Jodohku Teman Kecilku

Jodohku Teman Kecilku
JTK-59


__ADS_3

Sudah dua hari yang lalu semenjak kepulangan Hanna, Fauzan, Haikal dan orang tua mereka ke Indonesia.


Dan malam minggu kali ini. Fauzan dan orang tuanya akan datang ke rumah Hanna untuk melamarnya.


Fauzan mengundang teman-teman mereka beserta beberapa keluarga terdekatnya untuk menghadiri acara tunangannya.


Dan sekarang dia sudah berada di rumah Hanna. Tinggal menunggu Hanna turun dari kamarnya.


"Hanna kok lama sih, Pah?" tanya Nadin ke Haris.


"Dia masih bersiap-siap mungkin sama temannya. Dia pasti berusaha tampil semaksimal mungkin di hadapan kita semua," jawab Haris.


"Iya, semoga."


Beberapa menit kemudian, Hanna turun di dampingi oleh, Nayla, Firza, dan Lea.


Hanna tampak memakai gaun sederhana selutut berwarna emas.


Semua orang terpaku melihat kecantikan Hanna yang bertambah karena make up. Karena sebelum-sebelumnya Hanna tidak pernah memakai make up sebanyak itu.


"Jaga mata kalian!" peringat Fauzan ke teman-temannya yang tampat tak berkedip melihat kecantikan Hanna.


"Iya-ya yang posesif," goda Angga.


"Sayang banget. Padahal dulu gue ada rencana mau deketin Hanna. Eh, malah keduluan sama sahabat sendiri," sahut Dilfa.


"Kurang gercep lo," ejek Fauzan.


Dan saat ini Hanna sudah sampai di depan Fauzan. Mereka berdua saling menatap satu sama lain dan seolah menyiratkan rasa sayang mereka.


Tak lama acara lamaran pun di mulai.


Setelah acara pembukaan oleh Alex.


Kini tinggal Fauzan mengatakan maksud dan tujuan kedatangannya malam ini.


"Anna, aku sudah menunggumu sekitar 18 tahun. Saat aku tahu kamu akan pergi ke luar negeri saat 18 tahun yang lalu. Saat itu aku benar-benar terpuruk karena sahabat mainku akan pergi jauh.


Tapi saat  5 tahun yang lalu aku melihatmu di sekolah, hidup aku semakin berwarna. Aku jadi semakin yakin kalau kamu pasti akan kembali."


"Tapi nyatanya waktu itu kamu tidak mengenaliku sebagai sahabat kamu. Bahkan di mata kamu aku hanyalah orang asing. Tapi untungnya kita sekelas, aku berusaha untuk mendekatimu dari awal. Karena aku sangat yakin kamu pasti bisa mengingat aku lagi."


"Dan akhirnya kamu berhasil mengingat semuanya. Aku sangat bahagianya tentunya, tapi saat itu juga aku sudah berada di luar negeri. Dan aku sudah memutuskan untuk menunggu kamu sampai kita lulus.”


“Dan sekarang kita sudah sama-sama lulus. Waktu yang aku tunggu sudah tiba. Aku mau kamu jadi pendamping hidup aku, jadi ibu dari anak-anakku kelak.”


“Will you marry me, teman kecilku?” Fauzan tersenyum tipis sambil memegang kedua tangan Hanna.


Hanna terdiam beberapa detik. Sampai akhirnya. “Yes, i will.”


Prok! Prok! Prok!


Semuanya bertepuk tangan haru.


Sampai-sampai semua perempuan yang ada di sana meneteskan air matanya terharu.


Dari kanan dan kiri, Haikal dan Keisya masing-masing membawa cincin.


Terlebih dahulu Fauzan memasang cincin dari Haikal ke jari manis Hanna.


Selanjutnya Hanna, dia memasang cincin dari Keisya ke jari manis Fauzan.


Prok! Prok! Prok!


