
Cerita ini penuh dengan imajinasi dan halu. Semoga yang baca bisa memahami tulisannya dan berkhayal sendiri meskipun tanpa visual.
Maaf ya jika tidak dimengerti. Tapi semoga kalian bisa mengkhayalkan sendiri.
π
"Lo ... bukan psikopat, kan?" tanya Angga ke Fauzan.
"Em ...." Fauzan hanya menyeringai membuat semuanya ketakutan, lalu ia berkata, "Haha ... bukan kok, muka lo pada kenapa sih? Kayaknya takut banget, hahaha." Fauzan hanya tertawa melihat wajah teman-temannya.
"Sialan, lo. Cepat ada apa?" kesal Angga sambil memukul pundak Fauzan.
"Udah, yuk keluar!" ajak Fauzan sambil memegang gagang pintu.
Tapi dengan cepat di cegah sama Hanna.
"Yakin lo ini aman?" tanya Hanna hati-hati.
"Iya, santai saja kali," ucap Fauzan dengan tenang.
Lalu Fauzan pun membuka pintu yang sempat tertunda tadi.
Sedangkan Hanna, Nayla, dan Fauzan hanya menutup mata dengan kedua tangan.
Fauzan melangkahkan kakinya menuju keluar dengan senyum lebar yang menghiasi wajahnya.
Merasa tidak ada orang dibelakangnya, iapun menoleh ke belakang dan melihat teman-temannya masih berada didalam dekat pintu.
"Lah, ngapain kalian masih di dalam? Ayo cepat keluar!" titah Fauzan.
Mereka pun perlahan-lahan keluar dari rumah pohon itu dengan mata yang masih ditutup.
"Hah! Ck! Ck!" desah Fauzan melihat kelakuan mereka seperti mau ngelihat nilai hasil ulangan saja.
Ya, meskipun mereka pintar, pasti ada saja kan pelajaran yang tidak mereka sukai sehingga membuat mereka takut akan hasil ulangannya.
Mereka pun sudah sampai di samping Fauzan.
"Ayo buka mata kalian!" titah Fauzan.
"Beneran aman, kan?" tanya Nayla dengan nada takut.
"Iya, kita gak akan lihat nilai ulangan kok, astagfirullah!" geram Fauzan.
Mereka pun perlahan membuka mata.
1 detik ...
2 detik ...
"AAA! BAGUS BANGET!" teriak Nayla dan Hanna dengan menutup mulut mereka karena kaget.
Sedangkan Angga hanya melongo dengan mulut terbuka saat melihatnya.
Ya ... bagaimana tidak kaget, setelah melihat pemandangan di depannya. Karena kini tempat itu sudah banyak cahaya yang kerlap-kerlip dan warna warni menggantung, menempel di setiap bunga tetapi tidak begitu menyilaukan, justru sangat indah jika di pandang. Dan ada satu lampu yang paling besar berada di tengah-tengah.
"Sejak kapan ada lampunya ya?" heran Hanna setelah mengagumi tempat ini.
"Ah! Iya-iya. Sejak kapan?" tanya Nayla.
"Lampunya transparan. Jadi mungkin gak terlihat jika siang. Apalagi jika kalian fokusnya cuman sama bunga dan kolam ikan doang," jawab Fauzan.
"Oh ... iya sih ... haha," ucap Hanna dengan kekehan di akhir.
"Ya udah yuk! Saatnya kita pestaa!" teriak Angga dengan senyum lebarnya.
"Ayo!" teriak semuanya.
Semua pun mulai menyiapkan alat dan bahan untuk barbeque-an. Mereka membagi-bagi tugas, untuk laki-laki menyiapkan alat dan untuk perempuan bahan-bahannya.
Setelah 15 menit menyiapkan alat dan bahannya.
__ADS_1
Kini mereka sudah duduk lesehan di atas kursi dan meja kayu berbentuk persegi panjang sambil memanggang sosis.
Dengan Hanna duduk disamping Nayla, sedangkan Fauzan dan Angga berada dihadapannya.
"Ini mana kecap?" tanya Angga.
"Tadi sama Hanna," ucap Fauzan sambil menunjuk Hanna yang berada dihadapannya.
"Mana, Han?" Angga menyodorkan tangan kanannya.
"Oh ... mana, yah? Gak tahu ... tadi disini deh?" bingung Hanna sambil mencari disekitar meja.
"Awas saja kalau habis atau hilang, gak maulah kalau beli keluar. Apalagi harus melewati kebun seperti hutan itu!" ucap Angga tak terima.
