
Di episode kali ini kalian bayangin sendiri ya gimana situasinya. Mohon maaf apabila tulisannya kurang di mengerti membuat imajinasi kalian kurang.
🌈🌈🌈
Sesampainya di tempat tujuan.
Kesan pertama kali bagi Nayla dan Angga saat melihat tempat itu, sedikit ... ralat sangat menyeramkan.
"Aduh! Ini tempat apaan sih, Han?" tanya Nayla sambil memeluk lengan Hanna.
"Jangan takut, Nay. Ada ... Angga kok, ya gak?" tanya Hanna ke Angga.
"H-hah! I-iya iya," ucap Angga berusaha untuk tidak terlihat takut.
"Ya udah, yuk masuk. Mang tolong diangkat peralatannya, yah!" pinta Fauzan ke Mang Andi.
Mereka pun masuk perlahan-lahan ke dalam hutan kecil tersebut.
"Zan. Ini kita gak tersesat, kan?" tanya Angga sambil mengedarkan pandangannya menelusuri pepohonan yang tinggi di sekelilingnya.
"Nggak, kok. Ikutin saja, Hanna juga sudah tahu kok," jawab Fauzan dengan nada tenang.
"Yakin, lo. Awas saja kalau ada anaconda, harimau, singa dan semacamnya yah disini!" ancam Angga.
"Haha. Ini bukan hutan Amazon, Ga. Tenang aja. Mungkin cuman ada ... ya ... serigala."
"Hah! Be-beneran ada serigala?" tanya Nayla sambil beralih memegang lengan Angga yang tadinya memegang lengan Hanna.
"Mungkin. Gue gak pernah lihat soalnya, tapi kalau suaranya pernah," jelas Fauzan.
"Berarti beneran dong ada serigala," ucap Hanna ikut menimbrung ke pembicaraan mereka.
"Iya ... gue pernah dengar di televisi," ucap Fauzan dengan nada polos.
"Aaaa! Lo dasar." Hanna menepuk pundak Fauzan dengan keras, sedangkan Angga menendang pahanya.
"Hhee ... sorry, soalnya kalian terlalu menilai tempat ini dari luarnya sih," ucap Fauzan setelah sampai di depan pintu rumah kecil itu.
"Ini bener kita bakal nginep di rumah sempit gini?" tanya Angga lagi.
"Nggak ... ayo masuk!" ajak Fauzan setelah membuka pintu rumah itu.
Mereka pun masuk ke dalam rumah sempit itu dengan cahayanya yang remang-remang di dalamnya. Menambah kesan horor bagi Nayla dan Angga.
"Ini bener nih kita kesini?" tanya Angga lagi.
"Banyak tanya banget sih lo. Udah jangan bawel, ikutin saja," geram Hanna yang seperti ingin mencakar Angga.
"Iya-iya."
Sesampainya di ujung. Terdapat cahaya yang sangat menyilaukan. Sehingga membuat Nayla dan Angga menutup mata mereka.
"Woah!" kagum Nayla dan Angga saat pertama kali melihat pemandangan di depannya. Sedangkan Hanna dan Fauzan hanya tersenyum lebar melihatnya karena sudah pernah kesana.
__ADS_1
Pemandangan pertama yang terlihat yaitu banyak bunga-bunga di bawah jembatan atau bisa disebut jalan tergantung 150 cm dari atas tanah, banyak juga bunga-bunga yang menempel, bergelantungan di pohon dan dinding.
Ada mata air mengalir yang mengarah ke arah kolam ikan kecil yang berada di tengah-tengah. Dan tak lupa juga ada tiga rumah pohon, dengan satu rumah pohon utama di ujung, dan dua rumah pohon ada di dekat kolam ikan.
"Wah! Kok gue baru nyadar ada kolam ikan disini sih, Zan?" tanya Hanna.
"Hhee ... iya, waktu itu mungkin ke tutup sama bunga dan daun yang berserakan. Tapi kan sekarang sudah di bersihin sama orang suruhan Papah. Jadi makin indahkan pemandangannya," jelas Fauzan.
"Iyah."
"Jadi kita bakal nginep disini?" tanya Nayla.
"Iya. Di rumah pohon utama itu," ucap Fauzan sambil menunjuk rumah pohonnya. "Terasnya juga lumayan luas buat barbeque-an," lanjutnya.
"Ah! Jelasin dong dari awal. Biar gue gak banyak tanya mulu," kesal Angga.
"Kan biar surprise," ucap Hanna dan Fauzan berbarengan dengan kekehan akhir.
Dan Angga menanggapinya hanya dengusan kesal.