Sekali lagi semuanya bertepuk tangan saat cincinnya sudah terpasang di jari manis Hanna dan Fauzan.


“Terima kasih sudah mau menerima aku, aku memang bukan yang terbaik dan masih banyak kekurangan. Tapi tujuan kita bersama itu untuk melengkapi semua kekurangan yang ada di dalam diri kita,” ujar Fauzan menatap mata Hanna dalam.


“Iya.” Hanna membalas senyuman Fauzan.

__ADS_1


“Aku foto ya!” ujar Nayla.


Hanna dan Fauzan pun memotret tangan mereka yang terpasang cincin, sambil saling mengunci jari kelingking mereka.



“SAATNYA KITA PESTA!” teriak Haikal sambil pakai mic.


“YEAYY!!” teriak semuanya.


Acara pun di lanjut dengan kegiatan non-formal. Semuanya berbincang-bincang, bernyanyi, dan juga bermain sampai larut malam.


🌈🌈🌈


Keesokan harinya...


Sekarang jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi.


Fauzan sudah berada di rumah Hanna pagi ini.


Tapi sedari tadi Hanna belum juga turun dari kamarnya.


“Aduh, Anna belum juga turun dari setengah jam yang lalu, ngapain aja sih tuh anak!” kesal Nadin yang sedang duduk di ruang keluarga sama Fauzan.


“Mungkin masih siap-siap,” ujar Fauzan.


“Gak mungkin sampai setengah jam gini. Biasanya 10 menit juga beres dari bangun tidur,” ucap Nadin.


“Biar Mama lihat dulu!” Nadin pun beranjak menuju kamar Hanna.


Sesampainya di kamar Hanna. Nadin langsung membuka pintunya, dan betapa terkejutnya dia melihat keadaan kamar Hanna.


“Astaghfirullah, Hanna!! Apa-apaan kamu ini?” geram Nadin melihat Hanna.


Bagaimana tidak, sekarang kamar Hanna penuh dengan baju-baju berserakan. Terutama kasurnya.


“Sejak kapan kamu memperhatikan mau pakai baju apa? Biasanya cuek aja mau pakai baju apapun itu!” heran Nadin.


“Gak tahu. Pokoknya bantuin aku pilihin baju, Ma!” rengek Hanna.


Nadin pun membantu memilihkan baju.


“Ini nih yang abu aja!” saran Nadin menyerahkan baju warna abu beserta celana kulotnya.


“Tap—“ Ucapan Hanna terpotong karena Nadin mendorong Hanna ke kamar mandi.


“Udah cepet! Kasihan itu Fauzan nungguin kamu satu jam!” titah Nadin.


Dan akhirnya Hanna pun menurut saja perkataan Mamanya.


🌈🌈🌈


Sekarang Hanna dan Fauzan berada di tempat main ice skating.


Entah kenapa tiba-tiba Fauzan ingin sekali ke tempat main ice skating karena dulu waktu di Amerika dia sering main itu.


Dan Hanna hanya menurut saja. Aneh gak sih? Biasanya kan cewek yang ngajak ke suatu tempat itu dan cowok hanya mengikutinya saja, tapi ini malah sebaliknya.


Sesampainya di tempat ice skating.


Mereka terlebih dahulu menyewa sepatunya.


“Na, lo bisakan main ice skating?” tanya Fauzan sambil memasang sepatunya.


“Gak terlalu bisa. Tapi waktu di Jerman pernah sih sekali,” jawab Hanna.


“Kalau gak bisa nanti gue ajarin!” tawar Fauzan.


“Oke.” Hanna menyetujui itu.

__ADS_1


Fauzan pun berdiri dari duduknya dengan sempurna.


Tapi tidak dengan Hanna, dia merasa enggan untuk berdiri karena takut jatuh.


“Ayo!” ajak Fauzan karena melihat Hanna tak kunjung berdiri.


“Takut jatuh,” keluh Hanna.


