Jodohku Teman Kecilku

Jodohku Teman Kecilku
JTK-44


__ADS_3

Sudah dua hari berlalu semenjak kedatangan Haikal ke rumah.


Selama ini pula, Nadin selalu murung. Jarang berbicara dengan Hanna dan Haris. Tapi tidak sampai mengabaikan tugasnya sebagai Ibu dan Istri.


Haris pun di buat jengah dengan sikap istrinya. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Jujur, ia juga merasa sedih dan bersalah kepada Haikal. Tapi waktu itu demi kebaikannya juga.


Hanna pun tidak tahan dengan keadaan ini. Dan ia memutuskan untuk menelepon Haikal setelah menyimpan nomornya dari kartu nama.


Sudah dua kali Hanna menelepon Haikal. Tapi belum di angkat juga sama Haikal.


Dan sampai ketiga kalinya. Akhirnya Haikal menerima telepon darinya.


"Assalamualaikum," salam Haikal.


Mendengar salam dari Haikal membuat jantung Hanna berdetak kencang, bukan karena ia ada rasa atau apa. Tapi ia merasa kaget dengan sikap Haikal karena memberi salam.


"Halo, dengan siapa?" tanya Haikal.


"Waalaikumussalam, Kak!" jawab salam Hanna pelan.


Dari seberang Haikal hanya terdiam ketika ia mengetahui suara yang meneleponnya.


"Ada apa?" tanya Haikal datar.


"Kakak, bisa gak datang ke rumah?" tanya Hanna.


"Buat apa? Gue gak ada urusan disana."


"Tapi Mama selalu murung, Kak. Semenjak Kakak pergi dua hari yang lalu," jelas Hanna.


Mendengar itu Haikal hanya menutup matanya sambil menghela napas panjang.


"Gue akan mencari kebenaran dulu, baru bakal datang ke rumah."


"Tapi kapan, Kak? Aku gak kuat melihat Mama seperti ini."


"Sabar, dong! Mencari kebenaran butuh proses kali."


"Semoga cepat ya, Kak!" harap Hanna.


"Hmm. Ya sudah gue tutup!" Haikal pun menutup teleponnya secara sepihak.


"Hah!" Hanna menghela napas lega karena sudah menelepon Haikal.


"Gue harap Kakak bisa secepatnya menemukan kebenaran, supaya kita bisa berkumpul kembali!" gumam Hanna dengan penuh harap.


🌈🌈🌈


Kini Fauzan berada dalam perjalanan menuju rumah Hanna untuk menjemputnya, karena ia di suruh oleh orang tuanya untuk segera menjemput Hanna ke rumahnya.


Sesampainya di halaman rumah Hanna. Dia segera keluar dari mobil dan menuju pintu utama.


Tok! Tok! Tok!


"Assalamualaikum," salam Fauzan.


Tak lama pintu itu pun terbuka, dan ternyata Hannalah yang membuka pintu.

__ADS_1


"Waalaikumussalam. Fauzan, ngapain lo kesini?" tanya Hanna heran.


"Gue mau ngajak lo ke rumah gue. Orang tua ingin ketemu sama lo!" jawab Fauzan.


"Harus sekarang banget, ya?" tanya Hanna.


"Orang tua gue maunya sekarang. Tapi kalau lo sibuk, gak pa-pa kok. Lain kali aja!" ucap Fauzan gak maksa.


"Em ...." Terlihat Hanna sedang berpikir-pikir dulu. "Ya sudah. Sekarang aja," putusnya.


"Oke. Makasih," ucap Fauzan.


"Gue ganti baju dulu. Lo duduk aja dulu!" titah Hanna mempersilahkan Fauzan masuk dan duduk di kursi ruang tamu.


Hanna pun berlalu menuju kamarnya untuk segera berganti pakaian.


Semenjak kepergian Hanna. Suasana di rumah itu sangat sepi, tidak ada tanda-tanda kehadiran Haris maupun Nadin.


Beberapa menit kemudian. Hanna turun dengan pakaian simplenya.


"Yuk!" ajak Hanna.


Fauzan pun bangkit dari duduknya. Lalu keluar dari rumah bersama Hanna


Setelah sampai di luar, mereka berdua langsung memasuki mobil Fauzan dan berlalu dari sana.


"Han, orang tua lo ada di rumah?" tanya Fauzan sambil menyetir.


"Kalau Mama ada di kamar. Setelah kejadian dua hari yang lalu. Mama selalu murung jarang berbicara. Dan kalau Papa lagi ada kerjaan," jawab Hanna.


"Kasihan juga Tante Nadin. Dia pasti sedih banget ... em! Lo udah izin?"


Fauzan hanya menanggapinya dengan anggukan.