"Ya udah yuk kita pesta untuk ngerayain kemenangan kita!" seru Nayla sambil mengangkat kedua tangannya yang terkepal.
Mereka pun seru-seruan. Berawal dari berfoto ria, saling kejar-kejaran karena dikerjain, saling bercanda, kadang juga asik sendiri-sendiri sampai sore.
Kini Angga mulai mendekati Nayla yang sedang melamun melihat kolam ikan.
"Nay," panggil Angga.
"Ah! Iya, Angga," jawab Nayla.
"A-apa?" tanya Nayla dengan jantung yang sudah ketar-ketir gak karuan.
"Angga gak lupakan kalau kita tidak boleh pacaran?" tanyanya dalam hati.
"Em ... gue cuma mau minta sesuatu sama lo. Semoga lo mau nunggu gue dengan gak membuka hati buat laki-laki lain," jawab Angga dengan hati-hati.
Deg!
“Maksudnya apa?” batin Nayla dengan mata terus menatap mata Angga.
“Lo ngerti gak?” tanya Angga karena tidak ada respon dari Nayla.
“A-ah! Apa? Oh ... iya-iya ngerti,” jawab Nayla dengan nada gugup.
“Jadi lo mau kan nunggu gue dulu?” tanya Angga.
“Gue tahu kok, kita dilarang pacaran sama orang tua kita masing-masing. Jadi gue harap lo mau nunggu gue dulu,” lanjutnya.
“I-iya, Ga. Bakal aku usahain,” jawab Nayla.
“Makasih.”
“Ekhm! Kenapa wajah lo berdua serius gitu?” tanya Hanna yang membuat Nayla dan Angga terkejut.
__ADS_1
“Ah! Gak pa-pa kok. Hanya ada sedikit urusan,” jawab Angga dengan berusaha tenang.
“Ada apa?” tanya Fauzan yang baru datang dan berdiri di samping Hanna.
“Em ... itu sikap mereka ada yang aneh semenjak kepergok berduaan. Dengan muka serius lagi,” jelas Hanna dengan seringaian kecil.
“Apaan sih lo, Na. Kita itu ada urusan pribadi, penting,” ucap Angga dengan menekankan kata bagian akhir.
“Oh ya udah sih, Na, jangan terlalu ikut campur ... kita juga punya, kan, yang gak di ketahui oleh mereka,” ucap Fauzan sambil merangkul pundak Hanna.
“Hah!” Nayla dan Angga kaget.
“A-apaan, sih. Kita punya apa? Gak punya apa-apa juga,” ucap Hanna bingung sambil melepas rangkulan Fauzan.
“Hmm ....” Fauzan merasa kesal karena Hanna tidak bisa di ajak kerjasama, atau Hanna yang tidak peka dengan ajakannya.
“Hahaha ... memangnya kalian bakal ada urusan apa? Kaliankan gak sedekat itu sampai ada urusan segala,” ucap Angga dengan tertawa kecil.
“I-iya tuh, bener.” Hanna menyetujui ucapan Angga, tapi hatinya merasa enggan untuk menyetujui itu.
Sedangkan Fauzan hanya menanggapinya dengan dengusan kecil.
“Kita ke dalam aja dulu yuk! Udah hampir magrib,” ajak Nayla.
“Ya udah yuk,” ucap Hanna.
Mereka pun masuk ke dalam rumah pohon yang lumayan besar itu.
🌈🌈🌈
Sekarang jam menunjukkan pukul 7 malam.
Setelah hampir satu jam lebih mereka berada di dalam rumah pohon.
Kini mereka bersiap keluar untuk barbeque-an.
“Kalian udah siap kan? Pakai jaketnya! Karena di luar lumayan dingin,” ucap Fauzan ke temannya.
“Siap dong,” ucap mereka.
“Ya udah siap-siap ya!” ucap Fauzan lalu ia menekan saklar yang berada di pinggir pintu utama.
“Itu saklar setelah di tekan, kok gak ada perubahan disini?” tanya Angga sambil mengedarkan pandangannya.
“Bukan disini. Tapi diluar,” jawab Fauzan dengan senyuman yang misterius.
“Jangan gitu deh, Zan. Bikin kita penasaran saja,” jengkel Hanna.
“Kamu belum tahu, Na. Saklar itu buat apa?” tanya Nayla.
“Gue gak tahu. Karena sebelumnya belum pernah sampai malam,” jawab Hanna.
“Lo ... bukan psikopat, kan?” tanya Angga.
__ADS_1
TBC
Maaf telat banget up nya, karena disini aku banyak kendala🙏🙏