah lapar.


Kini mereka berempat diam sambil menikmati makanannya.


“Eh beneran nih ada tempat bagus. Jangan bohong ya. Awas kalau yang kalian maksud itu kuburan atau semacamnya,” ucap Angga setelah menyelesaikan makanannya.


“Ya nggak.” Perkataan Hanna berhenti sejenak. “Gak beda jauh maksudnya,” lanjutnya dengan kekehan diakhirnya.


“Ish! Jangan bercanda dong Hanna,” ucap Nayla dengan nada takut.


“Udah. Emang bener kok tempatnya agak nyeremin. Tapi dari covernya doang, kalau isinya itu pasti indah banget. Hanna aja sempet terpana ngeliatnya,” jelas Fauzan.


“Bener ya?” tanya Nayla.


“Iya,” jawab Hanna dan Fauzan.


“Aduh!” keluh Fauzan tiba-tiba sambil memegang perutnya.


“Kenapa lo? Jangan bikin kaget tahu gak,” tanya Angga.


“Ini beneran. Perut gue sakit,” jawab Fauzan sambil memegang perutnya.


“Aduh! Maaf gara-gara gue ya pasti,” ucap Hanna.


“Gue ke toilet dulu,” pamit Fauzan lalu berlari menuju ke toilet.


“Bukannya dia hanya makan sesendok yang pedasnya yah?” tanya Hanna.


“Iya sih. Tapi walaupun sesendok, perutnya gak bakal kuat nahan yang pedes,” ucap Angga.

__ADS_1


🌈🌈🌈


__ADS_2