“Gue pegangin deh. Ayo!” Fauzan mengulurkan tangannya dan di terima oleh Hanna.


Hanna perlahan berdiri dengan di bantu oleh Fauzan.


Dan akhirnya Hanna berhasil berdiri meskipun masih berpegangan ke pundak Fauzan.


“Ayo lajukan pelan-pelan! Lo tahu kan caranya?” tanya Fauzan.


“Iya, tahu,” jawab Hanna sambil menggerakkan kakinya perlahan dengan tangannya yang masih memegang pundak Fauzan.


“Kalau tahu, tangan lo lepas ya!” pinta Fauzan dengan memegang tangan Hanna yang berada di pundak nya.


“Jangan!” cegah Hanna panik.


“Kenapa, katanya bisa?” heran Fauzan.


“Takut jatuh,” ucap Hanna.


“Kalau jatuh, ya bangun lagi. Berusaha sampai lo bisa. Semua orang sukses pasti pernah jatuh sampai titik terendah. Gue juga pernah waktu memulai usaha membuka cafe sampai restoran, gue pernah ngalamin kerugian dan kegagalan, rugi dan gagal itulah itu lah yang di maksud dengan jatuh. Tapi aku gak pernah nyerah. Terus berusaha sampai gue sesukses sekarang dan punya cafe di beberapa kota. Lo juga gitu, meskipun konsep jatuhnya itu beda sama gue. Tapi intinya sama,” jelas Fauzan membuat Hanna semakin kagum sama dia.


“Iya, Beb,” sahut Hanna kelepasan. Dengan segera dia menutup mulutnya dengan tangan kiri.


“Apa-apa, gue gak denger?” goda Fauzan mendekatkan telinganya.


“Nggak, lo salah denger kali. Ayo meluncur lagi!” titah Hanna mendorong bahu Fauzan.


“Iya, deh,” putus Fauzan.


“Ayo gue tuntun!” tawar Fauzan sambil memegang kedua tangan Hanna dari depan.


Hanna perlahan-lahan mengikuti Fauzan.


“Ice Skating itu melatih keseimbangan tubuh. Jadi lo harus nyeimbangin tubuh sama kaki lo,” ucap Fauzan.


Sesekali Hanna hampir jatuh, tapi Fauzan memegang kedua pundak Hanna supaya tidak terjatuh.


Sudah hampir sejam Hanna berlatih, akhirnya Hanna bisa berdiri dan meluncur sendiri tanpa pegangan dari Fauzan. Tapi Fauzan selalu mengawasi Hanna dari belakang. Jaga-jaga jika Hanna terjatuh.


Secara tidak sadar Fauzan berhenti mengikuti Hanna dari belakang dan menatap Hanna yang masih bermain.


“Aww!!”


Lamunan Fauzan buyar karena Hanna terjatuh di depan matanya.


Dengan segera Fauzan menghampiri Hanna.


“Na, lo gak pa-pa?” tanya Fauzan khawatir.


“Gak pa-pa, untung jatuhnya ke samping. Jadi gak terlalu sakit lah,” jawab Hanna.


“Ya sudah, kamu duduk dulu!” titah Fauzan membantu Hanna berdiri lalu berlalu menuju kursi yang sudah disediakan di dalam area Ice Skating.


“Na, mau lihat pertunjukkan Ice Skating gue gak? Ya meskipun gak akan sebagus atlet-atlet di luar sana,” tawar Fauzan.


“Boleh, mumpung suasana sekarang gak terlalu banyak orang,” ucap Hanna sambil tersenyum tipis.


“Oke.” Fauzan pun perlahan meluncur dengan cara mundur.


Lalu tak lama ia memulai aksinya. Meskipun gak se-profesianal atlet di luar sana. Tapi di mata Hanna itu sangat hebat dan bisa membuatnya tersenyum lebar sekaligus tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan Fauzan saat melakukannya.


🌈🌈🌈

__ADS_1


__ADS_2