
Sudah hampir 30 menit Fauzan latihan.
Dan selama itu juga Hanna fokusnya sering teralihkan dengan wajah Fauzan yang serius tapi tampak lucu baginya.
Dan berulang kali juga Hanna mengusap wajahnya untuk tetap fokus.
"Han, lo kenapa?" tanya Fauzan saat Hanna terlihat menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Eh!" Hanna terkejut karena Fauzan yang tiba-tiba datang.
"Kenapa? Mau langsung latihan?" tanya Fauzan.
"Lo istirahat aja dulu. Dan Pak Yanto juga, istirahat aja juga dulu!" pinta Hanna sambil tersenyum lebar.
Fauzan pun duduk di samping Hanna lalu meminum minumannya yang tadi ia sempat ambil di ruangan logistik.
10 menit kemudian...
"Mau latihan sekarang?" tanya Pak Yanto.
"Ayo, Pak!" ajak Hanna senang lalu ia mencepol rambutnya karena takut mengganggu dan berdiri dari duduknya diikuti oleh Fauzan.
"Lucu," batin Fauzan saat melihat rambut Hanna di cepol.
•••
Setelah hampir 30 menit Hanna mempelajari apa yang di sampaikan oleh Pak Yanto.
Kini Hanna sudah mulai bisa sedikit-sedikit cara memanah.
Dan sekarang Hanna hanya di dampingi oleh Fauzan. Sedangkan Pak Yanto pergi untuk melatih yang lain.
"Gimana udah bisa, kan?" tanya Fauzan yang ada di samping Hanna.
"Lumayan lah sedikit," jawab Hanna.
"Mau pulang sekarang? Udah hampir jam 2," tanya Fauzan.
"Nanti dulu, gue belum dapet nilai 9 atau 10," tolak Hanna.
"Kan tadi dapet nilai 7, segitu buat pemula udah bagus," nasihat Fauzan.
"Tapi buat gue nggak. Gue mau dapet setidaknya sembilan deh, setelah itu kita pulang," kekeh Hanna. Lalu kembali memasang arrow nya.
"Terserah deh," pasrah Fauzan pelan. Lalu ia mundur 2 langkah untuk memberi Hanna ruang supaya ia leluasa dalam memanah.
Hanna pun melepaskan arrownya, tapi sayangnya malah menancap di bagian angka 4.
"Kok malah turun sih," gerutu Hanna pelan.
"Lo harus fokus dan memperhatikan arah anginnya," saran Fauzan.
Hanna tidak terlalu mengubris perkataan Fauzan. Ia melanjutkan kembali memasang arrownya.
Kali ini Hanna mendapat angka 8.
"Satu lagi, Han. Satu lagi." Bibir Hanna bergerak pelan mengucapkan itu sendiri seolah memperingatkan dirinya sendiri.
Dan itu tak lepas dari pengawasan Fauzan sehingga membuatnya terkekeh geli.
Hanna kembali memasang arrownya dan bersiap untuk memanah dengan arah yang tepat.
"Jangan gemetaran, Han!" peringat Fauzan saat melihat kaki Hanna yang lumayan gemetar.
"Nggak, kok. Gue cuma sedikit gugup. Gak sabar pengen cepat pulang soalnya," sergah Hanna.
__ADS_1
"Santai dong. Kalau lo gemeteran, yang ada arrownya meleset!" nasehat Fauzan.
"Bawel lo," gerutu Hanna pelan. Lalu ia kembali fokus ke arah yang berwarna kuning.
Sret!
Suara arrow yang dilepaskan oleh Hanna.
Tapi saat setelah Hanna melepaskan arrownya, dia menurut matanya karena gugup jikalau hasilnya buruk.
Fauzan yang melihat hasilnya pun hanya menghela nafas.
Hanna yang mendengar Fauzan menghela nafas menjadi semakin yakin kalau hasilnya lebih buruk.
"Han, udah. Buka mata lo!" titah Fauzan sambil mengambil busur dari tangan Hanna lalu menyimpannya di tempat yang seharusnya.
"Pasti hasilnya buruk kan?" tebak Hanna.
"Nggak. Buka dulu mata lo dong!" kesal Fauzan.
Perlahan Hanna membuka matanya.
1 detik...
2 detik...
"Aaa!" Refleks Hanna memeluk Fauzan saking senangnya dan Fauzan langsung kaget karena mendengar teriakan Hanna.
