Jodohku Teman Kecilku

Jodohku Teman Kecilku
Aneh!


__ADS_3

Mendengar jawaban Fauzan, Hanna langsung berhenti dari kegiatannya.


"Ke luar negeri?" batin Hanna.


"Yakin lo ke luar negeri?" tanya Angga sambil melirik Hanna yang diam menatap makanannya.


"Ya ... baru kepikiran doang sih. Belum pasti juga, karena ada seseorang yang gue tunggu belum datang juga," jawab Fauzan dengan tersenyum tipis.


"Yang belum datang ingatannya," lanjutnya di dalam hati.


"Wah! Diam-diam Fauzan punya someone," ucap Angga dengan setengah teriak mengakibatkan siswa siswi yang berada di dekat mereka menoleh ke arahnya.


"Siapa, Zan?" tanya Nayla dengan nada penasaran.


"Suatu saat kalian juga tahu," jawab Fauzan dengan tersenyum penuh arti lalu melirik Hanna yang mulai memakan kembali makanannya.


"Respon Hanna ternyata biasa saja," batinnya.


"Han, kok lo diam aja?" tanya Angga dengan senyuman miring.


"Lo gak liat gue lagi makan," jawab Hanna berusaha santai dengan menunjuk makannya yang tinggal sedikit.


"Nayla yang lagi makan aja nyaut."


"Itukan Nayla, bukan gue," kesal Hanna karena Angga suka membalas perkataannya.


"Biasa aja kali. Lo lagi pms yah?" tanya Angga dengan setengah bercanda.


"Hmm." Hanna hanya berdehem.


Melihat reaksi Hanna, Angga langsung menatap mata Fauzan lalu menggerakkan matanya ke arah Hanna. Sedangkan Fauzan hanya mengedikkan bahunya melihat kode dari Angga.


"Kalian gak pesen?" tanya Nayla. "Sebentar lagi bel masuk loh," lanjutnya.


"Ah! Tenang aja. Gak bakal ada bel masuk kok," jawab Angga.


"Lah, kenapa? Belnya rusak?" tanya Nayla polos.


"Haha ... lo polos banget sih, tapi suka." Bukannya menjawab, Angga malah menggoda Nayla.


Tapi respon Nayla hanya memandang Angga polos sehingga membuatnya merasa gemas, rasanya ingin dia karungin dan di bawa pulang. Eh! Tapi rumah mereka kan bersebelahan, kalau kangen tinggal main aja ke rumahnya.


"Gak rusak. Karena guru-guru bakal rapat untuk ngebahas masalah ujian nanti." Malahan Fauzan yang ngejawab.


"Kenapa gak bilang dari tadi kalau guru pada mau rapat?" kesal Hanna tiba-tiba.


"Giliran dibilang guru pada mau rapat aja langsung nyaut duluan," ejek Angga.


"Biarin."


"Kita lupa. Lagipula kita tahunya tadi pas di ruang OSIS, di kasih tahu sama Bu Anik, sekalian kita, anggota OSIS buat istirahat setelah melakukan razia," jawab Fauzan sambil memandang Hanna.


"Oh," respon Hanna datar.


Mendengar respon Hanna, Fauzan menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.


"Ga, kita pesen makan yuk?" ajak Fauzan.


"Ayo."


"Kalian mau langsung ke kelas, atau disini aja dulu?" tanya Fauzan saat melihat makanan Hanna dan Nayla sudah habis.

__ADS_1


"Disini aja dulu. Lagian kan guru gak bakal masuk, males juga soalnya kalau di kelas. Ya gak, Han?" tanya Nayla.


"Heem," jawab Hanna biasa dengan singkat.


"Ya sudah."


Fauzan dan Angga pun pergi membeli makanan.


Setelah kepergian Angga dan Fauzan.


Hanna langsung nyaut, “Nay, gue duluan yah!” pamit Hanna.


“Lah! Mau kemana?” tanya Nayla.


“Mau ke toilet,” jawab Hanna.


“Kesini lagi, kan?”


“Gak tahu. Gue duluan!” Hanna pun beranjak dari duduknya lalu pergi dari kantin.


Dari tempat Fauzan berdiri, dia melihat Hanna keluar dari kantin. Dia mengira, Hanna bakalan menunggu sampai dia beres makan. Tapi ternyata tidak.


Setelah membeli makanan Fauzan dan Angga langsung menghampiri Nayla.


“Hanna mana?” tanya Angga karena ia tidak melihat Hanna keluar dari kantin.


“Udah duluan.”


“Kemana?” tanya Fauzan sambil duduk di samping Angga, sedangkan Angga di depan Nayla.


“Toilet,” jawab Nayla.