"Iya sabar ...." Hanna berhenti sejenak dan seketika. "Nah ini dia ... ada di bawah celemek," lanjutnya sambil mengangkat kecapnya.
"Gak lo pakai aja celemek nya!" titah Angga sambil mengambil kecapnya.
"Gak, ah! Lagian gue gak manggang. Cuman Lo sama Nayla kan yang manggang," tolak Hanna.
"Biar gak menuhin meja, Han," ucap Angga.
"Pakai aja, Han. Meskipun lo gak manggang. Kan waspada aja, supaya baju lo gak kotor. Mau lo pakai tanktop doang kalau baju lo kotor," ucap Fauzan sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Itu mau lo gue pakai tanktop." Hanna mengusap wajah Fauzan kasar. "Iya deh gue pakai," ucap Hanna akhirnya.
"Gitu dong dari tadi," ucap Angga.
Akhirnya Hanna pun memakai celemeknya.
Dan mereka pun mulai memanggang beberapa makanan yang sudah mereka beli.
Ada daging ayam, daging sapi, sosis, dan masih banyak yang lainnya.
"Ga, siniin dong mayonaise nya!" pinta Hanna ke Fauzan.
Angga pun mengambil mayonaise yang ada di dekatnya, lalu memberikannya ke Hanna. "Nih."
"Em! Enak banget sumpah," ucap Hanna setelah memakan sosis yang sudah di panggang oleh Nayla.
"Iya dong, siapa juga yang buatnya," ucap Nayla bangga.
Dan Angga pun memberikan dua jempolnya ke Nayla.
"Eh! Mau nyanyi, gak?" tanya Fauzan ke teman-temannya.
"Boleh, tapi kalau tanpa instrumen bakal gak enak. Mending kalau ada gitar," ucap Angga.
"Tenang, di dalam ada gitar kok."
"Masa?" ucap Hanna dengan nada tidak yakin.
"Iya ada, nanti gue ambil."
"Ya udah sana!" titah Hanna.
Fauzan pun mengambil gitarnya ke dalam.
"Eh! Yakin di malam-malam gini nyanyi? Di hutan lagi," ucap Nayla.
"Kalau gitu kita nyanyi di dalam saja, sekarang kita panggang saja dulu semuanya lalu bawa ke dalam sambil main apa gitu," saran Angga.
"Ya sudah begitu saja." Hanna menyetujui ucapan Angga.
Tak lama kemudian Fauzan datang dengan gitarnya.
"Zan, katanya nyanyinya di dalam aja. Kalau sekarang kita bakal panggang semuanya dulu," ucap Hanna.
"Kenapa?" tanya Fauzan.
"Nyanyi malam-malam di tengah hutan? Apa itu aman?" tanya Angga.
__ADS_1
"Iya, kalau tiba-tiba ada sesuatu gimana?" tanya Nayla dengan pelan.
"Hmm ... ya udah kalau gitu. Kita panggang dulu semuanya," ucap Fauzan akhirnya. "Untuk jaga-jaga takut ada sesuatu, jadi kita di dalam saja," lanjutnya.
Dan akhirnya mereka pun memanggang semua makanannya terlebih dahulu.
Setelah 20 menit memanggang makanan yang tersisa, kini mereka langsung masuk ke dalam rumah pohon.
πππ
"Jadi kita mau ngapain?" tanya Nayla.
"Katanya mau nyanyi," ucap Hanna.
"Ya udah, ayo!" ajak Fauzan sambil memetik gitarnya.
Pernah aku jatuh hati
Padamu sepenuh hati
Hidup pun akan kuberi
Apapun kan ku lakui
Fauzan memulai lagunya.
Tapi tak pernah ku bermimpi
Kau tinggalkan aku pergi
Tanpa tahu rasa ini
Ingin rasa ku membenci
Dilanjut dengan Angga.
Sedangkan para perempuan hanya menghayati lagu yang para laki-laki bawakan.
Tiba tiba kamu datang
Saat kau telah dengan dia
Semakin hancur hatiku
Dilanjut lagi dengan Fauzan.
Ref : Jangan datang lagi cinta
Bagaimana aku bisa lupa
Padahal kau tahu keadaannya
Kau bukanlah untukku
Jangan lagi rindu cinta
Ku tak mau ada yang terluka
Bahagiakan dia aku tak apa
Biar aku yang pura pura ... lupa
Oh oh ...
Fauzan dan Angga nyanyi bersama-sama.
"Bagus banget suaranya!" kagum Hanna dan Nayla di dalam hati.
βZan, kadang lo itu keren di mata gue ... tapi lebih banyak nyebelinnya sih,β batin Hanna sambil memandang Fauzan.
π
__ADS_1
TBC