Hanna lompat dalam pelukan Fauzan hingga membuatnya ikut meloncat.
"Udah, Na. Malu!" tegur Fauzan sambil memegang kedua bahu Hanna.
Hannapun segera melepas pelukannya saat tersadar apa yang telah ia lakukan.
Fauzan menanggapinya dengan senyuman tipis.
"Yuk pulang!" ajak Fauzan sambil berjalan mendahului Hanna.
Hanna pun pergi menyusul Fauzan dengan perasaan yang campur aduk.
🌈🌈🌈
Di perjalanan mereka mampir dulu ke cafenya Fauzan. Awalnya Hanna menolak karena ingin ke cafe yang lain. Tapi Fauzan punya cara lain supaya Hanna mau di ajak ke cafenya, yaitu dengan mentraktirnya.
Sesampainya di cafe...
“Zan, lo pesenin gue menu yang special yah!” pinta Hanna.
Fauzan pun tersenyum tipis sedangkan di hatinya ia mengumpat.
“Udah di traktir, minta di pesenin lagi,” gerutunya.
“Iya, princess,” ucap Fauzan sambil berlalu untuk mengambil makanan.
Ucapan Fauzan tersebut mampu membuat jantung Hanna berdetak kencang serta muka yang memerah.
Hanna pun menelungkungkan kepalanya di atas lipatan tangan.
Beberapa menit kemudian Fauzan datang dengan membawa nampan yang berisi dua makanan dan dua minuman.
Setelah sampai di meja. Ternyata Hanna masih menelungkupkan kepalanya.
Fauzan pun duduk di depan Hanna.
“Han, lo kenapa? Sakit?” tanya Fauzan khawatir.
__ADS_1
Hanna pun segera mengangkat kepalanya lalu mengusap wajahnya serta merapihkan rambutnya.
“Ah! Gak papa kok, cuma sedikit cape aja,” jawab Hanna dengan kikuk.
“Oh, syukur kalau gitu. Nih! Makanannya.” Fauzan memberikan makanan serta minumannya.
“Makasih,” ucap Hanna pelan.
“Sama-sama.”
🌈🌈🌈
Tak kerasa ujian kenaikan kelas sudah berakhir.
Dan mereka segera pulang ke rumah mereka masing-masing
“Han lo mau bareng gue?” tawar Fauzan ke Hanna dari dalam mobil.
“Em ....” Hanna terlihat mengecek handponennya. “Boleh deh,” lanjutnya menerima tawaran Fauzan, karena setelah melihat pesan ternyata sopirnya belum pulang dari 2 jam yang lalu karena sedang mengantar Mamanya ke suatu tempat.
Hanna pun segera masuk ke dalam mobil. Dan Fauzan segera melajukan mobilnya.
Setelah 10 menit berkendara tidak ada yang membuka percakapan, hanya keheningan yang menyelimuti mereka.
Ting!
Suara handpone berbunyi menandakan suara pesan masuk.
Dan Hanna segera membuka handpone, karena siapa tahu itu berasal dari handpone nya.
Setelah membuka handponenya ternyata suara itu bukan berasal dari handponenya.
“Zan, ada pesan masuk. Itu mungkin berasal dari handpone lo. Coba cek!” titah Hanna.
“Yang bener.” Fauzan mengambil handponenya di saku lalu di berikan ke Hanna.
“Kenapa di kasih ke gue?” tanya Hanna heran.
“Bukain gue lagi nyetir, bahaya!” titah Fauzan.
“Gak papa nih?” tanya Hanna mengambil handpone Fauzan.
“Iya, buka aja. Gak di sandi kok.”
Hanna pun membuka handpone Fauzan dan melihat isi pesan.
Disana terdapat pesan paling atas dari Mama.
Mama
Zan, cepat pulang sekarang yah. Ada yang mau Mama bicarain, penting.
Itu lah isi pesannya.
“Dari Mama lo,” ucap Hanna.
“Apa katanya?” tanya Fauzan.
“Zan, cepat pulang sekarang yah. Ada yang mau Mama bicarain, penting!” Hanna membaca isi pesannya.
“Oke. Gue anter lo pulang dulu.”
Fauzan pun mempercepat kecepatan laju mobilnya.
🌈🌈🌈
__ADS_1