“Lo gak ke kelas?” tanya Fauzan lagi.


“Oh ... ekhm.” Fauzan berdehem.


“Miris banget gue gak di tungguin,” lanjutnya dalam hati.


“Makasih, Nay,” ucap Angga sambil memandang Nayla lembut.


“Sama-sama Angga,” balas Nayla.


“Cih.” Fauzan berdecih pelan.


“Lo sirik, ya?” goda Angga ke Fauzan.


“Gak guna gue sirik sama lo,” sahut Fauzan tanpa melihat Angga lalu memakan makanannya.


Angga hanya mengangguk-anggukan kepalanya. “Ya-ya.”


“Awas aja lo cupu!” gumam seseorang pelan dari kejauhan.


🌈🌈🌈


Sudah 15 menit Hanna berada di toilet. Dia tidak beranjak sama sekali dari sana. Sedari tadi dia hanya memandang dirinya sendiri di cermin dengan kedua tangan yang menyangga di bagian sisi wastafel.


“Akhir-akhir ini banyak sekali kejanggalan,” gumamnya.


Di dalam toilet itu hanya ada dirinya seorang. Semuanya sudah keluar dari dalam toilet.


“Gue jadi lumayan sering mimpiin bocah kecil. Siapa coba?”

__ADS_1


“Kata Mama gue gak bakalan punya adik. Gue juga gak punya keluarga yang masih bocah 5 tahunan atau TK, paling juga yang masih SD itu juga mau SMP bentar lagi.”


“Yang gue pikirin. Mimpi itu sebuah pertanda atau hanya bunga tidur? Masa kalau bunga tidur bocahnya itu-itu mulu sih, kan aneh!”


“Dan juga gue baru keinget. Fauzan udah punya seseorang, dan dia lagi nunggu orang itu.”


“Kira-kira siapa. Apa mungkin gadis yang sudah dianggap sama orang tuanya sebagai anak kandung?”


Dari belakang ada seseorang yang sedang ngelihatin Hanna yang sedang berbicara sendiri.


Orang itupun menghampiri Hanna dan menyentuh pundak Hanna pelan.


“Han!”


Hanna yang sedang melamun dan tidak fokus pun berjengkit kaget karena tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundaknya.


“Astaghfirullah!” Hanna mengelus dadanya kaget.


“Kamu sedari tadi kayaknya bicara sendiri, tapi aku gak denger. Kenapa? Ada masalah?” tanya orang itu.


“Gak ada, Nay. Gue gak kenapa-napa,” jawab Hanna. Dan ternyata orang itu Nayla.


Tadi Nayla berinisiatif menyusul Hanna ke toilet. Karena sudah hampir 20 menit Hanna belum juga kembali dan di chat sama Fauzan pun tidak di balas, padahal lagi online.


“Kamu lama banget sih di toilet, ngapain aja? Tadi Fauzan ngechat kamu, tapi gak di bales. Kita khawatir tahu. Takut kamu pingsan lagi kayak waktu itu. Makanya aku susulin kesini,” cerocos Nayla.


“Gue gerah aja, makanya diem di toilet. Soalnya di toilet adem,” jawab Hanna asal ceplos. “Dan maaf juga udah bikin kalian khawatir,” lanjutnya.


“Oh gitu.” Nayla langsung percaya aja apa yang di katakan Hanna. “Ya udah gak papa. Kalau gitu kita ke taman aja yuk, Fauzan dan Angga udah nunggu!” ajak Nayla.


“Ayo.” Hanna menerima ajakan Nayla.


Dan mereka pun pergi menuju taman.


🌈🌈🌈


Sesampainya di taman.


“Maaf ya kita lama,” ucap Nayla yang baru saja datang bersama Hanna, dan dia langsung duduk di kursi dan meja kayu yang terpisah diikuti Hanna.


“Gak papa,” sahut Angga.


“Han! Lo gak papa, gue chat kenapa gak di bales?” tanya Fauzan.


“Gue gak denger HP bunyi,” jawab Hanna.


“Oh.”


“Ngapain kita disini?” tanya Hanna.


“Nyari angin aja, supaya gak bosan di kelas mulu,” jawab Angga.


“Kalau gak ada yang penting gue ke kelas aja ya!” pamit Hanna langsung berdiri dari duduknya.


“Kenapa?” tanya Nayla.


“Gak papa. Bye!” Hanna pun pergi dari sana.


“Zan! Hanna kenapa sih?” tanya Angga.


“Gak tahu,” jawab Fauzan dan langsung berdiri untuk menyusul Hanna.

__ADS_1


“Dasar dua sejoli itu,” gerutu Angga.


🌈🌈🌈


__ADS_2