Setelah 20 menit menempuh perjalanan menuju rumah Fauzan. Mereka pun sudah sampai di sana.


"Assalamualaikum. Ma, Pah. Aku udah datang!" salam Fauzan saat membuka pintu.


"Waalaikumussalam. Oh! Sini, Nak. Ajak Hanna ke ruang keluarga!" titah Alex, Papah Fauzan dari ruang keluarga.


"Ayo!" ajak Fauzan ke Hanna.


Mereka berdua pun berlalu menuju ruang keluarga.


"Hanna, ayo Nak. Duduk!" titah Istia, Mama Fauzan.


Hanna pun duduk di samping Istia. Sedangkan Fauzan duduk di samping Alex.


"Tante dengar dari Fauzan. Bahwa Haikal udah ketemu," sahut Istia.


"Iya, Tan ... emm, apa sebelum aku lahir, Tante tahu Kak Haikal?" tanya Hanna.


"Iya, Tante tahu sama Haikal. Dan Tante juga tahu kalau Haikal menghilang waktu umur 15 bulan. Dan Tante juga gak ada hak buat memberi tahu kamu dan Fauzan. Yang berhak memberi tahu hanyalah Nadin dan Haris," jelas Istia sambil mengusap bahu Hanna.


"Iya, Tan. Aku ngerti, kok." Hanna tersenyum tipis.


"Gimana kesan kamu saat bertemu pertama kali dengan Kakak kandung kamu?" tanya Alex.

__ADS_1


"Gak terlalu baik," jawab Hanna dengan tersenyum paksa sambil mengingat saat ia di culik waktu itu.


"Gak terlalu baik, gimana?" tanya Istia khawatir karena takut terjadi sesuatu sama Hanna.


Hanna hanya terdiam mendengar pertanyaan dari Istia. Dia bingung harus menjawab apa.


"Udah, Ma. Kasihan Hanna, sepertinya bingung harus menjelaskannya bagaimana karena ceritanya yang tidak terlalu baik, mungkin," sanggah Fauzan yang ia kira kalau pertemuan pertama Hanna dan Haikal waktu di jalan itu.  Tapi sebenarnya sebelumnya pernah bertemu.


"Ah! Iya, maaf ya, An. Kami gak akan maksa kamu menceritakannya.” Istia memeluk Hanna karena merasa bersalah.


Deg!


“An,” batin Hanna sambil memejamkan matanya karena seketika kepalanya terasa pusing.


“Hanna, lo gak pa-pa?” tanya Fauzan saat melihat Hanna memejamkan matanya seperti menahan sakit.


Hanna pun membuka matanya. “Gak papa.”


Fauzan menganggukan kepalanya percaya.


“Tante ambil makanan dulu ya ke dapur,” ucap Istia sambil beranjak dari duduknya


“Gak usah repot-repot, Tante.” Hanna merasa gak enak.


“Gak pa-pa.” Istia pun berlalu menuju dapur.


Drrtt!


Suara Handpone berbunyi, dan itu berasal dari handpone Alex.


“Bentar, ya. Papah mau menerima telepon dulu!” pamit Alex sambi berdiri dari duduknya lalu berlalu menuju halaman belakang.


Setelah kepergian Alex, Fauzan beringsut mendekati Hanna.


Sebelum Fauzan duduk, ia sudah di panggil oleh Istia.


“Fauzan, sini. Bantu Mama!” panggil Istia.


Fauzan hanya menghela napas pelan. “Iya, Ma.”


“Bentar, ya!” ucap Fauzan ke Hanna. Lalu berlalu menghampiri Mamanya di dapur.


Setelah kepergian Fauzan. Hanna pun mengedarkan pandangannya di ruang keluarga itu. Karena sebelumnya ia belum sempat untuk melihat-lihat.


Sampai ia berhenti pada sebuah foto seorang bocah laki-laki.


“Hah! Ini bocah mirip sama yang ada di album, dan juga di mimpiku. Siapa dia? Apa dia Fauzan? Tapi apa maksudnya?” batin Hanna bingung.


Tiba-tiba ada suatu bayangan yang terlintas di pikirannya. Dan itu membuat kepalanya sakit.


“Argh!” ringis Hanna sambil memegang kepalanya dengan tangan kanan, sedangkan tangan kiri untuk menyangga tubuhnya di kursi.


Hanna menggeleng-gelengkan untuk meredakan rasa sakit ketika melihat bayangan itu.


Tapi rasa sakitnya itu malah bertambah. Ia sudah berusaha untuk menahan rasa sakitnya, tapi tidak bisa. Dan akhirnya ia pingsan di atas kursi.


“HANNA!” teriak Fauzan dari ruang makan.

__ADS_1


🌈🌈🌈


__ADS_2